
Jordan membuka mata saat merasakan tempat tidur yang ia tiduri berisik. Bahkan selimut yang menutupi tubuhnya juga bergerak tidak menentu arah. Dengan mata yang masih berat, Jordan memaksa kedua matanya agar tetap terbuka. Matanya mengerjap dengan tatapan tidak percaya.
Langit masih gelap. Jam juga masih menunjukkan pukul empat pagi. Mereka baru tidur tiga jam, tapi kini Leona sudah terbangun dan duduk sambil mencari-cari sesuatu. Jordan mengeryitkan dahi saat melihat istri tercintanya tidak terlelap. Pria itu duduk untuk menanyakan penyebab Leona terbangun sepagi itu.
“Baby girl, ada apa? Apa yang kau cari?” ucap Jordan pelan. Suaranya juga masih belum jelas. Tenggorokannya kering.
“Ini tidak mungkin,” ucap Leona dengan wajah panik. Bahkan wanita itu menarik selimut yang menutupi tubuhnya dan Jordan lalu melemparkannya kepermukaan lantai.
“Apanya yang tidak mungkin? Sayang, apa yang kau lakukan?” protes Jordan lagi. Pria itu segera turun untuk mengambil baju Leona. Ia menutup tubuh istrinya yang polos.
“Aku tidak pernah melakukannya pada siapapun,” ucap Leona dengan wajah sedih.
Bahkan kedua matanya berkaca-kaca. Dengan wajah kecewa, Leona menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tadi malam memang Jordan tidak pernah membahas masalah keperawanan Leona. Ia hanya bersorak di dalam hati tanpa diketahui oleh Leona. Tapi, kini saat istrinya membahas masalah itu lagi, ia merasa ada yang aneh.
__ADS_1
Jordan semakin bingung. Pria itu duduk di pinggiran tempat tidur dan menarik tubuh Leona ke dalam pelukannya. “Ada apa, Sayang? Katakan padaku? Apa yang sebenarnya membuatmu sedih?” ucap Jordan dengan penuh kasih sayang.
“Bukankah katanya setiap malam pertama akan ada darah yang menandakan kalau wanita itu masih perawan?” tanya Leona. Wanita itu menatap wajah Jordan untuk menagih satu penjelasan.
Jordan mengangguk ragu. “Ya, tapi aku pikir itu hanya mitos saja.”
“Sayang ...,” ucap Leona lembut. Wanita itu memegang tangan Jordan dan menatap wajah Jordan dengan seksama. “Aku sangat yakin, kalau kau pria pertamaku. Aku tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu dengan pria lain. Zean juga tidak sempat melakukan hal itu padaku saat itu. Sayang, kau harus percaya padaku.”
Jordan menaikan satu alisnya. Sebenarnya ia masih ingin tidur dan melanjutkan mimpi indahnya. Pagi itu, ungkapan hati istrinya justru membuatnya ingin tertawa geli. Jordan yang tadinya ingin tidur lagi juga sudah mengurungkan niatnya.
“Sayang ....” Leona menarik lengan kekar Jordan dan bergelayut manja di sana. “Aku serius. Ini menyangkut reputasiku di hadapanmu.”
Jordan tertawa lagi. Pria itu menarik tangan Leona dan meletakkan tubuh wanita itu di dalam pelukannya. “Kau wanita yang sangat istimewa. Tidak ada yang perlu di pusingkan. Aku akan menanyakan masalah ini kepada Daddy besok. Aku berpikir kalau kau memang masih perawan. Itu ... terasa rapat,” bisik Jordan mesra.
__ADS_1
Pipi Leona berubah merah. Wanita itu sangat malu ketika mendengar perkataan Jordan barusan. “Jangan. Aku akan jauh lebih malu jika kau menanyakan hal ini kepada Daddy Zeroun. Biar aku saja yang menanyakan hal ini kepada Mama Serena,” bantah Leona dengan wajah yang serius.
“Ya. Ide yang bagus. Aku harap jawabannya bisa membuatmu menghilangkan pikiran aneh ini,” ucap Jordan sambil mengusap rambut Leona dengan mesra.
“Bagaimana kalau jawabannya tidak sesuai harapan?” tanya Leona dengan ragu-ragu.
“Aku tidak peduli. Saat ini yang memenuhi pikiranku hanya satu. Wanita yang sangat aku cintai telah menjadi milikku seutuhnya. Ia sudah menyerahkan jiwa dan raganya kepadaku. Aku berjanji untuk menjaganya seumur hidupku. Membuatnya bahagia dan tidak akan pernah membiarkannya meneteskan air mata kecewa dan ketakutan lagi.” Jordan mengusap kedua sisi pipi Leona.
“Ehm ... sayang. Kenapa kau semakin so sweet setelah menikah. Aku terus saja melayang saat mendengar perkataanmu,” ucap Leona dengan senyuman bahagia.
Jordan dan Leona saling berpelukan. Mereka mengukir senyuman bahagia saat membayangkan perjalanan hidup yang pernah mereka lalui berdua. Sangat menegangkan dan dipenuhi emosi. Leona sendiri tidak menyangka kalau ia pernah berada pada titik seperti itu.
“Sudah hampir pagi, ayo kita lanjutkan tidur lagi sebelum matahari muncul,” ucap Jordan sambil membawa Leona berbaring di atas tempat tidur. Pria itu mendaratkan kecupan sayangnya di pucuk kepala Leona. “I love you, Baby girl.”
__ADS_1
“I love you to ....”
Jordan mengukir senyuman khasnya sebelum berbaring di samping Leona. Ia menarik selimut dan menutup tubuh istrinya lagi. Memeluk wanita itu dengan erat agar Leona tidak bisa menjauh darinya sampai ia terbangun besok pagi.