Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Siap Bertarung


__ADS_3


Jordan melajukan mobilnya dengan kecepatan. tinggi. Pria itu tidak lagi mau melihat ke arah belakang. Ia tidak peduli kalau ada mobil Oliver yang mengikutinya dari belakang. Bahkan bukan hanya Oliver saja. Katterine juga sudah ada di belakang mobil Oliver. Wanita itu mengemudikan mobilnya sendiri dengan kecepatan yang tidak kalah cepat dari Jason dan Oliver.


"Kemana sebenarnya mereka ingin pergi? Sudah sejauh ini masih belum sampai juga," umpat Katterine kesal. Wanita itu menambah laju mobilnya lagi saat Oliver menambah laju mobilnya.


Putri Kerajaan Cambridge itu sama sekali tidak takut kecelakaan. Ia terlihat sangat percaya diri dengan kemampuan mengemudinya. Walau sebenarnya selama ini ia belum pernah mengemudikan mobil sendiri. Kakinya tidak bisa diam ketika melihat mobil terparkir.


Namun, tidak pernah ada kesempatan baginya untuk mengemudikan mobil tersebut. Malam ini adalah momen yang tepat baginya untuk melampiaskan rasa penasarannya selama ini.


Oliver memperhatikan beberapa mobil yang berbaris di belakangnya. Hingga detik itu ia belum juga sadar kalau Katterine ada di antara mobil yang melaju mengikutinya. Sampai ... saat ponselnya berdering.


Oliver mengambil ponselnya yang tergeletak di dashboard mobil. Pria itu mengernyitkan dahi saat melihat nomor pengawal yang bertugas untuk menjaga mansion. Tiba-tiba saja hatinya khawatir karena kini ada Katterine di dalam mansion. Pria itu takut jika saat ia tidak ada di mansion seperti ini, pihak musuh justru memanfaatkan situasinya untuk menyerang mansionnya.


"Ada apa?" ketus Oliver masih dengan tatapan fokus ke arah mobil Jordan di depan. Pria itu tidak ingin kehilangan jejak Jordan.


"Bos, Putri Katterine mengikuti Anda," jawab pengawal itu cepat.


"Apa kau bilang?" celetuk Oliver dengan wajah kaget dan tidak percaya.

__ADS_1


Pengawal itu menjelaskan semuanya dan memberi tahu kode mobil yang kini di tumpangi Katterine. Oliver segera memutuskan panggilan telepon itu dan memandang ke arah spion. Betapa terkejudnya Bos mafia itu saat melihat kode mobil itu adalah mobil yang kini ada di belakang mobilnya. Sangat dekat.


"Kenapa dia bisa mengikutiku hingga sejauh ini," umpat Oliver kesal. Pria itu tidak tahu harus berbuat apa.


Kini ada dua orang penting yang harus ia lindungi. Satu di depan satunya lagi di belakang. Oliver dilema. Jika pria itu memikirkan Katterine maka ia akan kehilangan jejak Jordan. Sedangkan jika ia memilih untuk tetap mengikuti Jordan, maka ia akan terus khawatir dengan keselamatan Katterine.


"Putri ... sifat siapa yang anda tiru? Kenapa Anda sangat keras kepala dan sulit di atur seperti ini sekarang," umpat Oliver kepada wanita berusia 25 tahun itu.


Oliver menurunkan laju mobilnya. Ia lebih memilih Katterine dan melepaskan Jason begitu saja. Melupakan tujuan utamanya untuk mengikuti laju mobil Jordan.


Namun, satu hal tidak di sangka-sangka terjadi. Katterine buka ikut menurunkan laju mobilnya. Wanita itu justru menyalip mobil Oliver dan mengikuti laju mobil Jordan yang cepatnya bukan main. Hal itu berhasil membuat Oliver geleng kepala. Ia terus saja mengumpat kesal atas kecerobohan yang ia miliki saat ini.


"Putri, apa dia benar Putri Katterine yang aku kenal selama ini?" ucap Oliver kesal sebelum melajukan mobilnya untuk mengejar laju mobil kakak beradik yang ada di hadapannya.


Leona mengukir senyuman. Walau kini keadaan sudah sangat genting, tapi wanita itu masih tetap memasang wajah yang sangat tenang. Ia menarik tangan Kwan yang sejak tadi menggenggam tangannya. Leona memilih untuk keluar dari pintu yang ia masuki.


Melawan pasukan polisi yang kini ingin menangkapnya. Ia tidak memiliki pilihan lain. Daripada mati terpanggang di dalam gedung itu, lebih baik ia memilih untuk bertarung dengan pasukan polisi itu.


Kwan memasukkan kode ke pintu itu dengan angka yang sama dengan angka yang ia gunakan untuk membuka pintu itu tadi. Leona mencegah Kwan menekan tombol enter. Wanita itu paham betul kalau kode pintu untuk masuk dan keluar berbeda. Sebelum semua terlambat, Leona mencegah tangan Kwan.

__ADS_1


"Kak, apa yang salah?" tanya Kwan bingung. Di belakang mereka, pasukan mafia Queen Star juga masih memasang wajah yang sangat tenang. Suatu kebanggaan bagi mereka jika mati saat dalam misi seperti itu. Apa lagi bersama dengan Big Boss yang sangat mereka cintai.


"Gunakan tanggal lahirku," ucap Leona lagi. Walau masih kesal mengucapkan hal tersebut, tapi Leona terpaksa mengatakannya kepada Kwan.


Kwan tidak memberi reaksi apapun. Pria itu memasukkan angka yang menjadi tanggal lahir Leona. Walau kini dalam hatinya bingung bukan main, tapi Kwan tetap menyembunyikan semua itu dengan ekpresi wajah tenangnya.


Leona mengarahkan senjatanya ke depan. Wanita itu siap menembak polisi yang sudah berbaris di balik pintu yang akan terbuka. Ia mengatur napasnya agar kembali tenang. Kedua matanya memperhatikan Pi tu yang sudah terbuka secara perlahan.


Duarr Duarr.


Puluhan peluru mereka lepas ke arah polisi yang berbaris di sana. Leona dan timnya tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada polisi itu untuk melukai tubuh mereka.


Leona maju lebih dulu. Ia memainkan belatihnya untuk menebas siapa saja yang menghalangi langkahnya untuk kabur.


Sirine polisi terdengar jelas di depan gedung. Leona berdiri di ruangan tersebut sambil memandang mobil-mobil polisi yang sudah mengepung gedung tersebut.


Kwan menggenggam tangan Leona. Mereka harus segera keluar. Tidak banyak waktu yang mereka miliki. Ratusan polisi yang ada di depan gedung itu memang harus mereka hadapi.


"Kak, percayalah. Kita akan menang," ucap Kwan penuh keyakinan.

__ADS_1


Leona memandang wajah Kwan sebelum mengangguk pelan. Leona mengganti senjata apinya dengan level yang lebih tinggi. Wanita itu siap menyerang pasukan polisi yang akan menghalanginya kabur.


Serena dan Shabira tidak pernah menyangka kalau kini anak mereka telah berada di zona bahaya. Nyawa mereka terancam.


__ADS_2