Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Kau Adikku


__ADS_3

Leona berlari dengan senyum indah di bibirnya. Ia terlihat sangat bersemangat ketika mengunjungi ruang utama yang kini didatangi tamu. Debaran jantungnya tidak karuan. Napasnya sampai tersengal karena terlalu jauh berlari. Sayangnya, ketika ia tiba pria yang ia harapkan tidak ada di sana. Leona terlihat kecewa.


"Miller," sapa Leona ketika melihat Miller, Natalie, Sonia dan Aldi yang duduk di ruang utama. "Kenapa kau ada di sini?"


Sebuah pertanyaan yang tentu saja bisa dibilang tidak pantas untuk diucapkan ketika ada tamu yang datang. Serena sendiri terlihat kaget ketika melihat cara putrinya menyambut tamu seperti itu. Tidak sama seperti sambutan saat Keluarga Kenzo yang datang ke rumah.


"Leona, sini duduk sayang." Serena menepuk sisi sofa yang ada di sampingnya. Bibirnya mengukir senyuman kecil. Ia tidak ingin, jika Sonia terlalu serius menanggapi sambutan Leona saat itu.


Aleo muncul di belakang Leona. Dengan wajah yang santai, Aleo merangkul pundak Leona. Ia membawa adik kesayangannya itu untuk duduk di sofa yang sama dengan dirinya. Leona memandang wajah Aleo sejenak sebelum melangkah.


"Leona, bagaimana kabarmu?" tanya Sonia untuk memecah keheningan di ruang utama itu.


"Baik, Tante." Leona memandang wajah Miller dan Natalie bergantian sebelum menunduk lagi. "Tante, apa kabar?"


"Tante juga baik-baik saja. Tante ke sini karena ingin minta maaf kepadamu, Leona." Wajah Sonia terlihat sangat serius.


"Minta maaf?" ucap Leona tidak percaya.


"Leona, maafkan aku. Aku tidak berniat untuk mencelakaimu saat itu. Aku tidak sadar kalau selama ini sudah dimanfaatkan oleh Clouse. Maafkan aku, Leona. Aku memang pria yang tidak berguna. Aku tidak bisa menjagamu dengan baik." Miller terlihat sangat sedih dan menyesali perbuatannya. Pria itu menutup wajahnya dengan tangan. "Seandainya saja sejak awal kita bertemu, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi."


Leona mengeryitkan dahi. Baginya Miller terlalu berlebihan. Leona sendiri tidak lagi mau mempermasalahkan masalah itu.


"Miller, kau adikku. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu," ucap Leona dengan senyuman.


Miller melebarkan kedua matanya. "A … adik?" ucapnya tidak percaya.


Leona mengangguk pelan. "Ya. Bukankah kau memang lebih muda dariku?" ucap Leona lagi.


"Leona, kau-"


Sonia memukul pundak Miller dengan pukulan yang kuat dan tenaga penuh. "Kakak! Kau harus memanggil Leona dengan sapaan Kakak!" protes Sonia dengan wajah serius.


"Tidak bisa seperti itu, mom. Leona-"


Belum sempat Miller menyelesaikan kalimatnya. Tatapan tajam Sonia membuat polisi tampan itu takut. Miller mengatur napasnya sebelum menunduk. "Baiklah. Kak Leona, maafkan aku."


Leona merasa puas karena sudah berhasil mengerjai Miller. Wanita itu menahan tawa dan memandang ke arah lain. Serena dan Daniel saling melempar pandang. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu.

__ADS_1


"Sonia, silahkan di minum." Serena menunjuk minuman yang terhidang di atas meja. 


"Terima kasih, Serena. Sekali lagi, aku mewakili putraku. Ingin meminta maaf."


"Kau tidak perlu seserius itu. Kita adalah keluarga. Sudah seharusnya kita saling memaafkan," ucap Serena lagi.


Sonia mengukir senyuman. Wanita itu mengambil minumannya dan meneguknya secara perlahan. Ia memandang wajah Serena dengan tatapan yang serius. "Serena, apa kau tidak ingin berkunjung ke rumah Adit?"


Serena tertegun. Ia mengukir senyuman kecil. "Adit melarang kami untuk datang. Dia bilang … nanti ketika saatnya tiba dia akan mengizinkan kami untuk datang." Serena terlihat sedih. Sudah sejak lama ia ingin menemui Diva. Namun, Adit memohon keras agar mereka tidak datang.


Sonia mengangguk pelan. "Ya. Bahkan dia juga tidak mengizinkan kami masuk saat itu. Mungkin, dia ingin menenangkan diri dulu saat ini. Setidaknya saat ini mereka baik-baik saja. Kata Angel, kondisi Diva juga sudah mulai stabil."


"Ya, aku harap Diva bisa segera sembuh. Aku sangat merindukannya," sambung Serena dengan kedua mata berkaca-kaca.


Miller sejak tadi tidak lagi mendengar obrolan para orang tua. Pria itu lebih asyik memandang wajah Leona. Ia terlihat sangat bahagia ketika bisa berbincang dengan Leona. Walaupun hanya beberapa kalimat saja.


"Bisa-bisanya ada wanita menggemaskan seperti dirinya. Sayang sekali karena kini dia sudah dimiliki pria lain," gumam Miller di dalam hati.


***


Beberapa jam kemudian.


"Hmm," jawab Leona pelan.


"Kau memikirkan dia?" Miller menghentikan langkah kakinya. Pria itu memandang wajah Leona dalam-dalam. Ada tatapan menuduh di sana.


Leona mengeryitkan dahi. "Siapa?"


"Si pangeran Cambridge?" jawab Miller dengan suara yang ragu-ragu.


"Tidak." Leona melanjutkan langkah kakinya. Tadinya ia tidak mau menemani Miller untuk berkeliling kota. Namun, Serena membujuknya. Leona juga tidak enak dengan Sonia jika menolak permintaan Miller saat itu.


"Leona, kau mencintainya tapi kenapa kau tidak jujur dengan perasaanmu?" tanya Miller dengan wajah penasaran. Pria itu terus saja mengikuti langkah kaki Leona dari belakang.


"Aku sudah bilang kalau aku tidak memikirkannya," bantah Leona malu-malu.


Tiba-tiba saja ponsel Leona berdering. Wanita itu mengambil ponselnya dari dalam tas. Alisnya saling bertaut ketika melihat nama Jordan di sana.

__ADS_1


Leona melekatkan ponselnya di telinga. Kedua matanya memandang wajah Miller sebelum menjauh dari pria itu.


"Jordan," sapa Leona dengan suara pelan.


Miller memutar tubuhnya dan memandang Leona. Pria itu menggeleng pelan dengan senyum kecil di bibirnya. "Apa pria itu memiliki firasat kalau kini aku sedang menggoda Leona?" gumam Miller di dalam hati.


"Leona, kau ada di mana? Kenapa begitu berisik? Kau tidak ada di rumah?" Jordan terlihat khawatir saat itu. 


"Ya. Aku sedang membeli beberapa barang," ucap Leona pelan. 


"Benarkah? Apa kau sendirian?" 


"Hmm … aku …." Leona menahan kalimatnya. Wanita itu memejamkan matanya sejenak. Seperti seorang wanita yang takut dipergoki kekasihnya ketika sedang jalan dengan pria lain. Seperti itulah yang dirasakan Leona. "Miller. Ya, aku bersama Miller. Dia baru saja datang." Leona tidak mau berbohong. Apa lagi membohongi pria yang selama ini selalu jujur kepadanya.


"Miller?" Suara Jordan sedikit meninggi.


"Ya, dia datang untuk minta maaf. Dia datang bersama kedua orang tuanya dan Natalie juga." Leona memandang wajah Miller yang terlihat mulai jenuh. Ia tahu tidak sepantasnya ia mengobrol terlalu lama dengan Jordan jika ada Miller di sana.


"Baiklah. Kau boleh bersama dengannya. Tapi jangan matikan teleponnya," ucap Jordan.


"Kenapa seperti itu?" Leona terlihat bingung.


"Leona, aku hanya ingin mendengar apa yang kau bicarakan dengannya. Apa tidak boleh?" 


Leona merasa tidak memiliki pilihan lain. "Baiklah."


Leona memandang layar ponselnya yang masih menyala. Wanita itu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia berjalan mendekati Miller lagi.


"Sudah selesai?" tanya Miller sambil melirik wajah Leona. 


"Ya. Sekarang kau ingin ke mana?"


"Leona, kau belum menjawab pertanyaanku tadi." Miller berdiri dari kursi yang ia duduki. Pria itu berjalan mendekati Leona. "Apa kau kini merasakannya? Kau mencintainya?"


Leona terlihat bingung. Kini ada Jordan yang menguping pembicaraannya. Ia tidak bisa mengakui perasaannya, walau memang kini ia sudah mulai jatuh cinta kepada Jordan. Masih ada rasa gengsi untuk mengakuinya.


"Tidak!"

__ADS_1


Wajah Miller berseri. "Kau tidak mencintai Pangeran Cambridge itu?" teriak Miller dengan suara histeris.


"Bukan. Bukan seperti itu maksudku," bantah Leona gugup. Wanita itu terlihat semakin tidak tenang. "Kenapa aku terjebak dalam posisi sulit seperti ini!" umpat Leona di dalam hati.


__ADS_2