Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 49


__ADS_3

Suasana taman yang tadinya dipenuhi ketenangan dan kehangatan itu berubah menjadi arena perang tak terkendali. Suara tembakan seperti suara yang sudah terbiasa mereka dengar. Biasanya setiap pengawal kerajaan latihan memang akan terdengar suara seperti sedang perang. Namun pagi ini bukan sekedar latihan. Semua yang pernah memegang senjata harus mengarahkan senjata api mereka ke arah musuh. Mengusir semua orang yang tidak pantas ada di lingkungan istana.


Emelie berdiri mematung memandang peluru yang kini bergerak cepat menuju ke arah dirinya. Kedua tangannya terkepal kuat hingga membuat senjata api yang di tangan terlepas begitu saja. Kedua matanya terpejam saat ia tahu kalau tidak ada lagi jalan untuk berlari.


Tiba-tiba saja Emelie merasakan tangan seseorang memegang pinggangnya. Wanita itu memandang wajah Zeroun dengan tatapan penuh tanya. Siapa sebenarnya yang sudah menolongnya kali ini sedangkan suaminya masih ada seberang sana.


Anak dan menantu yang ia miliki kini jaraknya cukup jauh dari posisi Emelie berdiri. Ada percikan api di depan wajah Emelie. Peluru itu berlaga dengan peluru lainnya. Seorang penembak ahli telah berhasil membuat peluru itu terhenti sebelum berhasil menyentuh bagian tubuh Emelie.


Sayangnya saat seseorang yang ada di belakang tubuh Emelie terdorong. Mereka berdua sama-sama tidak bisa berdiri dengan benar. Hingga akhirnya, mereka berdua jatuh bersama-sama di atas rerumputan yang hijau.


"Serena." Zeroun terpaku melihat sahabat terbaiknya tiba-tiba muncul di sana. Pria itu memiringkan kepalanya untuk melihat penembak jitu yang begitu ahli. Penembak hebat yang sudah berhasil menyelamatkan nyawa istrinya.


Daniel tersenyum dengan wajah penuh kebanggaan. Sepertinya dia merasa dialah orang paling hebat saat ini. Namun, semua orang tidak mau terpaku dengan kejadian itu. Tembakan kembali berlanjut karena musuh mereka masih belum habis.


"Emelie, kau duduk di atas kakiku. Apa kau bisa menyingkir!"


Emelie segera beranjak dari sana. Ia memandang wajah Serena dengan tatapan berkaca-kaca sebelum akhirnya memeluk wanita itu dengan erat.


"Serena, kau memang malaikat penolong."


"Emelie, apa kau baik-baik saja?" Walau kini ia kesulitan bernapas karena Emelie memeluk lehernya dengan erat, tapi Serena ingin memastikan sendiri kalau keadaan Emelie baik-baik saja.

__ADS_1


Emelie mengangguk. "Aku akan baik-baik saja. Aku yakin, bahaya tidak akan berani menyentuhku selama orang-orang yang aku sayangi masih ada di sekitarku."


Serena tersenyum bahagia. Ia memeluk Emelie dan memperhatikan musuh mereka yang sudah berkurang jumlahnya.


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa di serang?" Serena membawa Emelie duduk di balik meja yang sudah terbalik. Kali ini Serena menggunakan meja tersebut untuk melindungi dirinya kalau saja ada peluru yang nyasar.


"Aku juga tidak tahu." Emelie memandang senjata api yang ada di tangannya. Ia ingin kembali menembak. Tapi, melihat kini wanita jagoan yang sebenarnya ada di depan mata. Rasa tidak percaya diri muncul begitu saja di dalam diri Emelie.


Dari kejauhan, Pieter dan Lusya segera pergi meninggalkan lokasi. Lagi-lagi mereka gagal. Hal itu akan membuat nyawa mereka dalam bahaya. Sebelum ada yang menyadari keberadaan mereka, mereka berdua memutuskan untuk pergi meninggalkan lokasi tersebut. Tidak peduli dengan orang-orang yang kini mereka kirim untuk menyerang penghuni istana.


"Mama," teriak Leona dengan wajah berseri. Wanita itu sangat merindukan kedua orang tuanya. Melihat musuh sudah dengan mudah di atasi oleh pasukan Queen Star dan Gold Dragon, Leona dan yang lainnya memutuskan untuk memeriksa keadaan Serena dan Emelie saat ini.


Daniel juga tidak mau kalah. Ia berlari kencang dengan senjata laras panjang di tangannya. Pria itu menatap wajah istrinya dengan perasaan lega. Tadinya ketika ia melihat Serena berlari begitu saja untuk menyelamatkan Emelie, ia tidak bisa bernapas dengan normal. Benar-benar sesak. Bahkan untuk membidik peluru berukuran kecil itu saja ia sempat gugup. Tapi, demi sang istri ia berhasil melakukannya dengan sempurna.


"Apa kau baik-baik saja?" Zeroun memeriksa keadaan istirnya dengan bersungguh-sungguh. Ia tidak mau ada sedikit saja luka di tubuh Emelie. Leona segera memeluk Serena. Wanita itu bahkan harus meneteskan air mata ketika melampiaskan rasa rindunya selama ini.


"Kenapa mama tidak bilang jika ingin datang berkunjung?"


"Tadinya mau buat kejutan," jawab Serena sambil memandang Daniel. Ia sangat bangga melihat suaminya yang selalu siaga ketika dirinya berada dalam bahaya. Bahkan hal yang dilakukan Daniel tadi sama sekali tidak ada perintah dari Serena. Pria itu berinisiatif melakukannya.


"Ma, Leona sangat merindukan mama."

__ADS_1


"Sayang, mama juga merindukanmu."


Katterine dan Oliver juga mendekati posisi Emelie berada. Begitu juga dengan Jordan. Mereka berkumpul dalam satu lingkaran yang sama. Para musuh telah teratasi. Bahaya tidak akan menyerang lagi.


Letty hanya diam sambil melihat berkumpulnya keluarga besar itu. Ia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Walau mereka juga termasuk keluarganya. Tapi, Letty merasa dirinya orang asing. Wanita itu memutuskan pergi dan mencari penembak misterius yang hampir saja mencelakai Emelie.


***


"Siapa wanita itu! Larinya sangat cepat. Apa dia pemenang lari maraton tingkat dunia?" umpat Pieter kesal. Masih terbayang jelas bagaimana Serena berlari dengan cepat untuk menolong Emelie tadi. Bahkan dia juga sempat kaget ketika melihat seorang pria dengan wajah dan penampilan biasa saja bisa menghalangi pelurunya.


"Mereka prang tua Leona!" Lusya membuka pintu mobil bersamaan dengan Pieter. Mereka ingin pergi secepat mungkin.


"Leona?" Pieter masuk ke dalam mobil. Namun, belum sempat mereka masuk tiba-tiba tembakan membuat mereka terperanjat kaget. Dengan cepat Letty sudah ada di belakang mobil dan memainkan senjata apinya dengan ahli.


Pieter tidak menghiraukannya. Ia segera masuk agar bisa kabur dari sana. Memang kebetulan sekali di sana tidak ada kendaraan lain selain mobil miliknya. Jika ingin mengejar sudah pasti mereka membutuhkan waktu yang lama.


Letty menahan langkah kakinya sambil terus menembak kaca mobil musuhnya. Wajahnya tidak terlalu jelas hingga Letty tidak tahu kalau itu adalah Pieter dan Lusya. Ia menggeram karena tidak berhasil menangkap musuh mereka kali ini.


"Siapa mereka! Benar-benar licik!"


Hingga, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di samping Letty. Kacanya terbuka dan memamerkan wajah pria tampan di dalamnya. Letty memandang wajah pria tersebut dengan wajah tidak percaya.

__ADS_1


"Masuklah!"


Karena tidak mau membuang-buang waktu akhirnya Letty masuk ke dalam mobil pria tersebut. Mobil itu melaju kencang mengikuti mobil Pieter dan Lusya yang ingin kabur.


__ADS_2