
Leona berjalan cepat menuju ke arah depan rumah Jordan. Wanita itu berdiri di depan sambil memandang beberapa pengawal yang menjaga rumah tersebut. Wanita itu menghela napas. Ia berpikir keras. Kali ini Leona tidak ingin gagal lagi kabur dari rumah pria asing yang mengurungnya.
“Aku sudah bilang, kau tidak bisa kabur dari tempatku tanpa izin dariku, Baby Girl,” ucap Jordan dari arah belakang. Pria itu berjalan dengan santai mendekati posisi Leona berdiri. Setelah berada dekat dengan Leona, Jordan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Ia mengukir senyuman sambil memperhatikan wajah Leona saat itu.
Leona memutar tubuhnya. Wanita itu menatap wajah Jordan dengan tatapan tidak suka. “Berikan aku kunci mobil. Kau yang membawaku ke sini. Kau harus bertanggung jawab. Ada pertemuan penting yang harus aku hadiri hari ini juga. Jangan menghalangiku,” ucap Leona dengan wajah yang serius. Sebenarnya pertemuan penting itu akan berlangsung besok. Tapi, Leona tidak ingin terlalu lama berada di dekat Jordan.
Jordan memandang wajah pengawal yang berdiri tidak jauh dari posisi Leona. Pria itu memberi kode agar pengawalnya memberikan kunci mobil dari salah satu koleksi mobil yang ada dihalaman depan.
“Kau harus bisa menjaga dirimu. Sepertinya orang-orang yang menembakmu semalam masih terus mencari keberadaanmu saat ini,” ucap Jordan dengan wajah yang serius.
Leona menerima kunci mobil tersebut. Tanpa mau mengucapkan salam perpisahan dan ucapan apapun kepada Jordan, Leona berjalan menuju ke arah mobil. Wanita itu tidak ingin menundah waktu lagi. Ia ingin segera pergi menjauh dari rumah yang sudah mengurungnya satu malaman itu.
Leona membuka pintu mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil, Leona menatap wajah Jordan lagi. Wanita itu memperhatikan luka yang ada pada dahi Jordan. Sebuah luka yang berasal karena pria asing itu telah berani menolongnya.
“Siapa kau? Apa pedulinya kau dengan hidupku. Aku harap, ini pertemuan kita yang terakhir kalinya,” gumam Leona di dalam hati. Wanita itu masuk ke dalam mobil. Ia menghidupkan mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Tidak lagi peduli dengan beberapa pasang mata yang kini menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.
Jordan menghela napas. Pria itu terlihat lelah dengan pertikaiannya dengan Leona. “Wanita ini memang cukup sulit di taklukan. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku pastikan kau akan menjadi milikku, Leona,” ucap Jordan dengan wajah penuh keyakinan.
***
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Zean memeriksa beberapa senjata api yang baru saja tiba di markas besarnya. Pria itu terlihat sangat tidak bersahabat. Sorot matanya yang tajam memperhatikan beberapa peluru yang tersusun rapi di hadapannya. Ingin sekali Zean segera membunuh orang yang sudah mengusik ketenangannya di Meksiko.
“Bos, ini senjata terbaru yang anda pesan,” ucap salah satu pria dengan sorot mata yang tidak kalah tajam dari Zean.
Zean memandang senjata api itu sekilas sebelum memperhatikan deretan peluru yang ada di hadapannya. “Letakkan di sana,” perintahnya tanpa memandang.
Pria tersebut memperhatikan ke arah lemari yang menjadi tempat Zean mengoleksi senjata berharganya. Biasanya, sebelum menyimpan senjata api tersebut, Zean mencoba senjata itu lebih dulu. Bahkan tidak segan-segan untuk menjadikan orang yang tidak bersalah sebagai bahan percobaannya. Tapi, berbeda dengan reaksi pria itu saat ini.
Seperti tidak memiliki pilihan lain. Pria yang menjadi bawahan Zean itu berjalan ke arah lemari. Ia meletakkan senjata laras panjang itu dengan hati-hati di sana. Sekilas ia memperhatikan beberapa koleksi senjata api Zean sebelum menutup lemari kaca tersebut.
“Aku ingin keluar. Jangan ikuti aku,” ucap Zean sambil beranjak dari sofa yang ia duduki. Pria itu memakai jas abu-abu dan berjalan pergi meninggalkan ruangan kesayangannya itu. Tidak lagi memberi perintah apapun kepada beberapa bawahannya yang sejak tadi menunggunya.
Zean memperhatikan beberapa pengunjung sebelum berjalan ke arah pintu. Semua orang yang ada di toko roti itu tentunya orang-orang Zean. Mereka memperhatikan Zean dengan seksama sebelum melayani tamu yang datang untuk berbelanja.
Zean berjalan di pinggiran jalan raya. Seperti orang yang tidak memiliki tujuan hidup. Pria itu berjalan luntang-lantung. Sangat berbeda jauh dari sikapnya yang terlihat kejam dan menakutkan selama ini.
Setelah cukup lama berjalan, Zean duduk di sebuah kursi besi. Pria itu memperhatikan keadaan sekitar. Ia kembali ingat kalau di tempat itu ia pertama kali bertemu secara langsung dengan Leona bahkan merebut ciuman pertama wanita itu. Ada senyum kecil yang cukup indah di wajah Zean saat ia kembali mengingat memori indah itu lagi.
Siang itu, sepertinya takdir memang ingin mempertemukan Zean dan Leona lagi. Leona yang saat itu baru saja keluar dari toko melihat keberadaan Zean. Wanita itu memandang mobil yang terparkir tepat di depan kursi yang diduduki Zean. Sekilas, Leona berpikir kalau Zean pasti sengaja mengikutinya.
“Apa yang ia lakukan di sini?” ucap Leona pelan. Wanita itu berjalan cepat menuju ke mobil. Ia tidak terlalu ingin menatap wajah Zean. Bahkan saat lewat di hadapan pria itu juga Leona terlihat menganggapnya seperti orang asing.
__ADS_1
Zean yang saat itu melihat keberadaan Leona segera menarik tangan wanita itu. Ia menghentikan langkah Leona. Menatap wanita itu dengan jarak yang sangat dekat. Sorot matanya terlihat sangat sedih. Memang siang itu, Zean terlihat tidak bersemangat. Ia butuh sosok wanita yang bisa membuat hatinya tenang. Ia butuh sosok wanita yang bisa mengembalikan ketenangan di dalam hatinya.
“Leona, apa benar ini kau?” ucap Zean dengan suara lirih.
Leona menatap Zean dengan tatapan tidak terbaca. Tentu saja wanita itu tidak lagi bisa terbuai dalam rayuan Zean. Apa lagi perkataan Zean walau kini pria itu benar-benar tulus dengan perasaannya.
“Leona, bagaimana rasanya memiliki keluarga? Bagaimana rasanya memiliki ibu dan ayah?” ucap Zean lagi.
Deg. Leona mematung. Wanita itu tidak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan yang membuat jantungnya berhenti berdetak seperti itu. Bukan hanya jantungnya saja. Leona merasa napasnya berubah sesak. Wanita itu merasa sangat kasihan dengan Zean detik ini juga. Ia kembali memakai logika dan hatinya sebagai wanita.
Ya, memang sejak awal Leona sudah tahu kalau ibu kandungnya yang telah membunuh orang tua Zean. Tapi, bagi Leona. Dendam itu hanya berlaku di kalangan orang tua. Ia sebagai wanita yang tidak tahu apa-apa tidak pantas untuk mendapatkan perlakuan jahat dari Zean hingga separah itu.
“Leona, kenapa kau diam saja? Katakan padaku. Bagaimana rasanya memiliki orang tua? Apa kau bisa mengukir senyuman setiap saat? Apa kau bisa mengungkapkan isi hatimu padaku? Apa kau selalu di lindungi setiap kali berada dalam bahaya? Apa kau-”
“Lepaskan aku!” Leona memotong kalimat Zean. Wanita itu tidak ingin terhanyut dalam perasaannya lagi. Ia segera menghempas tangan Zean dan memutar tubuhnya. Kali ini Leona benar-benar harus berjuang keras untuk menguatkan hatinya. Ia tidak ingin melupakan dendamnya. Ia tidak ingin kembali pada masa lalunya yang kelam.
“Leona,” teriak Zean tidak terima. Pria itu memegang pergelangan tangan Leona dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Satu tangannya menahan pinggang Leona sebelum bibirnya mendarat dengan sempurna.
Zean tidak perduli dengan lingkungan tempatnya berdiri. Baginya, detik ini ia ingin Leona kembali kepadanya. Memaafkannya dan memulai semuanya dari awal lagi. Sosok yang selama ini memaksanya untuk membenci Leona juga tidak ada. Detik ini Zean telah bebas. Ia bebas menentukan kemana arah hidupnya selanjutnya.
Di sisi lain, Jordan menggenggam stir mobilnya. Pria itu sejak tadi memang mengikuti Leona. Bukan mendapatkan sesuatu yang membahagiakan justru Jordan mendapat pemandangan yang membuat mata dan hatinya terasa sakit. Dengan gigi saling menggertak, Jordan melajukan mobilnya. Meninggalkan Leona dan Zean yang masih terlihat bermesraan di sana. Tanpa mau tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Zean dan Leona.
__ADS_1