
"Pria itu seperti bukan manusia. Andai saja tadi aku menggunakan profesiku sebagai polisi, mungkin aku sudah menangkapnya. Mengurungnya di penjara dan tidak memberinya makan sama sekali. Aku akan menyiksanya dengan cara itu," umpat Miller sambil membersihkan lukanya dengan kapas.
"Sayangnya kau tidak bisa melakukan hal itu tadi. Kau bukan polisi malam ini," jawab Letty cepat.
"Dia benar-benar kuat. Andai aku memiliki kekuatan seperti itu."
"Jangan terlalu banyak bermimpi. Jika kau lemah akui saja," ledek Letty santai.
Letty kembali ingat dengan perkataan Miller. Ia ingin memperjelas hubungan antara gelang itu dan Miller.
"Soal gelang itu ... aku tidak menyangka kalau gelang seperti itu bisa di cari. Maksudku. Apa spesialnya? Aku yakin harganya di pasaran juga tidak akan semahal itu."
"Mahal?"
"Ya. Kami mendapat misi dan akan menjual gelang itu dengan harga yang fantastis."
"Kenapa kau tidak menjualnya?"
"Aku merasa kalau gelang itu bukan gelang biasa." Letty mengeluarkan gelang yang sejak tadi bersamanya. "Lihatlah. Di sini. Bukankah ini sebuah chip?"
Miller memegang gelang itu dan memeriksanya dengan saksama. Sama halnya dengan Letty. Miller juga menyimpan curiga atas keberadaan gelang tersebut.
"Kau sudah memeriksa isinya?"
"Belum."
"Kita harus melihat isi di dalamnya."
"Tadinya aku ingin melakukannya. Tapi jika ingin mendapatkan chip di dalamnya harus membuang berlian yang menyelimutinya. Bukankah itu sangat merugikan?" ucap Letty lagi.
"Bagaimana kalau data di dalamnya jauh lebih berharga dari pada berlian ini?"
Letty tertegun. Perkataan Miller membuat dirinya tertarik untuk memeriksa isi data di dalam chip itu sekarang juga.
"Apa tunanganmu itu tidak akan marah jika gelangnya rusak?" ledek Letty. Miller menatap wajah Letty. Pria itu mendekatkan wajahnya hingga hanya beberapa centi saja jarak mereka berdua.
"Dia bukan tunanganku. Kami tidak memiliki hubungan apapun. Saat ini dan seterusnya," ucap Miller dengan nada yang lembut.
"Benarkah?" Letty memalingkan wajahnya.
Miller memegang dagu Letty dan memaksa wanita itu memandang wajahnya. Dari ekspresi wajah Letty, Miller bisa menebak kalau kini Letty tidak marah lagi dengannya.
"Bella menyelamatkan nyawa Natalie beberapa tahun yang lalu. Kembarannya bernama Ella dengan suka rela menyerahkan jantungnya hingga Natalie bisa hidup sampai sekarang."
Letty tertegun mendengar cerita Miller. Ia menatap wajah pria itu tanpa berkedip. Cerita Miller kali ini terdengar sangat serius.
"Bella tidak meminta imbalan apapun. Beberapa Minggu ini dia muncul dan tiba-tiba saja mengundangku datang ke pesta. Pengumuman pertunangan itu juga tanpa sepengatahuanku," sambung Miller lagi.
"Aku tidak peduli," ketus Letty dengan wajah galak. Sebenarnya di dalam hatinya bersorak bahagia karena Miller tidak benar-benar tulus mencintai Bella.
"Benarkah? Kenapa kau merusak perhiasan Bella semalam? Kau cemburu ya ...." ledek Miller dengan alis naik turun. Bahkan satu jarinya menunjuk wajah Letty dengan bibir tersenyum.
__ADS_1
"Itu karena ...." Letty menahan kalimatnya. Kali ini ia tidak menemukan alasan yang tepat untuk membela diri.
"Karena kau cemburu!" bisik Miller lagi.
"Tidak! Siapa yang cemburu." Letty merebut gelang yang ada di tangan Miller. Wanita itu beranjak dari sofa dan berjalan menuju komputer. Ia tidak mau menjadi bahan ledekan Miller.
Miller hanya geleng-geleng kepala dengan wajah bahagia. "Ternyata saat seperti ini, dia terlihat semakin cantik. Baru ini aku bertemu wanita yang ketika marah justru semakin cantik. Letty ... Letty ... semakin hari aku semakin tertarik padamu," gumam Miller di dalam hati.
***
"Isinya hanya sebuah titik. Ada 7 titik yang saling terhubung. Tapi, titik apa? Aku tidak mengerti kode yang ada di sini." Letty bingung ketika melihat isi data di dalam chip yang ia temukan di gelang. Semua hanya sebuah titik yang terhubung satu sama lain. Tidak tahu tujuan dari penyatuan titik itu apa.
"Ini sebuah lokasi. Aku pernah menemukan kasus seperti ini. Saat itu seorang gembong narkoba menyembunyikan hartanya di 5 negara yang berbeda. Untuk mengetahui keamanan uangnya, ia menggunakan chip seperti ini."
"Maksudmu, 7 titik ini adalah lokasi penyembunyian?"
"Ya. Apa lagi selain itu?"
"Tapi, benda apa yang ada di sini?"
"Kita akan tahu setelah melihat salah satu titik yang ada."
"Iya ... tapi bagaimana caranya kita tahu titik ini ada di negara mana. Aku tidak mengerti cara membukanya."
"Kita butuh seseorang yang ahli dalam bidang teknologi," ucap Miller memberi solusi.
"Siapa?" Untuk sejenak Letty dan Miller berpikir keras. Mereka mengingat-ingat rekan yang mereka miliki. Tidak ada yang bisa membantu. Hingga akhirnya pikiran mereka tertuju pada satu wanita.
Miller segera mengambil ponselnya. Tidak peduli dengan waktu yang kini sudah tengah malam. Pria itu bertekad untuk menghubungi Kwan agar bisa membantunya detik ini juga
"Mereka pasti sudah tidur," ucap Letty ragu.
"Nanti akan ketahuan jika teleponnya tidak di angkat," jawab Miller santai. Hanya beberapa detik saja panggilan telepon Miller sudah tersambung. Suara Kwan terdengar serak karena ia terbangun dari tidurnya.
"Hei, apa kau tidak tahu sekarang jam berapa? Apa polisi sepertimu bekerja tengah malam?" umpat Kwan kesal.
"Kwan, aku butuh bantuanmu," ucap Miller cepat.
"Apa yang bisa aku bantu? Apa tidak bisa besok?"
"Tidak. Keadaannya sangat terdesak. Mungkin besok pagi kami tidak memiliki waktu lagi."
"Apa masalahnya seserius itu? Kau baik-baik saja kan?" Kwan terdengar khawatir.
"Kwan, aku butuh bantuan Alana."
"Istriku sedang tidur. Kau tahu dia sangat lelah."
Miller memutar bola matanya. "Kwan, hanya Alana yang bisa menolongku."
"Miller, kau ini! Baiklah. Katakan apa yang bisa dilakukan Alana? Aku akan membangunkannya sebentar lagi."
__ADS_1
"Aku akan mengirim tampilan layarnya. Alana hanya perlu memberi tahu cara membaca titik ini saja."
"Titik apa?"
"Kwan, aku akan mematikan teleponnya dan mengirim fotonya." Tanpa persetujuan dari Kwan, Miller memutuskan panggilan teleponnya. Pria itu mengirim tampilan di layar komputernya dan mengirimnya ke Kwan.
"Apa kau yakin ini berhasil?"
"Pasti berhasil kalau Kwan mau membangunkan istrinya," jawab Miller sambil mengotak-ngatik ponselnya. Sedangkan Letty terus saja memeriksa gelang itu. Ia juga tahu kalau ada alat pelacak di dalam gelangnya. Dengan cepat ia memutuskan alat pelacak itu agar tidak bisa diketahui lagi keberadaannnya.
"Kwan, apa Alana sudah bangun?"
"Ya. Alana akan mengajarimu cara membukanya," jawab Kwan sebelum suaranya terganti menjadi suara Alana. Kali ini Alana memberi tahu caranya kepada Letty dan Miller dengan penuh kesabaran. Mereka yang tidak dalam bidangnya sungguh sulit untuk mengerti dengan apa yang dikatakan Alana. Hingga akhirnya, setelah satu jam berusaha Letty dan Miller berhasil memecahkan teka-teki yang ada di gelang tersebut.
"Letty, apa kau sudah bisa melihat data aslinya?"
"Sudah. Tapi, ini tidak mungkin," ucap Letty dengan wajah kaget. Begitu juga dengan Miller. Bukan hanya sebuah lokasi saja yang bisa mereka ketahui, tapi sebuah camera cctv bisa terlihat jelas di sana.
"Apa yang kalian temukan?" sambung Kwan penasaran.
"Kwan, jika aku berhasil memiliki semuanya 100 turunan akan tetap menjadi kaya walau tidak bekerja," ujar Miller masih dengan wajah kagum.
"Sebenarnya barang apa yang mereka sembunyikan?" Kwan terlihat semakin penasaran.
"Apa kau tahu, setiap titiknya menyimpan ratusan kilogram Emas. Bisa kau bayangkan berapa harganya jika di gabungkan ke tujuh titiknya."
"Tujuh titik itu menunjukkan tempat penyimpanan emas? Dari mana kalian mendapatkan chip itu?"
"Kwan, aku akan menghubungimu lagi nanti. Lanjutkan saja tidur mu dengan Alana. Oh ya, jangan terlalu sering jika kau ingin cepat memiliki anak," ledek Miller sebelum mematikan ponselnya. Letty melirik wajah Miller sebelum geleng-geleng kepala.
"Kau mengganggunya ketika tidur. Dan mematikan teleponnya saat belum memberikan penjelasan apapun."
"Aku takut dia terlibat. Cukup kita dua yang mengatasi masalah ini."
Letty menghela napas. "Apa Bella tahu soal ini?"
"Sepertinya tidak."
"Masalah ini bukan masalah yang sepele. Aku yakin tidak hanya satu yang mengincar chipnya. Tapi semua orang yang tahu masalah ini pasti saat ini sedang mengincar gelang ini "
"Ya, kau benar. Kita harus waspada." Miller kembali memandang layar monitornya. Memandang gudang harta Karun yang ada di hadapannya memang membuatnya merasa bahagia. Apa lagi kalau sampai ia berhasil memiliki semua harta Karun itu.
"Mereka menyimpannya di tempat yang aman karena tidak mau rugi. Jika semua emas ini digabung menjadi satu. Saat ada penjahat yang mengetahui keberadaannya, maka pemiliknya akan rugi besar."
"Kau benar. Apa semua ini milik Bella? Dia bilang gelang ini sangat berarti."
"Menurutku, Bella tidak tahu soal emas ini. Dia hanya tahu kalau gelangnya sangat berharga." Letty mencabut memorinya dan menyimpannya.
"Aku punya cara untuk mengetahui apakan Bella tahu tentang emas ini atau tidak," ujar Miller penuh semangat.
"Bagaimana caranya?"
__ADS_1