
Hongkong
Lana merapikan meja makan setelah ia dan sang suami baru saja menyelesaikan makan malam. Terkadang wanita itu membutuhkan bantuan pelayan untuk membantunya. Namun, hari ini para pelayan libur. Memang Lana memberi izin kepada para pekerja di rumahnya untuk libur walau hanya 3 hari dalam 1 bulan. Baginya itu sudah lebih dari cukup. Karena terlalu lama juga Lana tidak bisa membereskan rumah sendirian.
Sambil memperhatikan Lana, Lukas memainkan pisau buah yang kini ada di tangannya. Ia ingin mengupas buah awalnya. Melihat sang istri terlihat mempesona ketika sedang mencuci piring membuatnya mengurungkan niatnya. Pria tangguh itu memilih untuk mengganggu istrinya yang sedang sibuk.
"Aku mencintaimu," bisiknya di telinga Lana. Kedua tangannya sudah melingkar di perut wanita itu.
Kedua tangan Lana kotor hingga ia tidak bisa protes. Bahkan menyingkirkan tangan Lukas saja tidak bisa. Bibirnya tersenyum saat mendengar kata manis yang keluar dari bibir Lukas. Semakin bertambah usia mereka sepertinya Lukas yang semakin romantis. Berbeda dengan Lana yang terlihat biasa saja namun cintanya tetap untuk Lukas.
"Memiliki anak atau tidak, bukankah tidak ada bedanya?" Lana meletakkan piring yang baru selesai ia bilas. Ia mengambil piring lainnya dan membilasnya lagi.
"Apa maksudmu?" Lukas memegang tangan Lana agar wanita itu menghentikan aktifitasnya.
"Maksudku, kita memiliki dua anak. Ada Oliver dan juga Letty. Sekarang rumah ini terasa sunyi. Hanya ada kita berdua saja. Di mana anak kecil yang dulu kita urus dengan penuh kesabaran? Bahkan mereka lebih suka berada di luar sana daripada di rumah. Menginap selama satu minggu di rumah saja tidak pernah. Pulang juga kalau belum berbulan-bulan tidak akan pulang."
Lukas tersenyum ketika mendengar penjelasan Lana. Ia sendiri juga merasa kesepian. Hanya saja, ia seorang pria. Ada Lana di hidupnya sudah lebih dari cukup.
"Oliver memegang Gold Dragon. Sedangkan Letty bersama dengan Queen Star. Mereka bahagia dengan hidup mereka saat ini. Sebagai orang tua kita harus mendukung anak-anak kita."
"Maksudmu aku tidak boleh merindukan kedua anakku?"
"Bukan seperti itu." Lukas terlihat bingung ketika ekspresi wajah sang istri berubah. Sebisa mungkin ia membujuk Lana agar tidak marah lagi. Ia memegang kedua pundak Lana dan membawa wanita itu menjauh dari tempat cuci piring.
__ADS_1
Lukas duduk di kursi dan meletakkan Lana di atas pangkuannya. "Kita sama dengan mereka. Bedanya kita tidak memiliki orang tua yang harus di kunjungi. Dulu kita pergi ke berbagai tempat yang kita sukai. Tidak ingat pulang ke rumah ini. Sampai kita lelah dan kau pun lelah bermain-main, kita baru pulang ke rumah ini. Bahkan saat itu Gold Dragon sempat aku serahkan agar orang kepercayaan kita yang mengawasinya. Sekarang Oliver dan Letty melakukan apa yang pernah kita lakukan. Jadi, jangan menyalakan mereka."
Lana menghela napas. Walau penjelasan Lukas bisa mengurangi sedikit kesedihannya. Tapi, tetap saja ia sangat ingin bertemu dan berkumpul lagi dengan Oliver dan Letty.
"Apa mereka baik-baik saja di sana? Apa mereka bahagia?"
"Kita do'akan saja agar mereka selalu bahagia." Lukas mempererat pelukannya. Sejak Gold Dragon di pegang oleh Oliver, Lukas tidak pernah mau tahu masalah yang terjadi di Gold Dragon. Di tambah lagi kini ia tahu kalau Oliver dan pasukannya ada di Cambridge. Lukas semakin merasa tenang. Ia yakin kalau Zeroun pasti akan mengawasi putranya dan tidak akan membiarkan putra kesayangannya itu celaka.
"Aku ingin menghubungi Oliver."
"Besok saja. Ayo kita istirahat."
Lana yang tadinya sangat ingin mendengar suara Oliver harus mengurungkan niatnya. Ia lebih mematuhi perintah Lukas. Tubuhnya juga terasa lelah karena tadi Lana sendiri yang memasak dan menyiapkan makan malam mereka berdua.
Leona terbangun saat tidur lelapnya mengalami mimpi buruk. Ketika ia tersadar, kini tubuhnya telah berbaring di atas tempat tidur. Entah apa yang sudah dilakukan Serena hingga Leona tidak sadar berpindah dari sofa ke tempat tidur. Leona segera memandang ke samping. Dia berharap semua yang ia lihat hanya mimpi. Wajahnya semakin kecewa ketika tidak menemukan Jordan di sana.
"Jordan, di mana kau berada? Apa kau baik-baik saja? Jika benar kau baik-baik saja, aku harap kau segera memberi kabar. Aku tidak bisa tidur dengan tenang."
Kali ini Leona benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Mau mencari juga tidak tahu harus mencari ke mana. Jordan dan Oliver hilang tanpa jejak. Di lubuk hatinya yang paling dalam, Leona berharap kalau semua ini hanya strategi Jordan dan Oliver semata.
Leona turun dari tempat tidur. Dia berjalan ke arah laci untuk mengambil senjata api. Walau jam masih menunjukkan pukul 3 pagi, tapi Leona sudah tidak bisa tidur lagi. Dia ingin pergi untuk mencari keberadaan Jordan.
Leona memilih beberapa senjata yang bisa digunakan untuk bertahan hidup. Setelah senjata api sudah di pilih, Leona berjalan ke lemari untuk mengganti baju tidurnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan pulang sebelum menemukan Jordan. Ya, aku harus melakukan sesuatu. Aku masih memiliki Queen Star."
Leona menutup tubuhnya dengan jaket berwarna hitam. Tindakannya ini bisa membuat panik satu istana keesokan harinya. Tapi, Leona tidak peduli. Daripada hidup dengan penuh rasa gelisah, lebih baik ia pergi mencari keberadaan sang suami.
Leona keluar secara mengendap-endap. Sikapnya sangat waspada agar para pengawal yang kini berjaga tidak menyadari keinginannya yang ingin kabur.
"Kenapa ada banyak pengawal di mana-mana. Tidak seperti biasanya," gumam Leona di dalam hati.
Mau tidak mau Leona harus menghadapi pengawal yang menjaga istananya sendiri. Ia memakai masker agar identitasnya tidak diketahui. Secara perlahan ia berhasil membungkam satu persatu pengawal yang ingin ia lewati. Membiarkan pengawal istana tergeletak begitu saja di permukaan lantai.
Tidak berhenti sampai di situ saja. Ketika mau pergi meninggalkan istana, di halaman juga tersebar pengawal bersenjata di mana-mana. Jika ketahuan dan dianggap penyusup mungkin nyawanya akan terancam. Leona bersembunyi di balik dinding dan memikirkan cara jitu untuk bisa lolos dari sana. Dia mengambil senjata apinya dan mengintai jalan yang akan dia gunakan untuk meninggalkan istana.
"Setelah menembak beberapa pengawal ini mungkin akan memancing keributan. Aku hanya punya waktu hitungan detik saja untuk bisa lolos ke pagar itu."
Leona mengatur napasnya yang tidak karuan. Dia sangat bingung. "Oke Leona. Kau harus kuat. Ini memang salah. Bagaimana bisa aku membunuh tim ku sendiri."
Leona memejamkan mata hingga beberapa detik. Wanita itu mengangkat senjata tajamnya dan siap menembak. Hingga tiba-tiba saja sebuah belati menancap di dinding yang dia gunakan untuk bersembunyi. Leona kaget bukan main saat itu. Jarak antara belati dan wajahnya hanya beberapa centi saja. Cepat sedikit dia bergerak mungkin belati itu itu akan berhasil menggores wajahnya.
"Siapa kau?"
Leona memiringkan kepalanya. Di sana telah berdiri Serena dengan tatapan tajamnya. Wanita itu memang sangat waspada. Dia bisa tahu kapan bahaya ada di sekitarnya.
"Mama," gumam Leona di dalam hati.
__ADS_1