
Waktu berputar dengan sangat cepat. Tidak terasa siang yang terik itu kini sudah berganti dengan malam yang dingin. Setelah menyambut para tamu undangan, berdansa dan memotong kue pernikahan, kini saatnya Leona dan Jordan meluangkan waktu mereka untuk para sahabat tercinta.
Jordan dan Leona berkumpul di sebuah meja bersama dengan yang lainnya. Sama seperti tradisi para senior terdahulunya. Kali ini jauh lebih ramai pastinya. Karena beberapa orang baru ada di meja. Seperti Clara dan Roberto. Ya, pria itu datang di resepsi pernikahan di malam hari. Membuat Katterine merasa risih karena terus-terusan di dekati.
Setelah mengucapkan rasa terima kasih, semua orang yang melingkari meja tersebut mengucapkan selamat kepada Leona dan Jordan. Setelah itu, acara di lanjut dengan acara memakan minuman dan hidangan yang telah di sediakan.
“Selamat ya Pangeran, Anda sangat sempurna tadi. Pas dansa Anda dan istri Anda terlihat sangat serasi,” puji Robert dengan wajah sok akrab. Walau sebenarnya bisa dibilang ini pertemuan pertama dirinya dengan Jordan.
“Terima kasih, Robert,” jawab Jordan dengan senyuman.
Katterine memandang wajah Oliver dengan tatapan sedih. Bisa-bisanya pria itu duduk jauh dari posisinya. Kini Oliver lebih tertarik duduk di samping Letty. Pria tangguh itu meneguk minumannya sesekali dengan penuh semangat. Sambil minum ia kembali ingat dengan perbincangannya dengan Katterine tadi siang.
***
“Menikah? Apa maksudmu menikah seperti yang kini dilakukan Pangeran Jordan?” tanya Oliver masih dengan wajah tidak percaya.
“Tentu saja. Apa kau pikir menikah ada cara lain lagi?” Katterine melipat kedua tangannya di depan dada dan memalingkan pandangannya ke arah lain.
“Putri, Anda bercanda? Pernikahan-”
“Aku tidak bilang akan menikah denganmu jadi jangan terlalu percaya diri!” Katterine berteriak sebelum pergi meninggalkan Oliver. Wajahnya terlihat jutek dan kesal.
__ADS_1
***
Kalimat itu yang terus saja mengiang di dalam ingatan Oliver. Pria itu tidak menyangka kalau Katterine akan mengatakan hal seperti itu. Oliver sendiri tidak tahu, kenapa tiba-tiba ia merasa tidak rela kalau Katterine nantinya akan menikah dengan pria lain.
“Kak, apa kau baik-baik saja? Apa kalian sedang bertengkar, Lagi?” bisik Letty dengan tatapan penuh tanya.
“Diamlah!” ketus Oliver. Pria itu kembali mengisi gelasnya yang kosong dan meneguknya dengan rakus.
Dari kejauhan Jordan memperhatikan Oliver. Tapi di sana ada banyak orang. Ia tidak bisa berkata sembarangan. Walau sebenarnya Jordan sendiri sangat penasaran ketika melihat posisi duduk Oliver dan Katterine yang berjauhan malam itu.
Leona memandang satu persatu wajah yang duduk di sana. Di mulai dari Zean, Miller, Natalie, Letty, Oliver, Kwan, Alana, Tamara, Aleo, Clara, Katterine dan terhenti di Robert. Ia bahagia. Sejak menikah dengan Jordan ia bisa memiliki banyak saudara. Jika bukan karena masalah yang mereka buat dulunya tidak mungkin semua orang bisa muncul ke permukaan seperti ini.
“Sayang, apa kau mau minum?” Jordan memberikan soft drink kepada Leona. Walau ia tahu jika Leona tidak mudah mabuk ketika minum minuman beralkohol, tapi tetap saja sejak menikah Jordan ingin Leona menjauhi minuman seperti itu.
Zean berusaha membuang tatapannya dari pengantin baru yang baru saja sah beberapa jam yang lalu itu. Ia sudah ikhlas, tapi tidak tahu kenapa hatinya belum bisa tenang ketika melihat Leona berbahagia bersama pria lain. Rasa penyesalan itu terus saja mengiang di dalam ingatannya.
“Kak Zean, apa Kak Zean mau menemaniku ke sana?” Tiba-tiba Natalie mengeluarkan suara. Wanita itu memandang wajah Zean dengan tatapan malu-malu. Miller yang mendengar hal itu hanya bisa melirik dengan wajah curiga. Ia kenal betul bagaimana sikap adiknya. Dan, ia juga kenal bagaimana sikap Zean. Walau baik dan setia tapi bukan Natalie mungkin tipe pria itu. Ia tidak mau adiknya sakit hati.
“Natalie, kakak mau ke sana. Ayo kakak temani,” ajak Miller sebelum Zean menjawab. Natalie memajukan bibirnya sebelum beranjak dari kursi. Sebenarnya ia sangat kesal. Tapi, melihat sikap Zean yang tidak tertarik ia ajak membuat Natalie tidak berani protes lagi.
Zean memandang kepergian Miller dan Natalie. Tiba-tiba pria itu beranjak dari kursinya. Ia berjalan mendekati Leona. “Selamat, Leona. Maafkan aku karena tidak bisa berlama-lama di sini.” Ia meletakkan amplop cokelat di atas meja. Memandang wajah Jordan sejenak sebelum memandang Leona lagi. “Hanya ini hadiah yang aku pikirkan. Aku harap kalian suka.”
__ADS_1
Jordan beranjak. Ia mengukir senyuman dan menerima hadiah dari Zean. “Terima kasih. Zean. Aku harap kau segera menemukan kebahagiaanmu.”
“Kalian adalah kebahagiaanku. Berbahagialah, maka dengan begitu aku juga akan selalu bahagia.”
Jordan menepuk pundak Zean. “Aku dan Leona akan selalu bahagia. Beri tahu kami jika kau dalam kesusahan.”
Leona beranjak dari kursinya. Ia memandang wajah Zean dengan tatapan tidak terbaca. Zean menghela napas kasar. “Jordan, apa aku boleh memeluknya sejenak. Lima detik saja.”
Leona tertegun. Ia tidak menyangka kalau Zean akan meminta hal seperti itu setelah ia berstatus sebagai istri Jordan. Jordan sendiri terlihat bingung. Bukan dia yang tidak izin tapi ia takut Leona sendiri yang tidak nyaman.
“Tidak perlu, aku lupa kalau aku bukan-”
“Kau sahabat kami.” Tiba-tiba Leona memeluk Zean dan mengatakan kalimat itu. Hanya lima detik sesuai permintaan Zean, setelah itu Leona melepas pelukannya. “Akan selamanya menjadi sahabat kami,” sambung Leona lagi.
Zean mengagguk pelan. “Berbahagialah. Selamat tinggal.”
Jordan memeluk pinggang Leona dan melihat kepergian Zean. Ia merasa lelah. Memang sudah sepantasnya mereka istirahat. “Sayang, ayo kita masuk ke kamar,” bisik Jordan.
Leona tertegun. Mendengar kata kamar membuatnya salah tingkah. Ia memegang lehernya dan memandang wajah semua orang. Leona ingin memastikan kalau semua orang tidak mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Jordan.
“Kak, istirahatlah. Kami tidak lama lagi juga akan istirahat. Besok kita bisa berkumpul lagi,” ucap Katterine yang berada tidak jauh dari posisi Jordan dan Leona.
__ADS_1
“Baiklah,” jawab Leona pelan. Wajahnya memerah dan Leona menyembunyikannya dengan cara menunduk. Jordan berpamitan pada semua orang sebelum membawa Leona ke dalam kamar. Sebenarnya kini yang terpikirkan oleh Jordan adalah kesehatan Leona. Ia tidak mau Leona sakit karena kelelahan.