Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Penyerangan 1


__ADS_3

Leona membuka topengnya. Wanita itu mengukir senyuman kecil sebelum membuang topengnya ke arah samping. Topeng yang sejak tadi digunakan Leona terbang melayang di udara menuju ke lantai satu. Ia tidak butuh lagi untuk menyamar karena kini pria yang ingin ia habisi sudah ada di depan matanya.


Clouse berdiri dengan wajah yang tenang. Pria itu memperhatikan jumlah dan letak musuhnya berdiri. Ia pria yang sangat teliti. Sebuah belati ia keluarkan dari pinggangnya. Belati itu sangat tajam dan panjang. Benda berbahaya itu terlihat sangat pas di tangan Clouse. “Apa kalian pikir bisa dengan mudah mengalahkanku? Berpikirlah sebelum melakukan semua ini!” ucap Close penuh percaya diri.


“Kita lihat saja nanti,” jawab Leona cepat. Leona juga mengeluarkan belatinya dan siap menebas leher Clouse. Ia tidak mau kalah saat itu. Apapun usaha yang dilakukan Clouse, Leona merasa sangat yakin kalau akan memenangkannya.


Jordan juga tidak mau tinggal diam. Pria itu juga siap menghajar dan melawan Clouse. Walaupun kini ada banyak pasukan Gold Dragon yang mengelilingi Clouse, tapi ia yakin Clouse pasti bisa dengan mudah kabur dari mereka.


Clouse memutar tubuhnya dengan secepat kilat. Seperti apa yang dipikirkan oleh Jordan sebelumnya. Hanya sekali gerakan saja pria itu berhasil membuat pria-pria yang mengepungnya terluka. Tangan mereka berdarah hingga membuat jemari mereka tidak lagi bisa menggenggam pistol.


Leona melempar belati yang lebih kecil ke arah kaki Clouse. Dengan mudahnya pria itu menghindar. Wanita itu tidak mau diam saja melihat pasukan milik Oliver di bantai habis. Leona mengincar bagian perut Clouse dan siap menendangnya. Namun, lagi-lagi Clouse berhasil menghindar. Ia mengarahkan belatinya ke arah Leona. Jordan yang kali ini muncul dan menangkis belati itu dengan belatihnya. Hingga membuat belati yang dipegang Clouse terpental jauh.


Leona segera memanfaatkan kesempatan itu. Ia menjegal kaki Clouse sebelum menusukkan belatinya ke perut Clouse. Tusukan Leona berhasil mengenai tubuh Clouse bagian pinggang. Ada darah segar yang keluar dari sana.


Jordan menendang luka yang baru saja di buat Leona. Hal itu berhasil membuat Clouse meringis kesakitan. Rasa perihnya luar biasa.

__ADS_1


Leona berdiri dan memandang wajah Clouse. Ada rasa puas di dalam hatinya setelah berhasil menyiksa Clouse dengan cara seperti itu. “Apa sekarang kau kesakitan? Kau bisa merasakan sakit juga?” ledek Leona dengan wajah puas.


Jordan masih tetap waspada. Ia tidak ingin Clouse menyerang tiba-tiba dan membuat Leona celaka. Clouse mengambil pistolnya dan mengarahkannya ke Leona. Dengan sigap Jordan mengambil pistolnya dan mengarahkannya ke tangan Clouse. 


Leona sudah cukup siaga saat itu. Saat Clouse mengeluarkan pistol dan siap menembaknya, wanita itu segera memutar tubuhnya sambil mengangkat satu kakinya ke atas. Kaki Leona berhasil menendang dada Clouse hingga membuat pria itu mundur beberapa langkah.


DUARR


Jordan mengeluarkan tembakan dan berhasil mengenai lengan Clouse. Lagi-lagi pria itu terluka karena di keroyok. Clouse memandang ke arah samping. Pria itu segera melompat ke lantai satu. Ia memikirkan cara untuk kabur. Kali ini pasukan yang ia miliki juga tidak lagi seimbang. Ia akan kalah jika semakin lama berada di dekat Leona dan Jordan.


Jordan memberi perintah kepada pasukannya yang tersisa untuk membantu Oliver menangkap Clouse. Detik itu Jordan merasa ada yang salah. Pasukan polisi militer yang semula ia pikir akan berkumpul di istana kini telah tiada. Bahkan kini jumlah pasukan mereka yang jauh lebih banyak daripada Pasukan istana Isabel. Padahal awalnya setahu Jordan mereka akan habis-habisan bertarung melawan pasukan militer milik Isabel.


“Ada yang aneh. Apa ada jebakan di sini?” gumam Jordan di dalam hati.


***

__ADS_1


“Apa yang sudah terjadi? Kita sudah mengumpulkan pasukan yang begitu banyak bukan? Kenapa mereka bisa masuk ke dalam istana. Apa yang kalian kerjakan selama ini!” umpat Isabel dengan penuh emosi. Sepanjang jalan menuju ke Istana Timur wanita hanya mengumpat dan mengoceh tidak jelas. Ia masih tidak terima jika kini musuhnya ada di dalam istana yang menjadi tempat tinggalnya. 


“Putri, tenanglah. Serahkan masalah ini kepada saya dan Tuan Clouse,” bujuk Pieter dengan suara menyakinkan.


“Aku mau mereka semua di tangkap. Aku ingin membuat mereka mendapatkan hukuman gantung!” ucap Isabel lagi dengan penuh dendam. 


Baru beberapa meter mereka melangkah, tiba-tiba saja dari arah depan segerombolan orang muncul. Langkah Isabel terhenti ketika melihat seorang wanita berjalan mendekatinya. Beberapa pengawal bersenjata juga ada di sekeliling pria itu untuk menemaninya. Pieter menghentikan langkah kakinya. Pria itu menunduk hormat ketika wanita berbadan tegap itu ada di hadapannya dan Isabel.


“Putri, saya permisi dulu,” ucap Pieter dengan suara pelan.


Isabel hanya mengangguk. Pieter dan seluruh bawahannya pergi meninggalkan Isabel sendiri di sana. Mereka ingin segera kembali ke istana untuk membantu Clouse melawan para penyerang.


Setelah Pieter menjauh dan menghilang. Katterine menatap lagi wajah wanita yang kini berdiri di hadapannya. Wajah angkuhnya masih terlihat jelas walaupun kini keselamatannya sudah di ragukan. 


“Ada apa?”

__ADS_1


“Raja ingin bertemu dengan Anda, Putri ....”


__ADS_2