
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau bisa masuk penjara seperti tadi?" Miller membawa Letty menuju ke mobilnya yang terparkir. Pria tersebut tidak percaya kalau akan bertemu lagi dengan Letty dengan cara seperti itu. Awalnya ia tidak menyangka kalau tersangka yang akan ia hadapi adalah Letty. Dengan jabatan yang dimiliki Miller ia bisa dengan mudah mengeluarkan Letty dari penjara.
"Ini semua karena Zean!" jawab Letty masih dengan wajah jutek. Wanita itu bersandar di samping mobil sambil memandang wajah Miller.
"Kau pasti tahu kalau semua orang tidak percaya dengan perkataanku. Zean bilang pertemuan itu hanya kebetulan saja," sambung Letty lagi. Membayangkan semua orang menyalahkannya sungguh menyebalkan.
Miller tersenyum kecil. "Hei, mungkin memang benar. Zean sudah berubah. Kau tidak bisa menuduhnya tanpa bukti."
"Aku tidak menuduhnya lagi. Tapi respon semua orang sangat buruk. Hal itu membuatku kecewa. Aku memang tidak pernah pantas ada di antara mereka," jawab Letty dengan wajah sedih.
"Semua masalahnya ada di sini." Miller menunjuk dada Letty tanpa menyentuhnya.
"Apa maksudmu?" ketus Letty dengan wajah galaknya.
"Letty, semua orang sayang dan peduli padamu. Tapi hatimu tertutup rapat hingga tidak bisa menyadari semua itu."
"Itu tidak mungkin." Letty memalingkan wajahnya.
"Kapan terakhir kali kau bersikap layaknya seorang wanita? Setidaknya bersikap kalau kau bukan pemimpin geng mafia. Bersikap normal seperti manusia pada umumnya."
"Miller, aku sangat pusing saat ini. Jadi, tolong jangan buat aku tambah pusing."
"Begini, ada sebuah buah yang sangat pahit. Tapi kau belum pernah merasakan rasa pahit sebelumnya. Jadi, ketika kau memakan buah pahit ini, kau bingung. Sebenarnya apa ini? Kenapa rasanya unik. Letty, kau merasa tidak pernah menerima kasih sayang dari orang lain. Padahal sebenarnya semua orang sayang padamu. Hanya saja kau tidak bisa membedakan kapan orang lain membencimu kapan menyayangimu. Kau hanya berpikir kalau semua orang membencimu," ucap Miller penuh penjelasan.
"Apa aku seburuk itu?" Letty terlihat semakin tidak bersemangat.
"Baiklah, aku akan menunjukkan sebuah kehidupan manusia normal. Ayo ikut aku." Miller membuka pintu mobil dan meminta Letty masuk ke dalam. Sedangkan Letty lebih memilih menurut karena memang saat ini ia tidak tahu harus pergi ke mana lagi.
***
Cambridge.
Suasana di ruangan itu terasa hening. Beberapa pelayan berlalu lalang menyiapkan makanan dan minuman untuk tamu yang baru datang. Pangeran Martine hanya menunduk seolah enggan menatap wajah Zeroun. Apa lagi Jordan dan Oliver. Justru pria itu ingin melakukan keributan lagi karena tidak terima kalah.
__ADS_1
"Yang Mulia, sebelumnya saya ingin minta maaf. Saya mewakili putra saya, datang ke sini karena ingin mengakui kesalahan yang sudah pernah kami perbuat. Saya janji kesalahan seperti ini tidak akan terulang lagi."
Zeroun tersenyum ramah menerima permintaan maaf ayah kandung Pangeran Martine. Ia juga tidak suka ada perselisihan antara kerajaannya dengan kerajaan Monaco lagi.
"Saya sudah memaafkan kesalahan Pangeran Martine. Saya tahu kalau jiwa muda akan seperti itu."
"Maaf sebelumnya, sepertinya ada salah paham yang belum Anda ketahui. Saya tahu kalau salah paham ini juga yang membuat perselisihan antara kita," ucap Emelie dengan wajah serius.
"Ya, Benar Yang Mulia. Semua berawal dari kematian Damian yang hingga detik ini kami tidak tahu apa kesalahannya. Saya sebagai Abang sempat marah dan sakit hati. Tapi, membalas perbuatan orang yang sudah menyakiti kita bukan solusi terbaik."
"Tuan, saya akan menceritakan sedikit konflik yang terjadi antara saya, Damian dan Adriana," ucap Emelie dengan mata berkaca-kaca. Sebenarnya ini momen menyedihkan yang tidak mau ia ingat kembali. Tapi, demi kebaikan kebenaran harus diceritakan.
"Semua berawal saat dua kerajaan menjodohkan ahli waris mereka. Saya dan Pangeran Damian. Saya tidak pernah tahu kalau sebenarnya adik saya telah jatuh cinta kepada Pangeran Damian. Begitu juga sebaliknya."
Ayah kandung Pangeran Martine tidak bisa sepele dengan cerita Emelie. Saat ia sadar, beberapa pelayan memang sempat bercerita kalau pernikahan Putri Emelie dan Pangeran Damian gagal. Pengantin wanita kabur dan di gantikan oleh adik dari putri Emelie yaitu Adriana. Awalnya ia tidak pernah mengira kalau sebenarnya Damian dan Adriana telah menjalani sebuah hubungan seperti yang kini diceritakan oleh Emelie.
Emelie menceritakan kisah kelamnya kepada Pangeran Martine dan ayahnya. Hal itu di saksikan oleh Katterine, Jordan, Leona dan Oliver. Lana dan Lukas memilih ke kamar saja. Mereka tidak mau ikut campur urusan kerajaan Cambridge.
Katterine dan Leona juga sedih mendengar cerita sedih itu. Mereka tidak menyangka kalau sebelum menikah dengan Zeroun cobaan hidup Emelie sangatlah berat.
"Cerita dongeng yang selama ini di ceritakan mommy ternyata kisah hidup mommy. Kenapa aku tidak pernah menyadarinya?" gumam Katterine di dalam hati.
"Jadi cerita yang mengatakan kalau Adriana tewas dalam keadaan hamil itu benar?" tanya ayah kandung Pangeran Martine untuk kembali memastikan.
"Ya, Tuan. Saat itu posisinya sangat membingungkan. Adriana mendorong saya agar kami sama-sama terjun dari atas gedung. Namun, takdir masih melindungi saya. Hingga akhirnya, Adriana sendiri yang terpeleset dan jatuh. Walau kejadian itu sangat jelas, tetap saja Pangeran Damian tidak bisa menerimanya. Ia semakin jahat dan ingin membunuh kami bersama komplotan mafia. Seorang wanita bernama Jesica," jawab Emelie sejelasnya.
Pangeran Martine mengangkat kepalanya agar bisa lebih jelas mendengar cerita Emelie. Sulit di percaya memang. Seorang pria yang ia anggap teraniaya ternyata tega membunuh Raja dan Ratu Cambridge yang sebelumnya. Pangeran Martine tidak tahu harus berbuat apa kali ini. Di lubuk hatinya yang paling dalam ada rasa menyesal karena tidak mencari kebenaran ceritanya lebih dulu. Ia hanya mendengar cerita dari satu pihak tanpa mau menanyakan pihak lainnya yang pernah terlibat.
"Yang Mulia, sepertinya semua sudah jelas. Mereka berdua telah mendapatkan balasan setimpal atas perbuatan mereka. Saya tidak mau putra saya sampai salah jalan. Walau saja tahu perbuatan anak saya tidak akan mudah di maafkan." Pria tua itu semakin sedih. Ia merasa malu dengan sikap adik kandungnya. Walau sudah tiada, tapi pria itu pergi dengan kejahatan yang ia lakukan.
"Maafkan saya." Tiba-tiba saja Pangeran Martine bersuara. Pria itu memandang wajah Zeroun dan Emelie secara bergantian.
"Saya sadar kalau perbuatan saya salah."
__ADS_1
Zeroun menatap tajam wajah Pangeran Martine. Ia tidak bisa percaya begitu saja walau di bibir ia berkata sudah memaafkannya. Zeroun sangat waspada. Ia tidak mau sampai keluarganya terancam lagi.
"Kami sudah memaafkan Anda, Pangeran Martine. Walau memang selama ini kerja sama antara kerajaan kita tidak pernah terjalin. Tapi, itu bukan berarti kita bermusuhan," jawab Emelie lagi.
"Sepertinya sudah tidak ada yang perlu di bahas lagi saat ini. Sebaiknya kita makan hidangan yang tersedia." Zeroun menunjuk beberapa makanan yang ada di atas meja.
Leona dan Jordan saling memandang. Mereka sendiri juga antara percaya dan tidak dengan permintaan maaf Pangeran Martine. Perbuatan pria itu tidak pernah bisa di tebak. Walau sudah pergi meninggalkan istana nanti, mereka harus tetap waspada. Setidaknya sampai keadaan benar-benar aman.
***
Pieter berjalan pelan mengikuti pria yang ada di hadapannya. Ia sudah dikeluarkan dari penjara Gold Dragon. Kali ini utusan Zeroun membawa Pieter ke sebuah ruangan yang jauh lebih layak. Ruangan tersebut seperti kamar tidur. Sangat nyaman dan pantas di tempati Pieter.
"Silahkan, Tuan." Pria itu membukakan pintu dan memberikan jalan agar Pieter masuk.
Dengan ragu Pieter melangkah masuk. Ia melihat tempat tidur yang besar dan perabot lengkap di dalamnya. Jendela yang sengaja di buka membuat angin masuk dengan bebasnya.
"Apa kalian yakin membiarkan saya tinggal di sini?" tanya Pieter untuk kembali memastikan. Ia sadar kalau mereka belum berdamai. Pieter masih ingin bertarung dengan Oliver untuk melampiaskan rasa sakit hatinya. Ia ingin tahu sebenarnya siapa yang paling hebat antara dirinya dan Oliver.
"Bos Zeroun berkata. Anda bisa pergi dan kembali kapan saja Anda inginkan. Ketika Bos Oliver sudah sembuh Anda pasti akan mendapatkan apa yang Anda inginkan."
Pieter tersenyum kecil. Ia tidak menyangka kalau Zeroun masih mengizinkan dirinya bertarung dengan Oliver walau kini jelas-jelas Oliver sendiri pernah dalam fase kritis. Dengan wajah yang sangat tenang Pieter melangkah masuk. Ia menutup pintu kamar karena tidak mau di ganggu lagi.
Hal yang pertama kali menjadi perhatian Pieter ketika sudah di dalam kamar adalah makanan dan minuman yang terhidang di atas meja. Berhari-hari menjadi seorang tahanan memang memperburuk kesehatannya. Pieter ingin kondisinya kembali pulih sebelum waktunya tiba untuk bertarung dengan Oliver.
"Tidak lama lagi semua orang akan tahu siapa yang paling hebat di antara kita." Pieter duduk di sofa dan mulai meneguk air putih. Setelah itu ia mulai melahap satu persatu menu yang telah disediakan.
Tanpa terlalu lama makanan dan minuman yang terhidang di atas meja telah habis semua. Pieter beranjak untuk berdiri di depan jendela. Cahaya matahari yang terang membuatnya tertarik untuk berdiri di sana. Dari jendela itu Pieter bisa melihat Padang rumput yang begitu indah. Kelinci berlarian begitu juga burung-burung yang berterbangan di angkasa.
"Mereka memang paling bisa memilih markas. Jika lokasinya seperti ini, siapa sangka kalau rumah ini adalah sebuah markas mafia? Sebenarnya apa bisnis Gold Dragon? Kenapa mereka terlihat sangat santai dan begitu tenang?" gumam Pieter di dalam hati.
Tiba-tiba saja Pieter melihat beberapa pasukan Gold Dragon latihan menembak. Bayangan saat kekasihnya di bunuh membuat jantung Pieter seperti di remas. Pria itu berpaling dan menutup jendela kamarnya. Ia tidak mau terus-terusan mengingat luka lama itu.
"Maafkan aku ... seandainya saja aku bisa menjagamu dengan baik, mungkin kita tidak akan berpisah hari ini."
__ADS_1