Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 119


__ADS_3

Seorang pria berusia sekitar 40 tahun duduk di sebuah kursi berukuran. Di jemarinya terselip daun nipah yang digulung. Aroma tembaga yang sudah tercampur narkotika membuat sang pemilik terlihat nyaman.


Padahal baru saja bawahannya memberi kabar buruk. Kabar gagalnya mereka membawa Clara. Namun, pria itu masih bisa terlihat tenang. Ia justru kembali menghisap rokoknya dan tersenyum tipis.


"Bos, ada dua pria bersamanya. Sepertinya kali ini ia berhasil menemukan pengawal bayaran yang tangguh. Kami kesulitan mengalahkannya. Pria itu sangat hebat. Trik yang ia gunakan bukan trik pasaran," sambung pria itu lagi. Ia tahu kalau sikap tenang atasannya itu bukan sikap yang bisa disepelekan. Kapan saja bisa meledak hingga membuat semua orang kaget.


"Dua pria?" jawab sang big Boss. Ia meletakkan puntung rokoknya di asbak. Kedua matanya menatap tajam bawahannya yang kini berdiri di seberang meja.


"Benar, Bos."


"Mereka ada di wilayah kita. Apa harus saya yang turun tangan untuk menangkap wanita itu?" Kali ini sorot mata pria itu telah berubah membunuh. Seperti ada pisau di matanya yang bisa menebas leher lawannya tanpa menyentuh.


"Kami akan mencarinya dan membawanya ke sini, Bos."


"Apapun caranya, wanita itu harus ada di sini! Nanti malam acara pelelangan akan di mulai. Aku mau wanita itu sudah di sini. APAPUN CARANYA!"


"Ba ... baik, Bos."


***


Jam sudah menunjukkan 8 pagi. Tapi langit seperti masih malam. Bagaimana tidak. Hujan turun dengan deras hingga membuat langit sangat gelap dan udara terasa dingin. Clara, Zean dan pengawalnya telah dalam perjalan menuju kota. Namun saat ini mereka masih berada di jalan yang dikelilingi pepohonan.


"Anginnya benar-benar sangat kencang. Aku takut." Clara memeluk dirinya sendiri. Ia tidak berani melihat ke luar karena kilatan di langit membuat nyalinya hilang. Clara memutuskan untuk memejamkan mata dan menunduk.


Zean hanya melihat ke arah Clara sekilas sebelum memandang ponselnya. Ia terus berusaha menghubungi siapa saja yang bisa di hubungi saat ini.


Mobil yang ditumpangi Zean berhenti mendadak ketika pohon besar tumbang. Pohon besar itu menghalangi jalan karena kini posisinya melintang di tengah jalan. Karena berhenti secara mendadak, ponsel yang ada di tangan Zean terlepas. Sedangkan Clara, saat kepalanya akan terbentur dengan kursi depan Zean dengan cepat menghalangi kepalanya. Zean meletakkan tangannya di dahi Clara hingga akhirnya kepala Clara membentur tangan Zean.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Zean cepat. Clara memandang Zean dengan wajah tidak percaya. Ia mengukir senyuman melihat sikap waspada Zean pagi itu.


"Terima kasih." Zean yang sadar dengan tangannya yang masih ada di dahi Clara segera menarik tangannya. Sikapnya kembali dingin setelah memastikan Clara baik-baik saja.


"Maafkan saya, Bos."


"Apa kau sudah lupa caranya menyetir!" umpat Zean kesal.

__ADS_1


"Ada pohon yang tiba-tiba tergeletak di tengah jalan. Jangan salahkan dia. Dia tidak salah. Kau seharusnya mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawa kita. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika pohon besar itu menindih mobil kita," ujar Clara membela sang pengawal.


"Maafkan saya, Bos."


"Lalu, kenapa kau berhenti?" tanya Zean lagi tanpa peduli dengan keadaan jalan di depan.


"Tidak ada jalan lain, Bos. Pohon ini menghalangi jalan kita. Tapi, saya akan turun untuk memeriksanya." Zean hanya mengangguk tanpa menjawab. Pengawal itu segera turun dari mobil untuk mencari jalan lain. Tidak peduli jika nanti tubuhnya akan basah karena hujan deras yang turun.


"Apa kita tidak memiliki payung?" tanya Clara karena kasihan.


Zean menghela napas. Pria itu tidak pernah takut dengan hujan deras yang turun. Bahkan angin badai juga sudah pernah ia lewati tanpa menggunakan pakaian pengaman. Akan terlihat aneh jika dia turun dengan payung di tangannya.


"Tidak!" ketus Zean karena tidak mau berdebat. Clara kembali diam setelah mendapat jawaban Zean. Pengawal itu kembali masuk dengan tubuh basah kuyup.


"Bos, tidak ada jalan. Kita terjebak."


"Apa tidak ada jalan lain?"


"Tidak ada, Bos. Ini satu-satunya jalan menuju ke kota."


"Sekitar setengah jam lagi, Bos."


Zean kembali memeriksa keadaan disekitarnya. Memang hujan sangat deras pagi itu. Jika mereka turun dan jalan kaki menuju ke kota, mungkin tidak akan jadi masalah. Tapi sekarang ada Clara di sisinya. Zean tidak mau semakin repot membawa Clara berlari di tengah hujan badai seperti ini.


"Tunggu di sini, aku akan segera kembali."


"Kau mau ke mana?" Clara memegang tangan Zean. Ia menahan pria itu pergi keluar mobil.


"Biar saya saja bos yang pergi mencari bantuan."


"Tidak. Sebaiknya kau tetap di sini. Jaga Clara." Zean bukan tidak percaya dengan bawahannya. Namun, ia tidak suka menunggu. Zean juga butuh bantuan orang di kota agar bisa memperbaiki ponselnya. Ia sangat ingin mendapat bantuan dari pasukannya agar tidak sesulit ini.


"Masih hujan. Apa sebaiknya tidak tunggu reda saja?" Clara melepas tangannya di tangan Zean.


"Justru kita bisa memanfaatkan hujan ini untuk berlindung. Aku yakin, orang-orang yang ingin menculikmu tidak akan muncul di cuaca seperti ini."

__ADS_1


"Tapi, kau harus berjalan kaki di tengah hujan. Itu sangat berbahaya." Clara masih tidak rela Zean pergi. Ia tidak mau Zean celaka. Padahal seharusnya saat ini Clara mengkhawatirkan dirinya sendiri. Karena tanpa Zean, dirinya berada dalam bahaya.


"Aku akan segera kembali. Kau juga butuh sarapan bukan?"


"Sarapan?" Clara memegang perutnya yang memang sejak tadi sudah keroncongan. Hanya saja ia tidak berani mengatakannya secara langsung kepada Zean.


"Aku akan segera kembali." Zean memberikan pistol kesayangannya kepada Clara.


"Jika kau bisa menembak dengan tepat, satu tembakan saja bisa membuat kawanmu tewas. Tapi, pelurunya tidak banyak. Jangan bermain-main dengan benda ini. Gunakan ketika keadaan benar-benar membutuhkan."


Clara menerima pistol itu dan mengangguk. "Bagaimana denganmu?"


Zean mengambil satu pistol yang terdapat di kotak. Sudah habis koleksi senjata mereka. Hanya ada beberapa senjata saja yang tersisa. Itu juga tidak tergolong senjata yang canggih.


"Aku bisa melindungi diriku sendiri. Jangan pikirkan orang lain. Karena saat ini keadaanmu yang sangat mengkhawatirkan."


Clara menyipitkan kedua matanya. "Naik mobil kita menempuh waktu sekitar setengah jam. Jika berjalan kaki, kau butuh waktu berjam-jam untuk tiba di kota."


"Aku bisa tiba di kota jauh lebih cepat daripada naik mobil." Zean memegang tali. Jalanan mereka berbukit. Hal itu sangat memudahkan Zean untuk memotong jalan.


Tiba-tiba suara petir yang begitu mengerikan terdengar dengan begitu dahsyat. Zean yang ingin keluar harus tertahan ketika Clara tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang.


Untuk sejenak Zean hanya diam. Pintu mobil yang sudah terbuka sedikit kembali ia tutup. Zean melihat kedua tangan Clara yang kini melingkari perutnya. Rasanya sangat hangat. Apa lagi di cuaca dingin seperti ini. Sudah lama Zean tidak merasakan pelukan seorang wanita seperti itu.


"Apa kau bisa melepas tubuhku? Semakin lama mengulur waktu, itu akan semakin berbahaya."


Clara yang tersadar segera melepas pelukannya. Wajahnya memerah karena malu. "Maafkan aku. Berhati-hatilah." Clara memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia menyelipkan rambutnya di balik telinga dan memejamkan mata karena malu.


"Jaga dia," ujar Zean kepada pengawalnya.


"Baik, Bos."


Zean segera pergi keluar. Pria itu berlari kencang menembus hujan yang begitu deras.


"Semoga saja ia bisa kembali dalam keadaan selamat," gumam Clara di dam hati.

__ADS_1


__ADS_2