Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 16


__ADS_3

Oliver sedang berkumpul dengan pasukan Gold Dragon. Mereka baru saja selesai latihan bela diri dan menembak. Walau tidak ada tanda-tanda musuh mereka akan menyerang, tapi tetap saja Oliver selalu bersikap waspada. Apa lagi kini ada Katterine di sampingnya. Pria itu memperkuat pertahanannya agar wanita yang ia cintai baik-baik saja.


"Bagaimana dengan perkembangan pria itu? Apa dia masih ingin mencari masalah dengan kita?" tanya Oliver kepada bawahannya. Pria yang ia maksud tidak lain adalah Roberto. Ia tahu kalau Roberto bukan tipe pria yang mudah menyerah.


"Sejauh ini dia tidak melakukan pergerakan apapun, Bos. Dia bertahan di rumahnya. Belum ada pengawal berkeliaran di rumahnya. Sepertinya ancaman yang kita layangkan berhasil, hingga tidak ada satu pun warga sekitar yang mau bekerja dengannya."


Oliver benar-benar puas mendengar jawaban dari bawahannya. Ia mengambil botol minuman yang tersusun rapi di rak dan menuangkannya ke gelas yang telah Ia persiapkan sejak tadi.


"Terus selidiki apapun yang ia lakukan. Sebelum dia pergi meninggalkan kota ini, aku belum bisa percaya dengannya." Oliver meneguk minumannya dengan saksama. Ia menikmati rasa pahit dan manis yang kini ia rasakan.


"Baik, Bos." Pria itu menunduk hormat. Namun ketika ia ingin pergi meninggalkan Oliver, tiba-tiba ponsel pria itu berdering. Oliver memandangnya sekilas sebelum kembali meminum minumannya.


Pria itu tidak banyak bicara. Ia hanya diam sambil mendengarkan apa yang dikatakan lawan bicaranya yang ada di kejauhan sana. Sesekali kepalanya mengangguk. iya juga memandang wajah Oliver seolah tidak sabar untuk menyampaikan kabar gembira itu.


"Bos, ada kabar baik Bos."


"Katakan saja apa yang terjadi Kau tidak perlu menahan perkataanmu seperti itu." Oliver meletakkan gelasnya yang telah kosong di atas meja.


"Baru saja saya mendapat kabar dari rekan saya, kalau Roberto kini sedang ada di bandara. sepertinya ia ingin meninggalkan kota ini. Apa dia sudah menyerah, Bos?"


Oliver diam sejenak sambil memikirkan Roberto saat itu. Seharusnya Ia senang mendengarkan kabar baik itu. Tidak akan ada lagi kerja yang berani mendekati wanita yang kita cintai. Namun tidak tahu kenapa Oliver memiliki firasat yang buruk. Kepergian pria itu tidak akan memberikan ketenangan kepadanya justru memberikan kegelisahan yang tidak kunjung mendapat jawaban.


"Terus selidiki pria itu. Pastikan kalau dia benar-benar sudah meninggalkan kota ini!"


"Baik, Bos."

__ADS_1


Ketika Roberto dan bawahannya sedang asyik berbincang. Tiba-tiba Miller muncul di ruangan itu. Pria itu terlihat tenang seolah tidak memiliki masalah apa pun karena sudah menerobos masuk di markas Oliver. Di belakang Miller ada beberapa pasukan Gold Dragon yang terluka.


"Maafkan kami, Bos. Kami tidak bisa mencegah Tuan Miller agar tidak masuk ke ruangan Anda," ucap salah satu pria yang terluka itu sambil memegang wajahnya yang terasa sakit. Oliver tahu kalau luka itu mereka dapatkan karena mereka berusaha menghalangi Miller masuk ke dalam. Namun ilmu bela diri mereka tidak sebanding dengan Miller.


"Kau memang pria yang tega. Kita berteman baik bukan? Tapi Kenapa kamu memperlakukanku seperti musuh yang ingin kau habisi. Apa salahku dan apa dosaku? tega sekali kau memperlakukan diriku seperti itu." Miller berjalan ke arah sofa. Ia duduk di sana dengan posisi yang nyaman. Memperhatikan ruangan tersebut dengan saksama.


"Aku tidak menyangka kalau gudang sejelek ini bisa memiliki ruangan yang begitu bagus. Apa kau sendiri yang mendesain ruangan ini? sepertinya seleramu tidak terlalu buruk."


Oliver memerintahkan kepada bawahannya untuk keluar. Ia ingin berbicara empat mata dengan Miller.


"Aku tidak menyangka kalau polisi di kota ini tidak memiliki sopan santun sama sekali. Tidak bisa menghargai privasi orang lain. Hobinya mengikuti orang lain secara diam-diam dan menerobos masuk sesuka hatinya," sindir Oliver tanpa mau memandang wajah Miller.


"Oliver, Sebenarnya apa masalahmu? Aku sudah berjasa menolongmu kemarin. Setidaknya kau menyambutku sebagai seorang sahabat. Bukan menyindirku seperti seorang penyelundup."


"Aku tidak memiliki banyak waktu. tidak lama lagi aku harus pergi untuk menjemput Katterine. Katakan saja sebenarnya Apa tujuanmu datang kemari. Jika itu hal yang tidak penting maka aku akan meninggalkanmu secepatnya."


Oliver mengambil barang-barangnya yang ada di atas meja. Pria itu semakin tidak tertarik untuk berbincang dengan Miller. Apa lagi menjawab pertanyaan pria itu.


"Hei, kau benar-benar akan pergi meninggalkanku? Sendirian di sini?"


"Aku sudah bilang kalau aku tidak suka basa-basi."


"Oke, aku akan langsung saja dengan topik permasalahannya. Beberapa hari yang lalu salah satu pengusaha ternama yang ada di kota ini tewas dengan cara mengenaskan. Aku diberi tugas untuk menyelesaikan masalah ini. Pihak keluarganya bukan orang yang biasa. Mereka bahkan sudah menyewa beberapa orang hebat untuk menyelidiki kasus ini hingga tuntas. Dalam waktu dekat mungkin mereka akan menemukan siapa pelakunya."


"Kqlau aku ingin aku turun tangan untuk membantumu menemukan siapa pelakunya sebelum keluarga dari korban menemukannya? Dengan begitu kau akan mendapatkan promosi yang lebih bagus dan mendapatkan nama atas prestasimu itu."

__ADS_1


Miller tepuk tangan atas jawaban yang dikatakan oleh Oliver. "Kau memang pria yang jenius. Kau bisa menebak keinginanku saat ini dengan begitu mudah. Sayangnya semua tidak semudah yang kau pikirkan."


Sambil memakai jam tangan di pergelangan tangannya, Oliver memandang wajah Miller. Sampai kapanpun juga Ia tetap menganggap Miller bagian dari keluarganya. Walau ia tidak bisa bersikap seramah dulu lagi.


"Lalu di mana masalahnya?"


"Aku bukan polisi lemah seperti yang kau pikirkan. Menyelidiki kasus seperti ini sangatlah mudah bagiku. bahkan aku sudah mendapatkan petunjuk, siapa pembunuhnya. Hanya tinggal menangkapnya saja."


Oliver mendengus kesal. Ia berpikir sebenarnya tidak ada masalah di sana. Miller hanya sengaja mengulur waktunya agar mereka bisa berbincang.


"Kau ingin mengajakku untuk menangkap pembunuh itu? Pembunuh itu orang yang sangat hebat hingga kau tidak bisa dengan mudah menangkapnya. Apakah kali ini tebakanku benar?"


"Pembunuhnya memang orang yang hebat dan sulit di tangkap. Tapi aku tidak datang untuk meminta bantuanmu."


"Miller, Sebenarnya apa yang kau inginkan?" teriak Oliver semakin kesal.


"Kau mau tahu siapa pembunuhnya?"


"Kenapa tidak kau katakan sejak pertama kali kau bercerita?" protes Oliver.


"Kau yakin ingin mendengarnya?" Miller melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap wajah Oliver dengan tatapan menyelidik.


Jika memang benar Oliver adalah pembunuhnya, mungkin sikap pria itu tidak akan setenang ini. Mungkin juga sejak awal cerita Oliver sudah mengatakan kalau dirinya tidak suka dengan pengusaha itu dan memutuskan untuk membunuhnya. Tapi sudah banyak petunjuk yang dilayangkan Miller tidak juga berhasil memberikan tanda-tanda kalau Oliver lah yang telah membunuh pengusaha tersebut.


"Miller!"

__ADS_1


"Kau! Kau pembunuhnya Oliver!"


__ADS_2