Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Dia Jahat


__ADS_3

Malam harinya. Leona tidak kunjung keluar dari kamarnya setelah Jordan meninggalkan rumah utama. Wanita itu mengurung diri di kamar dengan wajah murung. Ia terus saja memikirkan perkataan Jordan. Pria itu akan mencari wanita lain untuk dinikahi. 


“Jordan kau memang pria yang menyebalkan!!” umpat Leona kesal. 


Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Leona melihat ada pesan singkat yang masuk. Wanita itu segera membaca isinya ketika melihat nama pengirimnya adalah Jordan. Wajahnya semakin kesal. Ia duduk di atas tempat tidur dengan sebuah bantal di pangkuannya.


“Baby girl, aku tidak akan menghubungi sebelum kau katakan kalau kau mencintaiku.”


Leona memejamkan matanya dan merem*as ponsel miliknya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Jordan bisa bersikap seperti ini terhadap dirinya. Leona mengangkat bantal yang ada di pangkuannya dan menenggelamkan wajahnya di sana.


“Bagaimana kalau aku merindukannya,” rengek Leona dengan wajah frustasi.


Serena muncul di dalam kamar Leona. Sudah berulang kali Serena mengirim pelayan untuk memanggilkan Leona di kamar agar segera turun untuk makan malam. Tapi, wanita itu tidak kunjung turun. Sepertinya Jordan kali ini sudah berhasil membuat Leona galau.


Serena terlihat bingung ketika melihat putri tercintanya menutupi wajahnya dengan bantal. Pakaiannya sudah memakai baju tidur yang menandakan kalau wanita itu tidak akan keluar kamar lagi.


“Sayang, apa kau baik-baik saja? Apa kau sakit?” Serena duduk di pinggiran tempat tidur. Ia memegang pundak Leona dan mengusapnya lembut. Sejak Kwan tidak ada lagi di dekat Leona, Serena adalah orang yang selalu ada di samping wanita itu. Aleo juga selalu memperhatikan adiknya. Namun terkadang pria itu harus lembur dan hanya memiliki waktu sedikit saja di rumah.


Leona mengangkat wajahnya. Ia memandang wajah Serena dan memamerkan wajah kesalnya. “Ma, dia pria yang menyebalkan,” ucap Leona pelan.


Serena terlihat berpikir. “Maksudmu Jordan?” tanya Serena untuk kembali memastikan.


“Ma, siapa lagi kalau bukan dia.” Leona melirik ponselnya. Kali ini Jordan kembali mengirim pesan singkat kepadanya. Dengan gerak cepat wanita itu mengambil ponselnya dan membaca pesan dari Pangeran Cambridge itu.


“Aku janji, ini benar-benar yang terakhir. Jangan menangis, karena saat ini aku sedang menertawakanmu,” ledek Jordan yang tiada habisnya. Walau hanya sekedar pesan saja tapi memang berhasil membuat Leona semakin galau. Bahkan ada di level tertinggi.


“Jordan! Awas saja kau!” Leona menekan nomor Jordan. Ia ingin menghubungi pria itu dan memakinya. Tetapi nomor pria itu tidak lagi bisa di hubungi. Jordan sudah mematikan ponselnya karena memang pria itu tahu kalau Leona pasti akan meneleponnya setelah membaca pesannya yang kedua.


“Sayang, tenanglah,” bujuk Serena semakin khawatir. 


“Ma, Jordan! Di mana dia?” tanya Leona dengan wajah menahan amarah. Jika saja detik ini ia tahu di mana keberadaan Jordan, wanita itu akan pergi dan menemuinya. Ia akan melayangkan pukulan sebagai ungkapan rasa kesalnya malam ini.

__ADS_1


“Sayang, bukannya Jordan sudah dalam perjalanan ke Cambridge?” jawab Serena apa adanya.


“Dia benar-benar pulang? Dia benar-benar meninggalkanku?” Leona semakin histeris.


Serena tertegun dengan wajah kaget. Ia mengangguk pelan dan ragu-ragu. “Bukankah seharusnya kau mengetahuinya, Leona?”


Leona memeluk Serena. Wanita itu menangis sejadi-jadinya. “Ma, kenapa aku harus bertemu dengan pria yang menyebalkan seperti Jordan? Aku membencinya, Ma.” 


Serena mengusap punggung Leona. Wanita itu memeluk erat tubuh putrinya. “Kau mencintainya?” bisik Serena dengan penuh selidik.


Leona mengangguk. “Tapi aku belum siap untuk menikah.”


“Sayang, Jordan pria yang sangat baik. Ia tidak ingin merusakmu. Jadi, dia memilih untuk menikahimu agar bisa menjagamu dengan baik. Berpacaran akan bertemu dengan kata putus. Tidak sama dengan pernikahan. Seberat apapun masalah yang akan kita hadapi nanti, pasti kita akan berpikir dua kali untuk mengatakan perceraian. Apa lagi jika kita menikah dengan pria yang kita cintai. Jadi, kau seharusnya tidak menyalahkan Jordan. Keputusan Jordan sudah tepat, Mama juga setuju dengan Jordan.” 


Leona terdiam sambil mencermati setiap kalimat yang diucapkan oleh Serena. Wanita itu melepas pelukannya dan memandang wajah Serena lagi. “Apa seperti itu, Ma?”


Serena mengusap rambut Leona dengan penuh kasih sayang. “Sayang, pernikahan jauh lebih indah dari pada berpacaran. Percaya sama mama. Hidupmu pasti akan jauh lebih bahagia setelah menikah nanti,” ucap Serena pelan.


“Sayang, kita pikirkan besok pagi lagi ya. Mama akan meminta pelayan untuk mengantarkan makan malammu ke kamar. Setelah makan, kau tidur dan tenangkan pikiranmu. Mama yakin besok pagi kau akan jauh lebih tenang. Percaya sama mama.”


Leona mengangguk pelan. “Baiklah, Ma. Terima kasih, Ma. Leona sayang mama.”


“Mama juga sangat menyayangimu, Leona.” Serena mengecup pucuk kepala putrinya. “Mama  tinggal  ya?”


Leona mengangguk. Setelah berbicara dengan Serena hati Leona jauh lebih tenang. Leona berbaring di atas tempat tidur sambil memandang langit-langit kamarnya. “Jordan, aku mencintaimu. Kali ini aku tidak akan berbohong lagi. Jangan tinggalkan aku,” lirih Leona dengan wajah sedih.


***


Leona membuka mata saat merasakan beberapa orang kini ada di dekatnya. Wanita itu segera duduk dan melihat semua orang tersayangnya ada di sana. Kwan, Aleo, Serena, Daniel. Sayang, pria yang  ia cintai tidak muncul. 


“Kejutan!” teriak mereka bersamaan. Serena memegang sebuah kue tar di tangannya.

__ADS_1


“Happy Birthday Leona. Happy Birthday Leona. Happy Birthday Happy Birthday. Happy Birthday Leona.”


Semua  orang bernyanyi untuk merayakan ulang tahun Leona yang ke 30. Semua orang yang di dalam kamar terlihat sangat bahagia pagi itu. Kecuali yang kini sedang berulang tahun. Leona terlihat sedih dan tidak bersemangat. Bahkan ia tidak ingat ulang tahunnya dan Kakak tercinta. Waktu berjalan begitu cepat hingga tidak terasa ia sudah menginjak usia 30 tahun. Leona tertegun sambil melamun. Ia tidak peduli dengan kue tar yang kini ada di hadapannya.


“Sayang, tiup lilinnya dan berdoalah,” ucap Serena dengan senyuman.


Leona memejamkan matanya dengan bibir tersenyum. “Aku ingin Jordan ada di sini.” Wanita itu segera meniup lilinnya setelah mengucapkan doa di dalam hati.


“Kak Leona, ayo kita lakukan sebuah permainan,” ajak Kwan penuh semangat.


Leona mengeryitkan dahi. “Permainan?” 


“Ya,” jawab Kwan cepat. Pria itu menarik tangan Leona dan membawanya pergi. Leona kebingungan saat itu. Ia takut kali ini Kwan membawanya kabur lagi untuk mengunjungi negara yang sangat jauh dari Jepang.



Semua orang mengikuti langkah Leona dan Kwan dari belakang. Walau hanya mengenakan baju tidur dan belum mandi. Tapi Leona tetap saja terlihat sangat cantik pagi itu. Kwan membawa Leona menuju ke taman bunga yang ada di rumah utama. Taman itu sudah di hias seindah mungkin untuk menyambut kedatangan Leona.


“Lihatlah kak, apa kau suka?” tanya Kwan dengan senyum penuh percaya diri.


Leona tersenyum. Taman itu berubah menjadi negeri dongeng yang begitu indah. Ada banyak bunga dan balon yang berterbangan. Belum lagi makanan dan minuman tertata  rapi di sana. Leona tidak menyangka kalau akan merayakan ulang tahun di pagi hari.


Tetapi, dalam sekejap wajahnya berubah murung. Leona kembali ingat dengan Jordan. Wajahnya kembali sedih. Ia menunduk. “Aku ingin mandi dulu,” lirih Leona tidak semangat.


“Kak, ayo kita bermain.” Kwan memegang sebuah kain penutup mata. Pria itu menutup mata Leona tanpa persetujuan pemiliknya. “Kali ini kita bermain game tebak-tebak nama. Kau harus memeluk seorang pria dan menebak namanya. Tenang saja, pelayan dan pengawal tidak akan aku ikut sertakan dalam permainan ini. Itu berarti, kau hanya memeluk orang-orang yang kau sayang saja,” bisik Kwan lagi.


“Baiklah,” jawab Leona pasrah. Ia merasa tidak memiliki pilihan lain.


“Ok, di mulai!” teriak Kwan penuh semangat.


Siapa yang sudah gak sabar dengan Part Besok? Sabar ya Reader. Masih di pikirkan agar hasilnya bagus. Judul bab-nya, Will You Merry Me?

__ADS_1


__ADS_2