
Oliver tidak bisa tenang ketika ia ada di dalam mobil. Bahkan Miller yang kini mengambil alih kemudi juga tidak bisa konsentrasi dengan laju mobilnya. Di sampingnya ada pria yang sejak tadi mengumpat dan berteriak agar dirinya melaju dengan cepat. Padahal Miller juga sudah mengeluarkan kemampuan menyetirnya agar bisa segera tiba di apartemen Katterine.
"Kenapa dia tidak mengangkat teleponku!" Oliver sudah berulang kali menghubungi Katterine. Sayangnya tidak ada satupun panggilannya yang di angkat. Hal itu membuat Oliver semakin tidak karuan.
"Mungkin dia sedang mandi," ucap Miller untuk mendinginkan suasana. Tapi, Oliver tahu jam mandi dan kegiatan wanita itu selama ini. Jam segini Katterine tidak pernah berendam di dalam kamar mandi. Di tambah lagi pasukan yang ia kirim untuk menjaga Katterine juga tidak ada yang bisa di hubungi.
"Apa tidak bisa cepat lagi!"
"Bisa! Dari langit. Kenapa tadi kau tidak memilih untuk naik helikopter saja!" protes Miller geram. Jawaban Miller membuat Oliver diam. Sebenarnya laju mobil itu memang sudah sangat kencang. Bahkan jika terjadi sesuatu mungkin resiko yang mereka dapatkan akan serius.
Setibanya di lapangan parkir, Miller dan Oliver segera turun dari mobil. Mereka berlari menuju ke arah lift. Beberapa orang yang ada di sana hanya melihat Oliver dengan bingung. Dua pria itu terlihat seperti orang ketakutan.
Di dalam lift Oliver sendiri terlihat tidak tenang. Ingin sekali ia tiba di dalam kamar Katterine hanya dengan kedipan mata saja.
Ting. Lift terbuka. Oliver dan Miller memandang beberapa polisi yang ada di lorong depan mereka. Miller bertingkah sewajarnya. Ia juga harus mendapatkan kepercayaan semua orang kalau dirinya adalah polisi yang baik. Ia tidak mau membuat semua orang membencinya hingga nanti dirinya sulit melindungi Oliver.
Oliver tidak peduli dengan kehadiran polisi di sana. Ia ingin segera masuk ke dalam kamar Katterine untuk memeriksa wanita itu di dalam sana.
"Maaf, Anda tidak diperbolehkan masuk. Apa Anda tidak bisa melihat garis polisi yang ada?"
Oliver mengepal kuat tangannya. Ia tidak suka dihalangi apa lagi untuk memeriksa kekasihnya. Miller memegang pundak Oliver untuk meminta pria itu bersabar. Ia tersenyum memandang polisi yang berdiri di hadapannya.
"Dia bersama saya. Kamar ini milik kekasihnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian semua ada di sini."
"Kami mendapat kabar dari pihak apartemen kalau telah terjadi pembunuhan di kamar ini."
Miller dan Oliver saling memandang sebelum mereka sama-sama menerobos masuk ke dalam. Setibanya di dalam, memang ruangan itu terlihat sangat berantakan. Seperti ada yang baru saja berkelahi.
__ADS_1
"Di mana wanita yang tinggal di kamar ini?" tanya Miller kepada polisi yang ada di sampingnya.
Oliver berlari ke arah dapur. Ia tahu kalau kekacauan itu juga berujung ke ruangan tersebut.
"Wanita tersebut telah tewas. Saat ini jenazahnya ada di rumah sakit."
Oliver menahan langkah kakinya ketika mendengar penjelasan dari polisi tersebut. Bersamaan dengan itu Oliver melihat darah segar ada di permukaan lantai.
Miller tertawa kecil. Ia tidak percaya dengan informasi yang di sampaikan oleh polisi tersebut. Tidak mungkin Katterine pergi secepat itu.
"Oliver, kita harus pergi ke rumah sakit untuk-"
"Dia bukan Katterine!" bantah Oliver dengan wajah memerah. Terlihat jelas kalau pria itu tidak terima jika wanita yang dikatakan tewas adalah Katterine.
"Kami masih dalam proses penyelidikan. Sebaiknya anda tidak mengambil benda apapun dari ruangan ini," ucap polisi itu lagi.
Oliver segera pergi meninggalkan dapur. Ia ingin ke kamar Katterine untuk memeriksa wanita itu ada di sana. Miller selalu mendampingi Oliver. Pria itu juga meminta polisi yang sejak tadi mengikuti mereka untuk keluar. Ia tahu jika emosi Oliver sedang tidak stabil, ia bisa saja memukul wajah polisi tersebut.
Dengan wajah tidak terbaca Oliver berjalan ke arah laci tempat Katterine meletakkan senjata apinya. Seperti apa yang ia pikirkan. Senjata api pemberian Zeroun masih ada di sana. Tidak bergeser sama sekali dari posisinya.
"Kita harus ke rumah sakit untuk memastikan kalau wanita itu bukan Katterine," bujuk Miller lagi. Oliver tidak bisa menahan rasa amarahnya. Ingin sekali ia segera menangkap dan memberi pelajaran kepada orang yang sudah berani mengusik ketenangan.
"Kau periksa saja sendiri. Aku yakin kalau wanita itu bukan Katterine!" Oliver pergi meninggalkan kamar tersebut. Baginya tidak mungkin Katterine pergi secepat itu. Jika memang benar, ia juga tidak sanggup menerima kenyataan itu. Kali ini Oliver lebih tertarik untuk mencari petunjuk keberadaan musuhnya sebelum mereka pergi lebih jauh lagi.
Muller memutuskan untuk ke rumah sakit. Ia ingin memastikan kalau wanita yang dikatakan tewas itu bukan Katterine.
***
__ADS_1
Setibanya di rumah sakit, Miller melihat beberapa anak buahnya ada di rumah sakit tersebut. Mereka menyambut kedatangan Miller dengan hormat.
"Di mana korban pembunuhan itu?"
"Di sana, Pak."
Miller segera mengikuti pria yang kini membawanya. Hatinya tidak tenang dan sangat gelisah. Ini akan menjadi kenyataan terburuk jika benar jenazah wanita yang ingin ia lihat adalah Katterine.
"Silahkan, Pak."
Miller masuk ke ruang bertulis ruang jenazah tersebut. Ia melihat tubuh seseorang tertutup kain putih. Langkahnya mulai berat. Bagaimana pun juga Katterine pernah menjadi sahabatnya. Senyum dan keceriaan wanita itu tidak bisa hilang begitu saja dari pikirannya.
"Pak, apa Anda ingin saya temani?"
"Tidak, tinggalkan saya sendiri!"
"Baik, Pak." Pria itu memutuskan pergi dan menutup kembali pintu ruangan tersebut. Miller berjalan semakin lambat. Seolah-olah ia tidak ingin tiba di dekat jenazah itu dengan cepat.
"Aku yakin ini bukan Katterine." Miller mengatur napasnya lagi ketika sudah ada di samping jenazah tersebut. Ia melihat dari atas hingga bawah. Postur tubuhnya sekilas memang mirip dengan Katterine. Tapi Miller tidak mau percaya begitu saja.
Miller memegang lain putih tersebut dan menariknya secara perlahan. Betapa kagetnya Miller ketika ia mendengar suara dobrakan pintu yang begitu kuat. Kain itu terlepas dan Miller memutar tubuhnya.
"Oliver, kenapa kau bisa ada di sini?"
Oliver berdiri di depan pintu dan memandang jenazah tersebut dengan saksama. Pria itu berjalan cepat untuk memeriksa wanita yang berbaring di atas tempat tidur tersebut.
"Kau bilang wanita ini tidak mungkin Katterine! kenapa sekarang kau ada di sini?"
__ADS_1
Oliver tidak memperdulikannya lagi, ia segera menarik kain putih itu untuk melihat wajah di baliknya.
Miller melebarkan kedua matanya ketika melihat wajah wanita yang berbaring di sana. "Ini tidak mungkin!"