Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 45


__ADS_3

Malam yang dingin. Demi Katterine, Oliver harus mengurungkan niatnya untuk pergi menemui Letty. Sebenarnya hanya membahas hal-hal kecil saja. Tidak terlalu penting. Permintaan Katterine yang tiba-tiba mengajak Oliver dinner tidak bisa terbantahkan lagi. Satu istana juga tahu bagaimana jika wanita Cambridge itu sudah mengatur sebuah rencana. Jika gagal satu istana bisa pusing di buatnya.


Oliver berdiri di depan cermin sudah hampir satu jam. Ia memandang penampilannya yang sedikit berwarna. Bagaimana tidak? Katterine memilih jas Peach untuk di pakai Oliver dinner malam ini. Bukan itu saja. Ada tersedia bunga warna putih yang seharusnya di selipkan di jas tersebut. Oliver memutar-mutar bunga tersebut sebelum melemparnya ke tong sampah. Ia mengatur napasnya agar bisa kembali tenang sebelum memandang penampilannya di depan cermin lagi.


"Oke. Hanya satu malam saja. Katterine masih sakit dan dia sakit karena kau Oliver! Jadi menurutlah dan jangan banyak membantah!" Oliver terus saja memberi semangat kepada dirinya sendiri. Seolah-olah di dalam cermin adalah dirinya yang kini jauh lebih dewasa.


Oliver merapikan dasi warna pink yang kini melapisi jasnya berwarna putih. Walau sedikit mual melihatnya tapi Oliver berusaha tetap mengukir senyuman terbaiknya. Kecewa Katterine adalah kesedihan yang tidak terobati di dalam hatinya.


Tok tok


Oliver memandang ke arah pintu. Belum sempat pria itu memberi izin masuk pintu yang tidak terkunci terbuka begitu saja. Siapa lagi yang berani masuk sembarangan ke dalam kamar pria galak seperti Oliver kalau bukan orang yang dihormatinya. Zeroun muncul di sana dan berjalan dengan tenang menuju posisi Oliver berada. Pria itu sedikit menaikan alisnya ketika melihat penampilan Oliver malam itu. Zeroun tidak tahu kalau Oliver berubah menjadi seperti itu karena ulah putri kesayangannya.


Dengan tangan di dalam saku Zeroun memperhatikan penampilan Oliver dari ujung kaki hingga ujung kepala. Celana Peach, Jas peach yang di kombinasikan kemeja putih dan dasi pink memang sungguh terlihat terang.


Oliver yang mulai sadar kalau Zeroun memperhatikan dan mempertanyakan penampilannya mulai mencari alasan.


"Ini permintaan Katterine, Bos." Oliver menunduk hormat menyambut kedatangan Zeroun.


Zeroun tergelak mendengar kalimat Oliver. Ia mengangguk seolah paham posisi tidak ada pilihan Oliver saat ini. Dirinya dulu juga pernah berada di posisi itu. Namun, ia tidak sendirian. Ada Lukas yang menemaninya kala itu.


"Ya. Kadang wanita memang seperti itu. Tidak bisa di tebak apa yang ia inginkan." Zeroun berjalan ke arah sofa. Ia duduk dan memperhatikan dekorasi kamar Oliver yang terlihat elegan walau di menangi warna hitam di sana.


"Kami sudah berhasil menemukan Roberto. Tapi, keadaannya tidaklah baik. Dokter masih berupaya keras menyelamatkan nyawanya, Bos."


Zeroun bisa sedikit tenang karena Roberto sudah bersama di pihaknya. Kini Zeroun hanya perlu banyak-banyak berdoa agar pria itu cepat sadar dan berhasil melewati masa kritisnya.


"Lalu, Pieter dan Lusya?"

__ADS_1


"Mereka sangat suka menggunakan topeng. Sedikit susah melacak keberadaan mereka. Saya dan Pangeran Jordan menutup akses keluar masuk istana. Jadi, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa keluar masuk untuk memenuhi kebutuhan di dalam istana."


Zeroun memandang jam yang melingkar di tangannya. Ia tahu kalau sudah waktunya Oliver dan Katterine berangkat makan malam. Zeroun tidak mau mengagalkan rencana putrinya begitu saja.


"Baiklah. Beri tahu aku kabar terbaru Roberto. Sepertinya dia memegang sebuah petunjuk hingga musuh kita memilih untuk membunuhnya."


Zeroun berjalan mendekati Oliver dan menepuk pelan pundak pria itu. Ada senyum ramah di bibirnya. "Jaga Katterine. Saat ini aku tidak bisa mempercayai pengawal istana bahkan pasukan Gold Dragon. Katterine sangat berharga di dalam hidupku."


"Baik, Bos. Saya akan menjaganya dengan sebaik mungkin."


"Terima kasih Oliver. Kau memang selalu bisa aku harapkan. Kali ini aku memiliki tugas untuk menyembuhkan penyakit Emelie." Zeroun memandang ke depan dengan wajah yang serius.


"Bos, apa Ratu mengalami penyakit yang serius?" Oliver juga sangat khawatir mendengar kabar buruk tersebut. Bagaimanapun juga Emelie sudah seperti ibu angkat bagi dirinya. Bukan sekedar Ratu yang harus ia hormati saja.


"Sejauh ini aku belum menemukan petunjuk apapun. Tapi, perubahan yang terjadi di dalam tubuhnya terlihat sangat mencurigakan. Dokter selalu bilang kalau Emelie baik-baik saja."


"Belum ada. Sejauh ini saya ingin menjaganya lebih hati-hati. Berada di sampingnya mungkin bisa memberikan kesembuhan dan menumbuhkan rasa semangat di dalam dirinya. Maka dari itu aku serahkan Katterine kepadamu. Aku tidak akan memaafkanmu jika kejadian kemarin terulang lagi!"


Kali ini Zeroun benar-benar serius dengan perkataannya. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain selain mengancam Oliver. Kali ini ia benar-benar membutuhkan pertolongan pria tangguh tersebut untuk menjaga anggota keluarganya.


"Baik, Bos."


***


Di dalam kamar, Katterine tersenyum dengan wajah berseri. Membayangkan Oliver memakai warna setelan yang ia pilihkan sudah membuatnya merasa sangat bahagia. Apa lagi melihatnya secara langsung beberapa saat lagi.


Di belakang Katterine ada Leona yang sejak tadi membantu Katterine menata rambutnya. Wanita itu juga tersenyum bahagia melihat wajah berseri Katterine malam itu.

__ADS_1


"Kau sengaja mengerjainya?" ledek Leona dengan suara yang pelan.


Katterine menggeleng pelan. Dia mengangkat kepalanya ke atas hingga bisa melihat wajah Leona secara langsung.


"Kak, aku hanya ingin Oliver menggunakan warna yang sama dengan gaun baruku. Bukankah itu terlihat sangat serasi?"


"Kau yakin dia akan memakainya?" tanya Leona dengan wajah tidak yakin.


Katterine termenung. Sebenarnya tidak ada yang salah dari pertanyaan Leona. Mengingat selama ini Oliver pria yang sulit di atur. Apa lagi soal penampilan.


"Aku juga tidak yakin dia mau memakainya," ucap Katterine dengan wajah sedih. Senyum berseri yang sempat terukir, musnah begitu saja.


"Hei, jangan patah semangat. Oliver sangat menyayangimu. Dia pasti-"


"Sangat mencintaiku, kak!" protes Katterine.


"Oke. Dia sangat mencintaimu. Kakak yakin dia mau mengenakan pakaian yang kau pilihkan. Percayalah."


Leona menyelipkan pita permata di rambut Katterine yang sudah tertata rapi. Keinginan dirinya untuk memiliki adik perempuan selama ini sudah terwujud. Dan Leona sangat menikmati perannya sebagai kakak ipar Katterine.


"Oke sudah selesai. Kau bisa menemui Oliver sekarang juga."


"Apa aku sudah cantik?" Katterine beranjak dari kursinya dan kembali memeriksa penampilannya di depan cermin. Kurang lengkap rasanya jika ia tidak mendengar kalimat pujian dari bibir kakak iparnya.


"Kau putri tercantik yang ada di istana ini."


"Kakak juga sangat cantik." Katterine memeluk Leona dengan rasa bahagia.

__ADS_1


"Pergilah dan bersenang-senanglah bersama pria yang kau cintai." Leona mengusap lengan Katterine yang lembut. Ia memeluk adik iparnya itu dengan penuh kasih sayang.


__ADS_2