
"Ini sangat mustahil. Bagaimana bisa kita membunuh Raja dan Ratu Cambridge. Bahkan untuk melukai anaknya saja sulit apa lagi harus menyentuh orang tuanya!" Lusya memandang wajah Pieter yang kini ada di sampingnya. Sebenarnya ia ingin protes sejak tadi. Namun keberaniannya tidak ada jika ia berada di depan Pangeran Martin.
"Apa kau bisa diam? Kau sangat berisik!" protes Pieter tidak suka.
"Pieter, sejak awal Pangeran Martine meminta kita untuk mencari informasi tentang Cambridge. Hanya itu."
"Kau lupa kalau kau sudah jatuh cinta pada Pangeran Jordan? Lusya ... itu salah satu hal yang membuktikan kalau kau berkhianat."
"Bagaimana bisa kau menuduhku berkhianat?"
"Kau jatuh cinta pada musuh kita. Itu berarti kau seorang pengkhianat!" Pieter menambah laju mobilnya.
"Musuh kita kedua orang tua Pangeran Jordan. Kenapa kau katakan aku berkhianat? Tidak ada yang salah di sini."
"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba saja Pangeran Martine memutuskan untuk membunuh Pangeran Jordan? Kau akan tetap mencintainya? Lusya, kau lupa kalau Pangeran Jordan telah menikah. Dan Leona ... kau pikir dia wanita yang seperti apa? Wanita lemah yang hanya tahi harta sepertimu? Leona berasal dari keluarga yang kuat. Melukainya sama saja membuat semua orang yang ada didekatnya tidak bisa diam saja. Maka dari itu Pangeran Martine selalu memperingati kita untuk selalu hati-hati."
Lusya diam seribu bahasa ketika Pieter mengeluarkan sebuah kenyataan yang sebenarnya. Ia langsung menunduk dengan wajah bingung. Sejauh ini memang hubungan dirinya dan Lusya baik-baik saja. Tidak! Sebenarnya hanya terlihat baik-baik saja namun kenyataannya tidak sama.
Lusya sangat iri dengan kehidupan Leona yang nyaris sempurna. Wanita itu memiliki harta dan kakak kandung yang begitu mengistimewakannya. Hal itu terkadang membuat Lusya cemburu dan iri. Walau setiap kali ada di dekat Lusya, Leona selalu saja bersikap baik.
"Apa kau sudah menyuruh pelayan itu untuk memasukkan racun tersebut ke dalam makanan Ratu Emelie?"
__ADS_1
"Sudah. Racunnya mulai bereaksi. Dia bilang keadaan Ratu Emelie semakin memburuk setiap harinya. Wanita itu jadi sering tidur."
"Baik. Katakan pada pelayan itu untuk tetap hati-hati."
Lusya hanya diam sambil memandang keluar jendela. Ia termenung dengan wajah bingung. Saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti perintah Pangeran Martin dan Pieter.
"Ini semua terasa semakin rumit. Oh iya, bukankah Leona dan Jordan sedang dalam masa program kehamilan? Sepertinya akan sangat seru jika aku memberikan racun kepada makanan Leona. Dia tidak akan bisa memiliki keturunan. Dengan begitu, tanpa susah-susah menyingkirkannya. Aku yakin Jordan akan meninggalkannya," gumam Lusya di dalam hati. Wanita itu tersenyum licik ketika menemukan ide baru buat menghancurkan hidup Leona.
***
Di sisi lain, Pangeran Martine telah tiba di Monaco. Ia tidak mau pihak kerajaan Cambridge menyadari keadaannya dan mengaitkannya dengan semua masalah yang ada. Bagaimanapun juga Pangeran Martine ingin semua rencananya berlangsung tanpa ada yang tahu kalau ia terlibat di dalamnya.
"Pangeran, kau sudah kembali?"
"Dad ... apa kabar?" jawab Pangeran Martine dengan senyuman hangat.
"Seperti yang kau lihat." Pria itu menunjukkan tubuhnya yang kini ada di kursi roda.
"Angin di sini sangat kencang. Untuk apa Daddy berada di luar?"
Pria itu hanya tersenyum sambil memandang ke arah langit.
__ADS_1
"Martine, kau ingat cerita yang pernah Daddy katakan?"
"Soal Adik Daddy yang bernama Damian?"
"Kau ini sungguh tidak sopan. Panggil dia pangeran Damian!" protesnya tidak suka.
"Ya, Pangeran Damian!" Pangeran Martine duduk di salah satu kursi yang ada di dekat ayah kandungnya.
"Setelah dia dan wanita yang ia cintai tewas, istana Cambridge terlihat sangat bahagia. Mereka benar-benar orang yang jahat."
Pangeran Martine mengangguk pelan. Ia sudah dengar cerita detail dari ibu kandungnya. Jadi, kali ini ia tidak perlu mendengarkannya lagi. Pangeran Martine beranjak dari tempatnya.
"Saat Daddy terbangun dari koma Daddy yang begitu panjang. Daddy mendapat kabar kalau adik Daddy tewas di tangan orang lain. Itu sangat menyakitkan Martine!" Pria itu terlihat sedih ketika mengenang adik kandungnya. Walau memang hubungan dirinya tidak baik dengan Damian. Tapi ia begitu luka ketika mendengar kabar kalau Damian tewas terbunuh.
"Dad, tenanglah. Karma akan berlaku. Mereka pasti akan mendapatkan balasannya. Daddy tenang saja."
Pria itu hanya menggeleng pelan. "Tidak Martine. Kau tidak tahu bagaimana keluarga mereka. Mereka sangat kuat. Sebaiknya jangan usik ketenangan mereka."
Martine melipat kedua tangannya di depan dada. Ia melihat kepergian ayah kandungnya dengan tatapan penuh arti.
"Maafkan aku, Dad. Tapi aku akan membuat mereka hancur. Aku yakin Daddy akan bangga padaku nanti!"
__ADS_1