
Miller muncul ketika Letty masih bertarung dengan dua pria yang kini mengincar gelang Bella. Polisi tampan itu segera menembak musuh yang berusaha melukai Letty. Hanya beberapa tembakan saja masalah selesai. Musuh sudah habis karena memang penyerang yang ada di lantai bawah sudah habis. Miller segera mendekati Letty untuk memastikan keadaan wanita itu baik-baik saja.
"Apa ada yang terluka?" Miller memegang kedua lengan Letty. Memperhatikan belas luka yang belum sembuh untuk memastikan kalau tidak ada luka yang baru.
"Aku baik-baik saja," jawab Letty.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku mencarimu di luar rumah tadi. Pikiranku sudah tidak karuan."
"Berhentilah merayuku!" Letty memalingkan wajahnya. Sebenarnya ia sangat bahagia karena Miller begitu mengkhawatirkannya. Namun, ia tidak mau langsung percaya. Letty tidak mau kecewa dan sakit hati untuk yang kedua kalinya. Apa lagi sama pria yang sama pula.
"Wanita itu bersembunyi di kamar mandi." Letty menunjuk kamar mandi tempat Bella bersembunyi.
"Bella?"
"Ya, siapa lagi?"
Miller terlihat tidak tertarik. "Kita tinggal saja dia di sini. Keadaan juga sudah aman." Miller memegang tangan Letty dan ingin membawa wanita itu pergi dari sana.
"Jangan!" tolak Letty. Ia menahan langkah kakinya.
"Kenapa?"
"Musuh yang tadi menyerang bukan ingin menyerang kita. Mereka datang untuk menyerang Bella. Jika kita membiarkannya tinggal sendiri di rumah ini, dia bisa celaka."
"Lalu?"
"Bagaimana kalau dia ikut dengan kita."
"Kau yakin?" tanya Miller ragu. Masih terbayang jelas wajah benci Letty ketika wanita itu memandang Bella.
"Mau bagaimana lagi? Aku pikir kita tidak akan mudah mendapatkan emas itu. Karena pemilik yang asli adalah Bella. Bisa saja kan tempat penyimpanannya menggunakan sandi atau apa gitu."
"Kau benar. Mereka datang ke sini pasti ingin menangkap Bella. Baiklah, kita akan membawa wanita manja itu bersama dengan kita. Aku juga ingin menyelidiki beberapa hal tentang emas ini."
Miller berjalan ke arah kamar mandi. Pintunya terkunci. Dengan sabar Miller mengetuk pintu kamar mandi dan meneriaki nama Bella. Tidak lupa Miller berkata kalau dirinya yang ada di depan pintu, bukan orang jahat. Dalam waktu satu menit saja pintu kamar mandi terbuka. Bella keluar dan segera berhambur ke dalam pelukan Miller.
"Miller, syukurlah kau selamat. Aku sangat mengkhawatirkanmu tadi," ucap Bella dengan wajah sedih. Letty yang melihat kejadian itu hanya bisa diam sambil memalingkan wajahnya. Ia tahu bagaimana karakter Bella. Percuma saja dia marah dan menyalahkan Miller maren jelas-jelas Bella yang lebih dulu memeluk pria itu.
__ADS_1
"Kita harus pergi dari sini." Miller segera melepas pelukan Bella. Ia tidak mau Letty lagi-lagi salah paham padanya. Sebisa mungkin ia terlihat cuek di hadapan Bella.
"Ke mana?"
"Ke tempat yang aman. Sepertinya seseorang mengincar nyawamu," ucap Miller dengan wajah serius.
"Nyawaku? Apa maksudmu? Jangan menakutiku dengan cara murahan seperti ini!" ucap Bella tidak percaya.
"Terserah kau saja mau percaya atau tidak. Yang penting aku sudah memperingatimu," ucap Miller dengan wajah santai.
Bella berpikir sejenak. Ia memandang wajah Letty yang terlihat tidak tertarik memandang wajahnya. Wanita itu tersenyum dan berlari mendekati Letty. Ia merangkul lengan Letty dan bermanja ria dengan wanita tangguh itu.
"Terima kasih sudah menolongku." Letty mengeryitkan dahi. Sebenarnya ia sangat suka memiliki saudara wanita yang manja seperti Bella. Wanita itu mengingatkannya akan kehadiran Ksrital. Tapi, Letty belum tahu bagaimana sifat asli Bella. Ia takut semua ini hanya jebakan. Dalam dunia mafia belum tentu yang jahat berbahaya. Dan sudah pasti yang terlibat tidak berbahaya bisa membunuh.
"Ya. Tapi tolong lepaskan. Aku tidak suka di rangkul seperti ini." Letty berusaha melepas tangan Bella seolah jijik. Padahal sebenarnya tidak seperti itu.
Bella memajukan bibirnya. Ia kembali mengeluarkan gelang yang sejak tadi ia simpan dengan baik. Wanita itu memandang Miller dan menyerahkan gelang itu kepada Miller.
"Jaga benda ini. Aku tidak sekuat kau untuk melindunginya."
Miller merasa memiliki kesempatan untuk menyelidiki. Pria itu berjalan mendekat dan menerima gelangnya.
Bella tertegun. Ia terlihat ragu menceritakan yang sebenarnya terjadi. Namun, kali ini dia hanya sendiri. Ella sebagai adik yang paling tahu segalanya telah tiada. Jika tidak jujur dengan Miller ia takut akan celaka dan tewas.
"Apa wanita ini temanmu?" Bella menunjuk ke arah Letty. Ia ingin memastikan kalau orang yang mendengar ceritanya adalah orang baik.
"Ya. Jika kau percaya padaku, kau juga harus percaya padanya."
"Baiklah … sebenarnya aku tidak memiliki bisnis apapun selama ini. Kekayaan yang aku miliki berasal dari gelang ini."
"Apa gelang ini bisa mengeluarkan uang setiap kau membutuhkannya?" Miller terlihat bingung.
"Tidak. Tidak seperti itu. Setiap bulannya akan ada pria yang datang memberikan aku emas. Hanya dengan menunjukkan keberadaan gelang ini, pria itu baru mau memberikan emasnya. Dia bilang emas itu milik kedua orang tuaku yang memang akan diberikan kepadaku dan Ella jika kami membutuhkannya. Pernah sekali aku lupa menyimpan gelang ini, pria itu tidak memberikan emas itu kepadaku. Dia berkata kalau aku Bella yang palsu."
"Gelang itu sebagai identitas," sambung Letty cepat.
"Ya, bisa di bilang seperti itu. Tapi pria itu datang dan pergi tanpa aku ketahui."
__ADS_1
"Apa pria itu muncul setelah Ella pergi, atau memamg sudah sejak dulu kau dan Ella bertemu dengannya?"
"Setelah Ella pergi pria itu muncul."
Letty sangat penasaran dengan pria yang diceritakan Bella. Ia semakin bersemangat membawa Bella untuk ikut bersamanya.
"Bella, jika nanti pria itu muncul apa kau mau memperkenalkannya kepada kami?"
"Maafkan aku. Bukan aku tidak mau mempertemukan kalian dengan pria itu. Tapi, dia tidak akan muncul lagi sekarang."
"Kenapa?" tanya Miller penasaran.
"Karena … dia telah tewas."
Miller dan Letty sama-sama kaget. "Tewas? Dari mana kau tahu?" ujar Letty cepat.
Sebulan yang lalu. Pria itu datang dan memberikan surat. Ia memberikan sekoper emas dan memintaku untuk membuka usaha. Dia bilang usianya tidak lama lagi karena ia mengidap penyakit mematikan. Ia hanya berpesan, agar aku menjaga gelang ini dengan baik. Sama seperti kata Ella. Dia bilang aku akan jatuh miskin jika gelang ini hilang.
"Ini konyol!" Letty terlihat tidak percaya.
"Apanya yang konyol? Memamg seperti itu ceritanya. Jika kau tidak percaya, kau bisa lihat ini." Bella berjalan ke arah lemari. Wanita itu menyingkirkan pakaiannya dan mengambil berangkas yang ada di sana. Setelah memasukkan password, ia membuka pintu brangkas. Bella mengambil beberapa bongkahan emas berbentuk persegi panjang.
Letty dan Miller saling memandang dengan wajah tidak percaya. Bentuk emasnya sama dengan emas yang mereka lihat di file data itu.
"Lihatlah. Ini emasnya. Ada namaku dan Ella di sini. Emas ini memang milik keluargaku. Kedua orang tuaku telah menjamin hidup kmai berdua. Sayangnya Ella tidak bisa berada di sisiku," lirih Bella sedih.
"Kami percaya," ucap Miller. Ia menepuk pundak Bella dengan lembut. Ia tahu bagaimana rasa sedih yang kini dirasakan Bella. Bagaimanapun juga Natalie bisa hidup sejak Miller bertemu dengan keluarga kaya raya ini.
"Bawa emasnya. Kau tidak akan menyusahkan kami kan?" sindir Letty. Bella hanya menghela napas.
"Aku hanya memiliki 20 keping. Apa cukup?"
Miller menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lebih dari cukup. Sekarang, ayo kita pergi sebelum ada perampok yang mengincar emas ini." Miller membantu Bella membawa brangkasnya. Mereka tidak mungkin memindahkan emas itu dan membawanya dengan tas. Walau terasa berat, tapi Miller merasa bangga bisa membopong emas sebanyak itu.
"Dia benar-benar wanita polos," gumam Miller di dalam hati. Bella dan Letty berjalan beriringan di hadapannya. Miller berharap kalau Letty dan Bella bisa menjadi teman agar tidak ada hal yang membuatnya pusing lagi.
Letty berjalan santai menuruni anak tangga. Sesekali ia melirik wajah polos Bella. "Masih ada yang aneh. Aku harus tetap waspada," gumam Letty di dalam hati. Berbeda dengan isi hati Letty ynag dipenuhi kecurigaan. Bella justru merasa sedih karena kini hidupnya tidak setenang dulu.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semua menjadi berantakan? Aku rindu hidup tenang!"