Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 75


__ADS_3

Miller membawa Letty ke sebuah mall terbesar yang ada kotanya. Ia terlihat sangat akrab dengan beberapa pemilik toko yang ada di sana. Bagaimana tidak, jika tidak mengantarkan Sonia dia mungkin akan datang ke mall itu untuk menjemput Sonia sejak dulu. Wajah tampan yang dimiliki Miller juga yang membuat semua pemilik toko ingat dengan Miller.


"Selamat datang kembali, Tuan. Senang bertemu dengan Anda."


Seorang wanita sebagai pemilik salah satu toko baju berdiri menyambut kedatangan Miller. Wanita berparas nyaris sempurna itu melirik Letty dan memperhatikan penampilannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak ada kata lain yang terlintas selain kata 'preman'. Celana panjang sedikit koyak dengan jaket yang menutupi tangtop memang terlihat seperti penampilan preman. Belum lagi rambutnya yang terlihat tidak terawat. Walau sebenarnya Letty keramas setiap hari.


"Nona, apa Anda bisa membantu saya?" Miller melirik wajah Letty sekilas sebelum memandang pemilik toko lagi. "Apa Anda bisa membantu teman saya menemukan pakaian yang cocok dengannya?"


Letty melebarkan kedua matanya. Ia sama sekali tidak setuju dengan keinginan Miller kali ini. Bukankah sejak awal Miller bilang ingin menunjukkan sesuatu? Kenapa sekarang harus membeli pakaian.


"Tidak!" bantah Letty mantap. Wanita itu memegang tangan Miller dengan tatapan protes. "Aku tidak butuh baju baru. Apa kau pikir aku tidak mampu membeli pakaian yang ada di toko ini?"


"Tentu saja kau sanggup. Uangmu banyak. Hanya saja kau tidak pernah membelinya bukan? Pasti kau membeli baju di pabrik dengan merk dan warna yang sama hingga beberapa lusin. Itu terlihat jelas ketika setiap kali kita bertemu kau selalu menggunakan pakaian yang sama."


"Miller, kau!"


"Letty, aku akan membawamu ke suatu tempat. Menurutlah. Penampilanmu yang seperti ini justru membuat orang-orang di tempat yang aku kunjungi ketakutan." Miller kembali memandang wajah pemilik toko dengan senyuman hangat.


"Nona, apa Anda bisa membantu saya sekarang? Pilihkan beberapa gaun yang berwarna. Bila perlu berwarna terang. Hidupnya sudah cukup gelap selama ini."


Letty melayangkan sebuah cubitan di perut Miller. Ia benar-benar kesal karena kini tidak punya pilihan lain selain menurut.


"Au. Setelah ini aku akan membawamu ke salon untuk merapikan kukumu yang tajam seperti banyak panah!" ledek Miller sambil memegang perutnya. Sedangkan Letty hanya memalingkan wajahnya dengan wajah jutek.


"Mari, Nona."


Beberapa wanita yang menjadi karyawan toko mulai bermunculan. Masing-masing orang mencari pakaian yang sesuai dengan postur tubuh Letty. Karena rajin olahraga, tubuh Letty terbilang ideal. Bahkan beberapa wanita merasa iri dengan lekuk tubuh yang dimiliki Letty.


"Nona, ini gaun keluaran terbaru yang baru saja tiba tadi pagi. Gaun ini sangat pas dengan warna kulit Anda." Salah satu karyawan menawarkan gaun pilihannya. Sedangkan sisanya berdiri di belakang menunggu giliran menawarkan kepada Letty.


"Kulit ku? Apa maksudmu? Apa kau ingin bilang kalau kulitku jelek?" protes Letty dengan wajah kesal.


Miller geleng-geleng kepala mendengar teriakan Letty. Ia memegang tangan Letty dan mengusapnya dengan lembut.


"Begini saja, biar aku yang memilih. Kau hanya perlu mencobanya. Bagaimana?" tanya Miller sambil menunggu persetujuan Letty.


Letty memandang beberapa karyawan toko yang ketakutan. Wanita itu mengatur napasnya dan bersandar dengan posisi malas.


"Terserah kau saja," jawab Letty pasrah.


Miller mulai memilih beberapa gaun yang menurutnya pantas dikenakan Letty. Setelah itu ia meminta Letty untuk mencobanya satu persatu. Dengan wajah terpaksa Letty beranjak dan melangkah ke ruang ganti. Miller tersenyum melihat tingkah laku Letty yang tidak sama dengan wanita pada umumnya.


"Apa sejak kecil ia tidak pernah sadar kalau dia sebenarnya seorang wanita?" gumam Miller di dalam hati.


***


Cukup lama Miller menunggu. Bahkan beberapa minuman hangat yang di sediakan juga sudah dingin. Miller tidak berminat meminumnya. Ia justru jauh lebih penasaran dengan penampilan Letty yang baru. Memakai gaun berwarna cerah sudah pasti Letty terlihat anggun. Seperti itulah kira-kira jalan pikiran Miller.


Ruang ganti terbuka. Beberapa pegawai keluar dan tersenyum ramah. Tidak lama setelah itu, Letty keluar dengan gaun ungu muda yang sangat indah. High heels yang terpasang di kakinya menambah keanggunan Letty saat itu. Melangkah perlahan dengan kepala menunduk. Sebenarnya ia tidak percaya diri dengan penampilannya kali ini.


Namun, semua demi Miller. Letty sendiri tidak tahu kenapa dia menurut. Padahal hubungannya dengan Miller selama ini tidak terlalu akrab juga. Mungkin karena Letty merasa kalau Miller orang yang cocok di ajak cerita di saat ia sedang kesusahan.


Letty berdiri di depan Miller masih dengan kepala menunduk. Ia mengeryitkan dahi ketika tidak ada respon apapun dari Miller. Dengan tangan terkepal kuat, Letty mengangkat kepalanya untuk memandang wajah Miller.


"Cantik."

__ADS_1


Itu satu-satunya kata yang di dengar Letty ketika ia memberanikan diri mengangkat wajahnya. Tidak seperti biasanya. Tidak tahu kenapa kali ini Letty kesulitan protes atau marah-marah.


"Ini tidak cocok denganku," ucap Letty dengan wajah malu-malu.


Miller beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu memperhatikan penampilan Letty dari ujung kaki hingga ujung kepala. Letty bukan berkulit putih. Wanita itu memiliki kulit hitam manis. Bahkan saat sedang tersenyum saja ia mengantongi senyuman yang memabukkan.


"Tanpa make up kau sudah terlihat cantik."


"Jangan bicara seperti itu. Aku tidak suka pujian. Apa lagi dari pria sepertimu," sambung Letty sebelum memalingkan wajahnya ke arah lain. Tidak tahu kenapa Letty sendiri kesulitan untuk bertatap muka langsung dengan Miller.


"Tuan, kami sudah menyiapkan tempatnya." Seorang wanita muncul di hadapan Miller dan Letty. Hal itu membuat Letty kembali bingung.


"Tempat apa?"


"Kau akan tahu nanti." Tanpa banyak kata Miller memegang tangan Letty dan membawanya pergi. Pria itu sudah tidak sabar untuk melihat wajah Letty setelah di make up. Ya, kali ini Miller ingin membawa Letty ke salon. Miller ingin memanjakan Letty layaknya wanita pada umumnya.


"NO!" protes Letty saat mereka tiba di depan pintu salon. Demi Letty Miller menyewa salon itu. Jadi hanya mereka berdua yang akan ada di dalamnya. Tidak ada pengunjung lain yang akan muncul.


"Kenapa?"


"Aku tidak suka." Letty menghela napas.


"Hanya perawatan. Aku juga. Kita sama-sama perawatan," ucap Miller penuh semangat.


"Kau pria," ujar Letty tidak percaya.


"Aku butuh perawatan rutin agar tetap tampan. Apa kau tidak pernah berpikir kalau caranya aku mempertahankan ketampananku ini? Tentu saja karena aku sering perawatan," dusta Miller sebelum menyeret paksa Letty masuk ke dalam.


"Tapi ...." Letty benar-benar kehabisan kata-kata kali ini. Dengan high heels yang begitu menyulitkan ia terpaksa mengikuti langkah Miller dari belakang.


***


"Dad, ini tidak bisa. Jika istana kita menjalin kerja sama dengan Monaco. Itu akan membuat orang-orang pangeran Martine bebas masuk ke istana kita. Ini hal yang buruk. Bagaimana kalau Pangeran Martine sudah merencanakan sesuatu?" ujar Jordan dengan wajah serius.


"Tapi kau tahu sendiri bagaimana cara mereka mengajak kita bekerja sama tadi." Zeroun membela dirinya walau sudah jelas-jelas bersalah. Tanpa persetujuan dari Zeroun semua kerja sama tidak akan berhasil. Hal ini sangat mengecewakan semua orang.


"Tapi Dad ...."


"Sudahlah. Mereka sudah pergi kenapa sekarang kita yang bertengkar?" Emelie memijat kepalanya. "Apapun yang ingin mereka lakukan itu semua tidak akan terjadi."


Saat semua orang sedang membahas masalah kunjungan pangeran Martine, Leona sendiri terlihat kebingungan. Mulutnya terasa pahit sedangkan perutnya terasa lapar. Dengan tangan memegang perut, Leona terlihat gelisah.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Jordan dengan wajah khawatir.


"Entahlah. Perutku terasa lapar tapi mulutku tidak berselera untuk makan," jawab Leona sambil memegang perutnya yang lapar.


"Apa yang kau inginkan? Apa kau menginginkan sesuatu lagi? Apa ini karena leci?" Jordan memegang pundak Leona dan mengusapnya secara perlahan.


"Aku ingin ke kamar mandi." Leona segera beranjak. Perutnya mulai mual. Wanita itu berlari kencang menuju ke kamar mandi terdekat. Sedangkan Jordan mengejar Leona dengan wajah khawatir.


Lana dan Emelie saling memandang. Isi di dalam pikiran dua wanita itu sama.


"Pelayan, panggilkan dokter. Dokter kandungan yang biasa memeriksa Leona."


"Baik, Yang Mulia."

__ADS_1


"Dokter?" celetuk Zeroun.


"Aku berpikir kalau menantu kita telah mengandung." Emelie tersenyum bahagia walau kabar itu belum pasti.


"Sayang, jangan seperti itu. Bagaimana kalau Leona hanya sakit ringan saja. Bukan gejala hamil? Hal itu bisa membuatnya tertekan. Aku takut Leona merasa kita terlalu memaksanya untuk mengandung anak Jordan." Zeroun tidak mau Leona sedih. Ya, hanya itu yang ia pikirkan.


"Tapi, dari gejala yang diberikan Leona itu sama dengan gejala wanita hamil," ujar Emelie dengan penuh semangat.


Leona dan Jordan kembali ke kursi. Namun kali ini wajah Leona sudah semakin pucat. Hal itu membuat Emelie semakin panik.


"Sayang, mommy panggil dokter ya."


"Jordan sudah telepon dokter, Mom." Jordan memandang wajah Leona lagi.


"Ayo kita ke kamar." Tanpa menjawab Leona hanya mengangguk pelan. Ia benar-benar tidak mengerti dengan kondisinya kali ini.


"Mungkin aku kelelahan karena kemarin kurang tidur. Bahkan makanku tidak teratur," ucap Leona pelan saat Jordan mengangkat tubuhnya.


"Kau akan baik-baik saja."


Emelie dan Lana juga mengikuti Jordan dari belakang. Sedangkan Zeroun dan Lukas tetap bertahan pada posisi mereka. Ada hal penting yang ingin di sampaikan Zeroun kepada Lukas dan Oliver pastinya.


"Oliver, bagaimana dengan keadaanmu?" Katterine melirik Zeroun dengan tatapan curiga.


"Saya sudah jauh lebih baik, Bos."


"Katterine, apa kau bisa membiarkan kami berbicara?" tanya Zeroun dengan wajah serius.


"Baiklah." Katterine beranjak dari kursinya dan berjalan menuju kamar tidurnya.


"Ada apa, Bos?" Lukas terlihat curiga dengan ekspresi wajah Zeroun saat itu.


"Maafkan saya, Lukas. Tapi, semua ini saya lakukan demi kedamaian semua orang."


"Apa maksud Anda, Bos?" sambung Oliver semakin penasaran.


"Saya sudah berjanji dengan Pieter. Demi menembus rasa bersalah kita karena sudah menghilangkan nyawa wanita yang ia cintai. Kau dan Pieter akan bertarung."


"Bertarung? Anda yakin, Bos?" tanya Lukas kurang yakin.


"Pieter berjanji akan melupakan dendam ini jika hal itu sudah terwujud."


"Tidak ada masalah. Saya tidak pernah takut menghadapi siapa saja, Bos," ucap Oliver tanpa keberatan.


"Terima kasih karena kau sudah mengerti. Setelah kondisimu membaik kita akan menemui Pieter."


"Baik, Bos."


Lukas hanya bisa diam tanpa berani mengatakan apapun. Untuk keselamatan Oliver ia sama sekali tidak khawatir. Lukas yakin kalau putranya adalah pria yang tangguh. Namun, ia kini memikirkan perasaan Lana. Ya, wanita itu pasti akan sedih jika mendengar kabar ini nanti.


"Dad, saya akan baik-baik saja." Oliver memandang wajah Lukas dengan penuh keyakinan.


Lukas tersenyum. "Sejak kecil kau sudah berada di tengah-tengah kekerasan. Kita bertahan hidup dari musuh-musuh dengan menggunakan senjata. Daddy selalu berpikir dan menganggapku anak kecil. Ternyata kau sudah dewasa. Saat ini satu-satunya orang yang Daddy khawatirkan adalah mommy-mu. Dia sangat menyayangi Letty tapi Letty tidak pernah mau ada di sampingnya. Jika juga sangat ingin kau selalu ada di sisinya. Tapi dia sadar itu semua tidak mungkin. Pikirkan alasan yang tepat agar mommy mu tidak marah ketika kau bertarung dengan Pieter nanti."


"Mommy pasti akan bangga padaku, Dad. Dia selalu mengajariku untuk bertanggung jawab dengan apa yang sudah ku perbuat."

__ADS_1


Di sisi lain, Katterine bersandar di dinding dengan wajah sedih. Ia menguping pembicaraan pria-pria itu sejak tadi. Hatinya tidak setuju namun Katterine yakin tidak akan ada yang bisa ia lakukan saat ini. Pertarungan itu akan tetap terjadi.


__ADS_2