Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 128


__ADS_3

Beberapa Minggu kemudian.


Clara berlari di pantai dengan wajah ceria. Seperti apa yang ia rencanakan, kini Zean menjadi pengawal pribadinya. Masalah ciuman mereka pada malam itu juga sudah tidak ada yang berani membahasnya lagi. Zean yang bersikap seolah-olah tidak ada masalah membuat Clara tidak lagi canggung ada di dekat Zean.


Namun, hingga detik ini Clara belum tahu sebenarnya siapa Zean. Di matanya pria itu masih tetap pengawal S.G. Group yang tangguh.


"Clara!"


Clara memutar tubuhnya ketika suara seseorang memanggil namanya. Zean tersenyum melihat tamu yang sengaja ia undang untuk menemui Clara. Mereka adalah Anne dan Sarah.


"Kalian. Bagaimana bisa kalian ada di sini?" teriak Clara dengan wajah tidak percaya.


"Clara, kami tinggal di sini. Kalau saja Tuan Zean tidak memberi tahu kami, kami tidak akan menemuimu di sini," jawab Anne kegirangan.


"Benarkah?" Clara memandang wajah Zean dengan hati yang bahagia.


"Clara, apa kalian berpacaran?"


Clara melebarkan matanya. "Apa yang kau katakan? Kami hanya teman."


"Clara, kalian berdua sangat cocok."


"Tuan Zean pria yang baik. Aku juga mau punya kekasih ketua mafia," sambung Sarah dengan wajah memerah karena kagum.


"Apa kau bilang? Bos Mafia?" tanya Clara dengan ekspresi wajah tidak percaya.


"Ya. Clara apa kau tidak tahu kalau Tuan Zean pemimpin geng mafia bernama The Devils?" tanya Anne dengan wajah bingung. Ia takut jika sudah melakukan kesalahan detik ini.


"Dari mana kalian tahu?"


"Saat kami dibebaskan. Pasukan The Devils yang membawa kami ke bandara. Lalu kami bertanya, siapa bos mereka agar kami bisa mengucapkan terima kasih. Mereka bilang Bos Zean."


Clara terlihat kebingungan. Ia merasa malu dan gugup. Anne menepuk pundak Clara.


"Maafkan aku ya. Aku pikir kau sudah tahu sejak awal. Jika kau tidak sibuk, kau bisa main ke rumah kami. Ini alamatnya." Anne memberikan alamat rumahnya. Mereka berpelukan sebelum berpisah. Setelah Anne dan Sarah pergi, Clara memandang wajah Zean dari kejauhan. Ia tidak tahu harus bagaimana saat ini. Hingga akhirnya Clara memutuskan untuk duduk di pinggiran pantai.


Zean yang menyadari perubahan sikap Clara berjalan mendekat. Tadinya ia berharap Clara akan semakin ceria setelah bertemu dengan dua rekannya.


"Ada apa? Apa kau tidak suka bertemu mereka?" tanya Zean sebelum duduk di samping Clara.

__ADS_1


"Aku sedih."


"Sedih? Siapa yang membuatmu sedih?"


"Ketua mafia The Devils," jawab Clara tanpa memandang.


Zean mengeryitkan dahi sebelum tersenyum. "Kau sudah tahu? Rencananya aku akan memberi tahu ketika waktunya sudah tepat. Bukankah kau memandang mafia sebagai orang-orang jahat?"


"Tidak seperti itu juga. Aku malu, Zean." Clara menunduk. "Bisa-bisanya aku menganggapmu sebagai pengawal S.G. Group. Bukankah saat itu aku sudah merendahkan derajat mu?"


Zean tertawa kecil. "Aku tidak merasa seperti itu. Justru, aku senang kau memandangku sebagai orang rendahan."


"Jika kau ketua mafia, itu berarti ... kau pria yang sudah menyakiti Leona?" ujar Clara hati-hati.


Zean membisu. Ia tidak menjawab karena itu hal yang menyakitkan baginya.


"Hei, kau jangan diam saja. Kakak adik itu memang benar-benar menyebalkan bukan? Bisa-bisanya kita bertemu. Dan bisa-bisanya kita sakit hati karena kakak adik. Saudara kembar lagi!" umpat Clara kesal.


"Clara, apa kau masih belum bisa melupakan Kak Aleo?"


"Tentu saja belum."


Zean kembali membisu. Ia merasa kalau kali ini jalan cintanya akan rumit. Clara seperti tidak mencintainya. Sangat jauh dari apa yang ia harapkan selama ini.


"Balas dendam?" Zean mengeryitkan dahinya. Ia tidak percaya jika Clara memiliki pemikiran seperti itu. "Apa maksudmu Clara? Balas dendam seperti apa? Kau mengajakku balas dendam kepada Leona dan Kak Aleo begitu?"


"Ya," jawab Clara mantap.


"Clara, sepertinya aku telah salah menilaimu!" Zean yang tidak setuju ingin beranjak dari sana. Namun dengan cepat Clara memegang tangannya dan menariknya kembali duduk. Clara hampir terjatuh saat menarik Zean agar duduk kembali.


"Zean, kita harus balas dendam!"


"Clara, apa kau waras?" Zean memandang wajah Clara dengan tatapan yang tajam.


"Kita harus ... kita harus ...."


"Sudahlah! Aku tidak akan marah. Tapi, tolong lupakan soal balas dendam. Jangan pernah pikirkan hal seperti itu. Apa kau lupa kalau mereka yang menyelamatkan kita?" Zean berjalan pergi meninggalkan Clara yang masih duduk di pasir.


Clara segera berdiri. Ia berlari mengejar Zean. Saat tubuh Zean sudah dekat, Clara memeluk Zean dari belakang. "Zean, aku mencintaimu."

__ADS_1


Zean mematung. Ia tidak tahu harus berbuat apa ketika mendengar pernyataan cinta dari Clara.


"Jika kita menikah, kita bisa balas dendam kepada mereka. Caranya dengan memamerkan kebahagiaan kita. Mereka harus tahu kalau kita sudah berhasil melupakan mereka. Kita sudah memiliki kebahagiaan kita sendiri."


Zean tersenyum. Ia baru saja salah paham dengan Clara. Pria itu melepas tangan Clara dan memutar tubuhnya. Ia memandang wajah Clara yang kini menatapnya dengan serius.


"Zean, aku tidak tahu sejak kapan cinta itu datang. Yang pasti, aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilangan dirimu."


"Walau aku seorang ketua mafia?"


Clara mengangguk. "Kau harus mengajariku bertarung agar aku bisa setangguh Leona."


Zean tertawa geli mendengar perkataan Clara. Ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


"Zean, apa ini? Apa kau menerima cintaku?"


"Tidak."


Clara mendorong tubuh Zean. "Kau menolakku?"


"Aku tidak menerima cintamu karena tidak mau menjadi kekasihmu. Aku hanya mau menjadi suamimu Clara."


Wajah Clara langsung memerah. Ia tersenyum dan menunduk malu. Walau unik dan singkat, tapi Zean berhasil membuat getaran hebat di hatinya. Bahkan jauh lebih hebat ketika ia dekat dengan Aleo dulu.


Zean melepas cincin di jarinya. Ia memegang dagu Clara agar wanita itu mau memandangnya. "Apa kau mau menikah denganku?"


Clara mengangguk cepat. Ia tidak mau menjawab karena masih malu-malu.


Zean memberikan cincin yang tadi ia lepas. "Pakailah. Setelah cincin itu kau pakai, kau resmi menjadi istriku."


"Hei, secepat itu?" protes Clara.


"Ya."


"Zean ....," rengek Clara. Zean menarik Clara dan memeluknya dengan erat. "Secepatnya aku akan mempersiapkan pernikahan kita."


Clara membenamkan wajahnya di dada bidang Zean. "Aku tidak menyangka, jika pria yang aku kenal bertahun-tahun yang tadinya aku pikir akan menjadi suamiku justru kini menjadi milik orang lain. Sedangkan pria yang baru aku kenal dalam waktu sekejap yang tadinya aku pikir tidak akan bertemu lagi kini akan menjadi suamiku," gumam Clara di dalam hati.


Zean memandang langit biru di angkasa. "Tidak sebentar mengobati hati yang terluka. Selama ini aku hidup di balik bayang-bayang rasa bersalah. Sejak bertemu dengan Clara, aku mulai bisa bangkit. Senyumnya dan sifatnya yang ceria membuatku lupa untuk serius. Clara, aku berjanji untuk akan menjaga mu seumur hidupku. Mulai sekarang hanya kau satu-satunya wanita yang ada di dalam pikiranku."

__ADS_1



Tamat


__ADS_2