Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Penyerangan


__ADS_3

Leona dan Jordan maju untuk menyerang Zean. Sedangkan Kwan lebih memilih untuk memimpin pasukan Queen Star. Ia ingin mengalahkan seluruh pasukan The Devils.


Zean semakin cemburu saat Jordan terus saja ada di samping Leona. Kali ini Terget pria itu adalah Jordan. Ia ingin membunuh Jordan dan menghabisi pria tersebut.


Leona menghajar Zean dengan tangan. Jordan juga berusaha memukul wajah Zean. Zean yang saat itu memiliki kekuatan untuk menghindar justru harus kalah karena pukulan dua orang yang menyerangnya. Ada luka di wajahnya yang berasal dari pukulan Jordan.


Seorang pria yang menjadi pasukan The Devils semakin geram saat melihat pertarungan Jordan terlihat di sengaja agar kalah. Ia tidak mau diam saja di tempat ia berdiri.


Pria itu berlari kencang untuk membantu Zean. Zean hanya memberi perintah untuk tidak membunuh Leona. Kali ini pria tangguh itu memilih Jordan sebagai lawan bertarungnya.


Bruakk


Zean jatuh terduduk saat Jordan menendang perutnya. Jordan sendiri terlihat bingung. Tidak biasanya ada bos mafia yang lemah seperti itu. Detik itu juga Jordan sadar, kalau Zean sengaja. Ya, pria itu sengaja kalah.


"Pria ini merelakan tubuhnya terluka. Kedua matanya terus saja memperhatikan Leona. Apa yang sebenarnya ia pikirkan?" gumam Jordan di dalam hati.


Sebuah pukulan yang datang tiba-tiba berhasil ditangkis oleh Jordan. Kali ini Jordan lebih memilih bertarung dengan pria yang baru saja datang. Ia memberikan kesempatan kepada Leona dan Zean untuk bertarung. Jordan sangat yakin, Zean tidak akan mungkin melukai Leona. Namun, ia sendiri juga tidak memiliki pilihan lain selain membantu Leona membunuh Zean.


Zean berdiri sambil membersihkan darah di sudut bibirnya dengan jari. Pria itu menatap wajah Leona dengan senyuman. Leona berhenti dan berdiri sambil memandang Zean.


"Apa kau pikir, jika kau tidak melawan seperti ini hatiku akan luluh? Kau salah Zean. Semakin kau bersikap seperti ini, aku semakin benci padamu." Leona mengambil pistolnya. Wanita itu tidak ingin mengulur waktu lagi. Ia ingin segera menembak Zean.


Zean tidak ingin mati secepat itu. Ia masih ingin melihat wajah Leona dan menunjukkan sebuah ruangan khusus. Pria itu mengukir senyuman kecil sebelum mengeluarkan senjata apinya. Ia juga menodongkan senjata apinya ke arah Leona.

__ADS_1


Jordan dan Kwan melihat kejadian itu. Namun, mereka tidak bisa bergerak bebas. Kini ada pria tangguh yang harus mereka hadapi.


"Leona, apa kau mau menemaniku di surga? Kita akan saling memaafkan dan hidup bahagia di sana," ucap Zean dengan suara lirih.


Leona mengatur napasnya yang terputus-putus. Wanita itu menatap Zean dengan tatapan yang sangat tajam.


"Aku sempat berpikir untuk memaafkanmu. Tapi, kau datang lagi untuk mengusik hidupku." Leona kembali menyalahkan Zean. Ia mengungkit masalah penyerangan di Sapporo yang ia pikir itu adalah rencana Zean.


"Leona, aku tidak pernah mengusik hidupmu lagi. Kau menghancurkan markasku yang di Meksiko. Apa kau tahu? Aku juga mengkhawatirkan keselamatanmu saat itu. Aku tidak mengerti kalau kau sampai terjebak di dalam markasku. Dan aku lega ketika mendengar kau selamat," ucap Zean dengan wajah bersungguh-sungguh.


"Hentikan omong kosongmu, Zean. Aku tidak akan pernah mau mempercayaimu lagi." Leona mengepal kuat senjata apinya. Ia siap menarik pelatuknya.


DUARRR


Leona masuk ke dalam ruangan yang juga di masuki Zean. Jordan dan Kwan yang saat itu sudah berhasil mengalahkan pasukan Zean juga berlari kencang untuk mengikuti Leona.


Leona berdiri di sebuah ruangan. Pintu yang sempat ia lewati tiba-tiba saja terkunci dan tidak bisa di masuki oleh siapapun. Kini hanya ada Leona dan Zean di dalam ruangan itu.


Kwan terlihat kesal saat pintu ruangan yang di masuki Leona tidak lagi bisa dibuka. "SHI*T! Pria itu benar-benar licik!" umpat Kwan sambil menendang pintu besi yang ada di hadapannya.


Jordan memandang wajah Kwan sejenak. "Leona akan baik-baik saja," jawabnya dengan wajah tenang.


"Baik-baik saja? Pria itu sangat jahat dan licik. Bagaimana kalau Kak Leona terpengaruh dengan apa yang ia katakan? Bagaimanapun juga, nama Zean masih ada di hatinya!" teriak Kwan dengan wajah frustasi.

__ADS_1


Deg. Detak jantung Jordan seakan terhenti. Pria itu cemburu bahkan sangat-sangat cemburu. Kini ia tahu alasan Leona menjauh dan seolah tidak tertarik dengannya. Jordan berpikir kalau Leona masih cinta dengan Zean.


Di dalam ruangan itu, Leona hanya berdiri diam sambil memandang wajah Zean. Ia tidak tahu apa maksud Zean membawanya ke dalam ruangan yang berisi foto-foto mereka. Bahkan wajah Leona juga ada banyak di ruangan itu.


"Honey, selamat datang di ruangan penuh kenangan ini. Aku selalu duduk di kursi ini." Zean menepuk sebuah sofa yang berada di jauh dari posisinya berdiri. "Sambil memandang wajah cantikmu."


Leona memandang foto mereka berdua saat berpacaran. Tidak ada yang tidak ada. Foto di ruangan itu lengkap, bersamaan dengan tanggal di ambilnya. Leona diam sejenak sambil berpikir tujuan Zean memperlihatkannya foto-foto tersebut. Leona tidak ingin terperangkap dalam jebakan Zean.


"Honey, ini foto favoritku," ucap Zean sambil menunjuk sebuah foto. "Di sini kau terus marah karena aku tidak suka memandang camera. Karena saat itu aku lebih suka melihat wajahmu."



"Zean, aku tidak suka dengan semua ini!" teriak Leona kesal. Wanita itu berjalan mendekati dinding dan menghancurkan semua foto-foto yang tertata rapi di sana. Leona tidak mau melihat kenangan dirinya dan Zean lagi. Leona tidak membutuhkan semua itu. Yang ia butuhkan hanya nyawa Zean.


"Leona sayang, sebenci itukah kau kepadaku?" ucap Zean lagi dengan wajah kecewa.


Zean berjalan mendekati Leona. Pria itu menahan langkah kaki Leona saat tumpukan kaca ada di bawah kaki wanita itu. Sangat berbahaya jika salah satu keping melukai kaki Leona.


"Hentikan!" teriak Zean sambil memeluk Leona dari belakang.


Leona tidak lagi mau di sentuh Zean dari belakang. Wanita itu menendang perut Zean dan segera berjalan ke arah pintu. Ia ingin membuka pintu tersebut agar Kwan dan Jordan juga bisa masuk. Pintu ruangan itu memang hanya bisa di buka dari dalam.


Zean memegang perutnya yang begitu sakit akibat tendangan Leona. Pria itu berlari ke arah jendela untuk kabur. Ia masih ingin melihat Leona dan membujuk wanita itu untuk memaafkannya. Zean tidak ingin mati secepat ini.

__ADS_1


__ADS_2