Lady Of Mafia

Lady Of Mafia
S2 Bab 10


__ADS_3

Keesokan harinya. Katterine bersiap-siap untuk pergi melakukan kegiatan pagi ini. Semalam ia telah gagal karena seharian mengganggu Oliver di markas Gold Dragon. Aroma sampo dan sabun yang ia kenakan masih bisa tercium dengan jelas. Katterine memandang pantulan wajahnya di cermin dengan penuh percaya diri. Senyum mengembang indah dari bibirnya yang baru saja di beri sentuhan lipstik.


"Semoga hari ini jauh lebih baik dari semalam." Katterine meletakkan perlengkapan make up-nya kembali ke laci. Ia memeriksa isi di dalam tasnya sekali lagi. Memastikan kalau ponselnya sudah ada di dalam tas. Setelah semua tertata rapi, Katterine meletakkan tasnya di lengan dan berjalan ke arah sofa. Kali ini ia ingin memakai sepatu tinggi favoritnya.


Oliver muncul di kamar Katterine secara tiba-tiba. Pria itu memandang wajah Katterine sekilas sebelum membuka gorden yang sejak tadi masih tertutup. Kamar itu jadi terlihat gelap karena Katterine tidak membuka gordennya.


"Cahaya matahari sangat bagus untuk kesehatan. Kenapa kau bersembunyi dari cahaya?" ucap Oliver tanpa memandang. Ia menikmati cahaya matahari yang menghangatkan tubuh dan pemandangan indah dari atas gedung.


"Aku tidak bersembunyi. Hanya saja, tadi aku bangun kesiangan jadi tidak sempat membuka gordennya. Bahkan pagi ini sarapan saja aku tidak sempat." Katterine beranjak dari sofa. Ia memandang punggung Oliver dengan tatapan serius.


"Aku harus pergi." Tanpa mau banyak basa-basi, Katterine melangkah pergi meninggalkan Oliver sendirian di dalam kamarnya. Ia tidak mau berdebat hal apapun dengan Oliver pagi ini. Jadwalnya benar-benar padat.


Setibanya di depan apartemen, Katterine di kagetkan dengan kemunculan Roberto. Pria itu terlihat tidak baik. Wajahnya memerah. Matanya juga terlihat lelah dan ada kantung mata yang begitu gelap di bawah matanya. Pria itu seperti sedang depresi. Ia menatap wajah Katterine dengan tatapan yang tidak sama seperti sebelumnya.


Pakaiannya terlihat tidak rapi. Dua kancing di kemejanya terbuka hingga memamerkan dada bidangnya. Rambutnya acak-acakan. Walau belum berbicara, bisa tercium jelas aroma alkohol yang ia teguk semalaman.


"Robert, apa kau baik-baik saja?" Katterine bingung ketika melihat penampilan Robert yang berbeda jauh dari biasanya. Pria itu menatapnya dengan sendu. Ada kesedihan yang ingin ia ceritakan kepada Katterine.


"Katterine, aku membutuhkanmu. Aku-" Belum sempat Robert menyelesaikan kalimatnya, pria itu segera menarik Katterine dan memeluknya erat. Ia menenggelamkan kepalanya di rambut tergerai Katterine. Pelukannya sangat erat seolah ingin meremukan tubuh Katterine yang kecil.


"Apa salahku hingga ...." Pria itu menangis senggugukan. Ia terlihat sedih. Benar-benar sedih.


Katterine berusaha melepas pelukan Robert. Pelukan pria itu membuatnya susah bernapas. Bukan itu saja, ia juga merasa tidak nyaman dengan aroma Alkohol yang keluar dari mulut Robert.


"Lepaskan aku dulu. Kita bisa bicarakan baik-baik. Tidak harus seperti ini. Robert, lepaskan."


Tiba-tiba saja tubuh Robert tertarik ke belakang. Pelukan pria itu terlepas seketika. Katterine melebarkan kedua matanya ketika melihat orang yang sudah menjauhkan Robert adalah Oliver.


BRUAKK


Satu pukulan mendarat cantik di pipi Robert. Tidak cukup di wajah. Oliver juga memberi sarapan pagi kepada pria itu dengan pukulan di perut. Robert merasakan sakit yang luar biasa. Ia memejamkan kedua matanya sambil tersenyum pahit.

__ADS_1


"Berani sekali kau menyentuhnya!" Oliver kembali menarik pakaian pria itu. Ia memberi pukulan hingga wajah pria itu dipenuhi dengan luka-luka.


Katterine yang merasa tidak tega segera berteriak. Ia memegang lengan Oliver agar segera menghentikan pukulannya.


"Oliver, sudah Oliver. Jangan pukul dia lagi, dia bisa mati."


"Kau membelanya?" Oliver tidak peduli dengan perkataan Katterine. Ia kembali memukul Robert hingga pria itu terduduk di lantai dan tidak bisa bangkit lagi. Ketika Oliver berjalan maju ingin mendekati Robert, Katterine memeluk Oliver dari belakang. Ia tidak mau Robert benar-benar mati di tangan Oliver hari ini. Kesalahan pria itu tidak fatal. Hanya memeluk karena dalam keadaan tidak sadar saja.


"Sudah, aku mohon!" lirih Katterine dengan suara ketakutan. Emosi Oliver mulai meredam Tangannya yang terkepal kuat mulai terlepas. Ia menatap wajah Roberto dengan tatapan kebencian.


Bersamaan dengan itu, pasukan Gold Dragon muncul. Mereka memandang Roberto yang hampir tidak sadarkan diri.


"Singkirkan pria ini. Aku tidak mau melihatnya muncul di hadapanku lagi!"


"Baik, Bos." Mereka semua segera melaksanakan perintah Oliver. Robert dengan tatapan berkabut memandang wajah Katterine dan tersenyum pahit. Ia merasa sakit yang sangat luar biasa pada sekujur tubuhnya.


"Oliver ...." Katterine melepas pelukannya. Ia menatap punggung Oliver. Bisa terlihat jelas bagaimana pria itu bernapas dengan cepat. Emosinya masih ada dan belum hilang total.


Oliver memutar tubuhnya dan menatap wajah Katterine dengan tajam. Tanpa banyak kata ia memegang pergelangan tangan Katterine dan membawanya masuk ke apartemen. Katterine yang memakai sepatu tinggi kesulitan mengikuti jejak kaki Oliver pagi itu.


Oliver berjalan cepat menuju ke kamar. Ia mendorong kamar itu begitu saja dan membawa Katterine berjalan menuju kamar mandi. Katterine semakin kebingungan.


"Oliver, apa yang mau kau lakukan?"


Oliver merebut paksa tas Katterine dan melemparkannya ke sofa. Ia melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke kamar mandi. Setelah tiba di dalam kamar mandi, ia menghidupkan air hangat. Oliver mendorong tubuh Katterine hingga wanita itu basah di bawah pancuran shower.


"Oliver, kenapa kau melakukan ini? Aku susah mandi!" protes Katterine dengan wajah tidak terima.


Oliver tidak peduli. Ia mengambil sabun cari dan memberikan sekujur tubuh Katterine dengan sabun. Tidak peduli dengan gaun yang masih melekat pada tubuh wanita itu. Emosinya benar-benar tidak bisa dikendalikan. Ia cemburu melihat Katterine di peluk oleh pria lain seperti tadi.


"OLIVER!"

__ADS_1


PLAAKKK


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Oliver. Dengan napas terputus-putus, Katterine mengepal tangannya yang baru saja ia gunakan untuk menampar wajah pria itu. Pria yang sangat ia cintai. Tingkah laku Oliver memang membuatnya frustasi hingga akhirnya ia tega melukai Oliver seperti itu.


"Kenapa? Kenapa kau begitu jahat kepadaku? Ke apa kau melakukan semua ini?" ucap Katterine dengan mata memerah karena ingin menangis. Antara takut dan sedih. Katterine tidak menyangka kenapa pagi ini ia harus mendapatkan hal buruk seperti ini.


"Aku tidak mau aroma tubuh pria lain melekat di tubuhmu." Oliver memandang Katterine tanpa berkedip. Ia memandang sekujur tubuh Katterine yang kini basah kuyup. Hatinya mulai tidak tega. Oliver mematikan kran air dan pergi ke arah meja untuk mengambil handuk.


"Ganti pakaianmu dengan yang kering. Kau bisa sakit karena ini." Oliver menutup tubuh Katterine dengan handuk.


Katterine menatap kedua mata Oliver tanpa tahu mau berkata apa lagi. Jawaban pria itu sungguh mencengangkan hingga membuat Katterine kehabisan kata-kata.


"Maafkan aku." Oliver mengusap pipi Katterine dan memutar tubuhnya.


"Tunggu!"


Katterine memegang tangan Oliver menariknya hingga pria itu kembali berbalik. Menatapnya dengan tatapan bingung.


"Kau marah jika ada pria lain yang perhatian padaku. Kau bahkan sampai harus emosi ketika ada pria lain yang menyentuh tubuhku. Oliver, katakan padaku. Katakan kalau kau mencintaiku. Aku juga mencintaimu. Kita tidak perlu seperti ini jika saling mencintai. Katakan Oliver. Akui perasaanmu."


Oliver memandang wajah Katterine dengan napas terputus-putus. Ia harus meredam emosinya dan menganalisa kalimat Katterine. Itu sangat sulit bagi pria seperti Oliver. Apa lagi ini harus membahas soal cinta. Ia sendiri tidak tahu apa itu cinta.


"Please. Jangan tutup hatimu. Kau harus memahami apa yang kau rasakan." Katterine memegang dada Oliver. Ia mengusapnya dengan lembut.


"Apa cinta harus dikatakan?"


Katterine mengangkat kepalanya dan menatap wajah Oliver dengan senyuman. "Ya, walau sekali saja. Sisanya jangan katakan lagi. Biar aku yang setiap detiknya mengatakan kalau aku mencintaimu."


Oliver memeluk tubuh Katterine dengan erat. Wanita itu kedinginan karena ulahnya. Ia memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya di rambut Katterine yang basah. Seperti apa kata Katterine, kali ini Oliver berbicara dengan hatinya dan menanyakan sebenarnya perasaan seperti apa yang ia rasakan.


"Ya, aku mencintaimu Katterine. Sangat mencintaimu."

__ADS_1


Katterine memejamkan kedua matanya. Bersamaan dengan itu tetes air matanya jatuh di baju Oliver yang kering. Ia tidak menyangka kalau setelah sekian lama kalimat berharga itu terucap juga di bibir Oliver. Katterine sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi. Ia terlalu bahagia hingga ingin menangis.


"Terima kasih. Terima kasih, Oliver. Aku sangat mencintaimu ... terima kasih karena sudah membalas cintaku."


__ADS_2