
“Sayang, semalam Tante Emelie membahas tentang pertunanganmu dan Jordan. Apa kau setuju?” tanya Serena ragu-ragu. Bahkan wanita itu terlihat kesulitan untuk mengatakan hal seperti itu kepada putri tercintanya.
“Ma, Leona belum mau menikah,” ucap Leona dengan suara lembut. Wanita itu ingin menolak permintaan Serena namun tidak ingin mengecewakan Serena.
“Baiklah, jika kau tidak setuju Mama akan menyampaikannya kepada Tante Emelie nanti.” Serena mengingat sesuatu. “Leona, tadi Jordan menemui mama. Ia berkata agar mama mengizinkanmu pergi ke Jerman. Jika kau pergi bersama dengan Jordan dan Kwan, maka Mama akan mengizinkamu pergi ke Jerman.” Serena mengusap lembut rambut Leona.
“Untuk apa Jordan mengatakan hal seperti itu kepada mama? Apa dia benar-benar ingin ikut denganku untuk menyerang Zean?” gumam Leona di dalam hati.
“Leona, apa yang kau pikirkan?” tanya Serena dengan tatapan menyelidik.
Leona tersadar dari lamunannya. Wanita itu mengukir senyuman sambil memandang wajah Serena. “Menurut mama, Jordan itu pria yang seperti apa? Apa tidak buruk jika kami pacaran? Usia ku lebih tua dua tahun darinya,” ucap Leona pelan.
“Sayang, di luar sana masih banyak wanita yang menikah dengan pasangannya yang jauh lebih tua atau jauh lebih muda. Usia tidak bisa dijadikan alasan untuk bersatu.” Serena mengambil teh yang ada di atas meja. Wanita itu meneguknya secara perlahan.
“Lalu? Apa yang membuat sepasang kekasih tidak bisa menyatu. Bahkan saling mencintai saja tidak bisa menjamin mereka bersatu,” ucap Leona pelan. Sebenarnya sejak awal ia tidak ingin menyinggung kisah cinta antara kedua orang tuanya dan Zeroun. Namun, semakin ke sini ia merasa kalau kisah yang kini ia rasakan sama dengan apa yang dulu di alami sang ibu.
__ADS_1
Serena meletakkan tehnya di atas meja. Wanita itu memandang ke arah depan. “Mama juga tidak tahu. Seseorang bisa bersatu dan berpisah begitu saja jika takdir ingin menguji cinta mereka. Ada yang diawali dengan penghianatan namun berakhir dengan saling memaafkan. Semua tergantung pasangan masing-masing.”
“Memaafkan?” celetuk Leona kaget. “Apa kita harus memaafkan orang yang pernah melukai hati kita dan menerimanya kembali?” tanya Leona untuk kembali memastikan.
Serena menghela napas. “Jika itu membuat sepasang kekasih itu bahagia, kenapa tidak? Memaafkan adalah hal paling luar biasa yang tidak dimiliki oleh semua orang,” ucap Serena lagi.
“Seperti Paman Zeroun yang saat itu memaafkan mama?”
“Ya. Sayang, apa kau bisa untuk tidak membahas soal itu lagi? Hal itu sudah terjadi sangat lama. Mama tidak ingin masa lalu mama dan Paman Zeroun terus-terusan memenuhi pikiran mama,” protes Serena dengan senyuman manis.
Tiba-tiba rasa ragu itu muncul setelah Leona mendengar cerita kedua orang tuanya. Leona merasa kalau Zean tidak sepenuhnya bersalah dan tidak sepantasnya mendapatkan hal mengerikan itu. Malam itu juga Zean tidak melakukan apa-apa terhadap dirinya. Karena cinta Zean yang begitu besar terhadap dirinya, Zean tidak tega untuk merusak hidupnya dan lebih memilih meninggalkannya dan tidak lagi muncul di hadapannya.
DUARR DUARR
“Nyonya, rumah utama di serang,” teriak seorang pelayan yang baru saja muncul di hadapan Serena.
__ADS_1
Hal itu tentu saja membuat Serena dan Leona kaget. Dua wanita tangguh itu segera berdiri dan menatap tajam ke arah pelayan yang baru saja muncul. Terdengar jelas suara tembakan di halaman depan. Serena segera berjalan maju untuk melihat apa yang terjadi. Sama halnya dengan Leona. Wanita itu juga berjalan cepat mengikuti jejak kaki Leona dari belakang.
Dari arah tangga, Kwan dan Aleo turun dari tangga. Daniel juga keluar dari kamar tidurnya. Malam itu memang Zeroun dan yang lainnya memutuskan untuk tidur di rumah Shabira dan Kenzo. Hingga akhirnya mereka tidak tahu apa yang kini terjadi di rumah utama. Tidak terbayangkan apa yang akan dihadapi oleh tamu tidak diundang Serena malam itu jika Zeroun dan Kenzo sekeluarga juga ada di rumah utama dan siap melindungi Serena.
“Siapa yang berani menyerang rumah utama?” gumam Leona di dalam hati.
Serena berhenti di sebuah lemari dan membuka laci tersebut. Kedua mata Leona melebar ketika melihat isi di dalam laci tersebut adalah senjata api. Seumur hidup Leona, ini pertama kalinya ia tahu kalau di rumahnya ada gudang senjata yang menyimpan senjata sebanyak itu.
Tidak ketinggalan. Dari arah belakang, Daniel, Kwan dan Aleo juga mengambil senjata api mereka. Tersisa Leona yang belum mengambil senjata yang diberikan Serena. Hal itu membuat Serena bingung. Setahu Serena, Leona telah jago dalam hal menembak.
“Leona, apa kau takut?” tanya Serena dengan alis saling bertaut.
Leona menyeringai. Wanita itu mengambil senjata api yang selalu ada di pinggangnya. “Aku sudah memilikinya, Ma,” ucap Leona ragu-ragu.
Serena sendiri kaget ketika mengetahui keseharian putrinya ditemani senjata api. Namun, Serena tidak ingin membahas itu lebih jauh lagi. Ia ingin segera mencegah musuh mereka masuk ke dalam rumah utama dan melukai orang lebih banyak lagi.
__ADS_1
Kwan memandang wajah Leona dan mengukir senyuman. Pria itu juga mengeluarkan senjata api miliknya dan memamerkannya kepada Leona. Hanya Leona yang tahu. Hal itu membuat Leona tertawa kecil. Musuh yang baru saja hadir di rumah utama, tidak membuat sedikitpun rasa takut di dalam hidup Serena dan keluarga. Mereka terlihat tenang menghadapi musuh mereka malam itu.