Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Maafkan Aku


__ADS_3

_Kak Aleo, pergi temui Jordan dan Kwan di Blue cafe. Berikan surat ini kepada mereka. Ada seorang pria yang mengancam ku beberapa hari yang lalu. Aku takut memberi tahu kalian semua secara langsung. Pria itu bilang telah meletakkan bom di dekat rumah. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Pria itu bertopeng. Aku sangat yakin kalau wajah yang aku lihat bukan wajah aslinya. Dia menyamar sebagai seorang perawat. Sangat mirip dengan perawat pribadiku. Dia berkata, semua akan baik-baik saja jika Kak Leona tetap memejamkan mata. Ia memintaku untuk membuat Kak Leona tidak pernah bisa membuka mata. Tapi jangan khawatir. Aku tidak memberikan obat apapun kepada Kak Leona. Aku berharap masalah ini segera selesai sebelum Kak Leona membuka mata nanti._



Jordan menatap tajam surat yang baru saja diberikan Kwan kepadanya. Aleo sudah ada di cafe tersebut. Pria itu memberikan surat Tamara kepada Kwan terlebih dahulu sebelum akhirnya Kwan memberikan surat itu kepada Jordan. Ketiga pria itu terlihat berpikir keras dengan musuh misterius mereka saat ini.


"Pengawal sudah sangat ketat di rumah sakit. Tapi, masih ada saja cela untuk masuk mendekati Kak Leona. Apa yang akan terjadi jika pria ini menemui Kak Leona dan melakukan hal berbahaya?" umpat Kwan kesal. Pria itu mengepal tangannya dan meletakkannya di atas meja. "Hanya hitungan menit saja Kak Leona di jaga oleh Tamara. Hampir seharian kau yang menjaganya. Tapi, memang pria ini sangat cerdas hingga ia bisa mendapatkan kesempatan seperti ini untuk mengancam Tamara."


"Kita harus menyelamatkan Paman Tama dan Tante Anna lebih dulu. Setelah mereka aman, kita bisa melakukan tindakan selanjutnya. Kini ancaman mereka hanya ada pada Paman Tama saja," sambung Aleo dengan wajah yang tidak kalah khawatir dari Kwan.


Jordan menghela napas dan mengusap wajahnya dengan tangan. Ia terlihat bingung memikirkan masalah yang terus saja datang tanpa henti ini. Kehidupan yang sangat rumit dan banyak menguras pikiran.


"Aku akan menjaga Leona. Kak Aleo dan Kwan bisa urus masalah Paman Tama di Jepang. Jangan khawatirkan Leona," ucap Jordan sambil memandang wajah Kwan dan Aleo bergantian.

__ADS_1


"Kita butuh bantuan yang lain untuk menjaga Tamara. Dia juga dalam bahaya saat ini," ucap Aleo lagi. Ia kembali membayangkan wajah bingung Tamara di ruangan tadi.


"Biar aku saja yang pergi mengurus Paman Tama. Aku akan melindungi mereka dengan pasukan Queen Star," ucap Kwan memberi solusi. "Kak Aleo bisa menjaga Tamara."


"Kita tidak bisa membuat sebuah tindakan yang terburu-buru. Hal itu hanya akan membuat musuh kita curiga dan mengambil tindakan jauh lebih cepat," ucap Jordan dengan wajah yang sangat serius.


Ponsel Aleo berdering. Pria itu melekatkannya di telinga. Ia terlihat kaget dan segera berdiri dari kursi yang ia duduki. "Apa kau yakin dengan kabar yang baru saja kau dapat?"


Tidak selang beberapa detik kemudian, Aleo kembali duduk dengan tubuh yang lemas. Ia menatap wajah Kwan dan Jordan dengan bingung. "Rumah Paman Tama baru saja meledak!"


"Kita harus segera kembali ke rumah sakit. Aku memikirkan Tamara dan Leona!" ucap Jordan sebelum melangkah pergi. Di belakangnya telah ada Kwan dan Aleo yang kini terlihat bingung.


***

__ADS_1


Tamara meneteskan air mata dengan tangan menutup wajah. Ia menangis dengan sengugukan. Masih terngiang jelas bagaimana ancaman pria jahat itu beberapa detik yang lalu.


"Maafkan Tamara ...," ucapnya lirih.


Apa kau pikir semudah itu mengelabuhi ku? Aku sudah pernah bilang, mataku ada dimana-mana. Kau tidak akan bisa melakukan hal apapun yang bisa menyelamatkanmu. Kedua orang tuamu masih hidup. Tapi, aku tidak bisa menjamin mereka akan hidup berapa jam lagi. Ada banyak luka di tubuh mereka. Mungkin sedikit sayatan saja bisa membunuh mereka. Jika kau ingin mereka selamat, bunuh Leona sekarang juga!


Tamara telah dihadapkan sebuah pilihan yang sangat sulit. Ia tidak bisa memilih lagi. Pria itu memintanya untuk membuat Leona meninggal atau kedua orang tuanya yang akan mati.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membunuhmu Kak Leona," lirih Tamara dengan derai air mata. Ia menyesal karena tidak pernah memikirkan keselamatan kedua orang tuanya selama ini.


Tamara hanya berpikir kalau kedua orang tuanya sangat baik dan memilki banyak teman. Tidak mungkin ada orang yang akan mencelakainya. Namun, pemikiran Tamara salah besar. Walau terbilang baik dan disayangi semua orang. Tidak bisa menjamin mereka akan hidup tenang selamanya. Ketika semua orang memiliki pertahanan yang kuat, Tama satu-satunya target yang bisa digunakan musuh sebagai ancaman.


Tamara menghapus air matanya. Wanita itu memandang wajah Leona dengan tetes air mata yang masih deras. "Maafkan aku Kak Leona. Aku tidak memiliki pilihan lain lagi," ucap Tamara pelan. Wanita itu menyuntikan sebuah cairan ke dalam selang infus Leona. Ia menghapus air matanya dan duduk di lantai. Tubuhnya lelah dan tidak bertenaga.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Kenapa Tamara menangis. Lalu kenapa kepalaku sakit sekali. Tubuhku sakit semua. Napasku juga mulai sesak saat ini. Tamara, apa yang sudah kau lakukan?" gumam Leona di dalam hati. Wanita itu memejamkan mata lagi.


Leona sendiri tidak tahu apa yang terjadi kepada Tamara. Mereka berbicara melalui ponsel dan hanya Tamara yang bisa mendengarnya. Leona merasa lemah dan kehilangan kesadarannya. Wanita itu kembali tidak sadarkan diri saat cairan yang disuntikan Tamara mulai masuk ke dalam tubuhnya.


__ADS_2