
"Hentikan Pieter. Biarkan dia tetap hidup."
Pieter menarik berlatih yang sejak tadi menancap di perut Roberto. Dengan wajah yang sangat tenang ia membersihkan darah Roberto yang ada di belati kesayangannya.
"Pangeran, pria ini sama sekali tidak berguna. Dia juga sudah melihat identitas Anda. Bagaimana jika dia memberi tahu semua orang tentang identitas Anda?" Pieter memandang wajah pria yang kini duduk dengan santai di sofa.
"Bagaimana dengan Lusya? Apa kau sudah yakin kalau dia tidak akan mengkhianati kita? Pieter, terkadang orang yang paling kita percaya belum tentu bisa kita andalkan."
Pria itu beranjak dari sofa. Ia berjalan dengan tenang mendekati posisi Roberto berbaring Pria itu sudah tidak sadarkan diri. Tangannya memegang ponsel yang masih aktif dan terhubung ke nomor Zeroun. Sayang, telepon itu sejak tadi tidak diangkat oleh Zeroun. membuat sebuah rahasia yang baru saja dikatakan Roberto menjadi sia-sia.
"Zeroun dan keluarganya akan mencari keberadaan pria ini. Jika mereka tahu dia tewas di tangan kita, itu akan membuat mereka semakin waspada."
Pria itu mengambil ponsel Pieter. Ia mengetik sebuah pesan singkat untuk membuat Zeroun tidak curiga. Senyum licik mengembang di bibirnya setelah ia mengirim pesan singkat tersebut.
"Lalu Pangeran, apa rencana Anda?"
"Buat seolah-olah dia kecelakaan. Pastikan mayatnya tidak akan bisa ditemukan sampai kapanpun. Dia pria yang cukup ternama. Kecelakaan yang menimpahnya pasti akan membuat gempar dunia."
"Baik, Pangeran. Lalu, pesan apa yang Anda kirim barusan?"
__ADS_1
Pria itu melempar ponsel Roberto. Ia berjalan pergi begitu saja dengan wajah yang sangat tenang.
***
Zeroun merasa tidak tenang dengan tidurnya malam ini. Ia duduk di atas tempat tidur dan memandang Emelie yang sudah terlelap. Tangannya mengusap dan membelai rambut sang istri sebelum mengecupnya dengan penuh cinta.
"Aku sangat mencintaimu. Cepat sembuh sayang," bisik Zeroun mesra. Pria itu tidak lagi mengantuk. Ia menurunkan kedua kakinya satu persatu. Ia berjalan ke arah meja untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di sana.
Zeroun membuka pesan singkat yang baru saja masuk. Ia melihat jam yang ada di dinding. Zeroun sedikit penasaran dengan sosok yang sudah berani mengirimnya pesan selarut ini.
"Tuan Zeroun, saya sangat mencintai Putri Anda. Tapi sepertinya harapan untuk mendapatkannya sudah tidak ada lagi. Saya juga tidak sanggup melihat wanita yang saya cintai bahagia dengan pria lain. Dengan begitu saya memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan rasa cinta saya terhadap Katterine. Saya doakan dia akan selalu bahagia dengan pria yang ia cintai."
Zeroun menekan nomor telepon Roberto. Namun nomor pria itu tidak bisa di hubungi lagi. Zeroun mulai merasa khawatir. Ia berjalan ke arah pintu untuk meminta bantuan Oliver.
"Zeroun ...."
Langkah Zeroun terhenti ketika melihat Baby Emelie nya duduk di atas tempat tidur. Wanita itu menatapnya dengan wajah penasaran. Sedikit marah pastinya. Emelie tidak suka Zeroun pergi secara diam-diam saat ia sedang tidur.
"Mau ke mana?"
__ADS_1
Zeroun memasang wajah setenang mungkin. Ia menyembunyikan ponselnya agar Emelie tidak melihatnya.
"Aku ingin mengambil air minum." Zeroun melihat gelas kosong di atas nakas. Hak itu membuat alasannya terkesan natural.
"Kau akan menyuruh pelayan mengambilkan air minum di bawah? Atau ... kau berniat untuk mengambilnya sendiri di lantai bawah."
Zeroun tertawa kecil agar suasana di dalam kamar itu terasa tenang. "Baby sayang ... tentu saja aku akan meminta pelayan di depan untuk mengambilkannya."
Zeroun naik ke atas tempat tidur. Ia menarik tubuh Emelie dan memeluknya dengan erat.
"Tapi sekarang sudah tidak haus lagi. Melihat wajahmu yang cantik ini aku merasa sejuk."
Emelie tersenyum dengan indah. Ia memeluk suaminya dengan penuh cinta. "Terima kasih karena hingga detik ini kau masih mencintaiku."
"Sampai aku mati aku akan selalu mencintaimu."
Zeroun meletakkan ponselnya di bawah bantal. Jika nanti Emelie sudah kembali tidur, ia akan menghubungi Oliver untuk membantu Roberto.
"Sepertinya aku harus menidurkan Baby kesayanganku ini sebelum melakukan sesuatu," gumam Zeroun di dalam hati.
__ADS_1