Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 77


__ADS_3

Letty tersenyum melihat penampilan dirinya di depan cermin. Sebenarnya penampilan Letty saat ini merupakan penampilan wanita pada umumnya. Memakai dress dengan warna senada dengan sepatu dan tas. Rambut rapi dan wangi. Beserta make up natural yang tidak mencolok. Namun, karena Letty belum pernah berpenampilan seperti ini sebelumnya, jadi dia sedikit kaget melihat perubahan dirinya sendiri.


Miller hanya diam sambil memandang wajah Letty yang kini tersenyum. Ia merasa sangat puas karena apa yang ia lakukan kini membuahkan hasil.


"Apa kau kaget dengan wajahmu sendiri?" ledek Miller tanpa memandang lagi.


Letty tersadar. Wanita itu lagi-lagi terlihat jutek seolah tidak suka dengan apa yang ia pakai.


"Tapi, ini terlalu berlebihan."


"Tidak ada yang berlebihan. Sekarang, ayo kita pergi ke suatu tempat. Tidak jauh dari sini. Hanya berjalan kaki saja sudah tiba di tempatnya."


"Sebenarnya tempat seperti apa yang ingin kau tunjukkan sejak tadi?"


"Ayo ikut aku." tanpa mau banyak menjelaskan Miller menarik tangan Letty dan membawa wanita itu pergi. Senyum mengembang indah di bibirnya. Jarang-jarang Letty bisa menurut dengan apa yang ia katakan seperti sekarang ini. Miller tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja. Ia ingin membuat Letty berubah menjadi seperti yang diharapkan oleh kedua orang tua angkatnya.


Sambil berjalan santai menuju ke tempat yang diinginkan, di sepanjang jalan Letty dan Miller menceritakan kehidupan mereka saat masih kecil. Bisa dibilang kehidupan mereka waktu masih kecil terbalik. Letty yang sebagai wanita justru lebih sering bermain dengan mainan pria. Sedangkan Miller sebagai seorang pria justru sering bermain dengan para wanita. Sonia benar-benar memanjakan Miller ketika pria itu masih kecil. tidak heran ketika sudah dewasa Miller masih menunjukkan sikap manjanya. Walau begitu, Sonia tetap berhasil mendidik Miller menjadi pria tangguh dan bertanggung jawab.


"Jadi saat kecil kau sudah biasa menembak? Waktu kecil Kau pernah membunuh manusia dengan tembakan mu itu?"


"Aku tidak membunuh manusia waktu masih kecil. Tapi aku pernah membunuh ikan kesayangan milik Mommy Lana."


"Kau membunuhnya dengan cara menembaknya?" tanya Miller dengan wajah tidak percaya.


"Ya. Mommy melatih ku dengan cara yang unik. Dia memintaku untuk menembak ikan-ikan yang ada di dalam kolam. Tentu saja aku tidak bisa menembak salah satu ikan yang bertebaran di sana. Ditambah lagi kolamnya sedikit kotor dan dipenuhi dengan dedaunan. Saat itu aku berfikir Kalau Mommy hanya mengerjai ku saja. Lalu aku melihat ikan yang ada di akuarium. Ikannya hanya ada satu di sana. Sebelumnya aku tidak tahu kalau ikan itu adalah ikan kesayangan mommy. Karena jumlahnya cuma satu dan ikan itu hidup di air yang jernih aku bisa dengan mudah menembaknya. Bahkan hanya satu bidikan saja sudah berhasil."


Miller tidak bisa menghentikan tawanya. Cerita Letty benar-benar lucu dan sangat jarang terjadi. "Apa setelah itu tante Lana menghukummu? Dari wajahnya tante Lana kelihatan seperti wanita yang galak. Bahkan lebih galak dari pada dirimu."


Letty tersenyum manis. "Tidak. Dia tidak menghukumku sama sekali. Dia hanya menangisi ikannya yang sudah tiada. Setelah itu meminta pelayan menguburkannya di halaman belakang."

__ADS_1


"Kau tidak merasa bersalah?" tanya Miller. Ia sudah tidak sabar untuk melihat sisi lembut dari Letty.


"Aku ...." Letty memandang wajah Miller. "Aku tertawa saat itu. Seolah-olah aku tidak merasa bersalah karena sudah membunuh ikan itu. Semua orang terlihat membenciku. Bahkan Paman Lukas memandangku seperti ingin membunuh. Tapi, setelah itu aku pergi ke suatu tempat yang sunyi. Aku menangis. Aku menyesal. Andai saja aku bisa menemukan ikan dengan warna dan usia yang sama mungkin akan aku lakukan. Tapi, ikan itu sangat langkah dan sangat spesial. Ikan itu hadiah dari Paman Lukas untuk Mommy. Berdasarkan cerita pelayan di rumah. Saat bulan madu Mommy mengerjai Paman Lukas agar masuk ke sebuah danau untuk mencari seekor ikan. Bisa di bilang usia ikan itu sama seperti usia pernikahan mereka. Aku sangat menyesal bahkan hingga saat sekarang rasa itu masih ada. Maka dari itu aku tidak mau dekat-dekat mommy. Aku tahu, jika aku ada di dekatnya aku hanya akan membuatnya menangis."


Miller tertegun mendengar cerita Letty. Ia tidak menyangka kalau Letty ternyata wanita yang memiliki perasaan yang peka. Dia tidak seburuk penampilannya.


"Kita sudah sampai." Miller menghentikan langkah kakinya. Ia memandang ke taman depan dengan senyuman.


Letty juga memandang ke depan. Wanita itu tidak menyangka kalau Miller membawanya ke taman bermain anak-anak.


"Kenapa kau membawaku seperti ini?"


"Dari sini kau bisa belajar menjadi wanita."


"Bagaimana mungkin?" tanya Letty tidak yakin.


"Ayo ikut denganku." Miller membawa Letty ke sebuah kursi yang ada di tengah-tengah taman. Anak-anak yang ada di sana tersenyum bahagia melihat Miller muncul. Sebagian anak kecil wanita berlarian hanya untuk mendapat pelukan hangat Miller.


"Ya. Ini Tante cantik. Apa kalian menyukainya?"


"Ya. Kami suka Tante cantik."


"Oke, sekarang kalian bermain dulu ya. Paman mau cerita-cerita dengan Tante Cantik."


Anak-anak yang usianya rata-rata 5 tahun itu kembali ke tempat mereka bermain. Mereka semua terlihat bahagia dan sangat menikmati masa kecil mereka.


"Kau sering ke sini? Mereka mengenalmu," ucap Letty sebelum duduk.


"Ya. Sudah lama aku berkunjung ke tempat ini. Setiap tahunnya wajah anak-anak itu berganti."

__ADS_1


"Tentu saja. Mereka tumbuh besar dan tidak suka bermain lagi bukan?"


"Ya. Kau benar. Setiap ada masalah dengan Mommy aku selalu datang ke sini. Aku melihat para orang tua menjaga dan merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Hal itu membuat amarahku kepada mommy berkurang. Bahkan hilang. Mommy sangat sabar mendidikku hingga aku sebesar ini."


"Sayang sekali aku tidak bisa merasakannya."


"Kau salah Letty." Miller memandang wajah Letty dengan ekspresi yang tenang. "Apa selama ini kau menganggap Tante Lana sebagai ibu kandungmu? Atau kau memandangnya sebagai wanita asing yang baik hati?"


"Miller kenapa kau berkata seperti itu?"


Miller memandang ke depan. "Letty, kau ingat kapan Tante Lana menangis ketika melihatmu sakit? Jika dia menganggap dirimu sebagai putrinya tentu saja ia akan bersedih saat kau sakit."


Letty membisu. Ia kembali mengingat momen di mana Lana mengurusnya ketika sakit. Bahkan tidak jarang wanita menangis dan memeluknya. Mengucapkan sebuah doa agar Letty segera sembuh.


"Aku ... aku mengingatnya."


Miller memegang jemari Letty dan meremas*nya. "Karena dia menganggap dirimu putrinya. Kau sudah seperti putri kandungnya."


"Miller, aku merasa aku hanya orang asing selama ini."


"Itu karena kau menutup dirimu untuk menerima kenyataan. Kau terlalu benci dengan kedua orang tuamu karena sudah membuangmu di jalanan. Rasa sakit hati itu kau lampiaskan kepada Tante Lana yang tidak bersalah."


Letty termenung hingga beberapa menit. Ia mulai menyadari kesalahannya selama ini. Meninggalkan Lana ketika wanita itu memintanya untuk tinggal. Membenarkan pendapatnya walau terkadang pendapat itu salah dan menjerumuskan dirinya sendiri.


"Aku ... aku salah. Tidak seharusnya aku seperti ini. Aku sempat berpikir kalau Mommy merawatku dari kecil agar aku bisa menjadi pengawal pribadinya."


"Pikiran buruk itu yang membuatmu tidak menyadari kebaikan Tante Lana. Letty, lihatlah ibu-ibu di depan sana. Mereka sangat tulus menyayangi anaknya. Tapi, ada juga di luar sana yang membenci anaknya. Ketika kita mendapat ibu yang menyayangi kita, untuk apa kita menyia-nyiakan mereka. Bahkan melukai perasaan mereka. Jika mereka marah, aku yakin itu semua demi kebaikan kita juga."


Letty menunduk dengan wajah bersalah. Miller memukul pundak Letty dengan lembut. "Tidak akan ada kata terlambat. Pulanglah dan temui Tante Lana. Katakan kalau kau menyayanginya."

__ADS_1


Untuk beberapa detik Letty hanya menunduk tanpa mengatakan apapun. Hingga tiba-tiba wanita itu mengangkat kepalanya dan memandang Miller. "Terima kasih." Letty memeluk Miller. Ia bisa merasakan ketulusan semua orang terhadapnya. Membuang pikiran jahat yang selama ini sudah menyesatkan jalan pikirannya sendiri.


"Sama-sama. Aku suka membantu orang lain. Apa lagi wanita." Letty hanya tertawa setelah mendengar perkataan Miller. Ia sadar kalau rasa terima kasih saja mungkin tidak cukup untuk diberikan kepada Miller.


__ADS_2