
Leona menghentikan mobilnya di sebuah pinggiran jalan. Ia sedang menunggu Letty di sana. Letty memintanya untuk menunggu agar mereka pergi bersama-sama. Letty juga tidak mau Leona pergi sendirian dan membuat wanita itu dalam bahaya. Sambil terus berusaha menghubungi Jordan, Leona memukul-mukul stir mobilnya dengan jari. Ia benar-benar panik siang itu.
Saat Leona lengah dan tidak memperhatikan sekitarnya, tiba-tiba kaca mobil yang ia tumpangi pecah karena seseorang yang mengendarai sepeda motor memukul kacanya dengan tongkat baseball. Ponselnya yang sempat ada di tangan Leona terhempas begitu saja. Leona benar-benar kaget saat itu.
Ketika kepalanya miring ke kanan, tiba-tiba ujung senjata api ada di depan wajahnya. Sejenak Leona mematung dan memikirkan sebuah strategi. Ia tahu kalau tidak akan menang jika bertindak gegabah.
"Siapa kalian?" Leona memperhatikan wajah dua pria yang kini mengancamnya.
Pria yang kini wajahnya tertutup dengan helm itu terlihat tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Leona. Hingga tiba-tiba saja Leona mendorong pintunya dengan sekuat tenaga. Pria itu terjatuh bersama dengan sepeda motornya.
Leona segera menutup kembali pintu mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Satu tangannya berusaha meraih pistol yang terselip di sisi jok mobil. Setelah pistol itu ada di genggamannya, Leona berusaha tetap tenang saat melajukan mobilnya.
"Siapa pria-pria itu?" Leona melirik melalui spion.
Ada yang aneh di sana. Pria itu tidak lagi mengikutinya. Leona kembali memandang ke depan. Saat jalanan terlihat sunyi Leona berusaha mengambil ponselnya yang terjatuh. Ia ingin menghubungi Letty dan memberi tahu wanita itu kalau baru saja ada pria yang tiba-tiba menyerangnya. Bahkan kini posisinya tidak lagi di lokasi yang sudah mereka sepakati.
"Leona, tapi kau baik-baik saja, kan? Apa pria itu berhasil melukaimu?" Letty sangat khawatir ketika mendengar kabar yang baru saja disampaikan oleh Leona.
"Aku baik-baik saja. Tadinya aku ingin turun dan menghajar pria itu. Tapi, aku takut jika itu hanya jebakan saja agar aku turun dari mobil. Letty, kita bertemu di lokasi yang aku katakan. Kali ini aku benar-benar tidak bisa tenang lagi. Aku ingin melihat Jordan dan memastikan keadaannya."
"Baiklah, Leona. Aku juga akan segera ke sana."
Panggilan itu terputus. Sebenarnya jarak yang mereka tempuh lumayan jauh. Memakan waktu hampir satu jam. Lokasi persembunyian Pieter lagi-lagi ada di tempat terpencil. Tidak ada penghuni lain selain rumahnya. Pieter benar-benar pintar saat memilih tempat persembunyian. Bukan sebagai tempat persembunyian saja. Tapi lokasi itu akan tidak diketahui oleh pihak kepolisian jika terjadi perkelahian.
__ADS_1
***
Pieter berlari kencang dengan luka di tubuhnya. Ya, tadi tembakan yang diberikan Oliver berhasil mengenai kakinya yang sebelah kanan. Maka dari itu Pieter kesulitan berjalan. Ia belum mengetahui kalau sebenarnya Pangeran Martine telah menurunkan pasukannya. Pieter merasa kalau Jordan dan Oliver masih ada di belakang untuk mengejarnya.
"Aku tidak ingin tertangkap lagi. Aku harus bisa kabur dari mereka," ujar Pieter sambil berjalan dengan kaki tertatih. Tapi, luka pada kakinya terus saja mengeluarkan darah segar. Pieter kehabisan banyak darah hingga tubuhnya terasa lemas.
Pieter ingat dengan Lusya dan tersenyum licik. Ia yakin kini wanita itu pasti sedang di siksa oleh Jordan dan Oliver. Namun, tiba-tiba saja ia mulai khawatir. Pieter takut kalau Lusya membocorkan rahasia tentang pangeran Martine. Hal itu bisa mengagalkan rencana besarnya.
"Lusya wanita licik yang selalu memerintahkan dirinya sendiri. Bagaimana kalau dia menceritakan strategi yang sudah aku susun."
Pieter tidak pernah tahu kalau rekannya itu telah menjadi abu di dalam puing-puing bangunan runtuh karena ledakan. Memang tadi Pieter sempat mendengar ledakan. Namun pria itu berpikir kalau itu pasti ulah Jordan atau Oliver. Belum kepikiran kalau mereka adalah bala bantuan yang dikirimkan oleh pangeran Martine untuk menolongnya.
BRUAKK
"Bawa dia!"
***
Leona membanting pintu mobilnya begitu saja ketika melihat rumah persembunyian Pieter kini dipenuhi dengan kepulan asap. Bahkan masih ada sisa api di sana. Leona tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Baginya semua ini hanya mimpi. Bahkan ia sempat berpikiran kalau salah alamat.
"Astaga, apa yang aku pikirkan. Kenapa aku bisa tersesat di rumah ini," ucap Leona dengan senyum penuh kepahitan. Wanita itu menggeleng dan mengukir senyuman. Sekuat mungkin Leona menghilangkan rasa takut dan panik yang kini memenuhi pikirannya.
Sebuah mobil berhenti di belakang mobil Leona. Letty dan Miller keluar dari dalam mobil dan berlari mendekati Leona. Mereka juga kaget ketika melihat bangunan yang ada di hadapan mereka telah hancur berkeping-keping.
__ADS_1
"Leona, apa yang terjadi?" Letty memandang wajah Leona dengan saksama.
"Letty, sepertinya aku salah alamat." Leona tertawa kecil. Ia berjalan ke arah mobil. "Mungkin di arah sana lokasinya. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan hingga berhenti di rumah ini."
Miller mengamati lokasi tersebut. Ia begitu kaget ketika melihat mayat bergelimang di sana. Selama ini Miller sudah sering menemukan kasus kebakaran dan ledakan. Kejadian yang ada di hadapannya adalah sebuah peristiwa setelah ledakan. Tubuh manusia yang kini berwarna kehitaman itu adalah tubuh manusia asli. Bukan sebuah patung yang gosong karena terbakar.
"Tempat ini baru saja meledak," ucap Miller sambil memandang wajah Letty dan Leona
Letty berusaha tetap tenang walau kini pikirannya sudah melayang tidak karuan. Hatinya dipenuhi tanda tanya. Tatapannya terhenti pada mobil milik Oliver yang terparkir tidak jauh dari lokasi ledakan tersebut.
"Leona, bukankah mobil itu milik Oliver?" Letty menunjuk mobil itu dengan perasaan yang berkecambuk.
Leona mengikuti arah yang di tunjuk Letty. Kedua matanya semakin perih ketika ia melihat mobil yang di tumpangi suaminya dan Oliver saat pergi meninggalkan istana.
"Tidak Letty. Itu ... itu bukan mobil Oliver," sangkal Leona dengan satu tetes air mata di pipinya.
"Leona, tenanglah. Belum tentu yang kita lihat sama dengan apa yang kita pikirkan." Miller maju ke depan untuk memeriksa lokasi sekitar. Namun memang tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
"Leona, tenanglah," bujuk Letty sambil memeluk Leona. Leona benar-benar terpuruk kali ini. Jordan tidak memberi kabar. Namun kini pemandangan yang ia lihat begitu mengerikan. Leona takut jika suaminya masuk ke dalam jebakan musuh.
"Tidak Letty. Jordan pasti pergi ke hutan. Mungkin saja musuh yang mereka kejar kabur dan kini Jordan mengejarnya hingga masuk ke dalam hutan."
Letty dan Miller saling memandang. Mereka tidak tahu mau bicara apa lagi.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menebak apa yang terjadi. Namun, aku tahu kalau Jordan dan Oliver bukan pria bodoh yang mudah di jebak," ucap Miller sambil memandang mobil milik Oliver yang terparkir begitu saja.