Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 48


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit. Oliver membawa Katterine menuju ke ruangan tempat Roberto di rawat. Tidak ada yang tahu kalau kini pengusaha ternama itu masih hidup. Pihak rumah sakit sudah bekerja sama dengan Oliver hingga keberadaan Roberto sudah dipastikan keamanannya.


Sambil memegang pergelangan tangan Katterine, Oliver berusaha mengingat pasukan yang ia utus untuk menjaga Roberto. Kali ini Oliver tidak mau menemukan kesalahan lagi.


"Selamat malam, Bos." Kedatangan Oliver dan Katterine di sambut hangat oleh beberapa pasukan Gold Dragon yang ditugaskan berjaga di depan kamar Roberto. 


Memang tempat itu telah di pesan secara khusus. Sepanjang lorong tidak ada yang berlalu lalang kecuali dokter dan suster yang bersangkutan dengan keadaan Roberto. 


Katterine memperhatikan lorong tersebut dengan saksama. Hingga detik itu ia belum mau banyak tanya. Hatinya sudah cukup lega ketika mendengar Roberto masih hidup.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Oliver dengan wajah serius. Pria itu menatap wajah kekasihnya sekilas sebelum memandang ke depan lagi. Dari kaca tempat mereka berdiri bisa terlihat beberapa dokter dan suster yang sedang mengelilingi tempat tidur Roberto. Membuat Katterine dan Oliver tidak bisa melihat dengan jelas wajah Roberto.


"Dokter yang menanganinya belum keluar sejak tadi bos. Jadi, kami belum mendapat kabar apapun."


"Apa saya boleh masuk?"


"Silahkan, Bos." Seorang pria membukakan pintu agar Oliver dan Katterine bisa masuk. Tanpa mau menunggu lama mereka berdua masuk ke dalam ruangan tempat Roberto di rawat.


Setibanya di dalam ruangan tersebut, suasana terdengar sangat hening. Hanya ada alat medis penunjang kehidupan yang terdengar di sana. Salah satu dokter yang menangani Roberto berjalan mendekati Oliver untuk memberikan penjelasan.


"Selamat malam, Tuan."


"Selamat malam. Bagaimana dengan keadaanya? Apa dia baik-baik saja?"


"Pasien sempat menunjukkan tanda-tanda awalnya. Tapi saat kami periksa lebih lanjut, tidak ada perubahan apapun yang terjadi. Pasien masih dalam keadaan koma. Namun, ada satu hal yang menakjubkan. Pasien bisa mendengar suara kita. Kami bisa melihat bagaimana pasien berusaha merespon percakapan orang sekitarnya."


"Apa hal yang seperti itu biasa terjadi?" Oliver mengeryitkan dahi dengan wajah kurang yakin. Ia berpikir kalau memang Roberto bisa mendengar suara sekitarnya seharusnya pria itu sudah sadar dan membuka mata.


"Untuk beberapa kasus kami pernah menemui kejadian yang serupa, Tuan. Namun …." Dokter tersebut menahan kalimatnya. Ia terlihat ragu untuk melanjutkan kalimat tersebut.


"Ada apa? Katakan saja."


"Pasien tidak bisa bertahan dalam waktu yang lama."


"Tidak! Anda bukan Tuhan yang bisa menentukan kehidupan orang lain. Saya yakin, Roberto bisa melewati semua ini," ujar Katterine dengan wajah yang sangat takut. Ia tidak mau pria itu tewas begitu saja.


Oliver memandang wajah Katterine dengan tatapan yang tajam sebelum memandang wajah Roberto yang kini dipenuhi perban. Pria itu melangkah perlahan dan melepas genggaman tangannya di pergelangan tangan Katterine.


"Aku yakin, kau mengetahui sesuatu hingga akhirnya Pieter tidak membiarkanmu hidup. Roberto, bertahanlah," gumam Oliver di dalam hati.

__ADS_1


***


Pagi yang indah. Matahari bersinar dengan terang. Kicauan burung terdengar jelas di sekitaran pohon yang ada di sana. Pagi itu Emelie, Zeroun, Katterine dan Oliver sudah ada di taman. Mereka memutuskan untuk sarapan di taman tersebut.


Leona dan Jordan tidak kembali ke istana. Ada beberapa hal yang ingin mereka selesaikan. Sepertinya mereka ingin menunggu hasil penyelidikan ramuan itu sebelum kembali ke istana.


Pagi itu Katterine sudah menceritakan kepada Emelie kalau Roberto masih hidup. Emelie terlihat jauh lebih lega pagi itu. Namun, sampai detik ini Emelie belum mengetahui kalau sebenarnya Roberto terlibat dalam masalah yang pernah membuat putrinya celaka.


Sambil meneguk minuman hangat yang tersaji, Emelie memandang wajah Zeroun yang semakin lama semakin membuatnya tergila-gila. Tatapan itu disadari oleh Katterine hingga akhirnya ada satu ide untuk meledek orang tuanya detik itu juga.


"Mom, apa resepnya agar tetap saling mencintai hingga tua?" Katterine memandang Oliver. Ia sengaja mengatakan hal itu agar Oliver juga bisa mendengarnya.


"Tentu saja karena saling memahami. Sayang, mommy sangat sulit memahami sifat daddy-mu ini. Sebenarnya bukan mommy tidak bisa menerima apa yang ada pada dirinya. Hanya saja, terkadang karena terlalu cinta mommy jadi takut kehilangan Daddymu. Maka dari itu mommy sedikit posesif."


Zeroun hanya memandang wajah istrinya dengan tatapan yang begitu hangat. Tiba-tiba saja ada rasa bersalah di dalam hatinya karena hingga detik ini ia tidak bisa merubah sifat buruknya yang suka meninggalkan Emelie ketika terlelap dalam tidurnya.


"Menikah dengan pria tangguh sangat sulit ya mom? Ketika menikah nanti aku mau Oliver meninggalkan Gold Dragon." 


Kalimat yang diucapkan Katterine membuat Oliver memasang wajah tidak setuju. Baginya Gold Dragon sudah seperti bagian dari hidupnya. Ia tidak mau meninggalkannya begitu saja. Apa lagi karena menikah dengan Katterine. Setelah menikah justru ia ingin menjaga keluarganya dengan sangat baik. Maka dari itu ia membutuhkan kekuatan yang berasal dari Gold Dragon.


"Tidak sayang, jangan lakukan itu. Karena hal itu percuma saja." Emelie menggeleng dengan senyuman manis.


"Mom, ini tidak adil! Mommy memaksa Daddy meninggalkan Gold Dragon. Kenapa aku tidak boleh?"


"Karena …."


"Katterine, Daddy dan Oliver berbeda. Saat itu mommy mu tidak memiliki pilihan lain selain memaksa Daddy menjadi Raja. Kalau kau, kau akan ikut dengan Oliver dimanapun ia tinggal. Ada Jordan yang menjaga istana ini bersama dengan Leona. Bukan maksud Daddy mengusirmu agar tidak tinggal di istana. Percayalah, kalau kau akan menikmati hidupmu yang baru nanti," ucap Zeroun memberi penjelasan. Ia tidak mau Oliver berada di posisi yang sulit seperti dirinya dulu.


"Ini terdengar tidak bagus. Tapi, jika Daddy tahu itu yang terbaik. Aku tidak akan memaksa Oliver keluar dari dunianya."


"Kapan kalian mau menikah?" celetuk Emelie dengan wajah penasaran.


Katterine dan Oliver saling memandang. Mereka terlihat berpikir walau sudah pernah mereka tentukan jika 3 bulan lagi mereka akan menikah.


"Soal itu, belum kami bahas Mom."


"Tidak, Bos. Saya akan menikahi Katterine 3 bulan lagi," jawab Oliver mantap. Jawaban pria tangguh itu membuat suasana di sana berubah hening seketika. Emelie dan Zeroun saling memandang dengan senyuman. 


Saat momen bahagia itu ingin berlanjut, tiba-tiba saja Zeroun memperhatikan beberapa pengawal kerajaan yang mendekat ke arah mereka berada. Pria itu terlihat sangat waspada. Sorot matanya berubah tajam dan tidak ada kedipan mata lagi di sana.

__ADS_1


Oliver juga merasa ada yang aneh di sana. Pria itu segera memegang senjata apinya dan siap menembak kapan saja ada bahaya.


Hingga tiba-tiba saja, salah satu pengawal kerajaan mengeluarkan senjata dan menembak ke arah meja tempat keluarga Zeroun berkumpul. Dalam hitungan detik makanan dan minuman yang tertata rapi di atas sana berserak.


Katterine beranjak dari duduknya. Begitu juga dengan Emelie. Zeroun mulai menembak orang-orang yang ia yakini adalah musuhnya.


Oliver segera memegang tangan Katterine dan membawa wanita itu berlindung. Ia berpikir kalau Emelie pasti ada Zeroun yang melindunginya.


Namun, perkiraan Oliver salah. Setelah jarak mereka jauh, justru Emelie masih berdiri di posisinya semula. Sedangkan Zeroun telah menjauh untuk menembak beberapa musuh yang ada.


"Mommy! Oliver, mommy dalam bahaya." Katterine tidak bisa tenang ketika melihat beberapa musuh semakin dekat dengan Emelie. Walau begitu, Emelie tetap saja bersikap tenang. Seolah-olah kejadian seperti itu sudah ia duga akan terjadi.


"Emelie!" teriak Zeroun dari kejauhan. Emelie segera memutar tubuhnya dan melihat wajah Zeroun yang kini berdiri beberapa meter dari hadapannya. Ternyata pria itu memanggilnya karena ingin memberikan sebuah pistol agar Emelie bisa melindungi dirinya sendiri. Memang sudah sangat lama Emelie tidak memegang senjata berbahaya tersebut. Bahkan kedua anaknya tidak pernah tahu kalau Emelie jago menembak.


Dengan cepat Emelie menangkap senjata api yang dilempar ke arahnya. Wanita itu memegangnya dengan pas dan mengarahkannya ke arah musuh yang kini mengincar nyawanya.


Wanita itu terlihat sangat sehat. Bahkan jauh berbeda dari Emelie biasanya yang mereka kenal sedang sakit. 


Dengan wajah kaget Katterine mengatur napasnya. Ia benar-benar takut ketika ibu kandungnya berada dalam posisi bahaya. Kini ia jauh lebih tenang ketika Emelie bisa melindungi dirinya sendiri. Oliver tetap melindungi Katterine. Pria itu menembak tanpa mau menjauh dari posisi Katterine berada.


"Aku tidak percaya kalau di usiaku yang sekarang aku kembali memegang senjata ini. Dulu aku sangat menyukainya. Tapi sekarang, kenapa senjata ini terlihat sangat menyeramkan," ucap Emelie sambil terus menembak ke arah musuh yang terus muncul entah dari mana saja. Bahkan pengawal istana seolah tidak sanggup mengalahkan mereka karena memang kali ini musuh mereka mengenakan seragam pengawal istana Cambridge.


Tidak selang beberapa menit setelah lokasi tersebut kacau balau, Leona dan Jordan muncul. Ada Letty juga di sana. Bersama dengan Queen Star dan Gold Dragon mereka berusaha mengalahkan mush yang ada.


Hal yang pertama kali menjadi daya tarik Leona dan Jordan adalah posisi Emelie yang kini berdiri seperti wanita jagoan. Mereka hampir tidak kenal dengan Ratu Cambridge tersebut.


"Leona, Jordan! Jika kalian hanya berdiri di sini, itu sama saja kalian sedang menonton pertunjukan!" Sindiran Letty berhasil memecah lamunan sepasang suami istri itu. Mereka segera bersiap untuk mengalahkan musuh yang ada tanpa mau mengulur waktu lagi.


Dari posisi yang tidak terlalu jauh, Pieter dan Lusya berdiri dengan wajah di tutupi topeng. Pieter terlihat membidik seseorang untuk ia jadikan korban dalam pertarungan pagi ini. Walau kalah setidaknya ia berhasil membunuh salah satu bagian dari keluarga besar tersebut.


"Leona. Aku ingin kau membunuhnya saja!" Lusya menggeram ketika melihat kemunculan Leona dan Jordan di sana. Seharusnya dia yang ada di sana bersama dengan Jordan. Menjadi istri Jordan dan wanita yang di cintai pangeran Cambridge itu. Sayang, semua hanya mimpi yang tidak pernah menjadi nyata.


"Targetku hanya Emelie dan Zeroun. Aku tidak mau menembak selain mereka berdua!" jawab Pieter dengan tatapan tajam. Jemarinya yang sudah siap menembak kini mulai bergerak secara perlahan. Lusya yang terlihat kesal hanya bisa melipat kedua tangannya di depan dada. Jika saja ia memiliki kemampuan mungkin saat ini ia sudah menembak Leona secara diam-diam.


DUARRR


Timah panas itu meluncur dengan cepat menuju sasaran yang sudah ditentukan Pieter. Ia terus saja terbang dengan kecepatan penuh menuju posisi Emelie berada. Seharusnya Zeroun yang ditembak Pieter. Tapi, ketika melihat posisi Zeroun yang sulit di bidik, jadi pria itu memutuskan untuk menembak Emelie saja.


Leona yang melihat hal tersebut segera berlari kencang. Begitu juga dengan semua orang yang ada di sana. Mereka semua berlomba-lomba menyelamatkan Emelie. Walau kini posisi mereka sangat jauh dari posisi Ratu Cambridge itu berada.

__ADS_1


"Mommy!"


__ADS_2