Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
Niat Jahat


__ADS_3

Kwan mengeluarkan senjata api yang ia bawa. Sejak kejadian di Meksiko, Kenzo dan Shabira meminta Kwan untuk selalu membawa senjata berbahaya itu. Dibutuhkan atau tidak, Kwan tetap harus membawanya. Kali ini, sepertinya senjata api itu benar sangat dibutuhkan. Kwan merasa sangat berterima kasih kepada kedua orang tuanya.


Kwan membalas tembakan pria itu. Awalnya Kwan mengira hanya satu lawan satu. Bahkan Kwan sendiri merasa kalau akan menang. Tapi, baru satu tembakan saja dikeluarkan Kwan, sudah muncul penembak-penambak dari arah lain. Tempat yang tersembunyi hingga membuat Kwan sendiri tidak bisa melihat jelas wajah mereka.


Pasukan milik Kwan dan Biao muncul detik itu juga. Kwan melihat beberapa pasukan yang sudah berkumpul untuk melindunginya. Pria itu segera menarik tangan Alana. Membawanya pergi sejauh mungkin untuk menghindari baku  tembak tersebut.


Suasana berubah kacau. Semua orang yang berlalu lalang juga berlari untuk menyelamatkan diri. Tanpa di sadari oleh pengawal Kwan, ada dua orang yang mengikuti jejak kaki Kwan dari belakang. Berpenampilan layaknya orang biasa. Bahkan dua pria itu juga bertingkah laku seolah sedang ketakutan.


Alana terus saja berlari mengikuti langkah kaki Kwan. Alana bukan tipe wanita yang suka olahraga. Wanita itu merasa sangat lelah ketika berlari terlalu jauh. Ia melepas tangannya dari tangan Kwan dan mengatur napasnya yang sudah terasa sulit. Bahkan debaran jantungnya tidak lagi bisa dikondisikan.


“Siapa ... siapa mereka?” Alana berusaha menelan salivanya. Keringat berkucur deras membasahi gaun indah yang malam itu ia kenakan. Bibirnya yang semula merah sudah membiru karena kedinginan. Angin malam itu memang sangat kencang.


“Aku tidak tahu,” ucap Kwan sambil memandang wajah lelah Alana. Pria itu menggeleng pelan sebelum berjongkok di depan Alana. “Naiklah,” pintah Kwan agar Leona naik di belakang tubuhnya. Pria itu ingin menggendong Alana agar bisa segera tiba di tempat mobilnya saat ini parkir.


Alana menggeleng pelan sebagai pertanda menolak. “Aku tidak mau. Tubuhku berat walau aku terlihat kecil,” ucap Alana dengan wajah memerah karena malu.

__ADS_1


“Tidak ada waktu lagi!” ucap Kwan masih tetap memposisikan dirinya agar Alana bisa naik. Namun, belum sempat Alana melakukan pergerakan apapun. Dua pria yang sempat mengejar mereka telah mengeluarkan senjata api dan mengarahkannya ke arah Alana dan Kwan berdiri.


DUARR DUARR


Tiba-tiba suara tembakan itu kembali terdengar. Tepat di samping Alana berdiri. Wanita itu terlihat sangat syok sebelum melompat ke atas punggung Kwan. Dengan gerakan cepat, Kwan berlari lagi melanjutkan aksi kaburnya yang sempat tertunda.


Alana melingkarkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri bahu Kwan. Wanita itu memejamkan mata karena takut mendengar suara tembakan yang kini mengejarnya. Kepalanya ia benamkan di leher jenjang milik Kwan. Aroma tubuh pria itu tercium dengan jelas di hidung Alana. Wanita itu merasa sangat tenang dan terlindungi ketika berada di dekat Kwan. Bahkan merasa di sayang dan di perhatikan.


DUARR.


Alana belum menyadari luka pada lengan Kwan. Karena merasa sangat takut, Alana memejamkan mata dan tidak mau memberi celah kepada matanya untuk melihat. Satu tangannya merema*as kuat lengan Kwan. Tepat di luka tembak yang baru saja di terima Kwan.


Kwan melirik lengannya yang tiba-tiba saja merasa sangat sakit. Pria itu hanya bisa diam ketika melihat tangan Alana mencengkran tangannya dengan gemetar. Wanita itu benar-benar ketakutan.


“Apa ini? Kenapa hatiku sangat sakit ketika melihatnya ketakutan seperti ini. Bahkan luka yang kini aku alami tidak ada rasa sakitnya sedikitpun,” gumam Kwan di dalam hati.

__ADS_1


Suasana di lokasi tersebut berubah hening. Hanya ada dua tubuh pria yang sudah tidak bernyawa di hadapan Kwan dan Alana. Dari kejauhan, terdengar suara sirine polisi. Alana mulai membuka matanya. Wanita itu merasa kalau keadaan sudah aman. Setelah melihat dua pria yang tadi muncul tewas. Alana turun dari gendongan Kwan.


“Apa kita sudah selamat?” ucap Alana pelan.


Kwan mengukir senyuman. “Ya. Kita selamat,” jawab Kwan dengan suara pelan.


Alana merasa basah pada tangannya. Seperti ada cairan yang baru saja ia pegang. Wanita itu mengangkat satu tangannya ke atas. Ia memperhatikan cairan merah segar yang memenuhi telapak tangannya. Tangan Alana gemetar saat menyadari kalau cairan segar itu darah!


Kwan mengambil sapu tangan. Pria itu membersihkan tangan Alana dengan ketulusan dan sangat lembut. Wajahnya terlihat sangat tenang walau kini ada darah di lenganya yang terus saja berkucur deras.


“Kwan,” ucap Alana dengan suara serak. Wanita itu memandang luka tembak pada lengan Kwan. Wajahnya terlihat khawatir. “Ayo kita ke rumah sakit.”


“Tidak perlu. Aku bisa mengobatinya. Mama dan Papa pernah mengajariku cara mengeluarkan peluru ini,” jawab Kwan.


Alana menggeleng pelan. “Tidak bisa. Ayo sekarang ikut denganku ke rumah sakit.” Alana menarik pergelangan tangan Kwan. Wanita itu menarik paksa Kwan menuju ke arah mobil. Ia terlihat tidak peduli dengan penolakan Kwan. Malam itu yang dipikirkan Alana hanya keselamatan Kwan saja.

__ADS_1


__ADS_2