Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Sekarang Bagaimana?


__ADS_3

Jordan meletakkan tubuh Leona di sebuah kursi besi yang ada di samping rumah. Seperti apa yang dikatakan pria itu sebelumnya. Ia membawa Leona untuk melihat keindahan laut biru yang letaknya sangat jauh dengan lokasi mereka berada.


"Apa kau suka dengan tempat ini?" ucap Jordan dengan wajah penuh harap. Ia duduk di samping Leona dan memandang ke arah depan.


Leona mengatur napasnya dan memandang ke arah depan. Ia merasa jauh lebih tenang ketika kini melihat pegunungan yang hijau dan laut biru di depan matanya. Seperti melihat sebuah lukisan. Kedua matanya seperti dimanjakan dengan pemandangan indah itu.


"Maaf," ucap Leona pelan. "Aku juga tidak pernah tahu, kenapa selalu saja ingin marah jika berbicara denganmu."


Jordan tertawa kecil. "Apa kau memiliki penyakit tertentu? Kau mungkin belum pernah berbicara dengan seorang pangeran tampan jadi berubah menjadi seperti ini," ledek Jordan agar Leona tertawa.


Leona memiringkan kepalanya dan memandang wajah Jordan. "Kau jahat sekali. Kenapa kau menuduhku punya penyakit tertentu? Aku tidak mungkin membenci seseorang tanpa sebab. Kau sangat menyebalkan. Sangat suka mengganggu rencanaku. Berbuat sesuka hatimu. Bahkan ...." Leona menahan kalimatnya. Ia merasa malu jika harus mengatakan kalau Jordan sangat suka menciumnya sembarangan.


"Itu karena kau sudah masuk ke dalam hatiku sejak pertama kali aku melihatmu. Sejak aku mulai memikirkan tentang dirimu, sejak saat itu juga aku tidak peduli siapa kau sebenarnya." Jordan memandang wajah Leona dengan wajah bersungguh-sungguh. "Tadinya aku sudah memikirkan berbagai cara agar bisa melamarmu dengan begitu romantis. Tapi, sepertinya masalah ini tidak ada ujungnya," ucap Jordan tidak bersemangat.


"Siapa yang mau menikah denganmu?" protes Leona dengan wajah juteknya.


"Ya tentu saja kau. Leona, usiamu sudah 29 tahun. Tidak lama lagi akan menginjak angka 30. Apa kau tidak malu di usia seperti sekarang belum menikah? Bahkan kebanyakan wanita seusiamu sudah memiliki dua anak." Jorda. merasa sangat bahagia bisa bercanda dengan Leona saat itu.

__ADS_1


"Hei, anak kecil. Berani sekali kau mengatakan hal seperti itu kepada kakakmu," ucap Leona dengan wajah yang serius.


"Kakak?" celetuk Jordan dengan alis saling bertaut.


Leona melipat kedua tangannya di depan dada. "Ya. Bukankah aku kakakmu? Kau masih 27 tahun. Saat aku sudah 2 tahun menikmati dunia ini, kau baru saja lahir dan menangis ketakutan," ledek Leona dengan wajah menahan tawa.


"Leona, sepertinya saat koma kau mengalami masalah pada bagian sini," ucap Jordan sambil memegang kepala Leona. "Kau berubah menjadi semakin menyebalkan.


"Adik Jordan, jangan seperti itu. Tidak sopan jika seorang adik memanggil kakaknya dengan nama," ledek Leona tidak kunjung selesai.


"Hentikan! Jordan itu sangat geli," ucap Leona sambil tertawa dengan suara yang keras. Wanita itu terlihat sangat bahagia bisa bercanda dengan Jordan seperti itu.


"Tidak akan! Aku akan memberimu hukuman karena kau sudah memanggilku adik!" protes Jordan dengan tangan yang terus saja menggelitik tubuh Leona.


"Iya, maaf. Aku tidak akan memanggilmu adik lagi," ucap Leona dengan tawa yang tidak tertahan lagi. Bahkan kedua matanya harus mengeluarkan air mata karena ia tertawa dengan begitu lepas.


Jordan mengatur napasnya dan melepas tangannya. Ia memandang wajah Leona dengan senyuman manis. Jemarinya menyelipkan rambut Leona yang berserak dan menutupi wajah.

__ADS_1


"Terima kasih karena sudah membuka mata. Aku sangat bahagia melihatmu bisa tertawa seperti ini," ucap Jordan pelan. Kali ini wajahnya berubah serius.


Leona mengukir senyuman. "Aku tidak peduli siapa yang sudah menyebabkan kekacauan ini. Mulai saat ini, musuhmu akan menjadi musuhku juga," ucap Leona dengan wajah yang berubah serius. "Setelah aku sembuh dan bisa berjalan lagi, aku akan menyerang Clouse dan membalaskan perbuatannya."


Jordan mengangguk pelan. "Musuhmu akan menjadi musuhku! Kita akan bersatu untuk melawan mereka. Walau mungkin ini tidak akan berjalan dengan mudah, tapi aku yakin kalau kita bisa memenangkan pertarungan ini."


Leona mengeryitkan dahinya. "Sepertinya kita harus mengkoleksi banyak topeng mulai sekarang."


"Ide yang bagus. Aku akan memilihkan topeng yang pas untukmu," ucap Jordan penuh semangat.


Dari kejauhan, Kwan dan Oliver memandang Leona dan Jordan dengan wajah bingung. Namun mereka sama-sama senang ketika melihat Leona kembali tertawa seperti itu.


Ponsel Oliver berdering. Pria itu melekatkan ponselnya di telinga. Kabar baik yang baru saja ia dengar membuatnya sangat bersemangat. "Kirimkan kepadaku alamatnya," ucap Oliver sebelum memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak.


Kwan memandang wajah Oliver dengan tatapan penuh tanya. "Apa kau mendapatkan petunjuk?"


"Ya. Kita harus berangkat ke Jerman malam ini juga."

__ADS_1


__ADS_2