
Setibanya di halaman parkir apartemen, Oliver segera turun dan membukakan pintu belakang. Katterine turun dengan kepala menunduk. Wajahnya masih terlihat sedih. Ini adalah pacaran pertamanya. Bahkan pria pertama yang bisa di bilang cinta pertamanya juga. Ia tidak bisa semudah itu menganalisa apa yang ia lihat. Walau hati kecilnya bicara tidak mungkin Oliver melakukan semua itu.
"Katterine ...." Oliver masih berjuang keras untuk membujuk Katterine. Baginya ini jauh lebih sulit jika dibandingkan ketika mereka belum pacaran. Oliver merasa memiliki tanggung jawab karena sudah membuat wanita itu menangis.
Mungkin biasanya setiap kali Katterine meneteskan air mata ia selalu beranggapan kalau Katterine adalah wanita manja yang cengeng. Tapi tidak sekarang. Pria itu tidak mau memvonis kekasihnya manja karena ia tahu ada penyebab yang begitu melukai hatinya.
Katterine mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Oliver dengan mata merahnya. Oliver menyentuh sudut mata Katterine dan menghapus sisa air matanya.
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu ... percayalah padaku. Pria di dalam foto itu bukan aku. Bukankah sekarang ada banyak cara untuk mengedit foto?"
"Aku berpikir seperti itu sebelumnya. Tapi, ketika aku melihat videonya ...." Katterine memalingkan wajahnya dan berjalan pergi. Langkahnya tidak teratur. Tubuhnya terasa tidak bertenaga. Selain belum sarapan, wanita itu kehilangan banyak energi setelah menangis.
"Video?" Oliver mengejar Katterine. Tanpa banyak kata pria itu mengangkat tubuh Katterine dan menggendongnya dengan sempurna. Ia menatap wajah Katterine sejenak sebelum berjalan menuju lift.
Katterine yang sudah kelelahan marah-marah hanya bisa pasrah. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya. Sesekali air matanya masih terlihat membasahi pakaian yang dikenakan Oliver pagi itu.
"Kepalaku pusing," ucap Katterine lirih.
Oliver masuk ke dalam lift. Di dalam lift ia memeluk tubuh Katterine. Pria itu benar-benar sedih. Seperti ini rasanya jatuh cinta. Oliver tidak bisa mengabaikan perasaan Katterine begitu saja seperti sebelumnya.
"Aku akan mengobatinya. Jangan menangis lagi."
__ADS_1
Katterine memejamkan matanya. Ia merasa mengantuk, pusing, mual. Semua rasa sakit seakan melebur menjadi satu. Ia lelah. Berada di dekapan Oliver seperti itu membuat keadaannya jauh lebih baik. Walau terkadang masih ada rasa ingin marah dan memukul pria itu.
Setibanya di dalam kamar, hal yang pertama kali dilihat oleh Oliver adalah laptop yang berserak di lantai. Tapi ia tidak mau melakukan tindakan apapun. Oliver berjalan dengan tenang menuju ke kamar. Ia meletakkan Katterine di atas tempat tidur dengan hati-hati.
"Aku akan mengambilkan minum hangat untukmu." Oliver menjauhkan tubuhnya. Tapi belum sempat ia berdiri sempurna, Katterine sudah memegang lengannya untuk mencegahnya pergi.
"Jangan khianati aku! Aku benar-benar mencintaimu. Aku ... aku ...."
Oliver kembali duduk. Ia menarik tubuh Katterine dan memeluknya dengan erat. Ia harus menenangkan wanita itu sebelum pergi ke dapur.
"Ada satu hal yang bisa kau lalukan agar kau kembali tenang dan percaya padaku."
Katterine mengangkat kepalanya dan menatap wajah Oliver dengan begitu serius. Ia bertanya sebenarnya apa yang di maksud Oliver. Namun kalimat itu tidak terucap hanya tersirat melalui tatapan saja.
"Kau wanita yang pertama kali memiliki bibirku. Jika memang aku sebrengsek itu! Kau tidak lagi menjadi wanita pertama yang berhasil menyentuhnya."
Kalimatnya yang dikatakan Oliver membuat Katterine jauh lebih tenang. Sedikit demi sedikit rasa percaya itu kembali muncul. Ia mengangguk pelan dan memeluk Oliver lagi. Namun bukan semakin tenang justru tangis wanita itu pecah.
"Maafkan aku. Seharusnya aku percaya padamu. Aku tahu kalau ada orang yang tidak suka dengan hubungan kita, maka dari itu dia membuat video itu. Mungkin aku salah lihat. Mungkin pria di dalam video itu bukan dirimu."
Oliver semakin penasaran dengan video yang di maksud Katterine. Ia mengusap rambut wanita itu berharap agar tangisnya segera berakhir.
__ADS_1
"Aku akan segera menemukan kebenarannya. Percayalah padaku. Semua tidak bisa aku lakukan jika kau tidak lagi percaya padaku."
"Aku percaya padamu. Maafkan aku."
Oliver bisa menarik sudut bibirnya lagi. Ia harus menjadi pria lembut detik ini. Sikapnya mencair ketika dihadapkan dengan situasi yang tidak terduga seperti itu.
"Apa kau sudah sarapan?"
"Belum. Tadinya aku ingin sarapan denganmu di luar."
Oliver diam sejenak. "Baiklah, kalau begitu kita sarapan di sini saja. Aku akan ke dapur dan masak sesuatu. Tetaplah di sini dan jangan banyak bergerak."
Katterine hanya mengangguk setuju tanpa mau menjawab. Oliver menarik selimut untuk menutup sebagian tubuh wanita itu. Ia mengacak rambut Katterine sebelum pergi meninggalkan kamar.
Oliver memandang laptop Katterine bersamaan dengan gerakannya menutup pintu kamar. Ia menatap tajam barang-barang yang ada di sana. Oliver juga melihat kotak yang tergeletak di atas meja. Ia duduk di sofa tepat di posisi Katterine duduk sebelumnya. Mengambil kembali laptop Katterine yang ternyata masih bisa digunakan.
Dengan tatapan yang sangat tenang, Oliver memperhatikan video yang berisikan wajahnya sendiri. Detik itu ia paham bagaimana yang dipikirkan dan dirasakan oleh Katterine. Bahkan jika dirinya seorang wanita, ia mungkin juga akan merasakan hal yang sama.
Oliver memperhatikan video itu dengan saksama. Ia masih tidak habis pikir bagaimana bisa ada orang yang bisa memiliki wajah dan suara yang sama dengannya. Ia memperhatikan postur tubuh pria itu dengan begitu serius. Oliver memperlambat durasi videonya hingga akhirnya menemukan sebuah tato di lengan kanan pria itu.
Oliver sudah mengantongi petunjuk walau hanya sedikit. Ia melepas flashdisk itu dan memasukkannya ke dalam saku untuk kembali menyelidikinya. Ia harus tahu di mana video itu di buat. Setelah selesai dengan video, Oliver memandang kotak yang ada di hadapannya. Ia memeriksa kotak tersebut. Bahkan memperhatikan tulisan tangan yang ada di sana. Ia yakin untuk menyelidiki siapa pengirim kotak itu akan sangat mudah baginya.
__ADS_1
Oliver kembali ingat dengan Katterine. Pria itu berjalan ke dapur untuk memasak sesuatu yang bisa mereka makan sebagai menu sarapan. Oliver tidak mau Katterine sampai jatuh sakit. Apapun akan ia lakukan asal wanita itu tetap bisa tersenyum dan dalam keadaan sehat.
"Bisa-bisanya aku masak untuk Katterine," gumam Oliver di dalam hati. Pria itu menggeleng tidak percaya dengan tingkah lakunya sebelum mengumpulkan bahan yang ia temukan di kulkas.