
Miller mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan ia memperhatikan keberadaan Letty. Letty pergi begitu saja tanpa kabar. Mobil mereka juga masih ada di parkiran. Tidak tahu entah bagaimana cara wanita itu pergi. Walaupun Letty wanita yang cerdas, tapi tetap saja Miller mengkhawatirkannya.
"Letty ... sebenarnya dia ada di mana? Di hubungi juga gak di angkat." Miller meletakkan ponselnya. Ia tidak habis pikir dengan Bella. Dan bisa-bisanya tadi ia tidak bisa melakukan apapun selain menemani Bella sampai pesta berakhir.
Ponsel Miller berdering. Ia sempat berharap kalau orang yang menghubunginya adalah Letty. Namun, bukan nama Letty di layar ponselnya melainkan ibunda tercinta. Sonia.
"Mommy?" Tanpa banyak kata ia menurunkan laju mobilnya. Miller melekatkan ponselnya di telinga. "Mom, gawat!"
"Miller, kau sudah bertemu dengan Bella?"
Miller mengeryitkan dahinya. "Mom, mommy memintaku datang ke San Fransisco agar aku bertemu dengan Bella?"
"Ya. Ada masalah? Kedengarannya kau sedang memiliki masalah," ujar Sonia dengan nada yang mulai panik.
Miller menghela napasnya kasar. "Mom, hal sepenting ini harus mommy bicarakan dengan Miller dulu. Kenapa mommy tidak mengatakan apapun sebelumnya?"
"Apa yang dilakukan Bella hingga kau sepanik ini?"
"Bella mengumumkan pertunangan kami di depan semua orang."
"Miller, mommy rasa Bella tidak salah. Ya, walau terkesan memaksa, tapi bukankah kau sendiri yang bilang sudah siap menikah."
"Mom, Miller bilang siap menikah tapi bukan sama Bella."
"Miller, mommy tidak tahu bagaimana cara menolak Bella. Kau pikirkan sendiri jika kau tidak setuju. Namun, apapun cara yang kau gunakan jangan pernah lukai perasaan Bella. Ingat, tanpa dia semua tidak akan menjadi seperti ini. Kau tahu maksud mommy kan Miller?"
"Ya, Mom. Miller mengerti." Panggilan telepon itu terputus. Miller memijat lembut kepalanya yang terasa pusing. "Kenapa harus muncul secara bersamaan. Letty ... di mana wanita itu?"
Letty tidak bisa mengentikan gerakan tangannya yang kini memukul samsak tinju. Baginya samsak yang begitu berat terasa lembut seperti kapas. Keringat berkucur deras membuat make up yang ia kenakan berantakan. Bahkan gaunnya sudah berserak di lantai. Kini hanya tersisa pakaian dalam saja yang memang selama ini biasa ia kenakan. Letty benar-benar emosi malam ini. Seandainya tadi dia tidak ada di lokasi pesta, mungkin ia sudah mendekati Miller dan menonjok pria itu hingga babak belur.
Seorang pria berjalan mendekat. Letty tahu kalau ada yang mendekatinya secara diam-diam. Setahu Letty tidak ada yang tahu dirinya berada di ruangan itu. Secara cepat ia mengambil pistolnya yang tergeletak dan mengarahkannya ke belakang.
"Hei, jangan tembak aku!"
Letty menurunkan senjata apinya. "Kenapa kau bisa di sini?"
"Pertanyaan itu untukku." Pieter berjalan ke kursi dan duduk di sana. Ia melirik gaun yang berserak sebelum memandang wajah Letty lagi.
"Milikmu?"
__ADS_1
"Bukan."
"Tapi tidak pernah ada wanita masuk ke sini." Pieter menahan kalimatnya. Ia tahu kalau kini Letty sedang tidak baik-baik saja. Bisa-bisa dirinya yang masih terluka menjadi target sasaran wanita tangguh itu.
"Maksudku, sebelum kau ada di sini."
"Apa ada masalah?" ketus Letty dengan tangan di kedua pinggang.
"Tidak. Tidak ada masalah!"
Letty memutar bola matanya. Seperti tidak kebal lelah, wanita itu justru melanjutkan latihannya. Semakin panas membuatnya semakin bersemangat menghajar samsak tinju berat puluhan kilogram itu.
"Nona Letty ... bukankah kau adik Oliver. Kalau boleh aku tahu, sekarang Oliver ada di mana? Apa dia masih ada di San Fransisco?"
BRUAK. Samsak tinju yang sejak tadi di mainkan Letty jatuh ke lantai. Pieter tidak percaya kalau gantungan sekuat itu bisa jatuh hanya karena pukulan seorang wanita. Letty menatap sinis wajah Pieter.
"Aku masih terluka. Ya. kau bisa lihat sendiri kan?" Pieter beranjak dari duduknya. Dia berjalan pergi karena tidak mau menjadi pengganti samsak yang jatuh.
Letty mengepal kedua tangannya sebelum jatuh terduduk di lantai. Tubuhnya yang basah membuat ia merasa gerah dan ingin mandi.
"Jam berapa ini?" Letty melirik jam dari ponselnya. Ada banyak panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari Miller. Letty tidak peduli. Ia mengabaikan Miller layaknya pria itu mengabaikan dirinya tadi.
"Apa dia pikir kau wanita bodoh?" gumam Letty kesal. Wanita itu berbaring di atas permukaan lantai yang kotor tanpa kenal jijik. Ia memandang ke atas dengan embusan napas yang berat.
"Antara kami tidak ada hubungan apapun, lalu untuk apa aku marah?" Secara tidak sengaja lagi-lagi Letty merasakan perih di bagian matanya. Genangan air mata itu mulai membasahi pipinya yang berkeringat. Entah seperti apa sakit yang kini ia rasakan. Ia terluka ketika belum mengenal cinta dengan baik.
"Apa ini? Kenapa air sialan ini terus saja keluar." Letty menghapus air mata di wajahnya. Tangannya yang berdebu membuat wajahnya menjadi kotor.
Dari posisi yang tidak terlalu jauh, Pieter masih memperhatikan Letty dengan bingung. Ingin membantu tapi takut. Sebenarnya Pieter adalah pria yang humoris. Hanya karena dendam ia berubah menjadi pria dingin yang tidak memiliki senyum.
"Sebenarnya dia kenapa? Apa dia mabuk? Sebaiknya aku tunggu di sini saja. Jika terjadi sesuatu padanya bisa-bisa Oliver menuduhku." Pieter juga duduk di lantai untuk menunggu Letty di tempatnya. Terkadang Letty tertawa, terkadang berteriak. Pieter sampai mengantuk menunggu Letty hingga akhirnya ia bersandar di pintu dan tertidur di sana. Tidak peduli dengan hawa dingin yang menyerang. Karena sudah sangat mengantuk, pria itu bisa terlelap dengan mudah.
Letty berjalan mendekati Pieter. Ia memandang wajah pria itu. "Apa yang ia lakukan di sini? Sebenarnya dia tinggal di mana? Apa di lokasi ini ada kamar untuk di tempati?" Letty memeriksa lokasi sekitar. Mustahil baginya untuk pulang ke hotel dalam keadaan seperti ini. Dia hanya akan membuat Lana khawatir jika pulang dalam keadaan acak-acakan seperti ini.
Letty berjalan maju untuk mencari tempat yang bisa ia jadikan tempat tidur. Tiba-tiba ia melihat sebuah pintu di lorong itu. Tanpa pikir panjang Letty berjalan ke arah pintu itu untuk memeriksa isi di dalamnya.
"Ruangan apa ini?" Letty membuka pintunya secara perlahan. Ketika ia sadar kalau ruangan itu adalah sebuah kamar, Letty tersenyum bahagia. Ia segera masuk dan sudah tidak sabar untuk mandi di kamar mandi.
"Akhirnya aku menemukan tempat untuk bermalam."
Tanpa peduli siapa sang pemilik kamar Letty membuka satu persatu pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Wanita itu sudah tidak sabar untuk membasahi tubuhnya dan membersihkan dirinya dari kotoran debu yang menempel.
__ADS_1
***
Letty menguyur seluruh tubuhnya di bawah shower. Walau sudah malam ia lebih memilih air yang dingin. Rambutnya yang panjang basah. Kebetulan ada sampo dan sabun di sana. Ia pakai saja tanpa peduli siapa pemiliknya. Letty merasa jauh lebih tenang setelah mandi. Andai saja di kamar mandi itu ada bak mandi mungkin ia akan memutuskan untuk berendam berjam-jam.
Aroma sabun dan sampo bersatu hingga membuat kamar mandi itu tercium segar. Letty menyudahi mandinya ketika tubuhnya mulai mengigil. Handuk putih yang tergantung di sana ia ambil dan ia kenakan untuk menutup tubuhnya yang basah. Satu handuk lagi ia ambil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
"Ternyata di gedung ini ada kamar bagus juga. Kenapa aku baru sadar." Letty keluar dari kamar mandi. Wanita itu kaget bukan main ketika melihat Pieter berdiri di hadapannya. Hal yang mengejutkan ketika Letty melihat Pieter memegang pakaian dalam miliknya.
"Kau. Apa yang kau lakukan?" Satu tangannya menahan handuk sedangkan tangan yang lainnya melayang ke wajah Pieter. Tidak peduli pria itu terbukti bersalah atau tidak. Bagi Letty Pieter sudah kurang ajar dengan masuk ke kamar yang ia tempati tanpa izin.
"Kenapa kau memukulku?" Pieter memegang wajahnya yang merah. Ia benar-benar kesal melihat wanita bar-bar seperti Letty kini ada di hadapannya.
"Pergi dari kamarku!" teriak Letty.
"Tapi ini ...."
"PERGI!"
Pieter menghela napas kasar. Mau tidak mau pria itu menurut untuk pergi. Di dalam hati ia sangat menyesal sudah membiarkan Letty masuk ke dalam kamarnya. Kalau saja dia tadi tidak memedulikan Letty mungkin semua ini tidak akan terjadi.
"Siapa salah siapa marah!" umpat Pieter sebelum membanting pintu kamar. Letty memejamkan matanya. Ia memandang keadaan sekitar dengan hati yang mulai tenang.
"Sebenarnya kamar ini milik siapa?"
***
Lana terbangun dari tidurnya yang lelap. Ia memandang jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Seharusnya Letty sudah pulang. Namun, terakhir kali memeriksa kamar wanita itu Lana tidak menemukan siapa-siapa di dalam sana.
"Ada apa?" Lukas juga terbangun melihat Lana duduk di atas tempat tidur.
"Apa Letty tidak pulang? Dia bersama Miller."
Lukas tersenyum dengan wajah yang tetap tenang. "Sejak dulu Letty selalu seperti itu. Pria sudah menjadi temannya setiap hari. Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja."
"Entahlah. Semakin menyayanginya aku semakin ingin menjaganya."
"Ya, aku tahu apa yang kau rasakan. Tapi membatasinya juga bisa membuat Letty tidak nyaman. Dia wanita yang bebas. Jangan lupa akan hal itu. Kau tidak akan bisa menjadikan Letty wanita rumahan."
"Ya, aku tahu. Saat masih muda aku juga merasakan hal yang sama. Suka kebebasan tanpa peduli dengan aturan yang ada."
"Oke, sekarang ayo kita tidur lagi. Besok kita harus pulang ke Hongkong. Bukankah tadi seharian kau menari tanpa sadar usia. Malam ini pasti kakimu sangat lelah. Biar aku pijat."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" Lukas menaikkan satu alisnya. Lana hanya menggeleng pelan sebelum berbaring. Wanita itu meletakkan kedua kakinya di atas pangkuan Lukas. Lukas sendiri tersenyum sebelum mulai memijat kaki sang istri.