
Prangg
Letty di buat kaget ketika Lana menjatuhkan gelas yang ada di genggamannya. Wanita itu segera beranjak dari sofa dan berlari mendekati Lana. Ia terlihat khawatir. Takut terjadi apa-apa kepada ibu angkatnya.
"Mom, are you oke?" Letty memegang pundak Lana dan memandang pecahan kaca di permukaan lantai.
"Mommy ... mommy sangat mengkhawatirkan Oliver!" Lana memegang dadanya yang tiba-tiba terasa begitu sakit. Seperti ada jarum yang menusuk jantungnya.
Letty memandang ke arah jam dinding. Memang sudah waktunya. Namun, Letty tidak bisa berbuat apa-apa selain memastikan Lana tetap berada di sisinya.
"Mom, mungkin mommy kecapean. Sebaiknya mommy tidur aja ya," bujuk Letty agar Lana tidak lagi memikirkan hal yabg aneh-aneh.
"Apa benar Oliver pergi bersama Katterine? Letty, coba hubungi Katterine dan pastikan mereka baik-baik saja."
Lana ada di sana ketika Katterine meminta izin untuk pergi bersama Oliver. Namun, Lana tidak mau berpikir yang aneh-aneh karena putranya sudah pasti bisa menjaga Katterine.
"Mom, mommy duduk dulu ya. Letty akan minta seseorang membersihkan pecahan kacanya." Letty membawa Lana ke sofa. Wanita itu lagi-lagi harus berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat.
"Sayang, kemarilah." Lana menepuk sofa yang ada di sampingnya. Wanita itu tidak mau Letty pergi jauh-jauh darinya.
"Ya, Mom. Ada apa?" Letty meletakkan ponselnya di atas meja dan memandang wajah Lana.
"Apa kau tidak pergi ke resepsi Alana dan Kwan? Kenapa kau belum bersiap?" Lana memandang penampilan putrinya yang masih belum berganti sejak tadi.
"Mom, pestanya ada di bawah. Kapan saja aku bisa datang tanpa harus menggunakan kendaraan. Letty mau jaga mommy dulu."
Lana tersenyum. Ia memandang ke depan dan berusaha mengatur napasnya agar kembali tenang. "Saat itu mommy belum selesai bercerita. Kepada siapa Tante Emelie akan menyerahkan istananya."
Letty kembali mengingat semuanya. Wanita itu mengangguk dengan wajah penasaran. "Kalau Letty boleh tahu, kepada siapa istana Nona Emelie akan diserahkan, Mom?"
"Kepada Pieter."
"PIETER? Bagaimana ... bagaimana bisa Tante Emelie memikirkan hal itu? Pieter tidak ada hubungan kerabat dengannya. Istana bukan hal yang main-main, Mom."
Lana mengangkat kedua bahunya. "Awalnya mommy juga kaget. Tapi, ketika Nona Emelie bercerita sedikit mommy mulai paham. Ia tahu kalau kita sudah melakukan kesalahan terhadap Pieter. Mengajak Pieter menjadi bagian keluarga kita adalah solusi yang tepat. Nona Emelie tidak mau dendam antara Pieter dan Oliver terus berlanjut."
"Siapa saja yang sudah mengetahui semua ini, Mom?"
"Hanya mommy dan Nona Emelie. Kemarin mommy mau bercerita sama daddymu. Tapi tidak jadi."
Letty segera beranjak dari kursi yang ia duduki. "Mom, Letty harus pergi."
"Pergi? Pergi ke mana? Apa kau tidak akan menghadiri resepsi pernikahan Kwan dan Alana?"
"Ada hal yang jauh lebih penting, Mom." Letty memakai jaketnya dan mengambil kunci mobilnya. Wanita bergerak cepat meninggalkan kamar hotel.
"Sayang, bukankah kepalamu masih sakit?" teriak Lana.
"Sudah sembuh, Mom!" teriak Lana sebelum menutup pintu.
Lana kembali pada posisinya. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing. "Sebenarnya apa yang ingin ia lakukan? Bukan bersenang-senang dengan yang lain justru pergi entah ke mana."
__ADS_1
***
Suasana semakin menegangkan ketika tangan Pieter mengayuh ke arah dada Oliver. Namun, dalam sekejam saja Pieter tertawa. Benda berbahaya itu ia buang dan ia duduk di hadapan Oliver. Mereka saling memandang satu sama lain. Pieter masih tertawa seperti orang gila. Bahkan membuat Oliver dan yang lainnya kebingungan. Apa mungkin Oliver telah memukul sarat Pieter hingga pria itu berubah gila?
"Aku bukan pembunuh!" lirih Pieter. Pria itu tiba-tiba saja menangis. Apapun yang aku lakukan tidak akan bisa menghidupkannya kembali.
Oliver tersentuh mendengar curahan hati Pieter. "Maafkan aku."
Pieter menggeleng pelan. "Kau pria yang baik. Aku tahu kau bisa membunuhku malam ini. Tapi, kau tidak melakukannya."
Tiba-tiba saja Pieter memeluk tubuh Oliver. Pria itu memeluk tubuh Pieter layaknya saudara yang ia sayangi. "Terima kasih karena membiarkanku tetap hidup. Aku akan berubah menjadi lebih baik lagi."
Oliver tersenyum dan memukul punggung Pieter dengan lembut. "Mulai sekarang kita adalah saudara. Kesedihanmu akan menjadi kesedihanku."
"Terima kasih, Oliver. Terima kasih."
Semua orang yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Katterine. Hatinya lega melihat sang kekasih tetap hidup walaupun kini tubuhnya dipenuhi luka. Zeroun memeluk Katterine dengan wajah bahagia.
"Semua sudah berakhir," bisik Zeroun agar Katterine kembali tenang. Katterine hanya mengangguk pelan. Ia benar-benar lega dan bahagia. Bahkan tidak tahu harus bagaimana lagi. Pertarungan yang hanya di menangkan satu orang itu pada akhirnya di menangkan Pieter. Ya. ketulusan pria itu membuat dirinya pantas di sebut pemenang.
Zeroun memandang Pieter dan Oliver yang berusaha berdiri bersama-sama. "Dengan ini saya nyatakan, Pieter lah pemenang nya."
Sorak tepuk tangan menggema hingga memekakkan telinga. "Pieter, katakan keinginanmu. Aku akan memberikan apa yang kau inginkan."
"Tempat tinggal. Aku hanya ingin hidup tenang saja mulai dari sekarang."
"Hanya itu?" ledek Oliver sambil memegang punggung Pieter.
"Baiklah," jawab Zeroun dengan senyuman.
Ketika Letty tiba di lokasi, wanita itu bisa bernapas dengan lega. Ia tidak menyangka kalau lokasi pertarungan yang tadinya ia bayangkan begitu menyeramkan kini terlihat tenang dan dipenuhi tawa.
"Dad." Letty memandang punggung Lukas yang ada di hadapannya. Lukas memutar tubuhnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Letty lagi.
"Semua sudah berakhir. Kakak mu baik-baik saja," jawab Lukas dengan wajah bahagia. Letty tersenyum lega. Wanita itu berhambur ke dalam pelukan Lukas.
"Ayo kita kembali ke hotel. Mommy sangat khawatir."
"Ya. Kita akan segera kembali. Semua ini hanya menjadi rahasia kita." Letty mengangguk setuju sambil memandang wajah Oliver dan Pieter yang babak belur.
"Bagaimana cara menghilangkan luka itu dalam waktu singkat?" gumam Letty di dalam hati.
***
Pesta berlangsung dengan sukses ketika pesta dansa berakhir. Walau memang mencurigakan ketika Katterine dan Oliver tidak ada di sana, tapi semua orang berusaha percaya dengan alasan sepasang kekasih itu.
"Aku bahagia. Sangat bahagia. Terima kasih karena sudah menjadi bagian dari hidupku, ucap Kwan sambil memandang wajah cantik Alana.
"I love you l, Kwan."
__ADS_1
"I lover you to, Alana."
Saat semua tamu undangan ingin bubar, sorot lampu menerangi Tamara yang kini berdiri sendirian. Wanita itu terlihat kaget ketika lampu yang begitu terang menyinari dirinya sendiri. Semua tamu undangan yang masih ada di sana tidak lagi terlihat dengan jelas.
Samar-samar Tamara melihat Aleo yang berjalan mendekatinya. Pria itu membawa buket bunga dengan penampilan yang sangat rapi.
"Kak Aleo?" gumam Tamara di dalam hati. Ia sedikit tidak percaya bahkan mengira semua hanya mimpi.
Serena dan Anna yang sudah mengetahui rencana Aleo hanya bisa tersenyum bahagia. Mereka sendiri sudah tidak sabar melihat Aleo dan Tamara resmi pacaran.
"Saat pertama kali bertemu denganmu, aku merasa sesuatu mulai berbeda. Senyummu yang indah membuat jantungku berdebar. Awalnya aku mengira ini sebuah penyakit. Tapi, setelah segala obat aku coba. Debaran ini tidak juga sembuh. Hingga pada akhirnya, aku sadar. Debaran ini adalah cinta. Ya, cinta. Sebuah rasa yang menurutku unik. Aku sempat berpikir kalau ...." Aleo menghentikan kalimatnya ketika ia lupa dengan sambungan kalimat yang sudah ia hapal sejak kemarin. "Kalau ...."
"Aku sempat berpikir kalau ternyata dirimu adalah obat yang selama ini aku cari," sambung Tamara dengan wajah berseri bahagia.
Aleo mengangguk pelan. "Ya. Apa kalimatnya terlalu pasaran?" tanya Aleo malu-malu.
Tamara menggeleng pelan. "Tidak. Itu kalimat terindah yang pernah aku dengar."
Aleo berhenti di hadapan Tamara. Ia berlutut dengan satu kaki di tekuk. Menatap wajah Tamara dalam-dalam dengan keringat yang semakin deras.
"Tamara, apa kau mau menjadi pacarku? Aku tidak bisa menjanjikan banyak hal. Tapi aku yakin, kalau aku bisa membahagiakan dirimu."
Tamara menutup mulutnya dengan tangan. Kedua mata wanita itu berkaca-kaca. Ia berusaha melirik kedua orang tuanya. Tapi tidak terlihat karena lokasi sekitar gelap. Hingga tiba-tiba saja ia mendengar sorakan dari semua orang.
"Terima terima terima."
Tamara mengangguk pelan dengan wajah malu-malu. Wanita itu menerima bunga yang kini di berikan Aleo kepadanya.
"Ya, Kak. Tamara mau jadi pacar kakak."
Aleo tersenyum bahagia. Ia berdiri dan memeluk Tamara. Pria itu benar-benar puas dengan jawaban yang diberikan Tamara.
"Terima kasih, aku berjanji untuk selalu membuatmu tersenyum."
Dengan sedikit canggung Tamara berusaha tetap tenang berada di pelukan Aleo. Sorak tepung tangan memeriahkan momen manis malam itu. Jutaan kelopak bunga mawar tiba-tiba jatuh dari atas. Suasana malam itu semakin romantis dan membuat Tamara terbawa perasaan.
"Ini sangat manis," ucap Tamara sambil memandang kelopak mawar yang kini menghujaninya.
"Aku akan melakukan apapun asal kau bahagia, Tamara."
Serena merasa puas dengan apa yang ia lihat. Memang seharian dia sibuk dengan momen ini hingga tidak peduli dengan yang lainnya.
"Akhirnya mereka juga bersatu," ucap Serena sambil memandang Lana.
"Saya sangat yakin kalau Aleo bisa menjaga Tamara."
"Kau tenang saja, Anna. Tamara akan bahagia bersama Aleo. Aleo tidak akan membiarkannya menangis."
Anna hanya tersenyum bahagia. Ia memandang wajah Tama dan merangkul lengannya. "Tidak lama lagi putri kita akan menjadi seorang istri."
"Cepat atau lambat momen seperti itu pasti akan tiba. Aleo pria yang cocok untuk menemani Tamara," jawab Tama penuh keyakinan.
__ADS_1