Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Musuh tidak Terlihat


__ADS_3

Jordan mengambil ponselnya yang terus saja berdering. Kedua matanya melihat pemandangan berbukit yang ada di hadapannya sebelum melekatkan ponselnya di telinga. 


"Hallo," ucap Jordan pelan. Pria itu hanya diam membisu ketika mendengar kabar buruk yang baru saja ia terima. Seseorang menghubungi Jordan dan memberi tahu kepergian Leona. Kabar buruk itu membuat Jordan Syok. Bahkan Jordan terlihat bersedia dan tidak sanggup berdiri lagi.


Oliver yang ada di samping Jordan terlihat sangat bingung. "Apa semua baik-baik saja?" 


Jordan memutuskan panggilan teleponnya. Pria itu melihat foto terakhir yang di ambil oleh si penelepon misterius. Seperti apa yang dikatakan oleh penelepon misterius. Leona memang telah tiada. Tubuh kaku dengan wajah pucat di dalam foto itu telah membuktikan kebenarannya.  


"Leona …," lirih Jordan dengan tangan gemetar. Sejak tiba di Cambridge perasaanya memang sudah tidak enak. Ia terus saja memikirkan Leona. Jordan ingin segera menemani Leona lagi. Namun, kini keselamatan Katterine juga penting.


"Awas!" teriak Oliver sambil menarik lengan Jordan. Sebuah peluru melesat di hadapan Oliver dan Jordan. Seseorang secara diam-diam telah membidik Jordan dan menjadikan pria itu makanan dari pelurunya. 


Jordan hanya diam mematung seperti seseorang yang kehilangan semangat hidupnya. Leona sudah seperti nyawanya dan sumber kehidupannya selama ini. Tanpa Leona, Jordan tidak sanggup menjalani hidupnya lagi. Leona cinta pertamanya yang tidak akan tergantikan.


Oliver kembali diam. Ia mengingat pembicaraan Letty saat seseorang menghubungi wanita itu di istana tadi.


"Sejak kapan kau berdiri di situ?"


"Sejak pertama kali kau mengangkat telepon," jawab Oliver dengan ekspresi dingin favoritnya.


Letty tertawa kecil. "Lalu, sekarang kau ingin menangkapku? Kau ingin menghukummu karena aku sudah berhasil membunuh wanita yang di cintai Jordan?" 


"Tidak," jawab Oliver cepat.

__ADS_1


Letty mengeryitkan dahinya. Wanita itu melangkah maju untuk mendekati posisi Oliver berada. Ia ingin memastikan kalau Oliver tidak sedang bercanda.


"Kau mau menjebakku lagi?" ketus Letty dengan tatapan menuduh.


"Letty, kau adikku. Pergilah ke Hongkong. Aku hanya ingin kau berubah. Aku akan mengurus semua masalah yang sudah kau buat. Seorang kakak akan berdiri di depan untuk melindungi adiknya. Walaupun adiknya bersalah!"


Letty tertegun hingga mulutnya terbuka. Wanita itu tidak menyangka jika kalimat yang terucap dari bibir Oliver adalah kalimat yang seperti itu.


"Ka … kakak?" lirih Letty dengan mata berkaca-kaca. "Kau menganggapku adik? Setelah sekian lama kita bersama kini kau menganggapku adik?" ucap Letty dengan wajah tidak percaya.


Oliver memandang wajah Letty dengan sorot mata yang tajam. "Aku menyayangimu sejak dulu. Hanya saja caraku tidak pernah benar. Kau seperti ini juga karena aku tidak pernah memperhatikanmu. Aku tidak pernah membelamu dan membujukmu saat kau kehilangan Kristal. Semua salahku. Seharusnya aku bisa menenangkan hatimu sejak dulu agar masalah ini tidak terjadi."


Letty menggeleng kepalanya pelan. "Kau berbohong! Pasti kau ingin menjebakku lagi kan? Kau bersikap manis seperti ini karena-"


Letty menangis sejadi-jadinya. Wanita itu tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari Oliver. "Kau membelaku? Kau tidak mau membunuhku?" ucap Letty lirih. "Kau tidak membela Pangeran Cambridge itu lagi?" sambung Letty dengan Isak tangis yang bercampur dengan tawa. 


"Pulanglah. Aku akan menemuimu nanti. Biar masalah ini aku yang mengurusnya," ucap Oliver penuh keyakinan.


Oliver melepaskan pelukannya dari tubuh Letty. "Aku harus pergi menyelamatkan Katterine. Setelah Katterine di temukan, aku akan membicarakan masalah ini langsung kepada keluarga Nona Leona," ucap Oliver dengan wajah bersungguh-sungguh. "Aku akan menanggung hukuman yang ingin mereka berikan. Tapi berjanjilah satu hal padaku. Lupakan dendammu dengan Pangeran Jordan."


Letty mengangguk setuju sambil menghapus tetes air matanya yang terus saja jatuh. "Baiklah!"


***

__ADS_1


DUARR DUARR


Oliver tersadar dari lamunannya. Ia bahkan tidak lagi sadar kalau kini ia berada di tengah-tengah bahaya. Kali ini Jordan yang mendorong tubuh Oliver dan mengangkat senjata apinya. Dengan mata yang dipenuhi air mata, Jordan berusaha tegar dan melawan musuh yang telah berdiri menyerangnya.


Oliver juga mengangkat senjatanya. Ia memandang wajah Jordan sekilas sebelum membalas tembakan musuhnya. "Maafkan saya, Pangeran. Saya telah mengecewakan Anda," gumam Oliver.


"Aku tidak melihat satupun musuh yang menembak. Dari mana mereka muncul?" ucap Jordan dengan tubuh yang terus saja menghindar dan mencari-cari keberadaan musuh mereka.


Oliver juga mengelilingi lokasi tersebut. Jarak rumah yang ingin mereka kunjungi sudah di depan mata. Tapi, tidak tahu kenapa sangat sulit untuk bisa tiba di dalam rumah itu. Peluru-peluru yang kini menyerang mereka tiada henti.


"Oliver, awas!" teriak Jordan.


Sebuah peluru menancap di lengan kekar Oliver. Pria itu berada di ambang rasa bersalah hingga ia tidak lagi bisa bertarung dengan maksimal.


"Kau baik-baik saja?" ucap Jordan sambil memegang lengan Oliver yang berdarah.


Oliver mengangguk. Pria itu menembak lagi ke arah sumber peluru yang terdengar. Kali ini Oliver juga mengeluarkan bahan peledak dan mengarahkannya ke tempat musuh mereka bersembunyi.


Suara ledakan terdengar. Namun hanya sebuah ledakan kecil saja. Oliver memang menggunakan bom yang memiliki daya ledak kecil.


Setelah bom meledak, dua pria itu berlari mendekati lokasi sumber tembakan berada. Betapa terkejutnya Jordan dan Oliver ketika melihat mesin tembak otomatis di sana.


"Kita harus lebih waspada," ucap Jordan sambil mengepal pistolnya.

__ADS_1


Pasukan Gold Dragon baru saja tiba. Mereka berdatangan secara berangsur-angsur karena memang untuk masuk ke wilayah itu perlu melewati pemeriksaan yang sangat ketat. Detik itu Oliver bisa kembali bernapas lega. Walau tidak tahu akan menang atau tidak, tapi mereka sudah mendapatkan bantuan dari pasukan Gold Dragon.


__ADS_2