Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Rencana Zean


__ADS_3

Saat Alana dan Kwan sedang di mabuk cinta. Leona dan Jordan sudah terlihat semakin dekat. Zean dan Letty telah sibuk menyusun strategi penyerangan mereka. Mereka berdua telah ada di Belanda. Mereka mengamati istana Isabel dan seluruh pengawal yang ada di sana. 


“Sangat sulit masuk ke wilayahnya. Ada banyak hambatan di sana,” ucap Letty dengan wajah frustasi. “Menyerang sekarang itu sama saja bunuh diri!” ucap Letty lagi. Ia menjatuhkan kepalanya di atas meja. 


Zean juga terlihat berpikir keras. Seluruh pasukannya telah siap siaga. Hanya tinggal menunggu perintah saja dari Zean. “Aku juga belum menentukan waktu yang pas. Mungkin beberapa jam lagi,” ucap Zean sambil memperhatikan senjata api yang ada di tangannya.


Letty tertawa kecil. “Beberapa jam lagi? Baiklah. Aku ingin tidur dan istirahat dulu. Melatih pasukan milikmu yang tidak ada apa-apanya itu sungguh melelahkan,” sindir Letty sebelum memejamkan mata. Posisinya terasa nyaman walau saat itu kepadanya hanya berada di atas meja yang keras.


Tiba-tiba saja pasukan Zean muncul. Pria itu terlihat sangat panik. “Bos, istana bagian timur di serang oleh segerombolan orang yang tidak dikenali. Mereka dalam jumlah sedikit,” ucap pria itu dengan wajah yang serius.


Zean dan Letty sama-sama berdiri ketika mendengar kabar dari bawahannya. Zean terlihat berpikir keras. Tidak ada yang berani senekad itu kecuali Gold Dragon. Zean berpikir kalau kini Oliver dan Jordan sudah mengambil tindakan untuk membalaskan dendam Leona.


“Ayo kita berangkat. Kita harus membantu mereka,” ucap Zean penuh semangat. Pria itu membawa beberapa senjata yang akan ia perlukan nanti. Sama halnya dengan Letty. Tanpa banyak kata lagi, wanita itu siap untuk bertempur dan menghancurkan istana megah Isabel. Ia juga sudah tidak sabar untuk berhadapan langsung degan pria bernama Clouse.

__ADS_1


***


Zean dan pasukannya telah tiba. Mereka membantu pasukan yang mereka anggap adalah pasukan Gold Dragon. Tato dan penampilannya sama. Bahkan Letty juga melihat beberapa orang yang mirip dengan pasukan Queen Star. Namun, satu hal yang membuat Letty merasa ada yang aneh. Semua pasukan itu tidak untuk bertarung. Mereka justru bunuh diri dengan menusuk diri mereka sendiri.


Letty menarik tangan Zean dengan cepat. “Ada yang tidak beres! Tarik The Devils atau kita akan tertangkap!” ucap Letty dengan wajah yang  bersungguh-sungguh.


Zean menyangkal perkataan Letty. “Kau ingin melihat Gold Dragon dan Queen Star kalah?”


“Mereka bukan Gold Dragon dan bukan Queen Star. Zean, apa kau lupa siapa aku? Aku di besarkan di tengah-tengah Gold Dragon dan aku yang menghidupkan Queen Star. Aku kenal mereka. Ini jebakan. Jika kau tidak segera menarik mereka kembali, mereka akan tertangkap!” teriak Letty di tengah pertempuran yang begitu menguras tenaga.


“Ok. Aku tahu ini berat untuk di percaya. Tapi, aku kenal Jordan dan Oliver. Jika menyerang istana semegah ini, mereka tidak akan menggunakan pasukan hanya sedikit seperti ini. Jika mereka ingin menyerang istana secara terang-terangan seperti ini, pasti mereka sudah mengumpulkan pasukan Gold Dragon dan semua mafia pendukung mereka untuk melawan,” ucap Letty dengan wajah frustasi. “Sekali ini saja, tolong. Percaya padaku, Zean. Aku tulus melakukan semua ini. Tapi, memang kali ini langkah kita tidak tepat.”


Zean menatap tajam wajah Letty sebelum memberi perintah untuk mundur. Pria itu membawa pasukannya kembali ke persembunyian bersama dengan Letty juga. Namun, Zean memberi perintah kepada pasukannya untuk membawa pasukan Queen Star dan Gold Dragon yang masih hidup untuk diperiksa. Zean ingin mengetahi kebenarannya sekarang juga. Pria itu tidak mau mengambil langkah yang salah lagi. Jika terbukti Letty salah. Maka pria itu siap menghabisi Letty detik itu juga.

__ADS_1


***


Isabel duduk di sebuah kursi sambil meminum wine dari gelasnya. Wajahnya terlihat sangat tenang. Ia memandang wajah beberapa pengawal setianya dengan senyuman manis. Gelas yang sempat ada di tangannya ia letakkan kembali ke atas meja.


“Antarakan aku ke Istana Cambridge. Aku ingin mengunjungi Raja dan Ratu Cambridge,” ucap Isabel dengan senyuman manis.


“Putri, di luar sedang ada penyerangan. Anda tidak bisa keluar dari istana. Ini sangat berbahaya untuk keselamatan Anda,” ucap salah satu pengawal.


Isabel tertawa kecil. “Kau salah. Terkadang tempat yang paling berhaya adalah tempat yang paling aman. Urusan penyerangan itu, kita bisa serahkan ke kantor polisi. Bukankah tugas mereka untuk mengamankan suata negara. Jika ada pihak yang ingin menghancurkan istana ini, pasti mereka harus mengambil tindakan yang tegas bukan?” ucap Isabel dengan wajah bahagianya.


“Tapi, Putri ... Raja meminta Anda untuk segera datang menemuinya,” ucap salah satu pengawal lagi.


“Katakan pada Raja. Aku akan menemuinya setelah aku pulang dari Cambridge. Raja tidak akan mengizinkanku untuk berkunjung ke istana Cambridge!” Kedua mata Isabel terlihat sangat tajam. Wanita itu tidak suka di halangi. “Katakan pada Raja. Aku akan baik-baik saja dan pulang dengan selamat!” Tanpa banyak kata lagi, Isabel pergi meninggalkan kamar tidurnya. Ia melirik ke arah jendela dan melihat kepulan asap yang berada tidak jauh dari istana yang kini ia tinggali. Wajahnya terlihat sangat tenang. Tidak khawatir sama sekali. Putri kerajaan itu sangat yakin, kalau dirinya akan baik-baik saja. Ia merasa aman. Sejauh ini ada pria tangguh yang terus menjaga dan menemaninya secara diam-diam tanpa diketahui satu orangpun.

__ADS_1


#Hai reader, kita akan crazy up besok. Tapi, ada syaratnya. Kalau gift dan vote yang reader berikan malam ini banyak. Saya akan crazy up. Tapi, jika gk ada yang kasih. Gak jadi😅


Bebas lho... mau kasih bunga, hati, kalau ada yang mau bagi kursi pijat juga gak apa2. Lebih sering yang ngasih copi ya. Buat temen begadang author🤣


__ADS_2