
Sebuah pukulan keras mendarat di kepala Leona. Kali ini Leona tidak berhasil menangkis pukulan musuhnya. Setelah pukulan di kepala, sebuah tendangan mendarat di bagian pinggang Leona. Leona merasa sakit yang luar biasa karena tendangan itu mengenai luka yang terkena luka tembak.
Saat jarak Jordan, Kwan dan Zean sangat jauh darinya. Seorang pria mulai mengambil kesempatan untuk memukul Leona lagi. Zean menembak pria yang ingin mencelakai Leona. Sayangnya, dari kejauhan Letty menembak kaki Zean hingga membuat pria itu tidak lagi bisa jalan dengan cepat.
Jordan mulai mengamati lokasi sekitar. Pria itu tahu kalau ada seseorang yang secara diam-diam mengamati mereka. Jordan berlari kencang ke arah Leona. Ia ingin mendekati Leona, namun sejak tadi tidak berhasil. Musuh mereka benar-benar banyak jumlahnya. satu keadaan yang tidak mereka sangka-sangka sebelumnya.
“Kwan, lindungi aku. Aku harus menolong Leona.” Jordan menatap wajah Kwan dengan wajah panik. Kedua matanya tidak teralihkan ke arah Leona.
Kwan mengangguk pelan. Namun, sebuah tembakan kembali mendarat di tubuh Leona. Kali ini bagian perut wanita itu. Darah berkucur deras dari mulut Leona. Detik itu juga, Leona tidak lagi bisa menguasai kesadarannya. Kekuatannya hilang bersamaan darah yang sudah terkuras habis. Leona menatap wajah tiga pria yang berlari mendekatinya.
Wanita itu terjatuh ke belakang. Kepalanya terbentur sebuah batu yang berukuran besar. Kepalanya pecah dan darah juga keluar dari sana. Kondisi Leona benar-benar sangat mengenaskan siang itu.
“Leona!” teriak Serena. Wanita itu juga tidak bisa tenang lagi. Ia menangis.
DUARR DUARR.
Tembakan yang begitu memekakan telinga tiba-tiba saja muncul. Kali ini ada Oliver dan Lukas yang memimpin Gold Dragon. Letty mulai terperanjat kaget saat melihat Oliver telah ada di lokasi tersebut. Wanita itu beranjak dan berusaha kabur dari sana. Namun, sebuah senjata api melekat di pelipis kanannya.
“Mau kemana gadis nakal!” ucap Lana dengan senyuman kecil di sudut bibirnya
Letty memutar tubuhnya dan memandang wajah Lana dengan napas yang terasa sangat sesak. “Tante,” ucapnya dengan suara pelan.
__ADS_1
Setelah Oliver dan Lukas tiba. Seluruh musuh yang tadinya berkerumun, dalam hitungan detik saja sudah tergeletak di permukaan tebing. Tidak ada yang tersisa selain pasukan Queen Star dan orang-orang terdekat Leona.
Jordan mengangkat tubuh Leona saat melihat keadaan sudah aman. Kini pria itu ingin segera membawa Leona ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Zean berdiri di sana dengan darah di kakinya.
“Berhenti!” teriak Zean sambil menahan perih di kakinya.
Serena menatap wajah Zean dengan kedua mata menyipit. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Masalah hubungan percintaan putrinya dengan Zean tidaklah begitu jelas. “Apa yang mau kau lakukan?” ucap Serena dengan tatapan yang sangat tajam.
“Leona tidak akan selamat,” ucap Zean pelan.
Ucapan yang dikatakan Zean membuat Serena emosi. Wanita itu mengangkat senjatanya dan siap membunuh Zean sebagai hukuman atas apa yang baru saja diucapkan pria tersebut.
“Tunggu! Aku tidak memiliki niat jahat. Di belakang markas ada helikopter. Perjalanan ke kota akan memakan waktu sekitar lima jam. Kalian tidak akan bisa membawa Leona tepat waktu. Biar aku yang membawa Leona ke rumah sakit. Aku bisa mengemudikan helikopter,” ucap Zean menawarkan diri. Walaupun saat itu ada darah di kakinya yang sedang berkucur deras, tapi Zean tetap memikirkan keselamatan Leona.
Serena memandang wajah Zean dengan tatapan yang sangat tajam. “Aleo, tangkap pria ini. Pastikan dia tidak kabur!” perintah Serena sebelum mengikuti Jordan dan Oliver.
“Baik, Ma,” ucap Aleo sebelum mendekati Zean. Zean hanya bisa diam dan pasrah. Kini yang ia pikirkan hanya Leona. Zean berharap besar kalau Leona baik-baik saja.
Lana membawa Letty dan mendorong wanita itu di depan Lukas. “Aku tidak menyangka kalau gadis kecil seperti ini lawan kita,” ucap Lana kesal.
Lukas melirik wajah Letty sebelum wajah Lana lagi. “Kau mengajarinya menembak. Tapi, tidak mengajarinya tata krama,” sindir Lukas dengan ekspresi dingin favoritnya.
__ADS_1
“Kau menyalahkanku?” teriak Lana.
“Kalian sudah tua, kenapa masih sering berkelahi dan saling menyalahkan. Apa wanita ini hasil didikan kalian?” teriak Kenzo kesal.
Lukas dan Lana saling memandang sebelum memandang Kenzo. “Ya,” jawab mereka berdua secara bersamaan.
Kenzo mengangguk pelan. “Sesuai dengan didikan kalian. Ia tumbuh menjadi wanita tangguh yang hebat dan sulit dikalahkan,” ucap Kenzo sebelum menarik tangan Shabira dan membawanya pergi untuk menyusul yang lainnya. Hanya tersisa Lukas, Lana, Letty dan pasukan Gold Dragon di sana.
“Dia putri kesayanganmu. Sekarang, urus dia,” ucap Lukas sebelum pergi meninggalkan Lana.
Lana mengepal kuat tangannya. Ia membuang tatapan mengerikan ke arah Letty. “Ingin sekali aku membunuhmu detik ini juga!” teriak Lana kesal saat ia di tinggal begitu saja oleh Lukas.
Letty menunduk dengan wajah ketakutan. Seperti seorang anak yang ketahuan mencuri dan dimarah oleh sang ibu. Seperti itulah wajah takut Letty.
“Ikut denganku. Kita harus meluruskan masalah ini, jika kau masih ingin hidup,” ucap Lana. Wanita itu menarik tangan Letty dan membawanya pergi untuk menyusul yang lainnya.
Oliver mengemudikan helikopter milik Zean dengan begitu ahli. Di dalam helikopter itu ada Serena, Jordan dan Leona. Jordan segera membuka topengnya dan membuangnya ke bawah.
“Jordan, Tante tidak menyangka kalau kau bisa menyembunyikan semua ini dari Tante. Kenapa kau tidak menceritakan semuanya sejak awal,” protes Serena kesal. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada putrinya.
Jordan memandang Oliver sejenak sebelum menunduk. “Maaf, Tante,” ucap Jordan pelan.
__ADS_1
Oliver hanya bisa diam sambil fokus dengan penerbangannya. Kini pria itu juga tidak bisa banyak membela Jordan. Wanita yang ada di belakangnya adalah wanita yang paling tinggi kedudukannya. Bahkan Oliver tahu kalau Zeroun saja tidak berani melawan Serena.
Segini dulu ya. Author capek. Ntar malam lagi. jangan lupa kasih hadiah ya. Bunga atau Kopi. Author uda berjuang crazy up lho.