Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 33


__ADS_3

Seorang perawat baru saja meninggalkan ruangan Katterine di rawat setelah selesai memeriksa keadaannya. Suasana saat itu terasa jauh lebih tenang walau trauma yang dialami Katterine tidak bisa dilupakan dengan begitu mudah. Sambil berusaha melupakan traumanya, Katterine sesekali memperhatikan wajah Oliver. Ingin sekali ia membuka pakaian pria itu agar bisa melihat tato naga emas di dada bidang pria itu setiap saatnya. Mungkin itu bisa membuatnya jauh lebih tenang.


Oliver yang sejak tadi berdiri beberapa meter dari ranjang Katterine kini mulai berjalan mendekat. Ia memandang ke arah jendela dan menutup sebagian gorden yang terbuka. Setelah suasana ruangan itu terasa nyaman Oliver berjalan dan duduk di atas tempat tidur Katterine.


Katterine melempar selimut yang sejak tadi menutupi tubuhnya. Wanita itu terlihat kesal karena Oliver membiarkan dirinya sampai di culik semalam.


"Jangan seperti ini." Oliver mengambil selimut yang tergeletak di lantai. Ia memandang wajah Katterine dengan saksama untuk memastikan kalau wanita itu tidak akan lagi membuang selimutnya ke lantai.


"Maafkan aku. Aku tahu aku salah."


Oliver merapikan selimut agar bisa menutupi tubuh Katterine dengan sempurna. Setelahnya ia duduk di pinggir ranjang dan memandang wajah sang kekasih. Bibir Katterine yang masih pucat dan terlihat lemah masih membekas di sana. Oliver memegang tangan Katterine yang baru saja di pasang infus kembali.


"Kau melepasnya demi menyelamatkanku? Tadinya aku sudah pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Bos Zeroun. Mungkin itu memang pantas aku dapatkan."


Katterine kembali mengingat apa yang ia lakukan tadi. Ia terpaksa melepas jarum infusnya karena tahu ayah kandungnya akan memberi pelajaran kepada Oliver. Hal itu membuatnya tidak tenang walau sebelumnya ia justru menyuruh pria itu pergi dan menuduhnya sebagai Oliver palsu.


"Aku tahu kau tidak sengaja melakukan kesalahan itu. Aku tahu, kau tidak akan mungkin membiarkan pria lain melukaiku. Semua terjadi karena memang sudah takdir."


"Tidak. Semua bukan karena takdir. Tapi, ini peringatan untukku. Seharusnya aku bisa lebih serius menjaga wanitaku."


Katterine mengukir senyuman ketika mendengar kalimat manis yang keluar dari bibir Oliver. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus yang siap di santap. Melihat Katterine sudah bisa tersenyum Oliver bisa kembali bernapas lega.


"Apa yang sekarang kau rasakan?" Oliver menatap kedua mata Katterine dengan wajah yang begitu khawatir. Ia tidak mau hal yang sama terulang lagi. Kali ini Oliver tidak akan meninggalkan Katterine sendirian.


"Takut. Tempat itu sangat dingin dan gelap. Sebenarnya aku ada di mana? Aku bahkan tidak tahu ada di mana saat itu. Aku merasa sesak dan ruangan yang begitu sempit."

__ADS_1


Oliver terdiam ketika mendengar pertanyaan Katterine. Ia tidak mau kekasihnya kembali mengingat kejadian buruk itu hingga membuatnya tidak tenang.


"Sebaiknya kita tidak perlu membahas masalah itu lagi. Yang terpenting saat ini kau sudah bersama denganku."


"Pria itu. Siapa dia?"


"Pieter!"


"Pieter? Pengawal kerajaan Belanda?" Katterine melebarkan kedua matanya dengan tatapan tidak percaya.


"Ya. Pengawal kerajaan Belanda orang-orang terpilih dan terlatih. Wajar saja kalau kita sempat kesulitan melacak keberadaan Pieter. Sebelumnya mereka sudah di latih untuk tidak terlacak."


"Apa tujuan Pieter melakukan semua ini?"


"Atas kematian Isabel?"


Oliver menggeleng pelan. "Saat perkelahian di istana waktu itu, tanpa sengaja aku membunuh wanita yang ia cintai. Dia dendam hingga ingin mencelakaimu. Dia tahu kalau kau adalah wanita yang berharga di dalam hidupku hingga akhirnya memutuskan untuk mencelakaimu. Apa kau tahu? Dia juga bekerja sama dengan Roberto."


"Seharusnya aku tahu sejak awal. Aku ingin kembali ke Cambridge. Aku lelah dengan semua ini." Katterine menghela napasnya dan memandang ke jendela. Ia tidak menyangka kalau waktu yang ia pilih untuk menenangkan diri justru jadi sebuah mala petaka.


"Baiklah. Aku akan segera mengurus kepulanganmu."


"Di mana Daddy?"


Katterine dan Oliver saling memandang. Tadi saat di atap, tiba-tiba saja Zeroun menghilang. Mereka bahkan tidak menyadarinya sama sekali.

__ADS_1


"Aku akan mencarinya jika kau ingin menemuinya."


Tiba-tiba pintu terbuka. Zeroun telah muncul di sana. Satu hal yang membuat Oliver dan Katterine kaget, Zeroun muncul bersama dengan Roberto. Orang yang baru saja mereka ceritakan dan mereka jadikan tersangka atas semua masalah ini.


"Dad, kenapa Daddy bawa dia ke sini?" Katterine marah besar terhadap Roberto. Ia menjadi kesakitan dan menderita karena campur tangan pria tersebut. Tidak mudah bagi Roberto untuk menerima Roberto begitu saja.


"Putri, maafkan saya." Roberto menunduk dengan wajah bersalahnya.


Zeroun melirik Roberto sekilas sebelum memandang wajah putrinya.


"Jika saja Roberto tidak menemui Daddy, mungkin saat ini Daddy tidak ada di sini. Setidaknya ia memiliki niat untuk memperbaiki diri."


Oliver hanya diam sambil menganalisa ucapan Zeroun. Ia sendiri tidak bisa sembarang bicara karena ada Zeroun di sana.


"Roberto, Sebenarnya kau ini ada di pihak siapa?" umpat Katterine kesal.


"Putri, saya tahu saya salah. Tapi, sejak awal saya tidak memiliki niat untuk mencelakai Anda."


"Tapi kau memiliki niat untuk mencelakai Oliver?" sambung Katterine kesal.


"Hal yang wajar saat dua pria merebutkan satu wanita," ucap Zeroun asal saja.


Oliver memandang wajah Zeroun dengan tatapan tidak terima. Seharusnya kali ini Zeroun ada di pihaknya. Tapi, seolah-olah Zeroun ada di tengah dan tidak memihak siapapun.


"Bos, Roberto memiliki rahasia Istana Cambridge dan ia ingin memberi tahu Pieter soal rahasia itu." Oliver harus menjatuhkan Roberto di depan ayah mertua agar ia mendapat nilai tambah. Zeroun hanya mengangguk pelan dengan senyum tertahan. Ia tidak menyangka kalau Oliver bisa banyak berubah sejak jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2