Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Bertemu Lagi


__ADS_3

Leona dan Kwan tiba di markas Queen Star yang baru. Sebuah Mansion mewah dengan fasilitas senjata lengkap di dalamnya. Mansion itu merupakan Mension rahasia yang berada jauh dari kerumunan warga. Setiap pagi selalu ada latihan menembak yang dilakukan oleh pasukan Queen Star.



"Kak, sepertinya aku harus kembali ke Sapporo. Mama sama Papa sudah mulai curiga dengan kita," ucap Kwan sambil melangkah cepat mengikuti langkah kaki Leona.


"Hmmm," jawab Leona pelan.


"Kak, berjanjilah padaku untuk tidak menemui Zean sebelum aku kembali ke Meksiko," ucap Kwan penuh peringatan.


"Hmm," jawab Leona lagi.


"Kak," ucap Kwan mulai emosi. Pria itu menarik satu tangan Leona dan menatap wajah Leona dengan saksama. "Aku tidak sedang bercanda. Jangan temui Zean sebelum aku tiba. Aku tidak ingin kau jatuh ke dalam bujuk rayunya lagi."


"Tidak akan," jawab Leona sebelum menghempaskan tangan Kwan yang mencengkram kuat pergelangan tangannya. 


"Tadi kau terlihat berpikir keras ketika melihat wajah Zean di samping target kita. Kak, Zean tidak tahu kalau kita sudah ada di Meksiko. Jangan gagalkan rencana besar kita hanya karena sedikit kecerobohan saja," ucap Kwan dengan nada meninggi. Bahkan wajah pria itu terlihat sangat serius.


Leona menghela napas. "Ya, aku kaget tadi melihat wajahnya. Tapi aku lama melakukan penembakan bukan karena memikirkan dia. Tapi aku memikirkan jariku yang ingin menarik pelatuk dan menembak kepalanya. Kwan, percayalah padaku. Aku tidak mencintainya lagi. Jika memang nanti aku dan dia harus kembali bertemu. Aku akan tetap pada rencana awal kita. Tidak ada cinta apa lagi rasa kasihan," ucap Leona sambil mengacungkan dua jemarinya sebagai bentuk janji.


Kwan mengukir senyuman dengan napas yang sangat lega. "Kakak harus move on. Lupakan pria jahat sepertinya."


Leona mengukir senyuman kecil. "Ya. Aku pasti akan melupakan cintkau. Tapi tidak dengan dendamku. Kwan, maafkan aku. Tapi aku punya rencana sendiri untuk membalaskan dendamku padanya," gumam Leona di dalam hati.


Kwan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baiklah kak. Aku akan segera berangkat. Jaga dirimu dengan baik," ucap Kwan dengan senyuman. Pria itu mengacak-acak rambut Leona sebelum memutar tubuhnya. Ia melangkah pergi meninggalkan Leona sendiri di mansion mewah tersebut.

__ADS_1


Leona menatap kepergian Kwan dengan sorot mata yang sangat tajam. Wanita itu mengambil ponselnya dan melekatkannya di telinga. "Sekarang saatnya. Kirimkan alamat pria itu saat ini," perintah Leona dengan senyum tipis di bibirnya.


***


Zean duduk di kursi besar yang ada di sebuah ruangan luas. Bukan hanya bos mafia. Zean Wick juga merupakan pengusaha sukses yang memiliki nama di Meksiko. Bisnisnya sudah berkembang dan hampir menjelajahi pasaran dunia.


Sudah cukup lama bisni itu ia jalani. Namun, puncak kejayaannya ada pada setahun terakhir ini saja. Saat Zean memutuskan untuk melupakan dendamnya terhadap Leona dan sang Ibu. Pria itu tidak sanggup untuk membantai habis Serena dan keluarganya. Ada Leona di dalam hatinya. Sejak kedekatannya beberapa tahun yang lalu, Zean telah menyadari perasaannya sendiri. Kalua ia telah jatuh cinta pada Leona.


Suara ketukan pintu memecah lamunan Zean. Pria itu memandang ke arah pintu dengan dahi mengernyit.


"Masuk," perintahnya sebelum mengalihkan pandangannya ke jendela.


Seorang wanita muncul dengan pakaian yang sangat rapi. Wanita itu menunduk dengan wajah takut-takut. "Maaf, Tuan. Ada wanita yang ingin bertemu dengan anda," ucapnya sambil menunduk.


"Siapa?" tanya Zean penasaran. Seingatnya, ia tidak mengatur pertemuan dengan siapapun siang ini.



Zean terbelalak kaget. Pria itu melebarkan kedua bola matanya. Ia juga beranjak dari kursi yang ia duduki. Baginya itu hanya mimpi. Sudah beberapa tahun terakhir ini ia berusaha melupakan Leona di dalam hati dan pikirannya. Saat ia hampir berhasil. Justru wanita itu sendiri yang muncul di hadapannya.


Zean memberi perintah kepada sekretaris ya untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut. Pria itu berjalan mendekati posisi Leona berada. Leona berjalan ke arah sofa. Wanita itu duduk dengan posisi yang sangat nyaman. ia melipat kakinya dan menyangga kepalanya dengan tangan. Kedua matanya masih melirik wajah Zean dengan sorot yang dipenuhi dengan dendam.


"Apa kabar?" ucap Zean lebih dulu saat melihat Leona tidak mengeluarkan tanda-tanda akan bertanya lebih dulu.


Leona memalingkan wajahnya ke arah jendela. Wanita itu tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan dari Zean. Ia justru lebih tertarik untuk memeriksa setiap sedut ruangan yang kini digunakan Zean untuk bekerja.

__ADS_1


"Mau minum apa?" tanya Zean lagi. Pria itu berjalan ke arah bar mini yang ada di ruang kerjanya. Ia membuat dua gelas teh hangat dengan tatapan yang tidak terbaca.


Leona masih diam membisu. Wanita itu memperhatikan Zean yang sedang membuat teh sebelum mengamati ruang kerja Zean.


Zean mengukir senyuman kecil. Setidaknya, kemunculan Leona kali ini bisa mengobati rasa rindunya selama beberapa tahun terakhir. Dengan wajah penuh percaya diri, Zean membawa teh hangat tersebut ke meja. Ia meletakkan teh tersebut di atas meja dan menyajikannya untuk Leona.


"Minumlah. Aku tidak memberikan racun pada minuman ini," ucap Zean sebelum menatap wajah Leona dengan saksama.


Leona menatap wajah Zean dengan tatapan yang sangat tajam sebelum beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya.


"Aku memiliki bisnis di Meksiko. Segala surat ijin usaha harus melalui perusahaan ini. Aku tidak sengaja menemuimu. Jadi jangan terllau percaya diri," ketus Leona sebelum melempar kertas tersebut di ats meja.


Zean mengukir senyuman sebelum meraih kertas tersebut. Pria itu mengambil pulpennya dan menandatangani surat tersebut. Tidak ada rasa curiga sedikitpun di hati Zean kalau Leona datang ke Meksiko bukan hanya untuk berbisnis saja.


Leona memandang berkas tersebut. Ada senyum puas di dalam hatinya. "Ini masih permulaan. Kau tidak akan pernah tahu, apa yang sudah aku siapkan untukmu Zean," gumam Leona di dalam hati.



"Selamat datang di Meksiko, Leona. Aku harap usaha yang kau lakukan bisa berkembang pesat," ucap Zean ramah.


Leona memutar tubuhnya saat berkas tersebut telah ada di tangannya. Wanita itu terlihat tidak tertarik untuk berbicara terlalu lama dengan Zean di dlama ruangan tersebut.


Baru beberapa langkah Leona melangkah, ponsel di dalam tasnya berdering. Wanita itu mengambil ponselnya dengan senyuman tipis. "Apa semua sudah aman?" ucapnya pelan.


"Anda punya waktu 15 menit Bos untuk meninggalkan gedung tersebut," ucap seseorang dari dalam telepon.

__ADS_1


"Bagus," ucap Leona dengan senyuman tipis. Wanita itu menatap ke arah lift dan segera berjalan cepat menuju ke lift tersebut. Leona dan pasukan Queen Star yang tersembunyi telah meletakkan banyak peledak di dalam gedung tersebut. Wanita tangguh itu ingin meratakan perusahaan yang dibanggakan Zean dengan tanah. "Ini adalah hadiah pertemuan kita yang pertama. Akan ada hadiah lebih menarik yang akan kau temui nanti," ucap Leona sebelum menekan tombol lift tersebut.


__ADS_2