Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Dia Hanya Koki


__ADS_3

Jordan duduk dengan santai sambil berbincang-bincang dengan Zeroun. Emelie ada di kamar. Wanita itu merasa sangat lelah hingga tidak bisa bergabung dengan suami dan putranya. Di halaman samping, Zeroun dan Jordan terlihat bahagia saat Zeroun kembali menceritakan pengalamannya dulu. Saat ia masih memimpin Gold Dragon.


Sudah sejak lama pria tangguh itu ingin menceritakan pengalamannya dulu kepada Jordan. Namun waktunya tidak pernah tepat. Malam ini adalah waktu yang pas untuknya menceritakan semua yang terjadi.


"Dad, pantas saja Gold Dragon selalu menurut dengan perintahku. Ternyata, aku anak dari pemiliknya yang asli," ucap Jordan berbangga diri.


Zeroun tertawa lagi. "Jika kau ingin kau bisa mengambilnya lagi. Lukas bilang, kapanpun kau menginginkannya. Kau bisa memilikinya lagi. Seperti Daddy dan paman Lukas dulu. Kami mengembangkan Gold Dragon bersama. Kau dan Oliver juga bisa melakukannya."


"No, Dad! Aku tidak pernah bermimpi untuk terjun ke dalam dunia mafia. Aku suka kedamaian," jawab Jordan mantap. Pria itu memandang kolam ikan yang ada di hadapannya. "Aku akan membahagiakan kalian berdua. Bukankah sejak dulu Daddy dan Mommy ingin aku memimpin Cambridge? Aku ingin jadi anak yang berbakti. Seumur hidupku, sudah sering membuat kalian khawatir dan kecewa. Kali ini saatnya aku berubah dan menjadi apa yang kalian inginkan."


Zeroun sangat bahagia ketika mendengar jawaban Jordan. Pria itu menepuk pundak putranya sebelum mengambil minuman hangat yang terhidang di atas meja. Zeroun meneguk minumannya sedikit demi sedikit. Pria itu kembali meletakkan minumannya di atas meja.


"Bagaimana dengan Leona? Apa sudah ada kemajuan?" tanya Zeroun penasaran.


Jordan mengukir senyuman. Pria itu membayangkan wajah cantik Leona dengan hati yang bahagia. "Aku sangat mencintainya, Dad. Aku harap dia juga bisa membalas cintaku. Melupakan dan menghapus nama Zean di dalam hatinya."


Zeroun tertegun. Pria itu kembali membayangkan posisinya dulu yang bisa dibilang sangat pas dengan posisi Zean saat ini.


"Itu, tidak mungkin," jawab Zeroun dengan suara pelan.


Jordan mengeryitkan dahi. Ia tidak menyangka kalau ayah kandungnya sendiri yang mengatakan hal seperti itu.

__ADS_1


"Dad, apanya yang tidak mungkin? Aku dan Leona tidak akan bisa hidup bahagia jika nama pria itu masih ada di dalam hatinya." Jordan benar-benar kecewa dengan Zeroun malam itu.


Zeroun mengukir senyuman kecil. "Zean cinta pertama Leona. Leona adalah cinta pertama Zean. Sampai kapanpun, cinta pertama tidak akan pernah bisa hilang begitu saja. Tapi, kau jangan khawatir. Namamu akan tetap bisa ada di dalam hatinya. Menetap di dalam hatinya hingga hanya kau sendiri yang akan selalu mengisi ingatannya nanti." Zeroun beranjak dari kursi yang ia duduki. "Kau tidak perlu bersusah payah menghilangkan namanya di dalam hati Leona. Karena yang perlu kau lakukan adalah menggeser posisi Zean di hati Leona. Itu tidak sulit. Jika memang Leona sudah mulai mencintaimu, itu akan menjadi hal yang sangat mudah. Kau harus percaya dengan Daddy. Jadi, mulai besok Daddy tidak mau dengar kau memaksa Leona untuk melupakan Zean dari hidupnya!"


Zeroun melangkah pergi meninggalkan Jordan sendirian di sana. Ia ingin putranya kembali merenungi semua nasehat yang baru saja ia katakan. Zeroun ingin putranya jauh lebih dewasa.


Jordan menopang kepalanya dengan tangan. Pria itu merasa semua perkataan Zeroun benar adanya. "Apa Daddy menceritakan apa yang dulu ia rasakan? Bukankah dulu Tante Serena meninggalkan Daddy demi Paman Daniel? Semoga saya kali ini kesialan itu tidak menurun kepadaku. Aku tidak mau jika harus kehilangan Leona," gumam Jordan di dalam hati.


Jordan memutuskan untuk beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu ingin ke kamar untuk beristirahat. Langkahnya terhenti ketika melihat Katterine baru saja tiba di istana. Wanita itu melangkah dengan gusar. Wajahnya kesal.


Jordan mencari-cari Oliver di sana. Tapi, ia tidak berhasil menemukannya. Biasanya jika ada Katterine maka ada Oliver di belakang wanita itu. Detik itu Jordan merasakan firasat buruk. Ia berpikir kalau rencana Katterine tidak berhasil justru membuat hubungan wanita itu dengan Oliver renggang.


Katterine melangkah cepat. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar pertanyaan Jordan. Wanita itu memutar tubuhnya dan berlari ke arah Jordan. Katterine memeluk Jordan dan melanjutkan tangisnya.


"Dia pria yang menyebalkan!" lirih Katterine sejadi-jadinya. Wanita itu membenamkan kepalanya di dada bidang kakak kandungnya. "Dia meninggalkanku begitu saja. Bahkan di saat aku belum masuk ke dalam istana."


Jordan tertegun beberapa detik sebelum mengukir senyuman. Pria itu mengusap punggung adiknya dengan penuh kasih sayang.


"Apa rencanamu gagal?" tanyanya hati-hati.


Katterine mengangguk pelan. "Bahkan gagal di saat aku belum memulainya. Alex pria yang payah. Dia ketakutan saat berhadapan langsung dengan Oliver tadi. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk menyerah dan pergi meninggalkanku begitu saja," ucap Katterine apa adanya.

__ADS_1


Jordan tidak bisa menahan tawanya. Pria itu memeluk adiknya dan tertawa geli. "Bukankah kakak sudah bilang tadi, rencanamu tidak akan berhasil. Alex hanya seorang koki di istana. Kesehariannya ia pasti mengenal Oliver walaupun Oliver tidak mengenalnya. Tidak ada satu orangpun di istana ini yang berani menantang Oliver. Kau pasti tahu itu sejak awal. Nyali pria seperti Alex sangat tidak sepadan. Bahkan tadi kakak berpikir kalau Alex akan kembali dalam keadaan babak belur," ucap Jordan sambil berusaha menekan tawanya agar tidak terkesan meledek Katterine.


Katterine melepas pelukannya. Wanita itu memandang wajah Jordan. Ia berpikir kalau semua yang dikatakan Jordan ada benarnya. Tidak sepantasnya ia melakukan hal seperti itu. Apa lagi rencana yang ia lakukan itu cukup beresiko dan bisa membahayakan nyawa orang lain.


"Kak, Oliver tidak mencintaiku," ucap Katterine dengan wajah tidak bersemangat.


"Kau sudah menyatakan perasaanmu kepadanya?" tanya Jordan tidak percaya.


"Bukan. Bukan seperti itu ...." Katterine berjalan ke arah sofa. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di sana. "Aku mengajaknya menikah dan ia bilang tidak mau."


"Menikah?" celetuk Jordan kaget. Pria itu segera mendekati posisi Katterine. Ia duduk di sofa yang sama dengan Katterine dan memandang putri kerajaan itu dalam-dalam. "Kau mengajak Oliver menikah?" tanya Jordan dengan wajah tidak percaya.


Katterine mengangguk pelan. "Ya. Lalu dia mengatakan tidak mau. Dia mau menikahiku jika di dunia ini tidak ada lagi pria yang mau menikahiku. Bukankan itu terkesan terpaksa?" Katterine melipat kedua tangannya di depan dada. "Dia memang pria yang menyebalkan bukan?"


Jordan membuang napasnya dengan kasar. "Katterine, kenapa kau mengatakan soal pernikahan. Bukankah tujuan awalmu hanya ingin membuat Oliver cemburu sehingga secara perlahan rasa cinta itu bisa tumbuh di dalam hatinya. Jika kau seperti ini, justru akan membuat Oliver menjauh dari hidupmu. Bagaimana kalau dia menemui Daddy dan mengatakan kalau tidak sanggup lagi menjagamu? Oliver memiliki Gold Dragon yang harus ia pikirkan," ucap Jordan menakut-nakuti.


Katterine semakin panik. Wanita itu memegang tangan Jordan dan memandangnya dengan wajah takut. "Kakak, bagaimana ini? Aku tidak mau hal itu terjadi."


"Kita harus punya pria yang tidak takut dengan Oliver namun tidak memiliki perasaan denganmu. Dengan begitu, secara perlahan kita bisa membuat Oliver menyadari perasaan yang ada di dalam hatinya," ucap Jordan sambil berpikir keras.


Katterine menghela napas. Wanita itu terlihat tidak bersemangat. "Sangat sulit menemukan pria yang seperti kakak katakan," ucap Katterine sebelum memejamkan mata. Namun, tiba-tiba saja kedua matanya terbuka cepat. Wanita itu mengukir senyuman liciknya. "Aku tahu siapa yang bisa membantuku, kak!"

__ADS_1


__ADS_2