Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Kiriman Alana


__ADS_3

Alana mengukir senyuman bahagia ketika ia berhasil merekam pembicaraan Clouse dan Miller. Di depannya ada Biao dan juga Sharin. Mereka mendukung Alana untuk membantu Kwan balas dendam.


"Mom, bagaimana cara melacak posisinya?" tanya Alana sambil mencari-cari posisi keberadaan Clouse.


Sharin turun tangan. Wanita itu membantu Alana untuk melacak keberadaan Clouse. Saat Kwan mengetahui Miller ada hubungannya dengan Clouse. Ia segera memberitahu Alana soal ini. Pria itu juga meminta Alana untuk merekam apapun yang dilakukan oleh Miller. Miler seorang polisi yang memiliki identitas resmi. Tentu saja Alana sangat mudah menemukan keberadaan pria itu. Bahkan Alana juga berhasil meretas ponsel milik polisi tampan itu.


"Pria ini sangat ahli dalam bidang IT. Lihatlah, dia mampu menghilangkan jejaknya dengan mudah," ucap Sharin sambil berusaha keras. Wanita itu bersandar di sofa. "Mommy tidak berhasil melacak posisinya."


Alana menghela napas kesal. "Mom, kenapa begitu. Kwan akan kecewa kepada Alana," ucap Alana tidak penuh semangat.


Mendengar nama Kwan. Biao menatap tajam wajah Alana. Ia kembali membayangkan ketika putrinya berciuman dengan Kwan.


"Kapan kau menikah dengannya," ucap Biao tanpa basa basi.


Sharin dan Alana sama-sama kaget. Mereka tidak menyangka kalau kini Biao justru membahas masalah yang lain.


"Dad, kami baru pacaran satu hari. Kenapa kau menanyakan soal pernikahan," ucap Alana dengan wajah frustasinya.


"Dia sudah menciummu!" sambung Biao dengan wajah yang tegas.


"Dad, hanya ciuman. Ciuman tidak bisa dijadikan alasan untuk seseorang agar menikah. Dad, ayolah. Kami tidak berbuat lebih. Kwan pria yang baik. Alana juga belum siap untuk menikah." Alana berusaha membujuk Biao agar tidak mendesaknya untuk menikah


Biao melempar pandangannya ke arah Sharin. Baru saja wanita itu menunduk malu karena kembali ingat dengan ciuman pertamanya dengan Biao dulu. Sangat lucu memang. Sharin menggunakan alasan ciuman tidak sengaja Biao untuk menuruti permintaannya.


"Alana, di mana Kwan saat ini?" tanya Biao dengan wajah serius.

__ADS_1


"Kwan ada di ...." Alana kembali ingat kalau Alana tidak boleh memberi tahu posisi Kwan saat ini kepada siapapun. " Aku tidak tahu, Dad."


"Kau membohongi Daddy? Kau bahkan tahu di mana posisi Daddy selama ini. Kenapa kini tiba-tiba bersikap seolah kau tidak tahu apa-apa? Kwan bukan ahli IT kan?" tanya Biao dengan tatapan menyelidik.


"Dad, ini privasi." Alana memandang layar laptopnya lagi. "Belanda. Seharusnya aku bisa memberi tahu posisi Clouse saat ini."


"Sayang, kau jangan bersedih. Setidaknya kau bisa mengatakan kepada Kwan kalau kini Clouse ada di Belanda. Itu sudah memudahkan Kwan. Dia tidak perlu memikirkan seluruh negara yang ada di dunia ini bukan?" bujuk Sharin agar Alana tidak bersedih lagi.


"Tapi aku tidak bisa memberi tahu Kwan di mana lokasi yang jelas," ucap Alana masih dengan wajah bersedih.


Sharin mengusap lembut kepala Alana. "Kau sangat mencintainya ya?"


Alana mengangguk. "Tidak tahu sejak kapan. Tapi, setiap kali membayangkannya ... jantungku berdebar-debar."


"Alana, sudah malam. Pergilah ke kamarmu. Kirim rekaman itu besok saja. Mungkin Kwan juga sudah tidur," ucap Biao sambil memandang wajah Alana.


Alana memandang wajah Biao. "Dad, apa Daddy tidak mau membantu Kwan? Alana takut Kwan dalam bahaya," ucap Alana dengan wajah sedihnya.


Biao mengukir senyuman. "Sayang, Daddy tahu kapan akan bertindak. Sekarang, pergilah ke kamarmu. Jangan pikirkan Masalah ini lagi. Kau harus menjaga kesehatanmu," ucap Biao dengan wajah yang serius.


Alana menghela napas. "Baiklah."


***


Hari berlalu dengan begitu cepat. Pagi ini Kwan terlihat bahagia mendengar kabar dari Alana. Ia memberikan rekaman percakapan Miller dan Clouse kepada Jordan dan Oliver. Hingga detik ini ketiga pria itu masih menjaga kesehatan Leona. Mereka tidak ingin Leona berpikir terlalu keras hingga membuatnya sakit lagi.

__ADS_1


"Sepertinya hubungan mereka sangat dekat. Miller mengetahui banyak hal tentang Clouse Dari gaya bicaranya, Miller tahu rencana apa yang sudah di susun Clouse saat ini," ucap Jordan dengan wajah serius.


Oliver memainkan belatinya. Ia memutar-mutar benda berbahaya itu sambil berpikir keras. "Jika Clouse ada di Belanda, itu berarti dia ada di sekitar Isabel."


Kwan mengangguk setuju. "Jangan lupa, Clouse bisa menyamar menjadi siapa saja. Mungkin hanya Isabel yang mengetahui kalau dia sedang menyamar."


Jordan memegang gambar lukisan Clouse yang dikirimkan Katterine. "Jika dia ada di dekat Isabel, itu sangat memudahkan kita untuk menangkapnya."


"Tapi penjagaan di sekitar Isabel selalu banyak. Tidak semudah itu menemukan Clouse yang asli," timpal Oliver.


"Orang yang pernah melihat wajahnya, pasti bisa mengenalinya melalui pandangan mata saja. Sepertinya kali ini kita butuh bantuan Katterine," ucap Jordan penuh semangat.


"Pangeran, bagaimana caranya Katterine bisa tiba di istana?"


"Undangan. Bukankah dia mengundangku dan Katterine untuk datang ke pesta ulang tahunnya?" sambung Jordan dengan wajah yang santai.


"Anda akan datang bersama dengan Nona Leona?" tanya Oliver ragu.


"Tentu saja. Hanya dia wanita yang boleh berada di sampingku," jawab Jordan mantap. Jordan menepuk pundak Oliver. "Soal Katterine, aku serahkan padamu. Kau pasti bisa menjaganya bukan?"


Kwan tertawa kecil. "Pangeran Jordan, itu sama saja membuka identitas Kak Leona dan memberi tahu Clouse kalau Kak Leona masih hidup."


Jordan mengangguk setuju. "Ya. Memang seperti itu rencananya," jawab Jordan santai. Pria itu berjalan pergi meninggalkan Kwan dan Oliver yang masih dipenuhi tanda tanya.


Leona mengukir senyuman. Sejak tadi ia menguping pembicaraan Jordan dan yang lainnya. "Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajah Isabel. Dan ... Clouse? Sepertinya aku akan turun tangan langsung untuk membunuhnya nanti?"

__ADS_1


__ADS_2