
Leona berlari kencang meninggalkan Jordan. Wanita itu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak ingin Jordan tahu kalau kini wajahnya memerah karena malu. Debaran jantungnya tidak karuan dan hatinya merasa bahagia. Leona ingin menghindari Jordan agar pria itu tidak mengetahui semua yang ia rasakan.
Jordan melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibir tersenyum. “Kau mencintaiku ... Aku tahu, kalau hati tidak akan pernah berbohong,” gumam Jordan penuh semangat.
Leona melajukan mobilnya. Sesekali ia memeriksa spion mobil dan memastikan kalau Jordan tidak mengikutinya. Baru beberapa kilometer menjauh dari gedung, tiba-tiba sebuah mobil hitam menghalangi laju mobil Leona. Dengan gerakan refleks, Leona menghentikan laju mobilnya. Walau memasang wajah kesal, tapi Leona panasaran dengan sosok yang menghalangi jalannya. Leona segera keluar dari dalam mobil.
“Hei, apa kau punya mata?” teriak Leona kesal.
Seorang pria turun dari dalam mobil. Mengenakan kemeja putih yang rapi. Pria itu berjalan cepat mendekati posisi Leona berada.
“Zean.” Leona mematung. Wanita itu berusaha kabur agar tidak bertemu dan mendengar suara Zean. Untuk beberapa hari ini, Leona memang masih menghindari Zean sampai rencanya nanti terancang dengan baik.
Zean berlari kencang. Pria itu menggenggam tangan Leona dan menarik paksa wanita itu. Satu kebetulan yang sangat memihak kepada dirinya. Leona berdiri tepat di depan gedung markas miliknya. Jika Zean berhasil membawa wanita itu masuk ke dalam markasnya, maka Queen Star atau siapapun itu tidak akan berhasil melacak keberadaan wanita tangguh itu. Bahkan menyelamatkannya.
“Lepaskan!” teriak Leona lagi.
“Ikut aku. Aku akan melepaskanmu nanti!” jawab Zean dengan tatapan yang tidak terbaca.
__ADS_1
Leona sempat bingung saat Zean membawanya ke toko roti. Di tambah lagi, beberapa pelanggan toko roti itu menatapnya dengan tatapan penuh arti. Leona tidak mau melakukan penyerangan di depan umum. Apa lagi kini wajahnya terlihat jelas. Tidak terbayangkan di dalam pikirannya, jika ada wartawan yang mengenalnya dan menyeret nama baik keluarga Daniel Edritz Cehn di sana.
“Sial! Kenapa ia membawaku ketempat seperti ini. Kalau tempatnya sunyi, aku pasti sudah memukulnya. Bagaimana kalau ada mata-mata mama di sini. Aku bisa ketahuan,” gumam Leona di dalam hati.
Zean mengukir senyuman saat melihat Leona tidak lagi membantah. Pria itu sudah tidak sabar menghakimi Leona yang kini sudah menjadi pemimpin sebuah geng mafia. Zean menyeretnya paksa dan membawanya ke sebuah ruangan yang cukup luas. Seperti sebuah kamar yang terletak di sebuah gedung. Leona masih belum sadar, kalau Zean membawanya ke markas utama The Devils. Sebuah tempat yang tidak berhasil di lacak Leona selama beberapa hari ini. Sebuah tempat yang menjadi target Leona untuk ia hancurkan.
“Lepaskan!” teriak Leona lagi.
Zean melepas genggamannya. Pria itu berdiri di hadapan Leona dengan wajah penuh amarah. Luka di lengannya masih terlihat dengan jelas. Dengan wajah memerah, Zean mengepal kedua tangannya.
Leona membalas tatapan Zean dengan tatapan yang tidak kalah sadisnya. “Ya. Apa kau baru saja berhasil mengetahuinya?” ucap Leona dengan tatapan sindiran.
“Aku mencintaimu, Leona. Cinta ini tulus. Tidak ada yang salah dari cintaku. Aku tidak mau melukaimu sejak awal. Apa kau pernah berpikir, bagaimana rasanya jika ada di posisiku? Kau marah dan membalaskan dendam dan rasa sakit hatimu kepadaku hanya karena aku telah melukai hatimu. Bagaimana denganku? Keluargaku pergi karena ulah ibumu Leona. Aku kehilangan semuanya. Bahkan kini kau juga sudah membunuh satu-satunya orang yang sangat aku sayangi dan aku hormati. Siapa yang paling kejam di antara kita Leona? Aku atau kau?” teriak Zean dengan wajah yang sangat serius.
Kali ini ungkapan hati Zean menusuk hati Leona. Seperti sebuah belati yang menyayat hatinya hingga membuat rasa yang sangat perih. Hingga tanpa ia sadari, matanya berubah perih. Genangan air mata memenuhi kedua matanya yang indah. Leona meneteskan air mata. Kali ini perasaannya benar-benar tersentuh. Leona tidak bisa membantah perkataan Zean. Wanita itu mematung dengan mata berkaca-kaca. Sekilas, ia ingin mengatakan maaf atas kelakuan ibunya di masa lalu. Seharusnya memang itu yang ia katakan sejak dulu. Sebelum memulai aksi balas dendamnya.
“Leona, aku sangat yakin. Jika kau ada di posisiku. Kau juga akan melakukan hal yang sama denganku. Kau pasti akan membalaskan dendammu,” sambung Zean lagi. Pria itu berjalan pelan mendekati Leona.
__ADS_1
Leona menatap wajah Zean. Air mata terus menetes deras membasahi pipinya. Ia melangkah mundur untuk menghindari sentuhan Zean. Saat ini perasaannya juga sedang melunak. Leona tidak ingin Zean memanfaatkan kesempatan itu untuk memperdayanya.
“Berhenti, Zean,” ucap Leona dengan suara yang tegas. Satu tangannya menghentikan langkah kaki Zean detik itu juga. “Maafkan ibuku. Aku juga akan melakukan semua yang kau lakukan jika memang semua itu terjadi di dalam hidupku. Aku akan membalas siapa saja yang melukai keluargaku,” ucap Leona lagi.
Zean menghela napas. Pria itu juga tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia berjalan ke arah meja yang berada tidak jauh dari posisinya berdiri. Pria itu mengeluarkan beberapa lembar foto yang tersimpan rapi di dalam laci mejanya. Zean membawa foto-foto itu di hadapan Leona.
“Lihat ini. Aku mengikuti hidupmu sejak aku mulai bisa menembak. Sejak aku berusia belasan tahun, aku sudah menyelidiki hidupmu. Aku tahu apa yang kau suka dan apa yang tidak kau suka. Aku tahu semua tentangmu, Leona. Hanya untuk apa? Untuk balas dendam. Namun, detik ini aku sadari. Untuk apa aku menyelidiki semua tentangmu? Aku memiliki dendam dengan ibumu. Seharusnya aku menyelidiki semua tentang ibumu dan mencari kelemahan ibumu. Bukan kau Leona,” ucap Zean sambil menyodorkan beberap foto yang berisi wajah Leona tersebut. “Penyelidikanku selama ini membuat rasa di dalam hatiku tumbuh. Apa kau tahu rasa apa yang tumbuh? Rasa cinta Leona. Aku mencintaimu. Bahkan cinta mati kepadamu!”
Leona melirik foto tersebut sebelum menatap wajah Zean lagi. “Aku akan jauh lebih kejam jika kau melukai keluargaku, Zean. Terutama ibuku!” ucap Leona dengan suara yang serak. Kedua tangannya terkepal kuat untuk menekan emosi yang memuncak.
Zean tertawa. “Kita jodoh, Leona. Kita memiliki sifat yang sama-sama keras. Kau dan aku memang di takdirkan bersama. Leona, mari kita lupakan semuanya. Kita buka lembaran baru untuk hidup kita. Kau harus bisa memaafkan kesalahanku. Begitu juga denganku yang harus berlajar merelakan dan melupakan dendamku atas kematian kedua orang tuaku,” ucap Zean dengan wajah yang sangat tulus.
Leona mengukir senyuman. “Ide yang bagus, Zean. Sayangnya, aku tidak bisa menyetujuinya. Karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah bersama. Hubungan kita telah berakhir di saat kau melukai hatiku. Sejak malam itu, aku bersumpah dengan diriku sendiri untuk membalaskan rasa sakit hatiku. Jadi, jangan pernah bermimpi untuk kembali dalam kehidupanku. Karena sampai kapanpun, hatiku tidak akan terbuka untuk dirimu, LAGI! YOU BROKE ME FIRST!" Leona memutar tubuhnya. Wanita itu ingin segera pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ia tidak mau terlalu lama berada di dekat Zean.
Zean yang masih berdiri di ruangan itu menatap punggung Leona dengan kesedihan. Ia paham betul bagaimana perasaan benci Leona saat ini. Tapi, cukup berat bagi Zean untuk merelakan Leona begitu saja. “Apa yang sebenarnya kau inginkan? Aku sudah memberikan nyawaku. Tapi, kenapa kau tidak mengambilnya. Sekarang, aku mengajakmu kembali. Tapi kau juga menolaknya,” gumam Zean di dalam hati.
3 bab ini sebagai ucapan terima kasih karena semalam dapat 1400koin...😘 thanks reader sayang.
__ADS_1