
Letty berjalan dengan langkah yang gusar menuju tempat tidur. Ketika sudah tiba di samping tempat tidur, wanita itu menjatuhkan tubuhnya di atas sana. Ia benar-benar kesal karena surat yang ia buat sedemikian rupa kini tidak sempat di baca oleh Lana. Letty sendiri tidak tahu ke mana surat itu pergi. Sebelum memberikan surat itu kepada Lana ia sudah memastikan kalau surat itu ada di dalam paper bag.
"Aku menulisnya hingga berulang kali. Bahkan selama ada di pesawat, hanya benda itu saja yang aku lihat. Kini saat sudah sampai pada tujuan, justru hilang. Benar-benar mengecewakan." Letty menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia benar-benar kesal malam itu.
"Mommy pasti bingung kenapa aku memberikan syal itu kepadanya. Hari ini bukan hari spesial mommy. Cukup aneh bukan ketika aku memberinya hadiah?"
"Tidak ada yang aneh."
Letty membuka kedua tangannya untuk melihat sosok yang sudah berani masuk ke kamarnya tanpa permisi dulu.
"Oliver?"
"Kakak!" protes Oliver sebelum duduk di atas tempat tidur yang sama dengan Letty.
Ketika Letty tiba di istana, Oliver melihat kedatangan Letty. Ia sempat ingin mengapa wanita itu lebih dulu. Tapi kelihatannya terlalu bersemangat menuju ke kamar Lana. Hingga akhirnya Oliver memutuskan untuk melihat dari kejauhan. Ia sendiri terlihat bahagia ketika melihat Letty memberikan hadiah kepada Lana.
Namun, Oliver juga bingung ketika akhirnya Letty tiba-tiba saja kembali ke kamar. Oliver melihat jelas ketika surat dari paper bag itu terjatuh di kaki Lana. Ia ingin memberi tahu, tapi tidak mau merusak suasana.
Hingga akhirnya Oliver mengamati Lana dari kejauhan. Ia tersenyum bahagia ketika Lana mengambil surat yang terjatuh. Bahkan ikut bahagia ketika Lana terlihat bahagia.
"Aku belum terbiasa memanggilmu kakak."
"Waktu itu kau sempat terbiasa. Kenapa sekarang tidak lagi."
"Aku aku sempat tidak suka memiliki kakak seperti dirimu."
"Hei, kau ini benar-benar adik yang durhaka." Oliver melempar wajah Letty dengan bantal.
"Aku berbicara apa adanya. Bukankah kau pria yang sok hebat? Merasa paling tampan hingga tidak pernah mau menerima cinta Putri manja itu."
"Jangan membahas soal aku dan Katterine. Kami sekarang sudah bersatu." Oliver menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memandang langit-langit kamar Letty dnegan bibir tersenyum.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Letty penasaran.
"Aku merindukanmu."
Letty menghela napas kasar. "Apa hal seperti ini yang kau dapat setelah berpacaran dengan Katterine?"
Oliver tertawa kecil. "Tidak. Aku ingin meminta bantuanmu, Letty."
"Bantuan? Ya ... cukup masuk akal. Kau memang pria yang merepotkan."
"Letty, bawa mommy kembali ke Hongkong dalam waktu dekat."
"Kau mengusir mommy?" protes Letty dengan kedua mata melebar.
"Tidak. Tidak seperti itu. Ada hal penting yang harus aku lakukan. Aku tidak mau mommy sedih ketika melihatnya."
"Jangan berbuat yang aneh-aneh. Aku memang tidak terlalu peduli denganmu sebagai kakakku. Tapi, jika kau terluka mommy Lana akan sedih."
"Ya. Aku tahu itu. Maka dari itu aku membutuhkan bantuanmu."
Kali ini wajah Letty kembali serius. Ia tahu kalau Oliver tidak sedang bercanda dengan ucapannya.
"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?"
"Aku bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana. Pieter mengajakku bertarung. Dia ingin membuktikan kalau dirinya hebat. Bahkan dia ingin aku terluka agar hatinya puas."
Letty tertawa meledek. "Hanya itu? Aku pikir juga masalah seperti apa. Aku tahu kau akan menang. Untuk apa dipikirkan? Aku sudah melihat kemampuan Pieter. Dia hanya berani di belakang layar. Kalau duel pasti tidak ada apa-apanya."
"Aku juga tahu itu. Tapi, aku ingin dia menang."
"WHAT? Apa kau sudah tidak waras?"
"Setelah jatuh cinta kepada Katterine, aku tahu bagaimana rasanya sakit kehilangan. Aku tidak akan membiarkannya hidup dalam kesedihan. Ketika dia melihatku kalah di arena pertarungan nanti, aku harap dia bisa memaafkan kesalahanku."
__ADS_1
"Tidak. Jangan seperti itu. Pertarungan tetap pertarungan. Kau tidak perlu mengalah!" Letty terlihat tidak setuju dengan keputusan Oliver.
"Maafkan aku karena tidak pernah mendengarkan perkataanmu. Bahkan detik ini. Tapi, memang ini yang harus aku lakukan. Setidaknya aku tidak merasa bersalah lagi kepada Pieter."
"Bagaimana dengan Katterine? Dia pasti akan terluka."
"Aku yakin, dia pasti sudah tahu dan sadar dengan resiko yang akan ia dapatkan jika dia memutuskan untuk mencintaiku."
Letty dan Oliver sama-sama membisu hingga beberapa menit. "Baiklah, aku akan membantumu. Aku akan membawa Mommy kembali ke Hongkong. Aku juga sangat merindukan kamarku di Hongkong."
Oliver tersenyum bahagia. "Terima kasih. Kau memang adikku."
"Ya ya. Jika ada mau nya kau menganggapku adik."
Oliver hanya tersenyum memandang wajah Letty. Pria itu beranjak setelahnya. "Tidurlah. Sudah malam. Ngomong-ngomong selera Miller oke juga. Kau pantas memakai gaun berwarna cerah seperti itu."
"Kau? Bagaimana bisa kau tahu?" teriak Letty hingga memenuhi isi kamar.
"Aku bahkan tahu ketika kau ada di penjara. Menurutmu, siapa yang meminta bantuan Miller agar datang menyelamatkanmu?" Oliver berjalan pergi meninggalkan kamar. Sedangkan Letty hanya diam di tempat tidurnya.
"Aku pikir memang takdir mempertemukan kami kembali. Ternyata semua sudah di atur oleh Kak Oliver. Sungguh menyebalkan. Kenapa tiba-tiba aku sakit hati?"
***
Waktu terus berlalu. Semua orang ada di meja makan untuk sarapan. Leona benar-benar bahagia dan tidak sabar dengan pernikahan Alana dan Kwan.
Setelah sarapan pagi itu berakhir, Leona kembali membahas perihal pernikahan Lana dan Kwan.
"Aku tidak akan membiarkan kalian pulang secepat ini. Tapi karena kalian bilang ingin mengurus pesta pernikahan, mau tidak mau aku setuju."
Kwan tersenyum. Ia juga belum puas hanya sebentar saja bertemu Leona. Tapi, mau bagaimana lagi? Pesta pernikahan semakin dekat. Kedua pengantin harus ada di rumah sebelum pesta itu berlangsung.
"Kak, setelah bulan madu aku dan Alana akan berkunjung ke sini."
"Ehm, baiklah. Aku akan membiarkan kalian pulang. Aku juga sudah tidak sabar untuk datang ke sana."
"Baiklah. Aku akan memintanya untuk datang bersama pasangan," jawab Leona penuh semangat.
"Pasangan? Apa Kak Aleo sudah punya pacar?"
Saat semua orang sibuk membicarakan pernikahan antara Kwan dan Alana, di sisi lain Aleo sedang menentukan hatinya. Ya, pria itu sudah lelah bermain dengan hatinya sendiri. Semakin hari ia semakin bingung. Ketika Clara sudah pergi dari Sapporo, pria itu mulai menentukan hatinya agar memilih Tamara.
Tapi, sepertinya takdir sangat suka mempermainkan perasaannya. Hari ini Clara kembali muncul untuk menemuinya. Aleo kembali bertarung dengan perasaannya agar tidak melukai salah satu wanita yang kini ada di hadapannya.
"Ruangan yang bagus. Kau benar-benar pemimpin yang sempurna. Sepanjang jalan semua orang menceritakanmu sebagai pemimpin yang murah senyum dan baik hati." Clara berjalan ke arah jendela untuk melihat pemandangan yang tersaji di sana. Ia terlihat sangat menikmatinya hingga menghirup udara segar dengan penuh penghayatan.
"Mereka terlalu berlebihan. Terkadang aku marah besar dan terlihat begitu menakutkan." Aleo meletakkan ponselnya di atas meja kerja.
Aleo tidak pernah menyangka kalau siang ini dia akan kedatangan tamu jauh. Sudah lama ia tidak bertemu dengan Clara. Sejak bisnis keluarga Clara mengalami masalah, Clara harus kembali pulang ke negaranya secara tiba-tiba.
"Kau pasti marah karena ada alasannya kan?" ledek Clara dengan bibir tersenyum.
Aleo tersenyum. Ia berjalan ke arah mini bar yang ada di dalam ruangannya. Pria itu mengambil dua gelas kopi dan ingin membuat kopi untuk dirinya dan Clara.
"Masih suka manis?" tanya Aleo sambil memasukkan kopi ke dalam gelasnya.
"Tidak. Aku ingin diet. Lihatlah tubuhku ini yang sudah hampir menyerupai truk." Clara berjalan mendekati Aleo. Ia merasa bahagia bisa bertemu Aleo lagi setelah beberapa waktu berpisah.
"Sejak dulu tubuhmu seperti itu. Tidak kurus tidak juga gemuk." Aleo meletakkan kopi buatannya di atas meja. Pria itu duduk di salah satu sisi sofa dengan senyuman.
"Ya. Dan sejak dulu juga kau selalu memujiku. Walau ada yang kurang, kau tetap mengatakan diriku sempurna." Clara terlihat bahagia. Senyum riang terpancar dari wajahnya. Kedua matanya berseri sambil memandang wajah tampan Aleo di hadapannya. Bagi Clara, Aleo masih sama dengan Aleo yang dulu ia kenal. Aleo akan selalu mencintainya sampai kapanpun.
"Clara, apa yang kau lakukan di Sapporo? Apa ada pekerjaan yang harus kau selesaikan?"
Clara meletakkan gelasnya. Ia mengangguk pelan dengan helaan napas yang tenang.
__ADS_1
"Ya. Ada pekerjaan yang harus aku lakukan di sini. Tapi sepertinya, selesainya akan sedikit lama."
"Benarkah? Aku bisa membantumu." Aleo mengambil gelasnya. Ia juga ingin meneguk minuman yang baru saja ia buat.
"Bagaimana bisa kau membantuku. Sementara masalah yang aku hadapi ini adalah hal-hal yang harus aku lakukan agar mendapatkan cintamu."
"Uhuk uhuk." Aleo tersedak ketika mendengar pernyataan Clara. Walau begitu ia masih menganggapnya sebuah lelucon saja.
"Kau masih seperti yang dulu. Humoris," ucap Aleo sebelum meletakkan gelasnya.
"Aleo, aku-"
Tok tok
Clara tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Suara ketukan pintu itu membuat dirinya dan Aleo memandang ke sudut ruangan tersebut.
"Masuk!"
Dalam hitungan detik saja pintu terbuka. Seorang wanita muncul dengan kotak nasi di tangannya. Wanita itu adalah Tamara. Senyum mengembang indah di bibirnya. Sayang, senyum itu tidak abadi karena tiba-tiba saja luntur ketika melihat Clara ada di dalam ruangan tersebut.
"Maaf, apa aku mengganggu?" Tamara berdiri mematung di tempatnya. Ia tidak berani untuk melanjutkan langkah kakinya karena di ruangan kerja Aleo ada Clara. Bahkan mereka berdua terlihat asyik mengobrol sebelumnya. Tamara merasa sebagai penganggu di antara mereka.
"Tentu saja tidak." Aleo segera berdiri. Pria itu berjalan mendekati Tamara. Ia terlihat sangat bahagia melihat Tamara muncul di dalam ruangannya.
"Apa ini?" Aleo menunjuk kotak nasi yang ada di tangan Tamara.
"Ini … Tante Serena memintaku mengantarkan makan siang untuk Kak Aleo."
"Benarkah?" Aleo terlihat bahagia. Ini pertama kalinya Serena mau mengirim makan siang untuknya di kantor. Ia tahu kalau Serena sengaja melakukan semua itu agar Tamara mau datang ke S.G Group miliknya.
"Kita bisa makan bersama nanti." Aleo memegang tangan Tamara dan membawa wanita itu masuk ke dalam.
Clara diam di tempat duduknya. Ia menunduk ketika melihat Aleo dan Tamara berjalan mendekatinya. Gerak-geriknya terlihat gugup. Antara cemburu namun tidak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya ia memutuskan diam saja di tempatnya.
"Aku tidak bisa lama-lama. Tante Serena. Ya, aku harus membeli obat untuk Tante Serena." Tamara menahan langkah kakinya sebelum Aleo berhasil membawanya duduk di sofa.
Sebenarnya Tamara melakukan semua itu karena ia tidak mau mengganggu obrolan yang terjadi antara Clara dan Aleo. Walau Serena sudah sering menjelaskan jika di antara Aleo dan Clara tidak ada hubungan apa-apa. Tapi tetap saja Tamara tidak ingin menjadi orang ketiga diantara mereka berdua. Ditambah lagi hingga detik ini Tamara sendiri tidak tahu apa yang dirasakan oleh hatinya. Bahkan ia juga tidak bisa mengetahui apa yang dipikirkan oleh Aleo tentang dirinya.
"Benarkah seperti itu? Atau kau sengaja mencari alasan agar segera pergi dari kantorku." Aleo terlihat tidak suka ketika Tamara ingin pergi secepat itu. Ini pertama kalinya Tamara ada di kantor nya. Aleo ingin memanfaatkan situasi Itu untuk mengobrol dengan Tamara lebih lama.
"Tentu saja. Sejak kapan aku jadi pembohong?" Tamara mengukir senyuman manis agar Aleo percaya dengan alasan yang baru saja ia buat.
"Sulit dipercaya. Jika mama meminta Tamara datang untuk mengantar makanan ini, itu berarti mama sudah mulai membantuku untuk mendapatkan hati Tamara. Tapi kenapa Tamara terlihat ingin menghindariku? Apa semua ini karena Clara? Tamara segan dengan Clara hingga akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal?" gumam Aleo di dalam hati.
"Kak, Aku pamit dulu ya." Tamara memandang wajah Clara. Ia menunduk sejenak. Clara hanya mengangguk pelan. Ia sendiri merasa sedikit tenang karena pada akhirnya ia bisa berduaan lagi bersama Aleo.
"Hati-hati," ucap Clara dengan senyuman ramah.
Dengan wajah kecewa Aleo terpaksa merelakan kepergian Tamara. Ia meletakkan kotak nasi yang di bawa Tamara dengan wajah tidak ikhlas. Ingin mencegah namun ia tidak tahu bagaimana caranya.
Tamara melangkah sangat cepat ketika ingin meninggalkan ruangan itu. Ia tidak mau terlalu lama ada di dalam sana. Bahkan di dalam hati Tamara mengumpat dengan sejuta penyesalan. Andai saja ia tidak menuruti permintaan Serena mungkin saja ia tidak muncul dan menjadi pengganggu di sana.
Aleo memandang kepergian Tamara hingga pintu tertutup lagi. Clara yang menyadari perubahan sikap Aleo mulai mengerti kalau pria yang ia cintai sudah tertarik dan peduli dengan wanita lain. Walau begitu Clara tidak mau menyerah begitu saja. Ia ingin berjuang mendapatkan cinta dan kasih sayang Aleo lagi.
"Kak Aleo sayang … jangan melamun saja. Kenapa tidak membuka kotak nasinya. Aku juga ingin mencicipi masakan Tante Serena. Sudah lama tidak makan masakan Tante Serena."
Aleo tersadar. Ia memandang wajah Clara sebelum memandang kotak nasi tersebut. Pria itu mengangguk dan membuka kotak nasinya. Ia tersenyum ketika tahu kalau masakan yang ada di dalam sana bukan masakan ibu kandungnya. Melainkan masakan yang di buat oleh tangan Tamara secara langsung.
"Sushi. Ini sangat lezat. Boleh aku mencobanya?" teriak Clara kegirangan.
"Boleh, tapi satu saja ya. Aku sangat lapar." Sebenarnya Aleo sengaja mencari alasan seperti itu karena ia sendiri ingin menghabiskan makanan yang dibuat langsung oleh Tamara.
Clara mengangguk pelan dengan wajah ceria. Wanita itu melahap satu sushi dengan penuh kenikmatan.
"Tante Serena memang juara," ucap Clara penuh pujian. Sedangkan Aleo hanya diam sambil menikmati masakan Tamara. Setiap gigitannya ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah Tamara ketika sedang memasak.
__ADS_1
"Dia benar-benar wanita unik. Cantik dan sederhana. Bagaimana bisa aku tidak mengaguminya?" gumam Aleo memuji Tamara.