Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Rencana Terakhir


__ADS_3

Author lagi sakit! Mohon maaf kalau ceritanya tidak sesuai harapan🙏 Senin ini saya mau kenal dengan reader saya, saya lihat dari reader yg beri vote dan beri gift.🌸


Beberapa hari berlalu. Rencana Miller dan Katterine tidak juga membuahkan hasil. Oliver tetap tenang ketika melihat kedekatan antara Katterine dan Miller. Justru pria itu beranggapan kalau Miller adalah saudara yang baik. Tidak perlu mencurigainya. Oliver menganggap kalau Miller menyayangi Katterine sama seperti kini ia menyayangi Katterine tidak ada yang perlu di curigai.


Siang itu, Oliver, Miller dan Katterine bermain-main di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di London. Mereka berbelanja beberapa barang yang akan dijadikan Miller untuk oleh-oleh bagi ibu dan adiknya. Katterine berperan penting dalam hal ini. Ia membantu Miller mencarikan barang-barang terbaik untuk Sonia dan Natalie.


"Aku harus kembali besok," ucap Miller sambil mengaduk makanan yang ada di hadapannya. Pria itu memutuskan untuk menyantap sup iga sebagai teman makan siangnya.


"Hmm, kita gagal." Katterine terlihat tidak bersemangat. Sudah berbagai cara ia lakukan. Di mulai dari makan es krim bersama. Nyanyi bersama. Berdansa bahkan apapun yang ia lakukan dan Miller secara bersama-sama justru Oliver tidak memandangnya dengan cemburu. Pria itu terlihat santai. Seolah-olah tahu apa yang sudah direncanakan Miller dan Katterine.


"Apa yang dia lakukan di toilet? Kenapa lama sekali," ucap Miller dengan wajah kesal. Ia sudah sangat lapar. Namun, ia tidak bisa memulai makan siangnya jika Oliver tidak ada di meja makan itu.


"Dia memang selalu lama jika berada di dalam toilet. Bahkan terkadang tidak muncul lagi," jawab Katterine sambil memperhatikan spageti yang ada di hadapannya. Wajahnya terlihat putus asa. "Sepertinya aku dan dia tidak berjodoh. Cintaku bertepuk sebelah tangan," lirih Katterine dengan wajah tidak semangat.


"Miller, apa kau tidak mau menculikku untuk yang kedua kalinya?" celetuk Katterine tiba-tiba. Hal itu berhasil membuat Miller tersedak saat sedang meneguk minumannya.


"Ini pertama kalinya ada orang yang menawarkan diri untuk di culik. Jangan seserius itu. Kau juga masih muda. Waktunya masih panjang."


Miller tersenyum kecil. Pria itu menggeleng pelan. Ia memperhatikan segerombolan orang yang berlari ke suatu tempat. Miller terlihat sangat penasaran.


"Apa yang ingin mereka lihat?" tanya Miller penasaran.


Katterine membuka kaca matanya. Ia mengeryitkan dahi dengan wajah bingung. "Aku juga tidak tahu. Ini pertama kalinya aku berada di tempat ramai seperti ini," ucap Katterine lagi.


"Katterine, pakai maskermu. Kita akan ke sana untuk melihatnya," ucap Miller cepat. Dia meninggalkan makanannya begitu saja. Menarik tangan Katterine dan membawanya pergi.

__ADS_1


Di mall tersebut ada sebuah acara. Beberapa pria dan wanita sudah berdiri di hadapan para penonton. Di depan mereka ada mie yang ukurannya sangat panjang. Setiap pasangan harus memakan mie itu. Namun, ketika mie itu sudah semakin pendek, para wanita tidak lagi boleh memakan mienya. Hanya pria yang boleh melakukannya. Jika mie terputus atau bibir bersentuhan, maka peserta di anggap gagal.


Sesi pertama sudah berlangsung. Katterine dan Miller memperhatikan pasangan yang ada di depan dengan tawa kecil.


"Aku tidak menyangka kalau akan menonton pertunjukkan seseru ini di Cambridge," ucap Miller dengan senyum di bibirnya. Pria itu memperhatikan para peserta dengan begitu serius. "Apa jadinya kalau kau dan Oliver yang melakukannya ya," sambung Miller lagi.


"Jangan bermimpi. Dia tidak akan mau melakukannya. Baginya pertunjukkan seperti ini sangat konyol," ucap Katterine dengan tangan terlipat di depan dada.


Oliver tiba-tiba saja muncul. Pria itu berdiri di samping Katterine. "Apa yang kalian lakukan di sini?"


"Makan mie," jawab Miller cepat. Oliver memandang wajah Miller dengan begitu serius. "Maksudku melihat pertunjukkan mie."


Karena Miller tidak tahu jenis permainannya apa, jadi dia memutuskan untuk menjawab seperti itu.


"Aku harus melakukan trik yang terakhir kalinya sebelum pergi meninggalkan Cambridge. Aku harap rencana ini berhasil," gumam Miller di dalam hati.


Tiba-tiba saja Miller menggenggam tangan Katterine dan mengangkat tangannya untuk mendaftarkan diri.


Katterine melebarkan kedua matanya. Ia menatap wajah Miller dengan tatapan protes. Tapi Miller terlihat sangat tenang. Pria itu justru mengedipkan sebelah matanya dan membawa Katterine naik ke atas panggung.


Oliver mengeryitkan dahinya. Ia memasukkan satu tangannya ke dalam saku. Memandang Miller dan Katterine dengan tatapan menyelidik. "Apa lagi yang ingin mereka lakukan?" gumamnya di dalam hati.


Acara di mulai. Katterine membuka maskernya dengan ragu-ragu. Ia tahu jalan permainan itu. Tapi, tidak tahu kenapa kini ia tidak bisa tenang. Katterine takut jika nanti bibirnya dan Miller benar-benar bersentuhan. Wanita itu tidak rela.


Miller memandang wajah Katterine dengan penuh percaya diri. Ia memakan mie itu secara perlahan sampai pendek dan bibirnya sangat dekat dengan Katterine. Tangannya merangkul pinggang Katterine agar wanita itu bisa merapat dengan tubuhnya.

__ADS_1


Dari kejauhan, Oliver memandang pertunjukan itu dengan wajah mulai kesal. Ada api di dalam hatinya yang kini menyala-nyala. Tangannya sudah tidak ada di dalam saku. Kini berada di samping dan terkepal dengan kuat. Oliver tidak suka melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Hingga tiba-tiba saja, ia naik ke atas panggung.


"Brengsek!" umpat Oliver sebelum melayangkan pukulan di wajah Miller. Ia berpikir kalau kini Miller mulai mencari kesempatan untuk memiliki Katterine. Bahkan menyentuh bibirnya.


"Oliver, apa yang kau lakukan!" protes Katterine. Wanita itu menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini.


Miller duduk di bawah dengan tawa kecil di bibirnya. "Bahkan aku tidak ingin sekedar menciumnya!" ucap Miller asal saja.


"Miller, apa yang kau katakan?" protes Katterine cepat. Ia tidak ingin emosi Oliver semakin memuncak dan membuat nyawa Miller dalam bahaya.


Oliver menggeram. Pria itu mencengkram baju Miller dan menatapnya dengan tatapan tajam. "Katakan sekali lagi! Agar aku tahu apa yang harus aku berikan kepadamu, Miller!" ancamnya dengan penuh penekanan.


Miller memandang wajah Oliver. " Aku ingi tidur dengannya!"


BRUAKK


Pukulan Oliver benar-benar kuat dan sangat menyakitkan pastinya. Pria itu terlihat tidak sadar dengan apa yang ia lakukan. Ia ingin memberi lebih banyak pukulan di wajah Miller.


"Seharusnya sejak awal aku sudah tahu kalau kau memang mengincar Katterine," ucap Oliver penuh dendam. "Aku menyesal karena sudah mempercayaimu! Kau sama saja seperti pria brengsek di luar sana!"


"Ada yang salah? Dia belum dimiliki siapapun. Aku berhak memilikinya bukan?" ucap Miller dengan tatapan menantang.


"Miller, stop. Jangan bicara lagi." Katterine memegang lengan Oliver. "Oliver, lepaskan Miller. Dia bisa terluka parah jika kau terus memukulnya."


"Aku akan membunuhmu, Miller!"

__ADS_1


__ADS_2