Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Drama Malam Pertama


__ADS_3

Jordan duduk di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Mereka mandinya masih ganti-gantian. Kali ini Leona yang ada di dalam kamar mandi. Jordan yang merasa bosan menunggu Leona kini beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan ke arah kamar mandi.


"Sayang, apa kau baik-baik saja di dalam sana?"


Tiba-tiba saja pintu terbuka. Leona berdiri di depan pintu dengan handuk melilit di dadanya. Ia terlihat sangat cantik dan seksi. Jordan benar-benar tergoda ketika melihat penampilan Leona malam itu.


"Baby girl, kau sangat cantik." Jordan mengecup bibir Leona dengan lembut. Pria itu tahu kalau penampilan istrinya sudah memberikan kode kalau malam ini mereka tidak sekedar tidur. Ada kegiatan lain yang harus mereka selesaikan.


Leona membalas ciuman Jordan. Cukup lama mereka berciuman di sana. Hingga tidak lama kemudian, Leona merasa kalau saat itu Jordan mengangkat tubuhnya dan membawanya terbang. Jordan membawa Leona ke tempat tidur. Pria itu membaringkan tubuh Leona di sana sebelum kembali melanjutkan cumbuannya.


"Sayang, apa aku boleh ...." Jordan butuh persetujuan Leona walau saat itu dirinya sudah dipenuhi dengan hasrat yang membara.


Leona mengangguk perlahan. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher jenjang Jordan. Ia kembali mencium bibir Jordan dan memejamkan mata.


Jordan yang sudah tidak tahan mulai menurunkan bibirnya di leher jenjang Leona. Dalam sekejap Leona membuka kedua matanya.


"Tidak, Jordan!" Leona tiba-tiba mendorong tubuh Jordan dengan sekuat tenaganya. Ia segera memakai kembali handuk yang tergeletak di lantai dan berlari ke arah kamar mandi.


Jordan duduk di atas tempat tidur dengan wajah kecewa. Walau begitu, Jordan kembali menenangkan pikirannya. Ia memposisikan dirinya ada di posisi Leona saat ini. Sejenak Jordan kembali ingat kalau Leona pernah ...


Masih tanda tanya sebenarnya. Mengingat cerita Leona tidak pernah jelas. Tapi malam itu Jordan yakin kalau Leona terlihat ketakutan karena ingat traumanya di masa lalu. Saat Zean menodainya. Jordan merem*as seprei tempat tidur. Pria itu segera turun dari tempat tidur. Ia ingin memastikan keadaan istrinya di dalam kamar mandi.


Leona memandang pantulan dirinya di depan cermin. Ia mencuci mukanya dengan air agar kembali segar. Seperti apa yang dipikirkan Jordan. Kali ini Leona memang kembali mengingat luka di masa lalunya. Bayangan itu muncul begitu saja walau ia tidak menginginkannya.


"Aku harus melupakan dan merelakan apa yang pernah terjadi. Aku tidak ingin hidup dalam bayang-bayang masa lalu seperti ini. Tapi ...."


Leona kembali membayangkan saat Jordan mencium lehernya. Wanita itu memegang lehernya dan merasakan sensasi yang aneh di sana. Hubungannya dengan Jordan selama ini hanya sebatas ciuman bibir saja. Leona dan Jordan tidak pernah melebihi batas. Jordan benar-benar pria baik yang mau menjaga wanitanya.


"Apa yang kini dipikirkan Jordan?" gumam Leona di dalam hati. Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka. Jordan masuk dan berdiri di ambang pintu. Ia melihat wajah Leona yang berada di cermin. Bibirnya tersenyum seolah tidak terjadi masalah.


"Apa wajahmu sudah jauh lebih segar?" tanya Jordan dengan tatapan yang tenang.


Leona hanya diam. Ia terlihat gugup karena merasa bersalah. Hingga tiba-tiba saja kepalanya menunduk. Memandang wastafel yang ada di depannya.


"Maafkan aku," lirih Leona tanpa berani memandang Jordan.


"Apa yang salah? Kita baru saja menikah. Tidak ada yang melakukan kesalahan di sini," ucap Jordan dengan serius.


"Berhentilah berpura-pura. Aku tahu betapa kecewanya kau malam ini. Aku tahu kalau aku ...."


Jordan menunggu Leona menyelesaikan kalimatnya. Namun, Leona bukan menyelesaikan kalimatnya melainkan memutar tubuhnya dan memandang wajah Jordan dengan sedih.


"Bagaimana caranya agar aku tidak mengingatnya?" ujar Leona dengan wajah frustasi.

__ADS_1


Jordan melipat tangannya di depan dada. "Baby girl, aku cemburu jika kau bilang kau mengingat malam indahmu bersama Zean!"


"Malam indah?" Leona melangkah cepat mendekati Jordan. Wajahnya terlihat marah.


"Itu malam terburuk yang pernah terjadi di dalam hidupku. Aku-"


Cup. Jordan mengecup bibir Leona hingga wanita itu membisu.


"Itu berarti malam indahnya hanya bersamaku. Bagus kalau begitu," ucap Jordan dengan senyuman.


Leona mengeryitkan dahi. "Aku tidak sedang bercanda."


"Aku juga serius sayang ...."


"Jordan!"


"Leona, ayo kita tidur dan lupakan malam ini. Aku tidak meminta apapun. Aku hanya khawatir kau sakit."


Leona tertegun saat mendengar perkataan Jordan. Suami yang sangat sempurna seperti itulah Leona menjuluki Jordan. Kedua matanya berkaca-kaca karena terlalu bahagia mendapatkan suami seperti Jordan.


"Tidak bisa. Aku akan jadi istri yang gagal jika-"


Jordan tertawa geli. Ia menarik tubuh Leona dan memeluknya dengan mesra. "Sayang, aku tidak mau memaksa. Aku ingin kau mau dan rela melakukannya. Jika kau keberatan, aku akan menunggu sampai kau siap."


"Ayo kita minum sebelum tidur." Leona menarik tangan Jordan. Ia terlalu bersemangat melihat minuman yang ada di atas meja. Dengan mabuk dan tidak sadarkan diri mungkin dia bisa melupakan traumanya dan ia bisa menjadi milik suaminya seutuhnya. Leona bukan tidak mau menunda. Ia hanya tidak ingin Jordan kecewa. Jordan sudah sangat baik dengan menjaga dirinya selama ini.


"Apa yang mau kau lakukan?" Jordan terlihat tidak setuju ketika Leona membuka gabus yang ada di tutup botol. Dengan segera pria itu merebut botol alkohol yang ada di tangan Leona.


"Aku tidak mau dengan cara seperti ini?" Jordan membanting botol itu di atas meja.


Malam pertama yang memusingkan dan penuh drama. Leona memandang Jordan dengan kecewa. "Aku tidak bisa melakukannya jika dalam keadaan sadar."


"Aku tidak mau melakukannya dengan wanita mabuk!"


Leona duduk di atas meja. Ia memandang Jordan dengan handuk yang masih melilit di dada. Jordan hanya memakai celana pendek hingga memamerkan dada nya yang seksi. Leona tersenyum ketika melihat postur tubuh Jordan malam itu.


"Sayang, ayo kita tidur. Untuk apa kau duduk di sana? Aku ambilkan baju ya." Jordan ke lemari untuk mengambil kemeja putih. Ia membawa kemeja itu dan ingin memakaikannya kepada Leona. Namun gerakannya terhenti ketika melihat tubuh Leona yang seksi dan menggoda.


"Pakailah!" Jordan melempar baju itu di atas pangkuan Leona. Dengan segera ia memutar tubuhnya dan berjalan ke arah tempat tidur. Jordan tidak mau sampai khilaf lagi. Sangat menderitanya rasanya jika sampai tidak jadi lagi.


Leona memandang baju itu dengan wajah bingung. Ia segera melempar baju itu ke lantai dan berlari mengejar Jordan. Karena terlalu bersemangat mengejar Jordan, ia sampai tersandung karpet yang ada di lantai. Leona mendorong tubuh Jordan hingga mereka sama-sama ada di atas tempat tidur. Leona menindih tubuh Jordan.


Seketika suasana ruangan itu menjadi sangat hening sebelum akhirnya tawa Leona dan Jordan pecah. Mereka sama-sama berbaring di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Leona, kau ini benar-benar wanita yang aneh."


"Maafkan aku. Aku tidak ingin di tinggal tidur."


"Lalu kau mau apa?" Jordan memandang wajah Leona dengan cara memiringkan kepalanya.


"Dasar pria! Tidak mungkin aku jujur dan mengatakan padanya kalau aku mau melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri. Di mana harga diriku," gumam Leona di dalam hati. Ia masih memandang langit-langit kamar sambil memegang handuknya yang melilit dengan ketat dan rapi.


"Leona, aku mencintaimu."


Leona segera memiringkan kepalanya. Bersamaan dengan itu Jordan kembali menyentuh bibirnya. Kali ini Leona tidak ingin gagal lagi. Ia berusaha tenang agar di dalam pikirannya hanya ada Jordan. Suaminya, kekasih yang akan menemaninya hingga maut memisahkan.


"Aku sangat mencintaimu Jordan. Maafkan aku jika malam ini aku tidak seperti yang kau bayangkan," lirih Leona saat Jordan kini sudah ada di atas tubuhnya.


"Kau milikku! Selamanya akan menjadi milikku!" Jordan kembali mengecup Leona. Pria itu berusaha keras untuk menghilangkan pikiran kalau kini wanita yang akan ia tiduri sudah tidak perawan lagi. Bagi Jordan apapun keadaan Leona, wanita itu tetap wanita spesial di dalam hidupnya.


"Aku janji akan melakukannya dengan hati-hati," bisik Jordan mesra sebelum ia melanjutkan ke tahap selanjutnya.


(Bulan puasa, dilarang aneh-aneh!)


***


Jordan berbaring di samping Leona. Mereka berada di bawah selimut yang sama. Keringat membuat seprei yang mereka tiduri basah. Napas keduanya juga masih tersengal. Leona mengigit bibir bawahanya saat membayangkan malam pertama yang baru saja ia lalui dengan Jordan.


Berbeda dengan Jordan. Pria itu tertegun ketika membayangkan apa yang sudah ia dapatkan. Dirinya adalah pria pertama yang pernah menyentuh Leona. Selama ini ia telah berburuk sangka kepada Zean. Tidak sepantasnya ia cemburu setiap kali bertemu dengan Zean.


"Sayang, ada yang ingin aku katakan," ucap Jordan memecah keheningan.


Leona memandang wajah Jordan dengan serius. "Apa ada yang salah?"


Jordan menggeleng pelan. Ia mengusap pipi Leona dengan senyuman. "Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan terima kasih."


"Untuk apa?"


"Karena kau sudah menjaga dirimu dengan baik."


Leona tersenyum dengan bahagia. Hatinya lega karena bisa memberikan kepuasan kepada suaminya. Leona berhambur ke dalam pelukan Jordan dan memejamkan matanya.


"Aku ingin tidur."


"Baiklah. Selamat tidur. Aku mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu." Leona mempererat pelukannya. Ia benar-benar bahagia dan bisa tidur dengan tenang. Walau kini di bagian bawah tubuhnya terasa tidak nyaman. Tapi, setidaknya ia sudah menjadi istri untuk suaminya.

__ADS_1


__ADS_2