Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 6


__ADS_3

Oliver memandang Roberto yang sejak tadi memandangnya dengan tatapan tidak suka. Pria itu semakin menjadi memeluk Katterine dan memamerkan kepada pria itu kalau Katterine adalah miliknya. Wanitanya dan tidak akan bisa di sentuh orang lain selain dirinya.


Katterine terdiam dengan wajah bingung. Pelukan Oliver seperti sangat mencurigakan baginya. Wajar saja memang. Selama ini Oliver belum pernah bersikap lembut terhadapnya. Katterine ingin memastikan lagi kalau pria yang memeluknya adalah Oliver. Bukan pria lain yang sedang menyamar dengan topeng.


"Apa kau Oliver?" Katterine menatap wajah Oliver tanpa berkedip.


Oliver memandang Katterine. Pelukannya terlepas begitu saja. Ia kembali ke sifat asalnya yang biasa terlihat dingin dan cuek.


"Bukan."


Oliver berjalan maju mendekati Roberto. Meninggalkan Katterine begitu saja di tempatnya berdiri. Ia mengukir senyuman menghina dan melemparkan tatapan menghina itu kepada Roberto.


"Selamat malam, Tuan Roberto." Oliver melempar sebuah ponsel ke arah Oliver. "Berpikir dua kali jika ingin bermain denganku."


Oliver menepuk pelan pundak Roberto sebelum masuk ke dalam apartemen Katterine.


Roberto hanya diam membisu sambil memandang ponsel yang ada di tangannya. Di sana tercatat jelas panggilan masuk dan keluar dari dirinya. Ponsel itu adalah milik pria yang sengaja di kirim Roberto untuk mengikuti Oliver.

__ADS_1


Beberapa saat yang lalu.


"Tinggalkan kota ini jika kau ingin selamat. Aku akan memberimu uang yang banyak sebagai imbalannya." Pria bertopi hitam dengan pistol di tangannya memandang Oliver dengan tatapan membunuh. Pria itu merasa sangat percaya diri kalau malam ini ia bisa mengalahkan Oliver. 


"Uang? Kebetulan sekali. Aku memang sedang butuh uang." Oliver memasukkan pistolnya ke dalam saku. Ia berjalan maju melewati pengawalnya dengan tatapan yang sangat tenang. Pengawal Oliver telah waspada sejak tadi. Namun ketika ia sadar kalau Oliver pasti sudah menyiapkan sebuah rencana, maka ia tidak perlu lagi khawatir.


"Bagus. Ternyata kau sangat menyayangi nyawamu."


"Apa ini permintaan dari Tuan Roberto?" Oliver tahu kalau hanya pria licik itu yang kini memiliki niat menyingkirkannya. Tidak akan ada orang lain yang berani memperlakukannya seperti ini selain Roberto.


"Anda tidak perlu tahu siapa yang mengirim saya. Bawa uang ini dan pergilah." Pria itu melempar satu koper uang di hadapan Oliver.


"Bos, mau kita apakan uang sedikit ini?" tanya pengawal Oliver dengan wajah bingung.


"Bagikan pada semua orang. Bukankah malam ini anginnya sangat kencang. Lempar saja dari atas ini maka semua orang bisa mendapatkannya."


"Sombong sekali Anda. Memang pria seperti Anda pantas mati." Pria itu mengangkat senjata apinya dengan wajah sok hebat. Bersamaan dengan itu, Oliver mengangkat kakinya dan menangkis senjata api itu.

__ADS_1


Ketika pistol itu terpental dan tergeletak di permukaan lantai. Oliver dengan cepat menendang wajah pria itu. Pukulannya tidak main-main. Satu pukulan saja berhasil membuat sobekan di bagian wajah pria itu.


Saat pria itu terjatuh, Oliver memegang lehernya dan menatapnya dengan tatapan dingin. "Tadinya aku ingin bersikap baik kepada kalian. Tapi malam ini, kalian menunjukkan sifat yang sebenarnya. Oke, baiklah. Sekarang saatnya bermain."


Oliver mengangkat tubuh pria itu dengan leher tercekik. Ia membawanya ke pinggiran gedung. Pria itu ketakutan bukan main. Ia memohon ampun dengan tubuh gemetar ketakutan.


"Ini semua permintaan Tuan Roberto. Saya hanya di bayar. Tolong maafkan saya. Apapun yang Anda inginkan akan saya turuti."


Oliver tersenyum puas. Ia menurunkan pria itu tepat di pinggiran gedung. Sedikit dorongan saja bisa merenggut nyawa pria itu.


"Hubungi dia sekarang dan katakan kalau kau telah berhasil."


"Baik baik. Saya akan melakukannya." Pria itu segera mengeluarkan ponselnya. Ia melekatkannya di telinga. Oliver yang tidak puas segera membesarkan suara ponselnya.


"Ada apa? Aku harus segera menemui Katterine. Apa kau sudah berhasil mengusir pengawal itu?" teriak Roberto dengan suara tidak suka.


"Sudah, Tu-" 

__ADS_1


Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, Oliver sudah mendorongnya hingga terjatuh. Ponsel tersebut terpental di udara. Oliver menangkapnya dengan sempurna. Ia memutuskan panggilan telepon itu dan menyimpan ponselnya di dalam saku. Tanpa banyak kata lagi, ia memutuskan untuk segera menemui Katterine. Oliver tidak mau Katterine dalam bahaya.


Selamat hari raya idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.


__ADS_2