Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 65


__ADS_3

Pangeran Martine berjalan mendekat. Ia sudah tidak sabar untuk membunuh dua pria tangguh itu detik ini juga. Dokter dan Marco segera dihempaskan ke lantai. Ada dua orang yang kini mengancam mereka dengan senjata api. Hingga pada akhirnya, mereka berdua tidak bisa bergerak ke manapun.


Pangeran Martine tersenyum puas ketika melihat wajah Oliver dan Jordan yang kini berbaring. Ada perban putih di kepala dan alat bantu pernapasan di hidung mereka.


"Semua sudah berakhir." Pangeran Martine tertawa puas. Ia merasa kalau kini dirinya yang paling berkuasa. Tidak ada yang bisa mengalahkannya dengan mudah.


"Setelah membunuh anaknya, saya akan memikirkan cara untuk membunuh kedua orang tuanya. Kabar gembira ini akan menjadi hadiah di ulang tahun Daddy nanti," gumam Pangeran Martine di dalam hati.


Pangeran Martine mengarahkan senjata apinya ke arah wajah Jordan lebih dulu. Pria itu dan keluarganya yang menjadi targetnya kali ini. Secara perlahan Pangeran Martine menarik pelatuk senjata apinya dan ....


DUARRR.


Peluru panas itu mendarat di dahi Jordan. Namun, bukan senyum yang di dapat Pangeran Martine saat itu. Ketika tidak ada darah yang mengalir, Pangeran Martine mulai curiga. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh Jordan dan melemparkan selimut itu sembarang arah.


"SHIT!"


Semua orang yang ada di ruangan itu kaget bukan main ketika menyadari orang yang mereka anggap Jordan ternyata hanya patung yang menggunakan topeng. Segala perban dan alat medis tertancap di patung tersebut seolah memang dia adalah Jordan. Setelah menyadari Jordan hanya patung Pangeran Martine menarik selimut yang menutupi tubuh Oliver. Ternyata sama. Oliver juga hanya sebuah patung yang menggunakan topeng yang mirip dengan wajah Oliver.


"Berani sekali kau menipuku!" teriak Pangeran Martine tidak terima. Pria itu memutar tubuhnya dan mengarahkan senjata apinya ke arah Dokter dan Marco. Mereka berdua sudah tidak berguna dan saatnya untuk di bunuh.


"Setelah membunuh saya, kalian semua akan mati. Karena saya sudah menekan tombol darurat. Dalam waktu 10 menit gedung ini akan runtuh," ucap dokter itu di sisa keberaniannya.


Pangeran Martine tidak peduli. Ia tetap menarik pelatuknya secara perlahan. Hatinya benar-benar emosi.


"Hanya saya yang bisa membuka pintu keluarnya," sambung dokter itu lagi.


Seorang pria yang menjadi tangan kanan Pangeran Martine mulai takut. Ia mendekati Pangeran Martine untuk membisikkan sesuatu.


"Pangeran, kita bisa membunuhnya setelah keluar dari sini."


Pangeran Martine mulai berpikir jernih. Ia menurunkan senjata apinya. Sesuai dengan apa yang dikatakan bawahannya, kali ini ia memberi kesempatan kepada Dokter tersebut dan Marco hidup. Setidaknya sampai mereka bisa keluar dari gedung bawah tanah itu dengan selamat.


Semua orang bergegas setelahnya. Pangeran Martine berjalan lebih dulu dengan gigi menggeram. Bahkan rahangnya mengeras karena ia harus gagal kali ini. Padahal tadinya ia berpikir kemenangan sudah berpihak kepadanya.


Kali ini dokter tersebut tidak membawa rombongan Pangeran Martine menuju ke tempat mereka masuk. Ada jalan lain yang bisa menghubungkan mereka dengan pintu keluar.


"Hanya bisa di buka dengan bola mata saya," ucap dokter tersebut ketika mereka tiba di depan pintu dengan password khusus di samping pintu.

__ADS_1


Pria yang menjadi tangan kanan Pangeran Martine segera menyeret paksa dokter tersebut. Ia ingin segera membuka pintu tersebut agar mereka bisa segera keluar.


Dokter itu menghela napas ketika ingin mencocokkan kornea matanya. Hanya membutuhkan waktu lima detik saja pintu itu terbuka. Saat pintu terbuka, dokter tersebut segera mundur dan memegang tangan Marco.


Satu hal yang tidak di duga. Dokter itu mengeluarkan senjata api dan menembak beberapa pria yang ada di dekatnya. Ia menekan tombol yang ada di pintu samping dan ketika pintu itu terbuka, dokter tersebut membawa Marco masuk ke dalam. Hanya hitungan detik saja pintu kembali tertutup.


Sedangkan Pangeran Martine sudah tidak kosentrasi lagi dengan dokter itu dan Marco. Ia kini menatap wajah pria yang sangat ia kenali. Pria itu berdiri di depan sana seolah sedang menyambut kedatangannya.


ZEROUN ZEIN. Ya, pria itu berdiri di sana dengan pasukan Gold Dragon. Ia sengaja bergerak sendirian karena Zeroun tahu kalau masalah ini akan beresiko. Ia tidak mau membuat Serena dan keluarganya celaka lagi. Apa lagi semua masalah ini lagi-lagi karena dirinya.


"Senang bertemu dengan Anda, Pangeran Martine."


Beberapa saat yang lalu.


Markas Gold Dragon kedatangan tamu yang tidak diundang. Walau tangan kanan Pangeran Martine menyamar, tetap saja pasukan Gold Dragon tahu. Namun, mereka membiarkan penyusup itu tetap ada di dalam. Zeroun yang memberi perintah itu karena ia ingin tahu sebenarnya apa tujuan penyusup itu masuk.


Ketika penyusup itu masuk ke dalam penjara tempat Pieter di kurung, pasukan Gold Dragon semakin waspada. Mereka tidak mau ada orang yang ingin menyelamatkan Pieter. Sayangnya perkiraan mereka salah. Penyusup itu datang hanya untuk membunuh Pieter. Secara perlahan ia mengeluarkan belati yang ia bawa dan ingin menusuk tubuh Pieter yang kini sedang tidur.


Detik-detik sebelum Pieter di tusuk, Zeroun berhasil menghentikannya. Pieter yang kaget dan terbangun segera menendang pria yang ingin menusuknya dengan kaki. Dalam hitungan detik saja penyusup itu berhasil di bekuk.


"Siapa kau?" tanya Zeroun dengan tatapan tajamnya. Bukan menjawab justru pria itu memutuskan untuk meneguk racun. Ia bunuh diri karena tidak mau identitas aslinya ketahuan.


"Kau mengenalnya? Apa dia bagian dari orang yang mempekerjakanmu?" ledek Zeroun sebelum melangkah pergi.


"Pangeran Martine. Pria ini di kirim pangeran Martine karena tidak ingin saya membocorkan identitasnya kepada Anda," jawab Pieter sebelum Zeroun menjauh.


Zeroun memutar tubuhnya. Ia mengukir senyuman karena kini Pieter sudah memberinya sebuah petunjuk yang selama ini ia cari.


"Kau pria yang baik. Aku tahu alasanmu marah dan berubah jahat. Kau akan tetap hidup selama bersamaku. Pieter, kini kedua putraku menghilang. Aku yakin kau tidak ada hubungannya dengan ini. Kita akan mengobrol di lain waktu. Untuk saat ini, aku harus menemukan kedua putraku," ucap Zeroun sebelum pergi. Pieter hanya diam dan kembali duduk pada tempatnya. Ia memandang penyusup itu lagi. Jika tidak ada Zeroun mungkin dia sudah tewas.


"Pangeran Martine benar-benar pria yang tidak memiliki hati," gumam Pieter di dalam hati.


Saat Zeroun di dalam perjalanan menuju ke tempat Serena berkumpul, tiba-tiba ia lebih dulu mendapatkan kabar kalau Leona bertemu dengan Pangeran Martine. Hal itu membuat Zeroun sempat khawatir.


Namun ketika Serena mengatakan kalau Marco hilang. Bahkan Pangeran Martine berhasil kabur. Zeroun merasa kalau Marco memang mengetahui sesuatu. Kemungkinan besar Pangeran Martine yang membawa pria itu pergi, Zeroun mulai memikirkan cara lain.


"Bos, Bos Lukas dan Nona Lana sudah tiba," ucap supir yang kini membawa mobil Zeroun.

__ADS_1


Zeroun kaget. Ia tidak menyangka kalau sahabat terbaiknya itu akan tiba. Bahkan di detik yang begitu menegangkan.


"Apa mereka memberi petunjuk?"


"Mereka mengirim alamat ini. Bos Lukas meminta kita untuk pergi ke kota Bristol," sambung supir itu lagi.


"Cepat lajukan mobilnya. Aku tidak ingin terlambat," ucap Zeroun semakin semangat. Ia tahu kalau Lukas pasti tahu kini putranya menghilang. Hanya saja pria tangguh itu tidak suka menyalahkan orang lain dan lebih suka bertindak sendirian bersama sang istri.


"Maafkan aku Lukas karena tidak bisa menjaga putramu," gumam Zeroun sambil memandang kota di sepanjang perjalanan.


Ketika sudah tiba di kota Bristol, Zeroun merasa sangat bahagia. Di titik pertemuan, ia melihat Lana dan Lukas. Mereka juga terlihat bahagia ketika melihat Zeroun..


"Bos, apa Anda baik-baik saja?"


"Lukas, apa yang terjadi?"


"Dad ...." Aliran darah Zeroun mengalir sangat kencang. Sudah beberapa hari ia tidak mendengarkan suara putranya. Kali ini ia bisa mendengar suara itu lagi. Zeroun miring ke samping dan melihat Jordan yang berdiri sambil di pegang oleh Oliver.


Sebenarnya kondisi Oliver juga belum pulih total. Hanya saja, ia masih bisa membantu Jordan berdiri. Sambil memegang perutnya yang masih terasa sakit, Jordan tersenyum hangat.


"Jordan, putraku!" Zeroun berlari dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk Jordan dengan penuh rasa kerinduan. Pria itu juga tidak lupa memeluk Oliver.


"Daddy senang kalian melihat kalian berdua selamat," ucap Zeroun di sela rasa bahagianya.


"Dad, apa Leona baik-baik saja?"


"Ya. Dia wanita yang tangguh!"


Lukas berjalan mendekat. "Bos, waktu kita tidak banyak. Saya dan Lana akan menghadapi Pangeran Monaco itu di sini. Sebaiknya Anda pulang ke Cambridge bersama Jordan dan Oliver. Tanpa Anda, saya tidak akan tenang melepas mereka."


"Tidak, Lukas. Biar saya yang menghadapi mereka langsung. Kau dan Lana yang akan membawa Jordan dan Oliver pulang ke istana," bantah Zeroun.


"Tapi, Dad ...."


"Jordan, temui Leona. Percayakan semua sama Daddy." Zeroun menepuk pundak Jordan. Lukas dan Lana juga tidak mau membuang waktu. Mereka tahu kalau tidak lama lagi Pangeran Martine akan tiba.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Lukas kembali memandang Zeroun. "Bos, saya berjanji kepada dokter yang telah menyembuhkan Jordan dan Oliver untuk melindunginya."

__ADS_1


"Serahkan semuanya padaku!"


__ADS_2