
Leona berjalan pelan dengan wajah malu-malu. Kini Leona dan keluarga sudah ada di bandara. Keluarga Zeroun juga ikut mengantarkan mereka. Tidak ketinggalan si Pangeran tampan Jordan Zein. Leona dan Jordan berjalan beriringan. Para orang tua sengaja mempercepat langkah kaki mereka karena tidak ingin mengganggu momen perpisahan antara Jordan dan Leona.
Katterine dan Oliver yang tadi ikut mengantarkan Leona juga sudah menghentikan langkah kaki mereka. Katterine memang adik yang sangat pengertian. Ketika melihat kakak kandungnya berhenti untuk berbincang dengan Leona. Ia membawa Oliver agar menjauh. Ia tidak mau mengganggu.
Leona memandang ke arah lain. Hingga detik ini, ia masih saja grogi dan tidak bisa memandang wajah Jordan. "Terima kasih."
"Untuk?" Jordan mengeryitkan dahi. Ia memandang Leona yang masih belum mau memandang wajahnya.
"Karena sudah mau mengantarkanku," jawab Leona dengan suara yang sedikit keras. "Seharusnya tidak perlu agar aku tidak seperti ini," umpat Leona di dalam hati.
Jordan memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Pria itu memasang ekspresi yang dingin. Tidak tahu kenapa, ia ingin memasang sikap cuek agar Leona tidak lagi malu seperti itu. "Oh."
Leona melebarkan kedua matanya. Wanita itu segera memutar tubuhnya ketika mendengar jawaban singkat dari Jordan. "Kau!" Wajahnya sedikit protes.
Jordan menaikan satu alisnya. "Ada yang salah? Kau tidak suka aku yang seperti ini?"
Leona menyipitkan kedua matanya. "Tidak! Aku lebih suka kau yang mudah tersenyum." Leona mengukir senyuman di bibirnya. "Seperti ini." Wanita itu memamerkan gigi putihnya dengan wajah yang sangat menggemaskan.
Jordan tertawa kecil. "Kau sudah kembali, Leona. Terima kasih karena sudah menjadi Leona yang ceria seperti ini." Jordan mencubit pipi Leona karena terlalu gemas. "Kau jauh lebih cantik jika seperti ini dibandingkan jadi wanita galak!"
Leona mengangguk pelan. "Baiklah. Aku bisa ketinggalan jika terus berbicara denganmu."
__ADS_1
"Kau harus memberiku kabar jika sudah sampai," pinta Jordan dengan wajah yang serius.
"Baiklah," jawab Leona santai.
"Kau harus mengangkat teleponku setiap kali aku menghubungimu. Tidak peduli lagi, siang atau malam!" ucap Jordan lagi.
Leona mengatur napasnya. "Kau berubah menjadi posesif sekarang!"
"Itu karena aku takut kau berubah lagi."
Leona tertawa. Ia mengangguk cepat. "Baiklah. Apa kali ini aku boleh pergi?" tanya Leona lagi.
Leona memandang wajah Jordan dalam-dalam. "Baiklah, aku pergi dulu ...."
Leona memutar tubuhnya. Bibirnya terus saja tersenyum bahagia. Rambutnya yang jatuh ke samping mata ia selipkan kembali di balik telinga. Tidak tahu kenapa, langkah kakinya terasa berat menjauh dari Jordan. Seperti ada yang mengunci gerakan kakinya saat itu.
Jordan menarik tangan Leona. Kali ini pria itu tidak ingin gagal lagi. Dengan cepat ia menarik pinggang Leona hingga tubuh mereka sangat dekat. Bahkan tidak ada jarak lagi di antara mereka. Bibirnya mendarat dengan sempurna. Jordan berhasil. Seperti itulah sorak di dalam hatinya. Setelah berulang kali gagal, kini ia berhasil mencium bibir wanita pujaannya.
Leona meletakkan tangannya di depan dada Jordan. Tapi, wanita itu tidak melakukan gerakan penolakan. Ia menerima ciuman manis Jordan dengan hati yang bahagia.
Dari kejauhan, Emelie mengeryitkan dahi. Ia ingin melangkah untuk memperingati putranya. Mereka ada di tempat umum. Di tambah lagi status Jordan yang selalu di hormati semua orang selama ini. Ia tidak ingin nama baik Jordan tercoreng hanya gara-gara perbuatan sepele seperti itu.
__ADS_1
Namun, langkah Emelie tertahan. Zeroun menarik tangan wanita itu hingga membuat Ratu Cambridge itu ada di hadapannya.
"Kau mau mengganggu putraku?" ucap Zeroun dengan wajah yang serius.
"Sayang, ini tempat umum," jawab Emelie dengan suara berbisik.
Zeroun mengukir senyuman. Ia mengangkat satu tangannya dan mengusap wajah istrinya. "Aku mencintaimu, Emelie. Sangat mencintaimu," ucap Zeroun dengan wajah yang bersungguh-sungguh. Pria itu menarik dagu istrinya dan mendaratkan kecupan hangatnya di sana.
Emelie mematung. Ia tidak bisa menolak pesona suaminya sendiri. Seperti ada magnet yang membuatnya tidak bisa menolak. Emelie memejamkan mata dan membalas kecupan manis suaminya. Bahkan Ratu Cambridge itu tidak lagi ingat dengan kalimat yang ia tujukan untuk putranya. Hatinya terlalu bahagia hingga sampai berbunga-bunga.
"Baiklah, sekarang aku paham apa yang kini dirasakan oleh Jordan dan Leona," guna Emelie di dalam hati.
Serena melipat kedua tangannya di depan dada. Di usianya yang sekarang, ia tidak menyangka masih bisa melihat momen manis orang-orang terdekatnya hingga seperti itu.
"Aku mencintaimu, Serena," bisik Daniel secara tiba-tiba. Pria itu tahu kemana tatapan mata istrinya sejak tadi. Daniel sendiri merasa tidak mau kalah melihat Zeroun dan Emelie yang terlihat mesra seperti itu. Memang seperti itu wataknya sejak muda dulu.
Serena tertawa geli. Ia memandang wajah suaminya yang tiba-tiba saja sudah ada di samping wajahnya. Daniel memeluknya dari belakang. Pria itu terlihat sangat merindukan momen manis bersama istrinya.
"Jiwa mudaku bergejolak ketika melihat Leona dan Jordan kasmaran seperti itu," ucap Daniel sambil menahan tawa geli. "Aku ingat diriku saat muda dulu."
Serena mencubit perut Daniel. Wanita itu terlihat sangat bahagia. "Sayang, ayo kita berangkat."
Daniel menggandeng pinggang Serena dan membawanya menuju pesawat. Sepasang suami istri itu sama sekali tidak memikirkan nasip putri mereka. Jika nanti ketinggalan pesawat, Jordan juga pasti bisa mengantarkan Leona pulang. Tidak ada yang perlu di pusingkan. Yang terpenting, semua bahagia. Hal itu sudahah lebih dari cukup.
__ADS_1