
Leona membuka mata saat merasakan ada yang bergerak di pipinya. Ketika membuka mata, Leona bisa melihat dengan jelas kalau Jordan yang sedang bermain di pipinya. Pria itu membuat bentuk hati di pipi Leona. Bibirnya tersenyum ketika melihat Leona sudah bangun.
"Selamat pagi istriku," sapa Jordan dengan mesra.
Mendengar kata istriku membuat Leona tersipu malu. Ia harus menyembunyikan wajahnya di balik selimut karena terlalu bahagia mendengar sapaan lembut Jordan pagi itu. Sangat manis. Leona juga kembali ingat dengan malam pertana mereka tadi malam. Hingga tiba-tiba saja ia merasa tidak nyaman di bawah sana.
"Aku ingin bertemu dengan mama." Leona memandang wajah Jordan dengan serius. Ia ingin membahas masalah darah yang tidak ada ketika ia melewatkan malam pertamanya.
Jordan menarik sedikit rambut Leona dan mencium aromanya. Sangat wangi, sampo yang tadi malam digunakan wanita itu masih melekat. Pangeran Cambridge itu tidak mau menjawab perkataan Leona.
"Jordan," celetuk Leona dengan wajah kesal.
"Seperti itu caramu ketika bangun tidur dan melihatku ada di hadapanmu? Leona, kenapa kau tidak peka? Setidaknya berikan aku satu kecupan sebelum membahas hal lain."
Leona mengedipkan matanya berulang kali. Ia kembali sadar kalau kini mereka sudah menikah dan tidak lagi harus bersikap cuek seperti biasa. Sentuhan lembut yang dimiliki Leona sudah pasti akan menjadi hal yang sangat dirindukan Jordan mulai dari sekarang.
"Selamat pagi Suamiku," ucap Leona dengan senyuman manis.
"Sayang ...."
Cup. Leona mengangkat kepalanya hingga bibir mereka bersentuhan. Secara perlahan Jordan tersenyum dengan manja. "Yang lama."
Pria itu kembali melekatkan bibirnya dengan bibir Leona. Tidak memiliki pernghalang lagi terhadap Leona memang membuat Jordan sangat bahagia. Hal seperti ini yang ia impikan selama ini. Di mana setiap kali ia membuka mata, ada wanita yang ia cintai di sampingnya tidur.
"Apa masih sakit?" Jordan mengusap sudut mata Leona dengan lembut. Tadi malam ia sempat melihat kalau wanita tangguh itu meneteskan air mata ketika ia berusaha memilikinya. Ada rasa tidak tega namun ia harus melakukannya.
"Sedikit. Tidak sesakit saat terkena peluru," ucap Leona dengan tawa kecil. Ia memperhatikan Jordan yang sudah rapi. Ya, detik itu Leona baru sadar kalau suaminya sudah mandi bahkan sudah berpakaian rapi. Sedangkan dirinya masih ada di bawah selimut dengan penampilan yang acak-acakan.
"Jordan, kenapa kau tidak membangunkan ku? Apa ini sudah siang?" Leona duduk di atas tempat tidur. Ia memandang keluar jendela yang sudah cerah. Matahari telah tinggi. Kedua matanya melihat jam yang ada di dinding. Betapa kagetnya Leona ketika ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
__ADS_1
"Kau terlihat sangat lelah."
"Lalu bagaimana dengan yang lain? Bukankah kita harus sarapan bersama?" Leona memandang wajah Jordan dengan wajah panik.
"Mereka sudah sarapan." Jordan terlihat santai dan tenang. Pria itu beranjak dari tempat tidur.
"Mau ke mana?" teriak Leona ketika Jordan berjalan ke arah pintu.
"Aku ingin meminta pelayan agar mengirimkan sarapan pagi ke kamar. Mandilah, aku akan kembali." Jordan tidak memandang Leona lagi. Setelah menikah, menatap Leona hanya akan membuatnya tersiksa. Jordan ingin terus-terusan memiliki wanita itu tidak peduli Leona lelah atau sedang mau atau tidak.
Leona turun dari tempat tidur ketika Jordan telah menghilang di balik pintu. Wanita itu sendiri segera berlari ke kamar mandi. Tidak akan ada acara berendam karena hari sudah sangat siang. Hati ini Serena dan Daniel akan kembali ke Sapporo. Leona tidak mau jika bertemu dengan kedua orang tuanya hanya satu jam saja.
***
Jordan melihat Aleo berada tidak jauh dari kamarnya. Pria itu berjalan dengan gusar. Ketika berpapasan dengan Jordan, Aleo menghentikan langkah kakinya.
"Apa Leona sudah bangun?" tanya Aleo penasaran.
"Aku harus pergi ke New York mengantar Clara. Kedua orang tuanya mengalami kecelakaan. Tapi, jika Leona sedang mandi aku tidak akan menemuinya. Katakan padanya aku akan menemuinya setelah pulang dari New York."
Jordan mengangguk. "Baiklah, Kak."
"Terima kasih, Jordan. Tolong jaga Leona dengan baik. Sekarang kebahagiaannya ada di tanganmu. Jangan kecewakan dia." Aleo menepuk pelan pundak Jordan.
"Tentu, Kak. Jordan akan menjaga Leona dengan segenap jiwa dan raga Jordan. Kakak tenang saja, Leona tidak akan menangis kecuali menangis bahagia."
Aleo tersenyum. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan jadwal berangkat. "Kakak pergi dulu ya. Setelah itu, temui mama dan papa. Mereka juga akan kembali ke Sapporo hari ini."
"Baik, Kak."
__ADS_1
Jordan melihat kepergian Aleo. Ia juga ingin kembali ke dalam kamar. Tadi Jordan sudah memberi perintah kepada pelayan agar mengantarkan sarapan pagi ke dalam kamar.
"Semua pergi dan istana ini akan kembali sunyi." Jordan mendorong pintu kamar. Ia melihat tempat tidur yang masih acak-acakan. Ada senyum simpul di bibirnya. Jordan berjalan ke arah sofa untuk duduk di sana. Ia bisa mendengar dengan jelas suara Leona mandi di dalam kamar mandi.
Jordan termenung sambil membayangkan wajah bahagia semua orang ketika ia mengikrarkan janji semalam. Dari sana Jordan bisa mengerti kalau ada banyak orang yang menyayanginya. Apapun masalah yang akan terjadi, Jordan tidak takut lagi. Ia memiliki banyak keluarga yang akan bergerak untuk membantunya dalam masalah.
"Jordan, mana sarapannya?" Leona keluar dengan pakaian yang rapi. Ia mengenakan gaun berwarna kuning muda. Rambutnya di ikat ekor kuda. Leona hanya memberikan riasan natural di wajahnya.
"Sayang, itu sangat jelek." Jordan berjalan mendekati Leona. Ia melepas kuciran Leona yang ada belakang sana. "Begini jauh lebih cantik. Tidak lama lagi kau akan menjadi ratu. Jadi, kau harus terbiasa dengan rambut di gerai atau di sanggul seperti mommy."
"Apa harus seperti itu?" Leona memajukan bibirnya. "Aku takut mengecewakanmu."
"Tidak ada yang akan kecewa. Kau wanita sempurna yang pernah aku temui." Jordan menarik tangan Leona dan membawanya ke sofa. Sarapan yang ia tunggu terlalu lama datang. Jadi Jordan ingin memanfaatkan momen itu untuk bermesraan dengan Leona.
"Kak Aleo bilang akan pergi ke New York, katanya kedua orang tua Clara mengalami kecelakaan."
"Clara? Bagaimana dengan Tamara? Aku takut Tamara akan sakit hati karena hal ini." Leona terlihat sedih. Walau belum jelas bagaimana perasaan Tamara terhadap Aleo, tapi Leona tahu kalau wanita itu sudah jatuh cinta pada kakak kandungnya."
"Apa seperti cinta segitiga?" ucap Jordan dengan wajah serius.
"Bisa di bilang seperti itu." Leona melihat hadiah dari Zean. Tadi malam mereka belum sempat membuka hadiah itu. Jordan sendiri meminta agar Leona yang membuka hadiahnya. "Apa kau belum membukanya?"
Jordan mengikuti arah pandang Leona. Ia melihat hadiah Zean dan mengangguk pelan.
"Kita buka sama-sama bagaimana?" Jordan mengambil hadiah tersebut dan memandangnya dengan saksama. Dari bentuknya yang tipis Jordan bisa tahu kalau itu sebuah cek atau tiket mungkin. Atau sekedar kertas yang berisi kata ucapan selamat.
"Kau saja yang buka." Leona bersandar di dada bidang Jordan. Kebetulan kali ini dia ada di atas pangkuan Jordan. Ia bermanja di tubuh suaminya dengan posisi yang nyaman.
Jordan mengangguk pelan sebelum membukanya secara perlahan. Ia menarik beberapa lembar kertas dari dalam sana. Wajahnya terlihat tidak percaya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa ia memikirkan hal seperti ini?"