Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Kabur Lagi


__ADS_3

“Serena, Leona belum menikah. Ia masih memiliki kebebasan untuk menentukan hidupnya. Mungkin itu yang menyebabkan dia ingin mengenal banyak pria. Hal itu tidak menjadi masalah. Sebaiknya kau tidak perlu memikirkannya terlalu jauh,” ucap Zeroun. Pria itu harus angkat bicara agar Serena bisa kembali tenang. Zeroun juga tidak mau Serena jatuh sakit.


“Ya, apa yang dikatakan Paman Zeroun benar, Tante. Kak Leona juga sudah dewasa. Dia pasti bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah,” sambung Kwan dengan senyum menyeringai. Pria itu sangat bahagia karena mendapat pembelaan dari Zeroun.


“Tapi dia wanita. Dia harus bisa menjaga dirinya untuk diberikan kepada suaminya nanti,” ucap Serena lagi.


“Tante, Kak Leona bisa menembak dan memukul. Tidak ada pria yang berani berbuat kurang ajar kepadanya jika tidak ingin kehilangan nyawanya,” ucap Kwan lagi.


“Kwan, kenapa kau terus-terusan membelanya,” ucap Serena semakin kesal.


“Mama dan Papa yang bilang, aku harus menjaga kak Leona dengan nyawa yang aku miliki. Aku harus menyayanginya. Aku sangat yakin, kalau kak Leona masih virgin,” ucap Kwan mantap dan penuh dengan keyakinan. Shabira dan Kenzo mengukir senyuman. Mereka bangga pada putra semata wayang mereka sendiri. 


“Kwan, seorang wanita bisa melupakan kekuatan yang ia miliki ketika ia sudah di mabuk cinta. Ia bisa melakukan apa saja yang diinginkan pria itu.” Serena menatap wajah Kwan dengan sangat tajam. “Kecuali dia mendapat pria yang bisa menahan dirinya,” sambung Serena lagi. Kali ini tatapannya teralihkan kepada Zeroun.


Kwan tertegun. Dia merasa kini Serena sedang menyindir dirinya sendiri. Serena beberapa kali memergokinya membawa wanita ke hotel beberapa tahun yang lalu sebelum ia kenal dengan Alana. “Ya ... mungkin mereka bisa segera menikah jika hal itu terjadi ... Tante ...,” ucap Kwan ragu-ragu.


Serena menghela napas dengan kasar sebelum bersandar dan memegang kepalanya. “Zeroun, maafkan aku. Tapi, aku tidak mengizinkan kepergian Leona dan Jordan ke Jerman walaupun ada Kwan ada Katterine juga di sana. Aku tidak bisa menjamin semuanya. Leona memiliki sifat seperti itu. Ia suka bergonta-ganti pasangan. Ini membuatku sangat takut,” ucap Serena sambil memijat kepalanya yang mulai terasa sakit.


“Selesailah sudah. Setelah kak Leona pulang, dia akan menguburku hidup-hidup!” umpat Kwan di dalam hati.


Daniel beranjak dari kursinya. Pria itu menarik tangan Serena dengan senyuma kecil. "Sayang, sebaiknya kau istirahat. Ayo, aku akan mengantarkanmu ke kamar."


Serena memandang wajah Daniel sebelum beranjak dari sofa. Wanita itu menurut saja dengan apa yang yang diperintahkan suaminya.

__ADS_1


Emelie menopang kepalanya dengan tangan. “Semoga saja Jordan meniru sifat daddynya. Kerajaan Cambridge bisa malu besar jika sampai dia khilaf dan melakukan hal itu dengan Leona,” gumam Emelie di dalam hati. Wanita itu juga ingat bagaimana tergila-gilanya ia dulu saat Zeroun merebut ciuman pertamanya. Emelie merasa pasrah saat Zeroun ingin melakukan hal yang lebih. Untungnya, Zeroun pria yang sangat baik. Ia mencintai tanpa ingin memiliki. Bahkan sabar menunggu sampai saat indah itu tiba. 


Zeroun juga memiliki pemikiran yang sama dengan Emelie. Kini posisi mereka di pihak pria. Sedikit saja kesalahan yang di buat Jordan akan menyebabkan masalah yang sangat besar. Kepercayaan Serena bisa hilang. “Sepertinya aku harus memperingati Jordan untuk hal yang satu itu,” gumam Zeroun di dalam hati.


Saat ruangan itu kembali hening, suara ponsel Kwan mengalihkan perhatian semua orang. Kwan sendiri juga kaget ketika ponselnya berdering. Pria itu segera mengambil ponselnya dan menatap layar ponselnya. Betapa paniknya Kwan ketika melihat panggilan masuk itu dari Leona.


“Kwan, kau bilang tadi ponselmu ketinggalan,” ucap Shabira dengan tatapan menuduh.


Kwan memandang wajah Shabira dengan senyuman indah. “Ma, ponsel yang satu lagi. Ponsel yang ini hanya untuk Alana saja,” ucap Kwan mencari-cari alasan.


“Alana?” ucap Shabira dengan wajah berseri. Ia bahagia melihat hubungan putranya dan Putri Biao sudah mengalami kemajuan.


“Ya, Ma. Ini dari Alana. Kwan ke depan dulu ya,” ucap Kwan sembari beranjak dari sofa yang ia duduki.


“Ok, Ma,” ucap Kwan dengan wajah berseri. Ia sangat lega dan merasa aman ketika bisa menjauh dari kepungan para orang tua seperti itu. Dengan gerakan cepat, Kwan berjalan ke arah pintu utama. Melekatkan ponselnya di telinga.


“Kak, kenapa kau tidak pulang-pulang? Bantu aku hadapi Tante Serena,” protes Kwan dengan suara berbisik. Ia juga tidak ingin mengambil resiko jika nanti ada yang mendengar pembicaraannya dengan Leona.


“Kwan, aku dan Jordan akan berangkat ke Jerman malam ini juga,” ucap Leona dari dalam telepon.


“Apa?” teriak Kwan dengan wajah kaget. “Kak, kau meninggalkanku?” sambung Kwan lagi dengan wajah kecewa.


“Kwan, kau bisa kabur kapan saja. Mendengar alasan konyol yang kau katakan tadi, aku sudah bisa menebak kalau Mama tidak akan mengizinkanku pergi lagi,” ucap Leona dengan suara meninggi.

__ADS_1


Kwan diam sejenak. Semua yang dikatakan Leona benar. Pria itu tidak lagi memilik kalimat untuk membela dirinya. “Baiklah, aku akan menyusul kalian.”


“Kami sudah di pesawat. Jika kau ingin ikut, naik pesawat lain,” sambung Leona lagi.


Kwan tertawa kecil. “Kak, apa kau sudah melupakanku sejak bertemu dengan Jordan?” ucap Kwan kesal karena di tinggal oleh Leona begitu saja.


“Kwan, maafkan aku. Tapi, semua tidak akan menjadi kacau seperti ini jika kau tidak menambah-nambah cerita tentangku,” ucap Leona tidak mau kalah.


“Ok, baiklah. Aku yang salah!” ucap Kwan kesal.


“Cepat ke bandara. Aku sudah memesan tiket untuk kita bertiga,” ucap Leona lagi. Tadinya wanita itu hanya mengerjai Kwan saja karena pria itu terlalu banyak bicara di depan Serena. Leona sendiri tidak pernah tega untuk meninggalkan Kwan.


Kwan mengukir senyuman. “Kak, kau memang yang terbaik. Aku akan berangkat sekarang juga,” ucap Kwan sambil mematikan ponselnya. Pria itu berlari ke arah mobil miliknya yang terparkir. Ia tidak lagi mau masuk ke dalam rumah karena ingin segera terbebas dan kabur seperti yang dilakukan oleh Jordan dan Leona.


***


Zeroun mengambil ponselnya yang berdering di dalam saku. Pria itu membuka pesan singkat dari Jordan.


“Dad, aku pergi ke Jerman bersama Leona. Aku tidak akan mengecewakanmu."


Zeroun menghela napas dengan kasar setelah membaca pesan singkat itu. Walau ia sudah berusaha mendidik anaknya menjadi pria sopan dan bertanggung jawab. Tapi, tetap saja masih ada rasa khawatir. Di tambah lagi, kini putranya membawa Leona kabur.


“Sepertinya susah mendidiknya untuk menjadi pangeran yang sesungguhnya. Dia lebih pantas menjadi bos mafia saja,” gumam Zeroun di dalam hati.

__ADS_1


Kini baik Serena maupun Zeroun sama-sama pusing memikirkan sifat anak mereka. Walau sudah berjuang keras menjauhkan dunia gelap dan mendidik anak mereka menjadi pribadi yang baik. Tapi, tetap saja setelah besar anak mereka lebih memilih jalan yang menurut mereka baik dan benar tanpa peduli dengan nasihat yang selama ini sudah mereka berikan.


__ADS_2