Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Tidak Membantu


__ADS_3

Oliver dan Kwan berpisah. Kwan pergi menemui Alana. Sedangkan Oliver memutuskan untuk menemui Jordan untuk membahas masalah yang terjadi. Ia juga tidak mau mengambil keputusan secara sepihak. Oliver sangat menghormati Jordan. Walaupun Lukas adalah ayah kandungnya. Tapi, di mata Oliver. Orang yang harus ia ikuti perintahnya hanya Jordan. Bukan hanya di anggap sebagai saudara saja. Bagi Oliver, Jordan adalah bagian dari hidupnya yang sangat penting.


Siang itu Kwan telah tiba di rumah Biao. Dengan pakaian yang sangat rapi, pria itu masuk ke dalam rumah megah nan mewah milik Biao. Beberapa pengawal dan pelayan menyambutnya dengan penuh hormat. Masuk ke dalam rumah Biao, ia merasa seperti pertama kali menginjakkan kakinya di rumah Leona saat masih kecil dulu. Ada banyak pengawal dan pelayan yang akan menyambut kedatangannya seperti seorang Raja.


“Kwan, kau sudah sampai?” ucap Sharin dengan senyuman manis di bibirnya. Wanita itu berjalan mendekati Kwan untuk menyambutnya. 


“Tante, apa kabar?” ucap Kwan penuh basa basi. “Paman Biao di mana, Tante?” 


“Paman Biao ada di atas. Ayo masuk. Apa kau sudah makan? Kenapa datangnya mendadak sekali?” Sharin duduk di sofa. Ia terlihat sedih ketika memandang wajah Kwan. Dulu setiap kali ada Kwan selalu ada Leona. Kini, wanita cantik penuh senyuman itu telah tiada.


“Ada yang ingin Kwan bicarakan dengan Alana Tante,” ucap Kwan dengan senyum ramah. Tidak terlihat sama sekali wajah sedihnya kalau kini dia sedang dalam posisi kehilangan Leona. Karena memang Leona masih ada. Tentu saja Kwan tidak bisa memasang wajah sedih.


“Alana sebentar lagi juga pulang. Dia bilang ada makan siang dengan rekannya,” ucap Sharin sebelum menghela napas. “Kwan, Tante tahu bagaimana hancurnya perasaanmu saat ini.”


Kwan mematung ketika mendengar ucapan Sharin. “Hancur Tante?” tanya Kwan dengan wajah tidak percaya. “Apa Alana sudah memiliki kekasih? Apa aku terlambat?” gumam Kwan di dalam hati.


Sharin menunduk sedih. “Kwan, Tante tahu, kau hanya mengukir senyuman terpaksa bukan? Sebenarnya kau sangat kehilangan Leona?” 


Kwan termenung sejenak. Ia kembali ingat perkataan Aleo. Mereka dalam suasana duka. Kwan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memikirkan akting yang pas untuk menyakinkan Sharin.


“Iya, Tante. Sangat berat kehilangan Kak Leona,” lirih Kwan dengan akting yang belum pas. Sedihnya terlihat jelas kalau di buat-buat. Walaupun begitu Sharin tetap saja percaya.

__ADS_1


“Ya, Tante tahu apa yang kau rasakan saat ini. Alana juga merasa kehilangan. Bahkan berulang kali ia meminta izin kepada Daddy nya untuk menemanimu,” ucap Sharin dengan tawa kecil.


“Alana mau menemani, Kwan?” ucap Kwan tidak percaya sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Ya. Hanya saja, Paman Biao tidak mengizinkan Alana pergi. Kasus hilangnya Tama sangat serius dan penuh misteri. Paman Biao juga lebih waspada menjaga Alana saat ini.”


Kwan mengangguk pelan. Ia merasa bahagia ketika mendengar kabar kalau Alana sangat mengkhawatirkannya. Saat Kwan dan Sharin sibuk mengobrol, tiba-tiba Alana muncul. Wanita itu tidak percaya ketika melihat Kwan ada di rumahnya.


Alana mengukir senyuman dengan wajah berseri. “Kwan.”


Kwan dan Sharin sama-sama melihat keberadaan Alana. Sharin memperhatikan pelayan yang baru saja menghidangkan makanan dan minuman untuk Kwan. Karena Alana sudah ada di sana, Sharin tidak ingin mengganggu mereka lagi.


Alana duduk di salah satu kursi yang ada di depan Kwan. Ia menatap kedua bola mata Kwan dengan saksama. Tidak ada lagi kesedihan di wajah pria itu. “Apa Kwan sudah bisa menerima kepergian Kak Leona?” gumam Alana di dalam hati.


“Alana, apa kau bisa membantuku?” Tanpa banyak basa-basi lagi. Kwan mengeluarkan softlanse yang ia bawa. Pria itu memberikannya kepada Alana. “Di dalam ini ada camera. Apa kau bisa mengetahui di mana posisi orang yang mengontrol camera ini?”


Alana tersadar dari lamunannya sejenak. Wanita itu mengambil kotak tersebut dan mengangguk pelan. “Aku akan mencobanya.” Tanpa banyak kata lagi, Alana mengeluarka laptop dan siap untuk melacak. Sesekali kedua bola matanya memandang wajah Kwan secara sembunyi-sembunyi.


“Alana, dia semakin cantik saja,” puji Kwan di dalam hati. “Tidak-tidak Kwan! Kali ini kau harus fokus pada misimu.”


Alana terlihat sangat serius. Ia berusaha keras melacak posisi camera itu dengan kamampuan yang ia miliki. Sayangnya, hasil yang ia dapatkan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Kwan.

__ADS_1


“Kwan, camera ini sudah tidak berfungsi. Sepertinya pemiliknya juga menguasai IT. Ia tahu kalau akan di lacak hingga menonaktifkan semua jaringan yang berhubungan dengan camera ini,” ucap Alana dengan wajah menyesal.


Kwan menghela napas berat dengan wajah kecewa. Ia bersandar dan memejamkan mata. “Pria itu benar-benar licik!” umpatnya kesal. 


Alana meletakkan laptopnya di atas meja. Wanita itu memandang Kwan dengan wajah bingung. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya karena takut mengatakan apa yang kini ia pikirkan.


“Baiklah Alana, terima kasih atas bantuannya. Aku harus kembali. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Sampaikan salamku kepada Paman Biao dan Tante Sharin.” Kwan beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu memandang wajah Alana dengan senyuman kecil.


“Kwan, kau ingin pergi? Kau tidak menginap di sini?” ucap Alana penuh harap.


“Menginap?” celetuk Kwan kaget. Pria itu membuang tatapannya ke arah lain. “Sebenarnya aku ingin sekali menginap di sini. Tapi, Aku harus segera menemui Kak Leona dan Jordan. Kami harus membicarakan masalah ini secepatnya,” gumam Kwan di dalam hati.


“Kwan, aku tahu kalau aku salah. Tapi, kau berjanji untuk tidak lagi meninggalkanku setelah kak Leona sembuh,” ucap Alana dengan suara yang berat. “Tapi, sekarang ....”


Kwan mengukir senyuman manis. Pria itu berjalan mendekati Alana. Ia berdiri di hadapan Alana. “Sekarang Kak Leona sudah tidak ada?” ucap Kwan dengan suara pelan.


Alana panik bukan main. “Kwan, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku-”


“Kau benar! Tapi, kali ini ada masalah besar yang harus aku selesaikan. Maafkan aku ya, karena tidak bisa menepati janjiku.” Kwan mengusap pipi Alana dengan lembut. “Aku pasti akan menemuimu lagi nanti.” Kwan memutar tubuhnya dan segera melangkah pergi dari rumah mewah itu.


“Kwan, aku mencintaimu!” 

__ADS_1


__ADS_2