Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Jangan Selamatkan dia!


__ADS_3

“Dimana mereka?”


Katterine memiringkan kepalanya saat mendengar kata tanya dari Oliver. Biasanya setelah menanyakan sebuah lokasi, Oliver akan segera memutuskan panggilan teleponnya dan pergi. Kali ini Katterine tidak ingin di tinggal oleh Oliver. Wanita itu ingin mengatakan kalimat yang penting kepada Oliver. Sudah sejak lama ia ingin mengungkapkannya. Sayangnya, waktu mereka tidak pernah pas.


“Kau mau pergi?” ujar Katterine dengan wajah serius.


“Aku harus menolong Letty,” jawab Oliver sambil memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku.


“Letty? Bukankah dia ada di Hongkong? Kau sendiri yang bilang kalau dia sudah pulang ke Hongkong dan tidak akan membuat masalah lagi,” ucap Katterine dengan wajah bingung.


Oliver tertegun ketika mendengar apa yang dikatakan Katterine. Seharusnya memang wanita itu kini ada di Hongkong, tapi Oliver sendiri tidak tahu kenapa Letty bisa ada di kota yang sama dengan tempat Leona di rawat.


“Aku harus pergi,” ucap Oliver dengan wajah serius.


“Jangan!” cegah Katterine. Wanita itu memegang lengan Oliver. Ia tidak mau Oliver pergi untuk menyelamatkan Letty. Bagi Katterine, jika saat ini Letty dalam bahaya. Itu hal yang setimpal dengan apa yang sudah diperbuat Letty kepada Leona. “Kau tidak bisa terus-terusan melindungi dan menolongnya saat ia dalam bahaya. Lihatlah, masalah apa yang sudah ia buat? Semua ini karena kau selalu memanjakannya sejak dulu. Letty bukan adik kandungmu. Biar kan saja ia mati,” ketus Katterine sambil menahan kesal di dalam hatinya. Wajahnya terlihat sangat emosi dan cemburu. Ya, Katterine cemburu ketika pria yang ia cintai lebih mementingkan wanita lain daripada momen kebersamaan mereka saat ini.


Oliver menyipitkan kedua matanya. “Apa kau benar-benar Katterine yang aku kenal?”


Katterine membalas tatapan Oliver. Wanita itu berusaha kuat dan menghilangkan perasaan cemburu yang kini berkobar di dalam hatinya. “Bukan. Aku bukan Katterine yang dulu. Aku Katterine yang kini ....” Katterine memejamkan matanya. Betapa sulitnya ia mengatakan kalau kini ia sangat cemburu karena Oliver perhatian kepada Letty.

__ADS_1


“Putri Katterine ... apa Anda baik-baik saja?” ucap Oliver lagi.


“Ya. Aku baik-baik saja. Aku ikut,” ucap Katterine mantap.


Oliver menggeleng kepalanya. “Tidak. Itu akan merepotkan. Aku datang untuk bertarung, bukan berpesta!” sangkal Oliver dengan wajah yang semakin serius. Ia lelah di tahan seperti itu. Ia ingin segera pergi dan melakukan apa yang ia inginkan tanpa ada yang menghalanginya lagi.


“Jika kau tidak mengizinkanku, aku akan sampaikan berita ini kepada Kak Jordan,” ancam Katterine dengan wajah menantang. “Jika perintahku tidak bisa kau dengar. Aku yakin, perintah Kak Jordan pasti bisa mencegahmu pergi." Katterine terlihat sangat serius dengan kalimat yang baru saja ia katalan.


“Putri, sejak kapan Anda menjadi wanita suka mengancam seperti ini?” tanya Oliver dengan wajah tidak percaya.


“Sejak aku mencintaimu dan cemburu kau dekat dengan Letty, Bodoh ...,” umpat Katterine di dalam hati. Wanita itu mengukir senyum terpaksa. “Sejak Kak Leona masuk rumah sakit. Aku berpikir kalau Letty wanita yang jahat dan lantas mendapat hukuman seperti itu. Di tambah lagi dia-“


Oliver memegang tangan Katterine dan membawa wanita itu pergi. Kali ini Oliver benar-benar tidak memiliki pilihan lain selain membawa Katterine bersama dengan dirinya. “Wanita memang sungguh merepotkan!” gumam Oliver di dalam hati.


...BRUAKKK...


Letty terjatuh di permukaan lantai berdebu. Wajah wanita itu di penuhi dengan luka. Bahkan ada darah segar yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya. Pipinya membiru. Letty merasakan sakit yang luar biasa pada bagian perutnya.


Kwan mengukir senyuman. Pria itu berjalan mendekati posisi Letty berada. Ia tidak puas jika melihat Letty hanya menderita luka ringan seperti itu. Kwan lebih senang jika Letty menggantikan posisi Leona saat ini.

__ADS_1


Letty membalas tatapan Kwan. Wanita itu tertawa kecil sambil membersihkan darah segar di wajahnya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia berusaha berdiri.


"Baiklah, jika seperti ini yang kau inginkan. Sejak awal aku sudah katakan kalau aku hanya ingin melihat Leona dan meminta maaf kepada keluarganya. Tapi, jika kau tidak percaya ... aku akan membalas perlakuanmu ini," ucap Letty sambil memiringkan bola matanya dan memandang Zean. "Dan kau."


Zean berjalan cepat mendekati posisi Kwan. Pria itu juga sudah tidak sabar untuk melayangkan pukulannya ke arah wajah Letty dan membalas perbuatan wanita yang ia anggap jahat. Apapun yang sudah di ucapkan Letty, tetap tidak ada yang mempercayainya.


Bagi Zean dan Kwan, permohonan maaf Letty hanya sebuah kepalsuan sebagai salah satu startegi wanita itu untuk melukai Leona lagi.


Awalnya Zean yang memergoki Letty ada di rumah sakit. Pria itu mengikuti Letty hingga Letty berada di suatu tempat yang sunyi. Tidak di sangka, di tempat itu juga ada Kwan yang sedang mencari udara segar. Ketika Kwan melihat Letty dan Zean bertarung, ia juga hadir untuk membalas perbuatan Letty terhadap Leona. Tidak ada unsur kesengajaan jika Zean dan Kwan bertemu seperti itu.


Letty memutar kakinya dan siap membalas perbuatan Kwan. Walau tidak mungkin menang, tapi setidaknya Letty memiliki kesempatan untuk kabur dari tempat itu.


Kwan menangkis pekulan Letty. Bersamaan dengan itu, Zean menendang perut Letty dan kaki Letty dengan begitu keras.


Walau Letty bisa di bilang tangguh, tapi tetap saja jika di keroyok seperti itu dia akan kalah. Di tambah lagi, memang ia datang ke Amerika untuk menjenguk dan meminta maaf kepada keluarga Leona. Bukan untuk bertarung.


Kepala Letty terbentur dinding hingga mengeluarkan darah yang begitu segar. Wanita itu sudah kehabisan tenaganya. Ia tidak lagi sanggup melawan Zean dan Kwan yang kini terus saja mengincar nyawanya.


"Aku tidak ingin mati. Masih ada orang yang menyayangiku. Aku tidak boleh mati ... aku."

__ADS_1


Letty merasa pamandangan yang ada di hadapannya gelap dan berputar. Wanita itu sudah kesulitan menguasai kesadarannya. Ia bersandar dan mulai memejamkan mata. Kedua tangannya memegang perut yang saat itu terasa sangat sakit.


Kwan dan Zean pergi meninggalkan Letty begitu saja. Mereka tidak lagi peduli dengan kesamatan Letty saat itu. Hidup atau tidaknya Letty tidak lagi menjadi urusan mereka.


__ADS_2